
#Part14
"Mika.., Mikaa!" Teriak Sinta yang baru sampai rumahnya.
"Mama." Sahut Dita baru keluar dari kamar.
"Adik kamu kemana Dita?" Tanya Sinta
"Mika belum pulang ma,"
"Ishh anak itu kemana dia," ucap Sinta khawatir sambil menggigit kukunya.
Di sisi lain Angga yang tengah mengendarai mobilnya menuju ke suatu tempat, ia tidak henti-hentinya mengrutu kesal.
"Perjodohan macam apa ke gitu, gue gak Sudi nikah sama Mika, si gadis tengil itu, ogah gue ma dia," kesalnya sambil pokus menyetir mobilnya.
"Mimpi apa gue semalem, harus di jodohkan ke gini, gak bisa nunggu gue lulus sekolah dulu apa, kayak nya mereka ngebet banget pengen jodohin gue,"
"Nenek lagi, kenapa dulu dia ngomong ke gitu, kan jadi gue yang repot," lirihnya.
"Mereka gak mikirin kebahagiaan gue apa?, Aagghh." Ujar Angga sambil memukul stir mobil.
Mobil Angga kini memasuki pekarangan rumah yang terlihat mewah, lalu ia memarkirkan mobilnya dan turun dari mobil.
Sesampainya di depan pintu rumah tersebut, Angga kini mengetuk pintu rumah itu.
Tok tok tok
"Iya, sebentar aelah gak sabaran banget kayaknya," terdengar suara laki-laki muda dari dalam rumah tersebut.
Ia pun membuka pintu, dan terpampang lah laki-laki tampan seumuran dengan Angga.
"Angga, Lo ngapain ke rumah gue?, Gak ada bansos di sini," ucap laki-laki itu.
"Ck, gue gak mau debat sama Lo rel, gue mau nginep di rumah Lo," iya dia adalah Farel sahabatnya Angga.
Tidak menunggu jawaban dari Farel, Angga main nyelonong masuk begitu saja.
"Ehk, buset. Gila yah tu bocah, gue belum ngizinin dia masuk malah nyelonong aja ke tikus got." Ujar Farel, lalu ia menutup pintu dan berjalan ke dapur, berniat untuk membawakan minuman dan cemilan untuk Angga.
"Tu anak tumben-tumbenan mau nginep di sini, pasti dia lagi ada masalah," tebak Farel Kepada dirinya sendiri.
Memang Angga tidak biasanya datang ke rumah Farel, dia datang ke sini cuma buat menenangkan diri, atau ada keperluan dengan Farel, Angga sangat jarang ke rumahnya apalagi menginap.
Kalo hanya sekedar ingin bertemu, mereka selalu nongkrong di luar tidak pernah tuh yang namanya ngumpul di rumah.
__ADS_1
"Gue telpon si Gilang aja deh, suruh dia ke sini," kini Farel merogoh saku celananya dan mengambil benda pipih itu.
"Halo, Lang." ucap Farel yang kini benda pipih itu sudah berada di telinganya.
_"Halo dengan Gilang yang tampan sejagat raya, ada perlu apa"_ ucap Gilang di sebrang sana.
"Wweekk," Farel memperagakan orang yang ingin muntah.
_"Rel?, Lo hamil yah?"_
"Ehkk, jakun kuda, mana bisa gue hamil dodol," ucap Farel geram.
_"Terus, Lo bisanya apa?"_ tanya Gilang di sebrang sana.
"Bercocok tanam, puas Lo!"
_"Baru tau gue, ternyata Lo bisa bercocok tanam juga Rel,"_ jawab Gilang.
_"Lo ada apa nelpon gue?"_ ucap Gilang dengan nada serius.
"Lo, cepetan ke rumah gue, gue tunggu."
_"Ngapain gue ke rumah Lo?, oh atau jangan-jangan Lo kangen yah sama ketampanan gue?, ngaku!"_
"Iya gue kangen sama Lo, kangen pengen nonjok muka Lo!"
"Lang, sumpah yah Lo kalo ada di sini, terus ngomong ke gitu gue tonjok beneran muka Lo!" Ancam Farel.
