DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU

DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU
Bab 100 Dia Tidak Suka


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu, jika ada waktu aku akan pulang melihat kalian.”


Hello! Im an artic!


Betapa munafiknya itu, sembari memandang kepergiannya, seketika Wendy merasa -kulit kepalanya mati rasa-.


Dia keluar, Wendy yang menyusulnya menghentikan langkahnya di depan pintu, ia melihat dua pria yang sepertinya bodyguard berjalan di sampingnya, seorang pria yang sedang membukakan pintu mobil untuk Michael, sedangkan pria lain yang berpakain sama mempercepatkan langkahnya menuju ke kursi kemudi. Brak. Pintu ditutup oleh mereka, membawa Michael pergi dari hadapannya.


Hello! Im an artic!


Tidak tahu apakah dirinya sempat tertidur, mungkin sepanjang malam tadi tidak dapat tidur dengan baik, bayangan Michael terus saja mengganggu pikirannya, tidak henti-hentinya berputar di benaknya, menguasai kesadarannya.


Resah, terganggu.


Dia menyuruhnya pulang ke rumah, dia sengaja tidak mau pulang.


Pagi-pagi sekali, dokter belum datang untuk memeriksa kondisi pasien, Bibi Zhang sudah mulai membereskan barang.


Lexi dan Lexa melompat dari tempat tidur, “Mommy, ayo bangun, kita sudah mau pulang.” Bangunnya sambil menggoyang-goyangkan pundak sang mommy.


Wendy terbangun, membuka matanya dengan kesadaran yang belum terkumpul utuh, termangu lama untuk mencerna perkataan sang kembar, menolehkan kepalanya dan melihat Zhang Ma yang berbenah, “Bibi Zhang, tidak usah beres-beres lagi, aku tidak pulang, anak-anak juga tidak pulang.” Dirinya bahkan belum sembuh, kenapa harus pulang? Walaupun jika dianggap sedang merajuk, ia tidak merasa keputusannya ini salah, fasilitas rumah sakit pasti lebih lengkap dibandingkan dengan di rumah, rumah hanyalah tempat tinggal, bukan tempat untuk menyembuhkan sakit.


“Nyonya, tapi tuan bilang…”


“Kepalaku masih sakit, juga belum sembuh sepenuhnya, aku tidak mau pulang.”


“Nyonya, bagaimana jika anda menelepon tuan terlebih dahulu, takutnya…” Bibi Zhang menatap Wendy dengan pandangan serba salahnya itu.


“Tidak usah, kalau ada apa-apa aku yang tanggung, kau tenang saja.”


“Ba-baiklah.” Bibi Zhang mengeluarkan kembali barang-barang yang telah dibereskannya, Lexi dan Lexa pun kembali berbaring ke tempat tidur masing-masing dengan patuh. Karena pintu kamar sudah di buka, dokter pun mulai menjalankan tugas paginya dengan memeriksa ruangan pasien satu persatu.


Seorang dokter masuk dengan mengenakan masker, ia pun mulai bertanya tentang kondisi dan perubahan yang dirasakan mereka beberapa hari ini, “Hanya demam biasa saja, sebenarnya infusnya bisa di rumah saja, begitu juga lebih mudah.” pinta sang dokter.


Ini pasti sudah direncanakan oleh Michael Ling itu, terserah dia saja, mau bagaimana pun, dia takkan pulang, selagi dia belum mengurus prosedur untuk keluar dari rumah sakit, kamar pasien ini masih miliknya.


Para dokter yang mengecek ke tiap-tiap kamar pun sudah keluar, membiarkan pintu terbuka, keadaan di luar sunyi sekali, tidak ada perawat yang berjalan di koridor, ataupun keluarga pasien yang hendak menjenguk di pagi ini, menatap kosong ke koridor mengingatkannya dengan Michael yang pulang kemarin malam dengan dua bodyguard membuntuti dirinya. “Bibi Zhang, kemari sebentar.” Melambai-lambaikan tangannya, Wendy menyuruh Bibi Zhang mendekat.


“Ada perlu apa nyonya? Silahkan saja memberi arahan.”


“Apakah tuan benar-benar kecelakaan?


“Iya nyonya, kecelakaan lalu lintas, mobil BMW tuan pun hancur parah.”

__ADS_1


Kalau yang ini, dia benar-benar tidak tahu. Sebenarnya mudah saja untuk memastikan kebenaran hal ini, ia tinggal menelepon Agus ataupun pihak bengkel, lalu bertanya dengan jelas.


Tangannya baru saja terjulur untuk mengambil ponselnya, suara pintu yang dibuka terdengar dari dalam, seorang perawat yang mengenakan masker memasuki ruangan, mendorong cairan infus dan cairan-cairan yang diperlukan.


