
#Part8
"Yaudah sih, kita mah tinggal cari sahabat baru aja ya gak lang?" ujar Farel dengan sombong sambil menunjukkan ekspresi wajah meledek.
"Yoi, bener banget rel." jawab Gilang dan menghentikan aktivitas nya yang sedang merekam Angga.
"Aduhh panas banget, haus lagi." Mika pun yang dari tadi diam kini berbicara dengan keluh kesahnya.
Sontak saja mereka bertiga yang lagi bertengkar kecil menoleh ke arah Mika, sambil melirik satu sama lain.
"Ehk, ada adek Mika, panas yah?, tenang ada Abang Farel di sini." Farel pun mendekatkan diri ke Mika.
lalu dia menghalangi cahaya matahari yang mengenai wajah Mika dengan kedua tangannya.
"Sekarang gak panas kan?" tanya Farel sumringah, dengan posisi kedua tangannya di atas kepala Mika.
Angga yang melihatnya langsung melangkahkan kakinya ke tempat Farel berada lalu menepis kedua tangannya yang berada di atas kepala Mika.
"Mending lo, sama Gilang bawain gue minum cepet!" ucapnya dengan tegas.
"Dih, gak seru lo Ga." jawab Farel sambil mengusap ngusap punggung tangannya, jujur tepisan Angga tadi sedikit keras, dan yah lumayan sakit.
" Ayok rel kita ke kantin, kita beli minum buat si jompo ini." ucap Gilang yang di susul pelototan dari Angga, sontak saja mereka lari terbirit-birit menuju kantin.
"Ck, dasar mereka itu." Gerutu Angga yang melihat mereka berlari menjauh.
__ADS_1
Lalu Angga menatap Mika yang tengah terdiam, dan memerhatikan tingkah absrud mereka barusan.
"Apa lo liat-liat?" Mika pun menyadari tatapan Angga dan meliriknya.
"Dih, PD banget lo di liatin sama gue." ucap Angga sambil memutar bola matanya melas.
Lalu mereka pun kembali ke posisi awal dan menghormati kepada bendera merah putih.
Dari kejauhan ada sepasang mata yang melihat mereka berdua di tengah lapang, ia adalah Laura sahabat Mika yang baru saja ingin ke kelas, dia tidak sengaja melihat Mika dan Angga yang tengah di hukum.
"Itu kan kak Angga sama Mika, mereka di hukum?" tanya nya kepada dirinya sendiri.
Laura pun melangkah kan kakinya ke lapangan dan mendekati Mika.
Sedikit info untuk Laura.
"Mika, lo ngapain di sini." tanyanya yang baru saja sampai di lapang sekolah, dan melirik Angga dan Mika bergantian.
"Ngepet!" jawab Mika ngasal, yang di ikuti kekehan Laura.
"Lo liat sendiri kan gue di hukum, pake nanya lagi lo." Lanjutnya.
"Kenapa sih sensi banget lo." jawab Laura dan melirik Angga sontak saja senyumannya mengembang.
"Dih, senyum-senyum lagi lo." Ucap Mika yang menyadari tingkat sahabat itu.
__ADS_1
"Yaudah nih Lo minum dulu." Laura pun menyodorkan air mineral yang sempat tadi ia beli di kantin kepada Mika.
Mika pun menerima air itu dengan senang hati dan meneguk nya hingga tersisa setengah.
Tidak lama kemudian dua curut pun datang membawa sebotol minuman untuk sang sahabat tersayang.
"Nih ga, minuman lo." Gilang pun menyodorkan air mineral kepada Angga yang baru saja ia beli.
Angga pun meminum air tersebut hingga sisa setengah lalu setengahnya lagi ia gunakan untuk membasuh mukanya yang sedikit panas.
Dari kejauhan Pak Toni memergoki mereka yang tengah memberikan minum kepada Angga dan Mika.
Pak Toni pun mendekati merek dengan muka yang memerah marah dan tidak lupa dengan pemukul yang tetap melekat di tangannya.
"Kaliannn..."
sontak saja mereka menoleh ke arah suara lelaki paruh baya tersebut, dan betapa terkejutnya mereka melihat Pak Toni yang sedang berkaca pinggang dan matanya memerah karena marah menatap mereka semua dengan tatapan tajamnya.
Siapa saja yang melihatnya pasti bakal lari terbirit-birit saat ini juga.
"Mampus malapetaka datang Lang." ucap Farel yang berbisik kepada Gilang, matanya tidak lepas menatap Pak Toni yang berkaca pinggang.
Gilang hanya mengangguk saja sambil menelan selivernya susah payah.
Beda halnya dengan Mika dan Laura mereka hanya saling bertukar pandang saja.
__ADS_1
Kalo Angga? Jangan di tanya dia kelihatan santai saja sambil memegang botol air mineral yang sudah kosong.
Next?