
#Part22
"Ada apa lagi sih?, Lo mau nyuruh gue gantiin baju Lo gitu hah!?"
"Anu..., Ehk... Itu kak," ucap Mika ragu-ragu sambil merapatkan bibirnya gugup.
"Apaan!?" Tanya Angga sedikit tegas.
"Gue, pinjem baju Lo yah kak!?, Soalnya gue gak bawa baju."
"Ck, ngomong ke dari tadi, noh tinggal pilih aja gitu aja repot," ujarnya Angga dan melenggang pergi meninggalkan walk in closet.
Sumpah saat ini juga Mika ingin mencakar muka si beruang kutub itu, sok banget dia.
"Ihkk dasar nyebelin, kalo gue gak dalam kesusahan ogah gue ngajak ngobrol Lo, dasar beruang kutub sialan!" Umpatnya kepada Angga.
Mika segera memakai baju Angga yang nampak kebesaran, ia memakai kemeja putih polos di atas lutut.
"Yah, kegedean tapi gak papa lah untuk semalam ini ko," gumamnya yang tengah melihat dirinya di pantulan cermin.
Ia pun keluar dari walk in closet tetapi Mika tidak melihat pemuda yang menjadi suaminya sekarng ini, ke mana dia? gumamnya.
Mika kini mendudukkan dirinya di sofa dan memainkan ponselnya untuk mengabari ibu dan kakaknya, tetapi pergerakan Mika teralihkan dengan suara pintu yang di buka.
__ADS_1
Cklekk
"Lo di tunggu di bawah ada ibu Lo sama kakak Lo di sana," ucap Angga dengan ekspresi datarnya.
"Hah?, Sejak kapan mama sama kak Dita ke sini?, Ko gak ngabarin gue?" tanya Mika balik.
"Cepetan ke bawah!, Jangan banyak bacot!"
Mika akhirnya keluar dengan di buntuti oleh Angga dari belakang.
"Mama, kakak. Kalian kapan ke sini?" seru Mika setiba di sofa ruang tamu.
"Sayang, sini nak duduk." Ajak Fikakepada Mika,
Mika kini duduk di tengah-tengah Sinta dan Dita.
"Selamat yah dek, semoga kamu bahagia di pernikahan ini kakak turut senang." ucap Dita gembira.
Apaa Katanya tadi?, Semoga bahagia? Apakah kakaknya itu tidak melihat bahwa Mika sekarang ini sedang tekanan batin?, Mika juga melihat ibunya seperti bahagia atas pernikahan ini.
Ya Tuhan mengapa keluarganya begitu bahagia di atas penderitaannya, tapi yasudah lah kalo memang pernikahan ini membuat ibu dan kakaknya bahagia dia akan menjalaninya, yah walaupun itu sulit.. sulit sekali, seperti melupakan Reyhan begitu syulit..
Mungkin inilah takdirnya, menikah di usia muda bahkan masih duduk di bangku SMA, dia hanya bisa berdoa semoga kedepannya baik-baik saja.
__ADS_1
"I-iya kak terimakasih." Jawab Mika terbata-bata.
Sinta menatap wajah putrinya sendu, dia tau bahwa Mika sekarang sedang terpuruk siapa juga yang mau menikah dengan di paksa apalagi umurnya masih 17 tahun, pasti itu sangat berat baginya, harus mengorbankan masa depannya, cita-cita yang ia impi-impikan dan rencana-rencana di masa depan nanti hancur dalam Sesaat.
Tapi ini juga demi kebaikan Mika, Sinta sengaja mempercepat masa perjodohan Mika dan Angga, harusnya sih mereka di jodohkan pas lulus sekolah tapi keadaan yang memaksa mereka harus di jodohkan secepatnya.
Sinta takut suaminya menemukan dirinya dan Mika, dia dengar seminggu yang lalu ada yg menanyakan dirinya kepada tetangganya.
Ia benar ayah kandung Mika masih hidup, bahkan sekarang dia tengah mencari-cari keberadaan mereka.
Sinta tidak masalah jika dirinya yang di temukan tapi kalo Mika dan Dita yang di temukan semuanya akan kacau, apalagi Mika, Sinta menentang keras kedua putranya untuk tidak bertemu dengan sosok ayahnya.
"Mika, sayang sini peluk mama." Ucap Sinta dan merentangkan kedua tangannya bersiap memeluk Mika.
Mika memeluk Sinta dengan erat seakan ia enggan untuk melepaskan pelukan itu, nyaman sekali berada di pelukan ibunya, dia merasa aman.
'Bagai manapun caranya kamu tidak boleh bertemu dengan ayah kandung kamu mika.' Batin Sinta.
Egois memang, Sinta sangat egois tapi dia tidak mau jika nanti suaminya menemukan Mika dan memisahkan mereka berdua, dengan Mika menikah dengan Angga pasti suaminya tidak akan curiga bahwa Mika berada di kediaman Dirgantara.
'Semoga kamu aman di sini yah Mika' batinnya lagi.
***
__ADS_1
Next?
JANGAN MENJADI PEMBACA GELAP!!