Dimulai dari Lexa, perawat tadi dengan cekatan menggantung infus di tempatnya, di saat akan menyuntikkan jarum infus ke punggung tangannya, Lexa memejamkan tangannya takut, perawat membolak-balikkan tangan kecil Lexa, bermaksud untuk mencari letak pembuluh darah, lalu menyuntik perlahan setelah dengan cepat menemukannya. Wendy terus mengamati perawat tersebut, terasa asing baginya, “Permisi, apakah anda suster baru?” Terlihat seperti perawat baru, tetapi caranya menyuntikkan jarum tampak sangat terlatih.


Perawat tersebut menjawab dengan pelan sembari menempelkan perekat ke punggung tangan Lexa, “Saya barus saja dipindahkan dari departemen. Tidak termasuk suster baru.”


“Oh, begitukah?” Tanya Wendy dengan ragu tanpa mengalihkan perhatiannya dari gerak-gerik sang suster, rasanya sedikit kikuk?


Hingga tiba giliran Lexi, tangan sang suster bergetar hebat ketika hendak menyuntikkan jarum, Wendy semakin menaruh curiga, “Suster, apakah anda sakit? Kalau tidak, biarkan suster lain saja yang menyuntik. Bibi Zhang, panggilkan suster yang lain kemari.


“Baik nyonya.” Bibi Zhan melenggang keluar


Perawat tersebut terdiam tanpa kata, mencoba untuk menyuntikkan infus pada Lexi sekali lagi, “Suster, sudah kubilang tidak usah menyuntik lagi, anda sepertinya sedang sakit, kalah tidak berbaringlah dulu di tempat tidurku.” Tawar Wendy ramah, namun manik matanya tidak berhenti mengamati si perawat.


“Tidak usah, saya tidak apa-apa, terimakasih.” Tolak sang suster halus, tangannya yang gemetar tidak berhenti mencoba menyuntikkan jarum ke punggung tangan Lexi, namun karena terlalu gelisah, pembuluh darah malah semakin sulit untuk ditemukan. Di detik itu pula, terdengar derap langkah kaki dari luar, Wendy mendengarnya, perawat tadi tentu juga mendengarnya, akhirnya ia memilih untuk mengalah, “Ba-baiklah kalau begitu, saya tidak bisa, biarkan saja suster lain yang melanjutkan.” Selepas mengatakan itu, ia melangkah menuju pintu. Dengan tidak sengaja, perawat lain yang datang bersenggol bahu dengannya.


Sama-sama mengenakan masker, perawat yang baru datang tidak menyadari dirinya, langsung menuju ke arah anak-anak, “Ada apa? Bibi ini bilang jarum infus tidak bisa disuntik ke pasien, benar begitu?”


“Benar.” Kecurigaan bersarang di pikiran Wendy, namun mengapa dirinya tidak bisa memikirkan apa yang terjadi sebenarnya?


Perawat mulai menjalankan tugasnya, mengangkat kepala jarum ke atas, kepalanya tergerak untuk mendongak dan memandang botol infus tadi, dahinya mengernyit “Eh?”


“Kenapa?”


“Celaka!” Wendy menjerit panik, bergegas mendekati Lexa, secepat kilat mencabut jarum dari punggung tangan Lexa, “Mommy, ada apa?”


“Sakit tidak?”


“Ndak.” Jawab Lexa polos sembari menggelengkan kepalanya menatap Wendy dengan tatapan bingung.


Wendy mencabut botol infus dengan segera dan menyerahkannya kepada suster, “Cepat periksa obat apa saja yang terkandung di dalamnya, dan coba cari ke mana perawat tadi itu pergi, apakah masih sempat terkejar?”


Terjadi kericuhan di kamar itu, dengan cepat, suster-suster di departemen sudah tahu terjadi masalah, suster yang menginfus Lexi dan Lexa tadi ternyata memang bukan dari departemen itu, tidak tau darimana asalnya, bahkan semua orang terperanjat ketika mengetahui kandungan dari cairan infus itu. Racun! Untung saja dosis yang masuk ke pembuluh darahnya tidak banyak, namun jika tidak segera ditangani akan mengakibatkan pengetentalan darah.


Anak-anak sudah mengganti infus yang baru, yang sudah ditambahkan dengan penawar dan obat-obatan lain yang dibutuhkan. Wendy duduk dengan rasa takut yang masih tersisa, agar tidak menakutkan anak-anak, Wendy tidak menceritakan hal ini pada mereka, namun rasanya masih ada batu besar yang menekan dadanya, rasa khawatir pun semakin membuncah.


Sebenarnya siapa yang mengutus perawat itu kemari?


Siapa yang begitu kejam hingga menginginkan nyawanya dan anak-anak?


Di saat ini pula, ia melangkah cepat ke arah pintu, membuka pintu kamar dengan kasar, ia terperanjat ketika mendapati dua pengawal pribadi Michael yang ia temui hari itu, berdiri tegap di sisi pintu, ternyata, Michael sudah tahu mereka akan ditimpa bahaya?