"Pokoknya lo cepetan ke sini, gue tunggu soalnya ada Angga, kayaknya dia lagi ada masalah deh,"
_"okh otw"_
Panggilan pun berakhir dan kini Farel membawa nampan berisi minuman dan cemilan untuk di bawa ke kamarnya yang sudah ada Angga di dalam sana.
"Ga, nih Lo minum dulu, lesu amat muka Lo, kayak keset," ujar Farel yang menata minuman dan cemilannya di atas meja.
Yang tadinya Angga rebahan di kasur kini memposisikan dirinya untuk duduk, dia pun mengambil minuman dan cemilan untuk ia makan.
Memang dia juga sedikit lapar karena dari siang dia belum memakan sesuatu.
Hening
"Lo ada masalah?" ucap Farel yang tiba-tiba memecahkan keheningan.
Angga menoleh ke arah Farel yang tengah memainkan ponselnya di atas sofa.
__ADS_1
"Gak." sahut Angga singkat.
Terdengar suara tarikan nafas kasar dari Farel, Farel kini langsung menaruh ponselnya di atas meja lalu menatap Angga dengan serius.
"Lo jangan bohong sama gue Ga, kita temenan gak 1 atau 2 tahun, gue tau watak asli Lo ke mana, Lo sahabat gue, jadi daripada lo Pendem masalah Lo, lebih baik Lo cerita sama gue," tutur Farel dengan serius.
Angga pun menarik nafasnya dan menatap Farel dari atas kasur yang sedang ia duduki.
"Ok, jadi gini-" ucapan Angga tertahan ketika ada seorang yang membuka pintu kamar dengan sedikit keras.
"Ga, Lo gak papa kan?" ujar Gilang yang baru datang langsung mendekati Angga, dan mengecek setiap inci wajah Angga dengan sedikit kasar.
"Apaan sih lo, lepasin sialan!" Gilang pun melepaskan tangannya dari wajah Angga.
"Gue khawatir sama Lo,
Ga. gue takut Lo di *****-***** sama Farel," ucap Gilang ngasal.
Bugh
Farel pun menendang bokong Gilang pelan, tapi Gilang mulai berderma.
"Aduhhh sakit bokong gue, kayaknya ada yang patah nih, sakit banget, kalo ada yang patah tulang gue gimana Lo bisa ganti?, Hah?" Ujar Gilang yang terduduk di lantai.
"Iya, nanti gue ganti pake tulang cacing," sahut Farel
"Lagian Lo lebay banget anjir," lanjutnya.
"Sekarang, lanjutin cerita Lo yang tadi kepotong, gue mau dengar," tutur Farel.
Angga pun melirik Gilang yang masih terduduk di lantai, seolah-olah dia ragu ingin mengatakannya, padahal Gilang termasuk orang yang pandai menjaga rahasia, tapi entahlah sekarng Angga benar-benar ragu ingin jujur kepada sahabat-sahabatnya.
"Hadehh..., tenang aja kali, Ga. gue gak bakal bocorin, Lo kan tau gue ke mana," Gilang pun bangkit dan mengambil satu kaleng Coca-Cola yang di atas meja lalu duduk di samping Farel.
"Gak ada Amer nih Rel?" tanya Gilang bercanda.
"Amer...,Amer gak.., gak ada, adanya juga ember mau Lo hah?, lagian Amer itu haram kayak muka Lo, jadi gak boleh!" tegas Farel.
Dia memegang tidak meminum minuman beralkohol karena di larang keras oleh orang tuanya, dikarenakan keluarganya paham agama, jadi mereka tahu betul bahwa itu tidak boleh di minum karena mengandung alkohol, dan juga minuman beralkohol itu tidak baik untuk kesehatan.
"Hahahah, bercanda kali Rel, ya kali gue serius, gue itu anak yang Soleh jadi gak mungkin gue minum ke begitua." ucap Gilang membanggakan diri.
***
Next?
__ADS_1
JANGAN MENJADI PEMBACA GELAP!!!
ayooo dong like jangan baca aja 😖