
#part59
Di sisi lain Calvin tengah berjalan memasuki rumahnya.
"Dari mana Lo! Pasti abis jalan-jalan dulu kan?! sama Mika." Sahut seorang perempuan dari sofa ruang tamu.
"Bacot Lo!" Jawab Calvin dan berjalan kembali.
"Ck! Udah deh, Calvin. Lo itu harus move on dari Mika, cari wanita lain! Ada yang lebih dari Mika di luar sana--"
"Sepertinya Lo kekurangan kaca di kamar Lo," Calvin dengan capat memotong ucapan wanita tersebut.
"Seharusnya Lo juga introspeksi diri Marsya!"
Yah, benar wanita itu adalah Marsya.
Marsya merupakan sudara Calvin, Marsya dan Calvin saudara seibu beda ayah.
"Seharusnya Lo tau Angga itu udah punya pacar, gak seharusnya Lo deket-deket sama dia lagi! Lo nyuruh gue movie on dari Mika? Dan Lo sendari lebih parah dari gue Marsya!" Lanjutnya geram.
"Ada apa ini?" Tanya Amanda tak lain dan tak bukan adalah ibu dari Calvin dan Marsya.
"Tanya saja tuh sama anak kesayangan mama!" Jawab Calvin sambil menatap Marsya sinis.
"Kalian ini gak ada cape-capenya apa? Hampir setiap hari kalian ini berantem terus, mama pusing denger nya."
"Calvin duluan, mam. Bukan aku!" Tegas Marsya yang tidak mau di salahkan.
"Diam kamu Marsya!"
"Dan kamu juga Calvin, kamu sudah besar jangan memancing emosi kakak kamu, kalian sudah dewasa jangan seperti anak kecil bisa tidak!" Lanjut Amanda.
"Iya, belain terus aja tuh anak kesayangan mama!" Tanpa menunggu jawaban dari Amanda Calvin berlalu pergi meninggalkan mereka, tidak peduli dengan teriakan Amanda yang terus memanggil namanya.
Calvin sudah cape dan jengah dengan kelakuan kakak nya, dia selalu saja play victim, dan Amanda juga selalu saja membela Marsya ketimbang dirinya.
Sebagian orang mengatakan bahwa menjadi anak terakhir itu selalu di manja dan di sayang-sayang oleh sang ibu, tetapi yang di alami Calvin jauh berbeda, anak terakhir berasa jadi anak pertama bahkan dia merasa mamanya tidak menyayangi dirinya sepenuh hati.
__ADS_1
Selalu membanding-bandingkan dirinya dengan Marsya, sebesar apapun perjuangan nya tidak ada nilainya di mata sang ibu, tetapi sekecil apapun perjuangan Marsya, di mata Amanda Marsya adalah putri paling ia banggakan dan seolah-olah Amanda hanya memiliki satu anak yaitu Marsya.
"Ck! Dasar anak itu!" Amanda berdecak kesal.
"Sudah lah mam, kan Calvin anaknya seperti itu, susah di atur." Sahut Marsya.
"Yaudah Marsya pamit mau nongkrong sama temen-temen Marsya dulu yah mam."
"Loh, ko pergi lagi." Jawab Amanda.
"Iya soalnya Siska sama Sindi udah nungguin nih."
"Yasudah hati-hati yah."
"Iya mam." Marsya pun berpamitan dan pergi menuju tempat yang ia tuju.
Di kediaman Dirgantara.
"Mika!" Angga Menggedor pintu kamar mandi, ia sedikit khawatir pasalnya Mika dari tadi belum keluar juga, hampir setengah jam.
Mika langsung mengerjab lalu ia bangkit dan mematikan shower.
"Cepet mandinya! Gue juga gerah mau mandi!"
"Iya bawel, sebentar lagi!"
Mika dengan segera menyelesaikan ritual mandinya, ia berusaha mengubur dalam-dalam rasa sedihnya lalu, menguatkan diri hati dan pikiran.
Mika pun keluar dari kamar mandi dan langsung menuju walk in closet.
Angga langsung masuk ke dalam kamar mandi setelah Mika keluar.
20 menit kemudian ia keluar dan melangkahkan kakinya menuju walk in closet.
Mereka sekarang tengah bersantai, Mika yang tengah membaca majalah dan Angga sedang sibuk dengan sosial medianya.
"Lo boleh ko deket-deket terus sama Marsya." Tiba-tiba Mika memulai percakapan.
__ADS_1
Angga tidak menjawab Perkataan Mika ia tetap fokus kepada handphone nya.
"Lo juga boleh ko kalo pacaran, tunangan atau pun nikah sama dia, asal ... "
"Lo harus ceraikan gue, gimana setuju?" Lanjutnya.
Angga yang tadinya asik bermain ponsel, seketika mengangkat kepalanya dan menatap Mika dengan ekspresi datarnya, tetapi si empu yang di tatap tidak menyadarinya, ia terus fokus membaca majalah yang ia pegang.
Angga meletakkan handphone nya di atas sofa yang barusan ia duduki, lalu ia beranjak mendekati Mika yang berada di atas kasur tengah fokus membaca majalah.
Angga langsung mengambil majalah yang Mika baca dan meletakanya di meja kecil bersebelahan dengan lampu tidur.
Mika mendongakkan kepalanya menatap Angga, Mika mengernyit heran.
Kemudian Angga naik keatas kasur dan duduk di depan Mika yang tengah kebingungan.
"Lo mau ngap-- aaaa ... " Mika kaget ketika tiba-tiba Angga menarik kakinya sehingga membuat dirinya tidur terlentang.
Angga langsung mengukung tubuh Mika, dan mendekatkan wajahnya, Mika memberontak dan mendorong tubuh Angga.
Tetapi pergerakannya kalah telak ketika Angga menangkap lengan Mika dan mencengkeram nya, lalu mengunci tubuh Mika sehingga dia tidak dapat memberontak lagi.
Deg deg deg
Detak jantung Mika tidak karuan sekarang, begitu juga dengan Angga.
"Denger ini baik-baik kucing garong!" Ucap Angga masih dengan posisi mengukung tubuh Mika.
"Sampai kapanpun gue gak akan pernah menceraikan Lo, ingat Lo itu milik gue dan yang ada di diri Lo itu semua gak gue, gak ada yang boleh merebut yang sudah menjadi milik gue paham?!" Lanjutnya
Mika membeku dan mencerna kalimat demi kalimat yang di ucapkan oleh Angga.
Dor! dor! dor!
"Mika, Angga. Kalian di dalam? Keluar nak kita makan dulu." Panggil mama Fika.
Saat itu juga mereka langsung bangkit dari posisinya dan buru-buru keluar kamar.
__ADS_1
JANGAN JADI PEMBACA GELAP!!