
Begitu keluar dari lift, Wendy mencari-cari kunci apartemen dari dalam tasnya itu, tapi saat ia mendongakkan kepalanya, di depannya berdiri seorang gadis dengan wajah tersenyum tapi pada saat yang sama tidak tersenyum, matanya arogan, “Wendy, kamu senang ya menjadi seorang wanita simpanan?”, cemooh gadis itu sembari membuka pintu apartemen Michael. Tangan Wendy gemetar, kunci di tangannya itu tiba-tiba terasa sangat berat dan menimbulkan rasa sakit di hatinya, rupanya perempuan yang memiliki kunci apartemen Michael ini ada begitu banyak, Wendy hanyalah salah seorang diantaranya.
Wendy menggigit bibir, “Itu urusanku dengan Michael, tidak ada hubungannya denganmu, dan lagi, siapa kamu?”
“Alexa”, jawab wanita itu sambil tersenyum, “Masa kamu tidak ingat siapa aku?”
“Oh”, Wendy teringat, itu adalah nama perempuan yang menelpon di hari Michael tidak pulang malam itu. Entah mengapa, ingin rasanya Wendy langsung menerobos masuk tanpa menggubris Alexa, bisa jadi karena hal ini menyangkut harga diri, Wendy rasanya tidak ingin kalah dari Alexa.
“Ckckck, baju yang kau pakai ini juga Michael yang belikan untukmu kan.”
“Memangnya kenapa? Toh dia tidak akan membelikanmu.”
“Hehe…… Kamu kira saat datang nanti kakek akan langsung merestui pernikahanmu dengan Michael? Jangan mimpi di siang bolong, berdasarkan latar belakangmu saja, hal itu sudah pasti mustahil, wajahmu ini senjata satu-satunya milikmu. Ya, memang ada kemiripan sih.”
“Apa maksudmu?”, Wendy bingung.
“Wajahmu mirip dengan cinta pertama Michael, oleh karena itu, kamu hanyalah pengganti belaka, jangan berpikir macam-macam”, setiap kalimat yang keluar dari mulut Alexa itu seperti peluru yang tidak henti-hentinya ditembakkan ke arah Wendy.
Tenang, dia harus tenang menghadapi wanita ini, “Alexa, tidak peduli aku hanya pengganti atau wanita simpanan, tapi satu hal yang pasti, wanita yang diijinkan tinggal di apartemen ini itu aku, bukan kamu.”
“Kamu……”
Wendy masuk ke dalam apartemen Michael sembari tersenyum mengejek, lalu terdengar “blam ” suara pintu ditutup, “Nona Alexa, harap tahu diri”, Wendy tidak berniat meladeni Alexa lebih lama lagi.
Sayangnya, begitu masuk dalam apartemen, yang Wendy justru ruangan yang kacau balau, belum lagi sebuah ****** yang tergeletak di atas sofa. Wendy hanya pernah melihat barang itu tersegel rapi di rak di supermarket atau minimarket, baru kali ini dia melihat benda itu di luar kotaknya.
Sekonyong-konyong Wendy merasa sangat jijik……
Wendy tak tahan melihat pemandangan kacau itu lama-lama, ia segera berjalan menuju kamar tidurnya, tiba-tiba handphone di kantongnya berbunyi nyaring, ia menerima panggilan itu, otaknya masih terganggu dengan ingatan ****** bekas pakai di atas sofa tadi, “Michael, ada urusan apa?”
__ADS_1
“Sudah sampai rumah?”
Wendy berusaha mengembalikan fokus pikirannya dari bayang-bayang benda di atas sofa tadi, “Belum, tapi sebentar lagi aku sampai.”
“Oh begitu, kalau begitu kamu nanti saja baru kembali ke apartemen, bibi yang biasa membersihkan apartemen barusan bilang dia mau datang untuk bersih-bersih, kamu tunggu dia selesai bersih-bersih baru kembali ke apartemen saja, supaya waktu kamu sampai semuanya sudah beres dan rapi.”
Wendy mengerutkan keningnya, ia tidak menduga bahwa Michael begitu lamban, setelah meninggalkan jejak sejelas itu di sofa mengapa baru sekarang ia terpikirkan untuk membereskannya, Wendy terkekeh dalam hati, “Baiklah kalau begitu, aku juga sedang jalan-jalan, Michael, kamu ingin kubelikan apa?”
“Tidak usah, seleramu agak……ehm……”
“Seleraku kenapa?”
“Tidak……tidak apa-apa, bagus kok, hehehe… Kamu lanjut jalan-jalan saja, sekitar sejam lagi baru kamu pulang, sekalian aku suruh bibi membawa makanan ke apartemen.”
“OK, begitu saja, bye……”, Wendy tidak ingin melanjutkan pembicaraannya di telepon dengan Michael lebih jauh lagi, tiba-tiba rasanya lelah sekali.
Mungkin saja Michael tidak ingin orang tahu sebenarnya ‘lembur’ apa yang ia lakukan di siang hari di ruang tengah apartemennya ini.
Wendy membuka pintu bersiap-siap untuk pergi, tak ia sangka, Alexa masih menunggu di luar sana, “Kenapa? Wanita simpanan mau pergi? Diusir ya?”
