dinikahi pangeran tampan dimasa SMA

dinikahi pangeran tampan dimasa SMA
kembali bertengkar


__ADS_3

#part44


"Eeh, papa." ujar Fika, ia berdiri dan mendekati suaminya lalu merangkul tangan Abi.


"Ko papa udah pulang? Biasanya juga malem pulang nya." Fika berusaha untuk mengalihkan perhatian Abi.


"Iya, soalnya pekerjaan papa sudah ada yang handle, jadi papa pulang cepet deh." Jelasnya.


"Pasti Sekarang papa capek kan? Mending papa istirahat dulu, yuk kita ke kamar." Ajak Fika, kemudian ia berisyarat kepada Angga dan Mika untuk menyuruh mereka pergi.


"Kenapa papa diem aja, ayok," Fika menarik-narik tangan suaminya.


"Ihh, sebentar tadi papa denger kalian ngomong, kalo papa gak boleh tau, tau apa?" tanya Abi yang dari tadi penasaran, netra nya melirik Angga dan Mika.


Mika dari tadi menutupi lukanya menggunakan tangannya.


"Hah, gak kita gak ngomong gitu, perasaan papa aja kali, heheh." Albi Fika sambil menyengir Canggung.


"Itu Mika kenapa? Ko nutup mulut gitu?" Bukanya menanggapi ucapan Fika Abi mah salpok ke Mika.


"Mika lagi sariawan katanya pap, mending kita ke kamar aja yah pap, pap pasti capek. Kita mandi bareng." Bujuk Fika sambil menarik-narik tangan Abi, Abi menyipitkan matanya kearah istrinya itu.


Abi terdiam sesaat, seperti ada yang janggal kenapa istrinya ini dari tadi mengajaknya ke kamar dan bahkan ngajak mandi bareng, Abi tau betul Fika paling susah di ajak Manding bareng, alasannya Abi suka nakal, yah memang faktanya seperti itu.


Tetapi kenapa sekarang Fika malah mengajaknya mandi bareng, Abi semakin curiga dan kenapa dari tadi Mika menutup mulutnya terus, lalu apa yang gak boleh Abi tau, dia tidak mungkin salah dengar karena telinga nya masih berfungsi dengan normal.


Hmm sepertinya ada batu di balik udang, ehk maksudnya ada udang di balik batu.


"Kalian nyembunyiin sesuatu dari papa?" tanya Abi dengan tatapan yang mengintimidasi.


Abi melangkah dan mendekati Mika lalu ia menarik tangan Mika sehingga terlepas dari sekitar area mulutnya.


'Aduh mampus ... Ketahuan.' batin Mika, ia memejamkan matanya.


"Ini kenapa Mika lebam seperti ini? Siapa yang mukul? Angga yang mukul?" tanya Abi khawatir.


Angga yang dari tadi diam membulatkan matanya, kenapa selalu dia yang di salahkan sebenarnya anak mereka itu siapa sih Angga atau Mika? Ahh menyebalkan!

__ADS_1


"Angga! Kamu yang buat Mika seperti ini? Papa gak nyangka sama kamu yah, kamu laki-laki pengecut yang berani main tangan sama perempuan!" ucap Abi menggebu-gebu, sedangkan Angga malah menatap papanya dengan ekspresi datar.


"Angga papa lagi bicara sama kamu! Jawab papa!" ujar Abi sedikit berteriak.


"Ck, papa ini belum denger penjelasan Mika Udah marah-marah aja!" Jawab Angga kesal.


Liat Mika bonyok sedikit saja mama dan papanya sudah seperti ini, apakabar nanti kalo liat Mika terbaring di brankar rumah sakit.


"Yaudah jelaskan kepada Mika sampai seperti ini!"


"Pap, ini bukan salah kak Angga, lagi pula Mika baik-baik aja ko." Lerai Mika.


"Baik-baik aja gimana, ini kamu lebam nak, kita ke rumah sakit aja yah!?" Tawar Abi Kepada Mika.


"Pap, ini luka kecil Mika gak papa ko." Mika berusaha untuk meyakinkan papa mertuanya.


Abi menghela nafasnya.


"Terus kamu kenapa ini ko bisa lebam gini?" tanya Abi lembut.


"Tadi Mika kesandung pap, terus sudut bibir Mika kepentok ujung meja." Dustanya.


"Dan kamu Angga, jaga istri Kamu baik-baik jangan sampai dia seperti ini lagi!" Lanjutnya.


Angga hanya berdehem saja menanggapi ucapan papanya.


"Yasudah kali istirahat gih, pasti kalian cape kan." ujar Abi lalu di angguki oleh mereka.


Mereka pergi ke lantai atas dan meninggalkan Abi dan Fika berdua di ruang tengah.


Abi menoleh ke arah Fika lalu ia tersenyum menyeringai sehingga membuat Fika memegang tengkuk lehernya merinding.


'Ko hawanya jadi beda gini yah?' batin Fika.


"Ayok sayang, katanya mau mandi bareng." tutur Abi sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda.


Fika berigidik ngeri dan hendak kabur, terapi pergerakan nya kalah telak ketika Abi tiba-tiba menggendongnya ala bridal style dan membawanya ke kamar.

__ADS_1


"Ihh, Mas Abi turunin aku Sekarang!" Perintah Fika tetapi Abi tidak menggubris ucapan istinya itu dan mencuri kecupan di pipinya Fika.


Umur mereka memang tidak lagi muda, tetapi kebucinan mereka mengalahkan anak muda, semakin berumur semakin bucin sepertinya.


Sementara di kamar Angga terlihat mereka sedang bertengkar menyalahkan satu sama lain.


"Ini semua gara-gara lo!" Seru Mika menuduh Angga.


"Ko gue sih? Masih untung juga gue bantuin!" jawabnya dengan menatap gadis itu kesal.


"Iya, bantuin. Bantuin ngebongkar!" sahut gadis itu dengan tidak kalah kesal.


"Yah lagian Lo juga gak bilang-bilang dulu sama gue, gak berunding dulu, jadi ini salah lo bukan salah gue, masih untung juga tadi gue beralasan!" sahut Angga tidak terima.


"Alasan Lo itu di luar ekspektasi tau gak sih! Lagi pula sejak kapan di sekolah kita ada pohon beringin dodol!" Maki Mika, rasanya ia ingin mencakar-cakar muka Angga yang tampan rupawan ini.


"Yah gue harus bilang apa? Jatuh dari genteng sekolah gitu? Itu lebih di luar ekspektasi!"


"Yah, lo beralasan apa kek gitu, selain jatuh dari pohon beringin, Lo pikir gue apa hah!? monyet bekantan? Pake naik pohon segala!"


"Iya, Lo induknya!" Celetuk Angga, lalu ia berlalu memasuki kamar mandi.


Mika membulatkan matanya dan menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup.


"Iya gue induknya, Lo bapak nya!" Teriak Mika lalu ia terdiam sesaat.


"Bentara-bentar ... Kalo gue induknya terus dia bapaknya berati .... Kita ... " Mata Mika melotot membayangkan mereka memiliki anak monyet bekantan.


"Aaahhhhhkkk ... Dasar beruang kutub!" Teriak Mika.


Pltak ...


Satu buah sikat gigi melayang dan menghantam kepala Mika.


"Berisik! Suara Lo ke toa!" Seru Angga dari ambang pintu kamar mandi, lalu keluar mengambil handuk nya yang tertinggal, setelah itu ia masuk lagi ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya rapat-rapat.


***

__ADS_1


JANGAN JADI PEMBACA GELAP!!!


__ADS_2