
#part38
Angga menoleh kearah Mika yang menatapnya dengan melotot itu pun tersenyum miring.
"Oh jadi kalian pacaran?" tanya pak Toni.
"Gak pak!"
"Iya pak!"
Jawab Angga dan Mika serentak, dan membantu pak Toni kebingungan.
"Yang bener ini yang mana? Bener atau gak?"
"Bener pak!" jawab Angga santai.
Mika menatap Angga dan mengisyaratkan sesuatu tetapi tidak di gubris oleh lelaki itu.
"Sudah hentikan!" Lerai pak Toni.
"Kamu dengar sendiri kan, Marsya. Kalo Angga itu pacarnya Mika!" Lanjutnya.
"Dan bapak juga sudah dengar bahwa kamu itu sering membully, bapak tidak habis pikir sama kamu Marsya, kamu itu anak terpandang dan bisa-bisanya kamu memalukan hal yang menjijikkan!" Pekik pak Toni menohok.
"Saya mau orang tua kalian besok harus datang ke sini!" Perintahnya, dan membuat mereka terkejut.
"Pak saya mohon, jangan panggil orang tua saya." Mohon Marsya.
"Iya pak, Mika mohon jangan panggil orang tua Mika, bapak boleh hukum kami dengan cara apapun kami bakal menerimanya, tapi Mika mohon jangan panggil orang tua Mika." Pinta Mika memohon.
"Okh, kali ini kalian selamat," pak Toni menghela nafas beratnya.
"Tapi jika saya mendengar kalian bertengkar lagi, makan kalian akan tau akibatnya!" Peringat Pak Toni Kepada mereka.
"Iya pak terimakasih." Ucap mereka serentak.
"Sekarang kalian berbaikan dulu!" Tutur pak Toni Kepada mereka.
__ADS_1
'Dih males banget gue harus baikan sama si nenek gayung sama tiga dedemitnya!' batinnya Mika memakai.
'Ck, ogah banget gue baikan sama si Upik abu ini, bikin bete aja deh!' gerutu Marsya dalam hati.
"Kenapa kalian diam!? Ayok baikan!" Tegas guru tersebut dan mereka pun berbaikan saling menjabat tangan dengan malas.
"Ok, hukuman buat kalian adalah membersihkan toilet sekolah dalam seminggu!" Seru pak Toni yang membuat mereka tenganga.
"Hah, satu Minggu pak? gak salah tuh?" Sahut Marsya.
"Iya kenapa? Kurang!? Mau tiga Minggu, hah!?" Mereka semakin terbelalak mendengar nya, satu Minggu saja sudah malas apalagi tiga Minggu, tidak ini tidak mungkin!
"Ehk, pak iya iya satu Minggu jangan di tambah lagi," ujar Mika.
"Yaudah hukuman nya ganti saja, kalian sikat seluruh tembok dan lantai sekolah dengan menggunakan sikat gigi dan potongan rumput halaman belakang sekolah pake Ginting kuku! Pilih yang mana?" Tawar pak Toni.
"Gak, Pak. Terimakasih, saya lebih memilih membersihkan toilet sekolah dalam satu minggu Pak," seru Mika dan langsung menghela nafasnya.
'Gila kali yah, mau sampe kapan tu hukuman bakal kelar? Sampe ular berubah jadi cacing hah?' gerutunya Mika kesal yang tentunya dalam hati, kalo di ucapin langsung mana berani bisa-bisa dia di keluarkan langsung.
"Yasudah, kalian bisa pergi." Mereka pun keluar dari ruangan BK tersebut dengan segera Mika menarik tangan kanan Angga tetapi langkahnya tertahan ketika Marsya juga menarik tangan kiri Angga.
"Lo siapa ngatur-ngatur?" Jawab Mika masih dengan posisi memegang tangan Angga.
"Dia pacar gue!" Dengan sangat percaya diri Marsya mengatakan itu di depan semua orang, tidak hanya mereka yang berada di dekat ruang BK itu, tetapi banyak para murid yang berada di sana.
Mika mulai jengah dengan tingkah laku nya Marsya ini, rasanya dia ingin melepasnya ke sungai Amazon.
"Sayang, ko kamu diem aja sih, dia ngaku-ngaku jadi pacar kamu tau!" Seru Mika yang membuat Marsya tenganga dan syok mendengarnya, tidak hanya Marsya yang kaget tetapi para siswa siswi yang menyaksikan mereka juga kini ikutian kaget.
Angga membeku dan mencerna setiap kalimat yang di ucapkan Mika, apakah tadi dia salah mendengar? Apa tadi katanya 'Sayang'?
"Sayang," rengek Mika dan memberi kode kepada Angga yang tengah membeku sekarng ini.
"Ck, apaan sih lo! Lepasin!" Seru Angga dan menghempaskan tangan Marsya dengan sedikit kasar.
Mika menarik Angga menjauh dari sana, dia tidak peduli dengan Marsya yang syok dan tatapan semua para siswa siswi, dia hanya kesal dan butuh penjelasan dari suami nakalnya ini.
__ADS_1
Mika membawa Angga ke belakang sekolah yang jarang ada orang di sana.
Mika mendorong tubuh Angga hingga punggung lelaki itu menempel pada dinding.
"Kenapa lo tadi ngomong kalo gue itu pacar Lo? Mana di depan pak Toni lagi!" Pekik Mika dengan marah.
Angga hanya menaikkan satu alisnya.
"Terus gue harus bilang apa? Bahwa Lo itu istri gue, gitu!?" Sahut Angga dengan santai dan tidak ada penyesalan sedikit pun.
"Gak gitu, Angga Alvarik Dirgantara.. aahhkkk," Mika memperagakan tangannya seperti mencakar muka Angga.
"Kenapa lo marah? Tadi aja lo bilang gue sayang." tutur Angga yang membuat Mika salah tingkah.
"Y-ya, gue tadi kesel aja sama si nenek gayung itu!" Jawab Mika terbata-bata.
"Kesel sama Marsya ko panggil gue sayang." Sahut Angga lagi dengan ekspresi datarnya, tetapi mampu membuat wajah Mika seperti kepiting rebus.
"G-gak tau deh, yang jelas nanti Marsya semakin menjadi-jadi tau gak sama gue!" Tutur Mika sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi cemberut dan bibirnya maju 5 cm.
Angga mencomot bibir Mika gemas sehingga membuat Mika melotot kepadanya.
"Aaaww sakit tau gak!" Lirih Mika, ahk iya Angga lupa bibir Mika saat ini sedang terluka.
"Eeh, sorry sorry."
"Eih, siryy sirry." Ledek Mika.
Angga menarik lengan Mika agar lebih dekat dengannya, ia melihat luka di bibir Mika dengan seksama dan mengusap luka tersebut menggunakan jempolnya.
Kini muka mereka sangat dekat hanya berjarak beberapa senti saja.
"Ini luka Lo harus segera di obati kalo gak bakal infeksi," ucapnya tanpa melirik Mika sama sekali ia tetap fokus dengan luka di bibir Angga.
"Lo denger gak ya gue--" ucapan Angga tertahan ketika melihat wajah mereka sangat dekat, tatapannya bertemu dengan mata coklat Mika.
Beberapa saat ia membeku, mata itu... mirip dengan seseorang perempuan yang pernah Angga temui dan menjadi bagian terpenting dalam hidupnya, dan sorot matanya sama persis dengan seseorang yang Angga cintai dulu.
__ADS_1
***
JANGAN JADI PEMBACA GELAP!!