Sebab itulah, ia menyuruh Wendy untuk pulang bersama anak-anak hari ini, tetapi ia malah teguh dengan pendiriannya, tidak mau pulang.

__ADS_1


Kejadian yang terjadi tadi, kalau bukan karena perawat itu menunjukkan belangnya dengan cepat, kalau bukan karena ia cepat memergokinya… Ia tidak berani membayangkan akibatnya.


Jika begitu, bagaimana dengan kecelakaan yang dialami Michael? Ia segera mengambil ponselnya melaju keluar ruangan, para pengawal yang melihatnya dari belakang saling melempar pandangan, lalu salah satu dari mereka dengan cepat mengikuti langkah Wendy.


Memilih menyusuri tangga dengan berlari, ia ingin membuang rasa beban pikirannya jauh-jauh, ponselnya sudah menelpon ke nomor Michael, hanya menunggu Michael menerimanya saja.


“Siapa?” Walaupun hanya melalui telepon, rasanya ia dapat merasakan napas dari Michael.


“Kalau aku tahu, aku tidak akan begitu memaksa kalian untuk pulang hari ini juga, jika anak-anak sudah selesai diinfus cepat bawa mereka pulang ke rumah.” Ujarnya dingin, jelas sekali dia marah, marah karena kekeraspalaan Wendy yang hampir merengut nyawa Lexi dan Lexa. Wendy sadar akan kesalahannya, kali ini memang dia yang salah.


“Kau bilang, kecelakaan itu memang benar adanya, benar begitu?”


“Kau pikir untuk apa Bibi Zhang menipumu?”


“Bukan dia tapi kau!” ujar Wendy sarkas, mengeluarkan kata-kata yang ditahannya sedari tadi.


“Baiklah, aku beritahu kau, kecelakaan memang terjadi, mobilku juga sudah hancur, aku beruntung karena selamat.”


“Itu berarti kau tidak terluka?”


Semalam, ia jelas melihat Michael yang tampak sehat dari luar, dan, dia berendam di sauna, bukankah artinya dia tidak apa-apa?


“Nanti malam, kita bahas ini lagi ketika kau pulang.” tutt. Michael memutuskan sambungan secara sepihak seusai Wendy berbicara.


Suara yang menyakiti telinga, ia belum menurunkan ponsel dari telinganya selang beberapa menit. Hanya terdiam mendengarkan bunyi tersebut, -hatinya bergetar-.


Rumah, dia sungguh akan pulang, setidaknya, mereka lebih aman di sana.


Lebih cerdik pun, tidak akan secerdik orang yang akan mencelakai mereka, dijebak oleh orang lain, rasanya -tidak berdaya-, kalau ia tidak berpikir untuk dirinya pun, ia harus berpikir demi anak-anaknya.


Di rooftop, angin bertiup kencang, berhembus menerbangkan rambut panjangnya, menusuk kulit wajahnya. Belum terpikirkan olehnya siapa yang begitu tidak berperasaan hingga menginginkan nyawa anak-anaknya juga, masalah orang dewasa, kenapa harus melibatkan anak-anak juga? Bahkan menginginkan mereka mati?


Siapa?


Sebenarnya siapa?


Tidak sadar sudah berapa lama tangannya menopang ke tiang pembatas, di saat kedua kakinya mulai melemah, suara gadis perempuan yang lugu terdengar dari telinganya, “Mommy, ayo kita turun.”


Nada kekhawatiran yang terselip di suara tersebut, membuat Wendy tergerak untuk membalikkan tubuhnya perlahan, “Lexi, kenapa ke sini sayang?”


“Mommy…mommy tidak mau kami lagi ya?” Suaranya bergetar karena menahan tangis, suara dan tatapannya mengungkapkan seberapa takutnya dia.


Wendy tersenyum geli, dia akhirnya mengerti maksud Lexi, mengambil langkah besar ke arah Lexi dan Lexa, langkah kaki ini menunjukkan ketetapan hatinya, dia tidak berpikir untuk mengabaikan anak-anak, apalagi meninggalkan mereka. Wendy membungkukkan badannya dan langsung menggendong Lexi, “Mommy di sini, mommy akan bersama kalian selamanya.” tutur Wendy sambil tersenyum lebar, ia melirik sekilas ke dua pengawal yang membawa Lexi dan Lexa kemari, mereka terlalu lebay, begitu pikirnya.


Mungkin semua orang di dunia ini akan melakukan hal bodoh seperti bunuh diri, namun tidak untuknya, karena dia memiliki Lexi dan Lexa, putri kembar kesayangannya.

__ADS_1


“Mommy, aku juga mau peluk.” Lexa mengedipkan mata bulatnya, ia juga ingin dipeluk.


“Ayo sini, kita berpelukan bersama.”


__ADS_2