
#part37
***
"Permisi," ucap Mika yang memasuki ruang BK, ia melihat Marsya dan kedua temannya.
Marsya menatap Mika dengan tatapan benci dan marah.
"Duduk!" Perintah pak Toni, dengan segera Mika duduk di samping Marsya.
"Apa benar Marsya telah memukul kamu Mika?" tanya pak Toni tegas tidak lupa dengan pemukul yang melekat di tangannya.
Mika melirik ke arah Marsya, dan ia mendapatkan tatapan sinis darinya.
"Iya pak." Jawab Mika.
"Marsya, kamu ini orang terpandang dan bisa-bisanya kamu ngebully adik kelas kamu sendiri!" ucap pak Toni sedikit meninggikan nada bicaranya.
Marsya memutar bola matanya melas.
"Pak, Mika juga tendang saya tadi!" ujar Marsya membela diri.
"Bukan saya aja yang di tendang, tapi kedua teman saya juga perutnya di pukul sama dia." Lanjutnya sambil menunjuk Mika.
"Apa buktinya kalo gue Nandang Lo dan mukul Perut kedua teman Lo hah!?" Tanya Mika, untung saja tadi Mika menendang perut Marsya menggunakan punggung kaki, jadi tidak ada tapak sepatu yang tertinggal di seragam Marsya.
__ADS_1
"Ini buktinya perut gue sakit!" jawab Marsya nyolot.
"Halah pura-pura Lo!"
"Sudah hentikan!" Bentak pak Toni Kepada mereka.
"Pak, jika memang saya menendang Marsya pasti ada tapak sepatu di bajunya, ini kan gak ada? Terus kalo memang benar saya melakukan hal tersebut kepada mereka, itu tidak salah pak, karena saya membela diri! Masa saya di bully diam saja?" Jelas Mika panjang lebar.
"Dia bohong pak! Sindi dan Siska saksinya," tutur Marsya tidak terima dan di angguki oleh kedua temannya.
"Pak, mereka berdua tidak bisa di percaya! Karena mereka berdua temannya Marsya, bisa saja kan Marsya menyuruh mereka untuk berpura-pura, mereka akan melakukan apa yang Marsya katakan!" Sahut Mika membenarkan.
Pak Toni hanya mengangguk-ngangguk saja mendengar yang Mika ucapkan, ada benarnya yang di katakan oleh Fika ini.
"Dia bohong pak! Say--" ucapan Marsya tertahan ketika melihat sorot mata pak Toni menajam kearahnya.
"Bapak tanya sama kamu Marsya! kenapa kamu membully Mika!?" tanyanya dengan tegas.
"Itu ... Anu ... pak ..." terlihat Marsya tengah bingung mencari alasan.
"JAWAB!" bentak pak Toni sehingga membuat para murid yang berada di sekitar ruang BK tersentak kaget, begitu juga yang berada di dalam ruang tersebut.
"Gara-gara dia deketin Angga pak!" Pekik Marsya yang membuat pak Toni mengernyit.
"Apa maksud kamu? Jadi kami mukul Mika gara-gara laki-laki?" tanya pak Toni geram lalu Marsya mengangguk pelan.
__ADS_1
Pak Toni merogoh sakunya dan mengambil benda pipih itu dan menelpon seseorang.
"Halo panggilkan Angga dan suruh ke ruang BK sekarang!" ucapnya seketika membuat mereka tenganga.
Tidak lama Angga datang dan di persilahkan untuk duduk.
"Kenapa pak, saya di panggil ke sini?" Tanya Angga.
"Kamu mau tau alasan mereka bertengkar karena apa?" tutur pak Toni dan mendapatkan gelengan kepala dari Angga.
"Mereka bertengkar gara-gara rebutan kamu Angga!" Lanjutnya dan membuat Angga melongo lalu menatap Mika.
Mika membuang mukanya dan tertunduk, ahk sialan pasti si beruang kutub ini sekarang tengah besar kepala karena dia mengira Mika memperebutkan nya.
"Kata Marsya, dia menampar Mika gara-gara Mika dekat-dekat dengan kamu, apakah itu benar?" Tanya pak Toni sambil menatap Angga.
Angga tersenyum miring dan terkilas lah kejahilan di otaknya.
"Iya emang benar, dan apa salahnya saya dekat-dekat dengan pacar saya pak?" Boom bagaikan di sambar petir di siang bolong penuturan Angga barusan membuat Mika membeku di tempatnya.
Mika menoleh kearahnya dengan mata yang melotot syok, sedangkan Marsya dan kedua temannya ikut kaget dan ternganga.
***
JANGAN JADI PEMBACA GELAP!!!
__ADS_1