“Anjing pintar tidak menghalangi jalan, aku mau pergi jalan-jalan”, celetuk Wendy sambil tersenyum. Wendy merasa ia akan benar-benar terlihat bodoh kalau menunjukkan indikasi bahwa Alexa telah berhasil membuatnya marah, Alexa hanya cemburu padanya, tidak seharusnya ia ambil pusing.
“Wendy, beraninya kamu memaki orang”, tangan Alexa melayang ke wajah Wendy.
Satu tangan Wendy menangkis, “Mohon maaf, memangnya anda menghalangi jalan?”
“Tidak……aku tidak kok.”
“Kalau begitu tidak ada yang salah kan, yang aku maki bukan dirimu, yang kumaki adalah orang yang menghalangi jalan”, Wendy menerobos dan melewati Alexa, baginya Alexa sangat berpotensi untuk menjadi orang yang menghalang-halangi jalan.
__ADS_1
Wendy berjalan cepat, langkahnya lebar, ia meninggalkan Alexa jauh di belakangnya, tidak memedulikan apa yang dikatakan oleh Alexa, semuanya masuk telinga kiri lalu keluar telinga kanan, lagipula Wendy dan Michael tidak sungguh-sungguh terlibat hubungan serius, hanya sekedar kawin kontrak belaka, jadi buat apa cemburu.
“Haha… pasti Michael menyuruhmu pergi kan. Aku lebih tahu Michael, sebentar lagi dia pasti akan datang.”
Wendy tidak menyahut, jari telunjuknya langsung menekan tombol lantai dasar dalam lift, mata Wendy memandang ke luar dinding lift yang transparan, mungkin itu hanya gerakan alam bawah sadarnya. Di saat yang sama, Wendy melihat punggung Michael yang sedang membelakanginya di dalam lift seberang yang kini bergerak naik, Wendy sangat yakin itu pasti Michael, ia mengenakan pakaian yang sama saat mengantarnya ke kampus pagi ini, warna yang sama, model pakaian yang sama, tidak salah lagi.
Wendy tiba-tiba merasakan rasa sakit di hatinya, seolah jantungnya sedang dicengkeram erat, sakitnya menjalar sampai ke tulang belulang di tubuhnya, ia memejamkan mata perlahan untuk menahan rasa sakit itu.
Saat Wendy melangkah keluar dari lift, cahaya lampu neon sudah menghiasi jalanan di luar sana, Wendy terus berjalan tanpa henti melewati persimpangan-persimpangan jalan di Kota T, tiba-tiba rasa kesepian yang kuat menyerbu, entah apa yang sedang dilakukan Michael dan Alexa saat ini, toh di antara Wendy dan Michael tidak pernah ada perasaan dan hubungan nyata.
Wendy teringat kata-kata Alexa tentang kemiripannya dengan cinta pertama Michael, ada rasa pedih di dalam hati Wendy, dia bahkan tidak tahu siapa cinta pertama Michael. Ia ingin menghapus ingatannya tentang pemandangan ruang tengah yang baru saja ia lihat sore ini, tetapi makin ia berusaha, ingatan itu kian jelas dan tak mau pergi.
Tanpa menyadari sudah berapa lama ia berjalan, telepon genggamnya kini berbunyi, menyadarkan Wendy dari lamunannya, nada dering yang berbunyi sangat khas, Wendy dengan santai mengangkatnya, nadanya datar menyahut, “Michael, ada apa?”
“Wendy, kamu di mana? Kenapa belum juga pulang?”
“Oh, aku masih jalan-jalan”, sahut Wendy ringan, dalam kepalanya ia membayangkan Michael berdasarkan sifat aslinya, mungkin sekarang ia sedang mendekap mesra Alexa, seperti waktu itu Wendy memergokinya di kantor atau di tangga, Michael berani melakukan hal-hal tak senonoh di tempat umum.
“Makanannya sudah dingin semua, mau tidak kubantu menghangatkannya saat kau pulang?”
Nampaknya suasana hati Michael sedang sangat baik, “Hehehe…boleh, Terima kasih ya”, niat baik Michael ini jadi membuat Wendy merasa agak bersalah sudah membohonginya tadi.
“Kira-kira jam berapa kamu akan pulang? Aku bantu panaskan makanannya.”
Wendy melihat jam, baru ia tersadar ia sudah sejam lebih berjalan sendiri, juga tidak tahu sekarang ia berada di mana, jawabnya singkat, “Setengah jam lagi aku pulang.”
“OK, bye”, Michael dengan gembira mengakhiri panggilan teleponnya, sepertinya Michael tidak bercanda saat bilang ia mau memanaskan makanan untuk Wendy.
Wendy melihat minimarket tidak jauh di depannya, mengingat tadi ia mengatakan pergi belanja pada Michael, rasanya aneh kalau ia pulang tanpa membeli apa-apa. Wendy masuk ke dalam minimarket itu dan membeli beberapa camilan, tepat saat ia hendak membayar ke kasir, ia melihat dasi di rak dekat meja kasir, Wendy dengan girang memilih-milih dasi, ia memilih dasi dengan corak warna merah biru dan memasukkannya ke keranjang belanja yang ia bawa, saat membayar baru ia sadar harga satu dasi itu dua ratus ribu lebih, dengan sangat berat hati Wendy mengembalikan dasi itu ke rak tempat ia mengambilnya tadi.
__ADS_1