
#Part13
"Maa..., mama bercanda kan?, Mama lagi ngeprank aku kan?, Jawab ma!" ucap Angga sambil berdiri dan menatap mamanya, dengan sorot mata yang meminta penjelasan.
"Ma, kak, jelasin sama Mika ada apa ini?" ujar Mika masih dengan posisi berdiri yang menatap Sinta dan Dita.
"Duduk dulu sayang." jawab Sinta dan menarik tangan Mika lembut untuk duduk.
"Iya, kalian duduk dulu yah?" Sahut Fika yang melihat mereka bergantian.
Angga dan Mika pun mendudukkan dirinya kembali di sofa.
"Soal perjodohan ini, adalah perjanjian nenek kamu harus menikahkan kalian." ucap Fika dengan melirik Angga dan Mika secara bergantian.
*Flashback* *on*
"Fika, Sinta. Kalian harus janji sama saya, ketika anak yang dalam kandungan sinta adalah perempuan, makan kalian harus menjodohkan mereka, anggap saja ini adalah balas budi saya. Fika kamu tau kan siapa yang menolong kita, di saat kita sedang mengalami kerisis ekonomi, kamu juga tau kn keluarga Sinta yang telah membantu kita sampai kita bisa berada di titik ini." Jelas Arum panjang lebar, kepada menatunya dan Sinta yang tengah hamil besar.
Di situ Fika sedeng menggendong Angga di usianya yang genap 1 tahun, dia pergi menjenguk Arum sang mertua di rumah sakit.
Dulu keluarga Dirgantara sedang berada di titik terendah, yakni perusahaan keluarga mereka bangkrut total, rumah dan aset-aset berharga mereka di jual dan di sita di karenakan memiliki hutang yang cukup besar, Aris yaitu suami Arum dia meninggal dunia karena serangan jantung, dia syok melihat perusahaannya yang bangkrut, di saat dunia mereka hancur, mereka di tolong oleh keluarganya Sinta.
__ADS_1
Mereka tinggal di rumah keluarganya Sinta dan memulai semuanya dari nol, dengan di bantu Radit ayahnya Sinta.
Dengan kemampuan berbisnisnya Abimanyu dan di bantu oleh Radit, mereka pun bisa bangkit dari keterpurukannya.
Siang, malam tidak tidur banting tulang demi sang keluarga, cape memang berada di posisi seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, hanya Abimanyu lah yang bisa di andalkan, Abimanyu menjalaninya dengan perlahan, sabar dan ikhlas, ternya benar usaha tidak akan mengkhianati hasil, dia mampu bangkit dari situasi seperti ini dan menjunjung tinggi harkat dan martabat keluarganya lagi.
*Flashback* *end*
"Jadi seperti itu ceritanya Angga." Ucap Sinta sambil memegang tangan Angga, dengan sorot mata sendu.
Dia juga tidak tega menjodohkan mereka, para orang tua mereka juga ingin mereka sendiri yang memilih pasangan hidupnya masing-masing, tapi mereka juga tidak bisa apa-apa, ini wasiat sebelum Arum meninggal waktu itu.
"Iya bener apa yang di katakan kak Angga ma, Tante. Umur ku juga baru 17, masih kelas 11, aku masih dini untuk menikah." ujar Mika menambahkan.
"Tapi, lebih cepat lebih baik nak." sahut Abi yang dari tadi diam kini dia bersuara.
"Lebih baik apanya pap, papa gak mikir kebahagiaan Angga?" tanya Angga sambil menatap papanya.
"Tapi itu juga demi kebaikan kamu Angga!" jawab Abi.
"Pokoknya Angga gak mau di jodohkan!" pekik Angga sedikit meninggikan suaranya lalu dia beranjak keluar dari rumahnya, sambil membawa mobil miliknya.
__ADS_1
"ANGGA!" Fika pun ingin mengejar Angga tapi langkahnya tertahan oleh suara suaminya.
"Biarkan dia pergi dulu, ma. Nanti juga pasti dia pulang." ucap Abi kepada istrinya.
"Mika juga gak mau di jodohkan, ma." ujar Mika, dia juga pergi meninggalkan rumah itu.
"Mikaa, tunggu dek." Dita pun mengejar Mika yang keluar.
"Abi, Fika. Maafkan sikap anakku yah, nanti biar aku bujuk dia supaya menerima perjodohan ini." Ucap Sinta memintak maaf.
"Iya, gak papa Sin, aku juga mintak maaf dengan sikap Angga barusan, kita biarkan saja mereka, untuk menenangkan diri mereka masing-masing." Ucap Fika lembut.
"Yasudah, aku pamit pulang dulu yah."
Sinta pun pamit untuk pulang dan berniat untuk membujuk Mika nanti di rumahnya.
***
Next?
JANGAN MENJADI PEMBACA GELAP!!
__ADS_1