DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU

DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU
Bab 13 Belum Kembali


__ADS_3

Anehnya si penelpon tidak segera menjawab, Wendy tidak mendengar suara apapun dari ujung sana.


“Halo, dengan siapa aku berbicara……?”, Wendy bingung, jangan-jangan teleponnya sudah dimatikan, tapi tidak ada tanda-tanda sama sekali.


“Wendy? Apakah Michael ada?”, suara merdu seorang wanita memanjakan telinganya, waktu menunjukkan waktu selarut ini, wanita ini menelpon ada perlu apa? Tapi hal ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Wendy, toh dia juga hanya tamu yang menumpang sementara waktu di apartemen ini.


“Dia tidak ada, belum pulang.”


“Nanti kalau dia sudah kembali, tolong sampaikan padanya kalau handphone nya tertinggal di tempatku, aku Alexa.”, “tuut”, bunyi telepon ditutup, kali ini, betul-betul terdengar suara telepon ditutup.


Tapi malam itu Michael tidak kembali sama sekali. Pagi-pagi buta Wendy terbangun dari tidurnya, nampaknya semalam ia tertidur di sofa. Wendy kehabisan akal, dia sudah tidak punya alasan apapun untuk terus tinggal di apartemen itu, Wendy menulis di selembar kertas menjelaskan keputusan yang telah ia ambil sembari menyampaikan pesan mengenai keberadaan handphone nya. Wendy pergi meninggalkan apartemen Michael dalam keadaan yang persis sama ketika ia datang, bedanya, luka di kakinya itu kini sudah sembuh total.


Setibanya di kampus, rasanya semua kembali seperti sedia kala, waktu berlalu, apa yang terjadi antara dirinya dengan Jacky juga lambat laun mulai dilupakan oleh orang-orang.


Suatu hari seusai kelas, Wendy sedang berjalan kembali ke asrama ketika tanpa diduga lagi-lagi ia berpapasan dengan Jacky. Penampilan Jacky tak karuan, wajahnya pucat dan lemah berdiri di hadapannya, perawakan Jacky yang semula tinggi dan gagah sekarang tidak lagi bersemangat, justru kebalikannya, Jacky tampak lesu. Wendy berbalik badan berpindah haluan, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi dengan Jacky. Suara langkah kaki terdengar dari belakang Wendy mengikuti ke mana ia melangkah, Jacky meraih tangan Wendy menghentikannya,


“Wendy, aku merindukanmu, kita baikan saja.”


Apa-apaan ini, dianggapnya Wendy itu mainan? Seenaknya selingkuh, lalu setelah putus dengan gampangnya minta balik lagi, Wendy tidak suka diperlakukan seperti itu. Wendy tertawa kecut,


“Lepaskan tanganku, aku sudah punya pacar.”


“Wendy, tidak mungkin, aku tahu kamu sengaja berbohong padaku. Wendy, aku tidak bisa bersamanya. Selama kamu menghilang beberapa hari ini aku sudah berpikir baik-baik, Wendy, aku tidak butuh orang lain, aku cuma butuh kamu.”


Namun Wendy sudah tidak ingin bersamanya lagi.

__ADS_1


“Maaf, cerita diantara kita sudah lama berakhir, Jacky, kita berdua sudah tidak mungkin kembali lagi.”


“Aku tidak percaya, Wendy, aku tahu kamu masih mencintaiku, perasaan yang kita pupuk selama empat tahun ini tidak mungkin begitu saja sirna”, tangan Jacky memegangnya kuat kuat, tenaganya begitu kuat sampai-sampai Wendy tidak berdaya melawannya. Jacky mendadak menundukkan kepalanya dan mencium paksa Wendy, ketika dua pasang bibir mereka bersentuhan, seperti ada percikan api yang membakar bibir Wendy, dengan sekuat tenaga Wendy mendorong Jacky, tapi bukannya goyah, Jacky makin kuat menciumnya,


“Tolong…….”, Wendy ingin berteriak meminta tolong, tapi mulut Jacky membungkamnya paksa.


Dulu, sudah tak terhitung berapa kali Wendy membayangkan dan mendambakan berciuman mesra dengan Jacky, tapi sekarang, ketika Jacky sendiri yang memulai ciuman ini, entah mengapa, yang timbul justru rasa jijik. Sekali dengan sekuat tenaga Wendy mengayunkan kakinya, kali ini ia mempraktekkan langsung jurus menghalau pria hidung belang yang ia pelajari di kelas olahraga, akhirnya Wendy punya kesempatan untuk menggunakannya.


Wendy langsung berbalik badan, naasnya, hal yang ia lihat begitu berbalik justru wajah Rena Jin sedang berdiri di sana dengan wajahnya yang berlinang air mata, Rena Jin memandangnya penuh kebencian, tatapannya seolah ingin mematahkan tubuh Wendy menjadi dua. Tanpa ragu Wendy melangkah ke arah Rena Jin, ia lalu berbisik di telinga Rena Jin,


“Urus baik-baik pacarmu, jangan sampai dia datang menggangguku lagi. Dan tenang saja, uang seratus juta itu pasti akan kukembalikan padamu.”


