
Setelah keluar dari bar, darga dan ara menuju pulang ke rumah.
Di perjalanan.
"Aga, aga tadi ngomongin apa aja sama teman aga."
Diam tidak menjawab
"Aga, ini udah jam berapa?"
Diam tidak menjawab lagi.
Ara entah kenapa gadis itu merasa kesal dan memukul bahu darga.
"Berani ya kamu mukul saya!"
"Ya maaf ara salah, ara kesal ke aga, ara nanya tapi gak di jawab."
"Kamu mau tau kenapa saya tidak menjawab pertanyaan mu?"
"Emang nya kenapa?"
"Pertanyaan mu gak penting!"
Nyenyenyenye
"Oh."
"Hmm."
Ara pun diam tidak berbicara dan tidak bertanya lagi kepada darga.
Sampai di rumah, penjaga yang ada di depan gerbang dan di depan pintu masuk mereka menyambut darga dengan senyuman, darga dan ara berdua pun langsung masuk ke dalam kamar.
Di kamar.
"Aga..aga mau tidur ya." bicara dengan darga yang tadi udah berbaring di atas tempat tidur.
"Hmm."
"Aga gak lapar? Gak mau makan dulu?"
"Gak."
"Kenapa aga gak lapar?"
"Tadi udah makan." berbicara sambil memejamkan mata.
"Tapi ara lapar."
"Ya kalau lapar makan."
Eh iya ya, kenapa ara harus ngomong ke aga kalau ara lapar, kan bisa langsung ke bawah makan.
"Ya udah kalau gitu ara mau makan dulu."
"Hmm."
"Aga beneran gak mau makan."
"Hmm."
Ya udah deh.
Ara pun keluar dari kamar dan turun ke bawah karena mau makan.
Setelah ara sampai di dapur, ara memeriksa apakah ada sesuatu yang bisa di makan.
Dan ara merasa kaget karena ada seseorang yang tiba tiba berbicara di belakang nya.
"Nona muda?"
"Astaga mamak, kaget *****."
"Oh maaf nona kalau saya membuat nona muda kaget."
__ADS_1
"Ah nggak kok pak gak ngagetin."
"Maaf sebelumnya, saya mau nanya kenapa nona muda berada di dapur malam-malam begini?"
Ya karena lapar la mau makan , ya kali mau mandi di dapur.
Astaga...
"Saya tiba-tiba lapar pak, dan mau makan."
"Wah kalau begitu biar saya siapkan nona, karena saya adalah kepala pelayan yang bertugas di dapur.
"Ah tidak usah pak, ngerepotin aja, biar saya nyiapin sendiri aja."
"Tidak sama sekali merepotkan saya nona muda, karena itu memang sudah tugas saya."
"Tapi saya benar-benar mau nyiapin nya sendiri pak."
"Maaf nona jika tuan muda tau tentang hal ini nanti saya bisa di pecat."
*I*ya ya, ya sudah lah nurut aja, dari pada nanti bapak ini terkena masalah.
"Oh ya sudah pak kalau begitu saya tunggu di meja makan ya."
"Nona muda mau di siapkan apa?"
"Apa aja deh pak."
"Di sini gak ada makanan yang nama nya apa aja nona muda."
Astaga...
"Hmm itu aja pak telur goreng setengah matang sama tumis kangkung aja."
Ha?apakah beneran nona muda mau makan itu?
"Nona mau di siapin itu?"
"Iya pak."
"Iyaaaaaa pak, satu rius dua rius tiga rius."
"Ya sudah kalau gitu saya siapkan dulu ya nona."
"Hmm."
Astaga tuh kan ketularan bener suka ngomong hmm.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya makanan nya pun sudah siap, dan ara menyantap nya, karena dia tidak tahan lagi menahan rasa lapar nya.
Dan kepala pelayan dapur tadi masih berdiri di dekat ara yang sedang makan di meja makan.
"Eh pak, bapak sini duduk ikutan makan."
"Maaf nona saya tidak berani."
"Kenapa gak berani?"
"Saya gak pantas nona makan bersama dengan nona muda."
"Kenapa gak pantas?"
"Nona adalah istri majikan saya, dan saya hanya kepala pelayan, saya tidak pantas."
"Kalau saya maksa gimana?"
"Maaf nona saya tidak bisa."
"Ya kan cuma makan sama saya, gak ngapa ngapain, lagian kan saya yang ngajak bapak makan bareng."
"Maaf nona saya tidak berani."
Ara pun yang tadi posisi duduk menjadi berdiri dan langsung berjalan menuju ke ara kepala pelayan dapur tadi, dan menyeret tangan nya memaksa duduk dan mau menyajikan makanan ke piring pelayan tadi yang sudah dia letakan.
"Nona tolong jangan kayak gini, bagaimana kalau tuan muda tau pak wijaya tau pasti saya di pecat."
__ADS_1
"Tenang aja kok nanti saya yang jelasin, nanti saya tinggal bilang bapak hanya menemani saya makan dan itu pun karena saya maksa."
Ara pun mengambilkan nasi untuk kepala pelayan tersebut.
"Nona biarkan saya saja."
"Tidak apa-apa pak."
"Jangan nona."
Ara pun tetap mengambilkan makanan untuk kepala pelayan tersebut.
"Maaf saya belum tau nama bapak?"
"Nama saya mun nona, bisa nona panggil pak mun, atau kepala pelayan mun.
"Oh."
"Iya nona."
"Pak mun udah lama kerja di sini."
"Sudah lama nona."
"Sejak kapan?"
"Saya juga tidak menghitung nona, yang saya tau saya bekerja di sini saat tuan muda masih kecil."
"Wah sudah lama sekali."
"Iya nona"
"Pak mun betah di sini?"
"Saya bertahan lama di sini ya karena betah nona, kalau saya gak betah pasti saya tidak akan berada di sini sekarang."
"Pak mun saya boleh bertanya tidak?"
"Tentu nona."
"Apakah tuan darga orang nya memang dingin."
"Maaf nona di sini di larang bergosip, kalau sampai ketauan pasti bisa di pecat."
Siapa yang ngajak ngegosip? Ara kan cuma nanya.
"Saya bertanya, bukan mau bergosip."
"Saya tidak bisa menjawab nya nona."
"Ah tidak apa apa pak jawab saja, kan saya cuma nanya."
"Tidak bisa nona."
"Nggak papa pak nanti saya yang tanggung jawab kok."
"Maaf nona saya benar-benar tidak bisa menjawab."
"Ayolah pak."bujuk ara
"Ya sudah saya hanya mau menjawab ini saja, jika nona menanyakan suatu hal tentang yang lain lagi sekarang, saya tidak akan mau menjawab.
"Iya pak."
"Tuan muda orang yang susah di tebak, dia sangat menyayangi orang tua nya, sepertinya tuan muda orang yang penyayang, sikap nya mulai berubah menjadi dingin semenjak dia di tinggalkan oleh kekasih nya.
"Kenapa dia di tinggalkan kekasihnya."
"Saya sudah bilang , kalau saya tidak bisa menjawab pertanyaan nona lagi."
"Ahh ya sudah lah, sekarang makan aja dulu."
"Baik nona."
"Iya pak mun." tersenyum.
__ADS_1
BERSAMBUNG...