
Dua hari sebelum hari H.
Menekan bel 3x
Dan yang membuka pintu sepupu ara.
"Maaf siapa ya?"
"Saya asisten pribadi tuan darga, tuan memberi perintah kepada saya untuk menjemput nona ara ada yang mau tuan beritahu kepada nona ara."
"Sebentar saya panggil dulu ara nya, kamu bisa masuk dulu tunggu di dalam."
"Maaf nona, saya di perintah untuk langsung membawa nona ara, dan jangan lama-lama, tuan darga tidak suka menunggu."
Lah kan ara pasti belum siap-siap, hahah malang sekali nasibmu ara ketemu sama calon suami yang kayak gitu.
"Oh baiklah kamu tunggu sebentar di sini, saya ke atas dulu panggil ara."
"Iya baiklah."
Dinda langsung naik ke atas untuk memanggil ara.
"Ara! Ada yang nyari di bawah."
"Siapa din?."
"Ah banyak tanya, keluar aja dulu napa."
"Ara baru aja selesai mandi din, ara baru selesai bersihin rumah tadi."
"Ada asisten pribadi tuan Darga di bawah, nungguin kamu, katanya di suruh tuan Darga jemput kamu."
"Ha?dinda serius?"
"Ah ara, cepetan aja, dia udah nunggu di bawah, kata tuan Darga jangan lama-lama."
"Eh eh iya iya din, bilangin tunggu 15 menit aja."
"Iya."
15 menit kemudian.
Ara turun, dengan menggunakan pakaian yang biasa biasa saja, menggunakan rok putih, baju kaos hitam polos lengan pendek, dan tidak lupa mengikat rambut nya setengah.
Ara tu ya udah tau calon suaminya orang kaya, mau ketemu pakai-pakaian norak kayak gitu, entah sampai kapan tuan Darga bisa tahan sama cewek kayak kamu hahaha, ujung-ujungnya juga pasti di ceraiin sama tuan Darga, terus pas mau pulang ke sini lagi kagak di terima sama papa, hahah jadi gembel kamu.
"Maaf ngebuat kamu nunggu lama."
"Tidak non, tidak lama, ya udah kalau gitu mari kita berangkat sekarang."
"Ohh baiklah, kalau gitu kami berangkat dulu ya din, bilangin nanti sama bibi, ara nya pergi bentar di jemput sama tuan Darga."
Di halaman rumah.
Ha, naik mobil?
"Maaf, apakah kita ke sana naik mobil?"
__ADS_1
"Iya nona, kalau tidak naik mobil, kita naik apa lagi?"
Ahh bagaimana ini.
"Bolehkah saya pergi sendiri, kamu hanya perlu memberi saya alamat di mana tuan Darga menunggu."
"Maaf nona, itu tidak bisa, saya di perintahkan menjemput nona."
"Bilang saja ke tuan Darga kalau saya tidak bisa ikut dengan mu karena saya memiliki alasan pribadi, maaf kalau telah melanggar perintah, dan membuat mu terkena masalah karena tidak datang bersamamu ke sana"
"Tapi..nona?"
"Ah sudahlah, aku tidak bisa menjelaskannya, bisakah kamu sekarang memberi tahu di mana dia menunggu, kalau terus seperti ini, bisa tambah membuatnya menunggu lama."
"Dia menunggu di restoran xxx nona."
"Oh baiklah saya akan segera menyusul, kamu boleh pergi duluan sekarang."
"Baiklah nona."
Pergi meninggalkan ara.
Kenapa nona tidak mau pergi bersamaku ke sana? Sungguh aneh, sudah di beri tumpangan, tetapi malah memilih pergi sendiri.
Berjalan ke pangkalan ojek yang agak tidak jauh dari rumah bibinya.
"Pak? Bisa nggak bapak mengantar saya restoran xx."
"Eh neng ara, bisa neng bisa, mau sekarang berangkatnya?"
Ada-ada aja.
Sampai di restoran.
"Sudah sampai neng."
"Ini pak ongkos nya, kalau ada kembaliannya ambil aja."
"Neng mah kebiasaan kayak gitu, gimana kalau saya bilang kurang."
"Ya kalau emang kurang bilang aja biar saya tambahi."
"Kurang neng, hehe."
Membuka tas sandangnya, mau mengambil uang untuk menambahi ongkos kurang.
"Ah neng ara gak bisa di ajak bercanda ya, saya bercanda aja neng."
"Eh?" menghentikan tangannya yang mau mengambil uang di dalam tas, dan menatap bingung tukang ojek tadi.
"Saya cuma bercanda neng."
"Ohh, ya sudah pak kalau begitu."
"Iya neng, makasih ya neng."
Membalas dengan senyuman.
__ADS_1
Dion yang dari tadi sudah sampai duluan, dan menunggu ara di depan restoran tersebut, bengong, kenapa nona mudanya tidak mau di ajak naik mobil, malah memilih naik ojek.
Ara melihat dion yang sedang bengong di depan restoran, dan menjenguk nya.
"Maaf?tuan darga nya di mana ya?"
"Ha?" tersadar.
"Maaf nona tadi nanya apa ya ke saya."
"Tuan darga nya di mana?"
"Ohh, mari non saya antar."
"Iya."
Setelah masuk ke dalam restoran tersebut, terlihatlah dari jauh, sosok pria, yang duduk dengan tegap, memakai jas berwarna biru tua, yang sedang sibuk mainin hp.
"Di sana non tuan darga nya."
"Oh."
"Maaf tuan, membuat tuan darga menunggu lama."
"Hmm."
Ara menatap bingung kepada dion, apakah tuan darga marah karena menunggu lama.
Mereka masih berdiri dan belum duduk.
"Dion, tinggalkan kami berdua."
"Baik tuan."
Ara masih agak gugup.
"Kenapa masih berdiri, duduk!"
"Iya."
"Saya menerima pesan dari dion beberapa menit yang lalu, dia bilang kamu tidak mau pergi ke sini bersama dengannya karena memiliki alasan pribadi, apakah benar."
"Iya tuan."
"Jangan panggil saya tuan!"
Ha?terus ara harus panggil apa?
"Maaf, kalau gitu saya harus panggil tuan apa?"
"Panggil nama saja."
"Ohh baiklah."
Diam tidak berbicara.
BERSAMBUNG...
__ADS_1