“Kau……”, Rena Jin tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya, ia lalu terisak, Wendy tiba-tiba menyadari betapa memuakkannya Jacky, kenapa selama ini dia tidak pernah menyadarinya.


Seusai pelajaran, Wendy hendak menuju rumah murid bimbingan belajarnya, Wendy merasa sungkan datang dengan tangan kosong setelah beberapa kali ia minta ijin, ia sengaja mampir membeli satu buket bunga. Sesudah mengajar dua jam pelajaran sekaligus, langit sudah gelap ketika Wendy bergegas menuju Feng Chen.


Setelah berjalan cukup lama, ada beberapa pria berjalan dari arah yang berlawanan, Wendy terus berjalan tanpa menghiraukan mereka, ia kira hanya pejalan kaki lainnya, tapi ketika sekelompok pria itu melewatinya, tiba-tiba saja salah satu dari mereka memukulnya tepat di ulu hati, Wendy sontak terjatuh, ia langsung menjerit sekuat tenaga,


“Aaa……tolong……”, Wendy tidak mengerti mengapa orang-orang itu berusaha menyakitinya, dia tidak pernah merasa telah menyinggung siapapun.


Masih terbaring di tanah, Wendy terus berusaha melindungi dirinya sendiri, namun orang-orang itu terus memukul dan menendanginya dengan kejam, rasa sakit tersebar di sekujur tubuhnya. Jari tangannya yang lemah berusaha membuka handphone dan menghubungi seseorang untuk mencari pertolongan, entah nomor siapa yang ia hubungi, ia juga tidak tahu siapa yang akan menerima panggilannya, begitu terdengar nada tersambung dan telepon diangkat, Wendy mengerahkan tenaga untuk berbicara, suaranya lirih,


“Aku di jalan XXX, aku sedang dipukuli orang.”


“Hei, siapa yang membolehkanmu menghubungi orang lain?”, sosok laki-laki itu tampak makin gusar saat mengetahui Wendy berusaha mencari pertolongan.

__ADS_1


Wendy menggertakkan gigi, ia tak tahu apakah usahanya mencari pertolongan itu tepat atau tidak, tapi ia tidak ingin diam saja dianiaya sedemikian rupa, dia masih harus pergi ke Feng Chen, tangannya menutupi bagian kepalanya, pikirnya jangan sampai kepalanya terluka.


“Bos, ada suara mobil polisi”, seru salah seorang diantara mereka.


Tidak salah lagi, setelah itu suara mobil polisi makin terdengar jelas dan makin dekat. Langsung saja sekelompok orang-orang itu bubar melarikan diri ke segala arah, seorang di antara mereka memperingati Wendy,


“Kali ini cukup sampai di sini, jangan sampai kau kembali, kalau tidak, berikutnya kami akan menghabisimu.”


Wendy berusaha bangkit, tubuhnya lemah setelah dipukul bertubi-tubi. Saat mobil polisi sampai ke lokasi, ia masih belum bisa berdiri di kedua kakinya. Banyak orang kemudian berbondong-bondong datang ke lokasi kejadian dan mengerubunginya. Masih terduduk di tanah, Wendy memeluk lututnya, tubuhnya gemetaran, seketika itu ia merasa takut berada di tengah keramaian, tapi ia tidak bisa bergerak cepat untuk sembunyi atau menghilang dari hadapan orang-orang di sekelilingnya itu.


“Wendy, kamu baik-baik saja kan”, kerumunan orang-orang yang mengelilinginya itu seperti dibelah dua. Awalnya Wendy kira tadi ia menghubungi salah satu teman dekatnya, tak disangka ternyata orang yang ia telpon tadi adalah Michael.


Tentu saja, cuma Michael satu-satunya orang yang bisa memanggil polisi secepat itu dan mengamankannya. Michael menggendong dan membawa Wendy masuk ke dalam mobil, sekujur tubuhnya masih gemetaran, ia masih diselimuti rasa takut. Satu tangan Michael menarik Wendy bersandar ke bahunya, tangannya satu lagi memegang kemudi mobil, Michael berusaha menenangkannya sambil tetap memacu mobil dengan sangat kencang,


“Jangan takut, semuanya sudah berlalu, orang-orang itu tidak akan bisa menyakitimu lagi.”


Wendy menutup matanya sambil mendengar suara Michael berbicara, rasa lelah tiba-tiba menyerangnya, seolah-olah dia baru bisa merasa aman ketika berada di dekat Michael. Jemari Michael membelai wajah Wendy lembut, tiap belaiannya sangat hati-hati, seperti sedang menyentuh barang paling berharga di dunia.


“Beberapa hari ini aku sangat sibuk, banyak yang harus kusiapkan untuk menyambut kedatangan kakek.”


Wendy diam saja mendengar penjelasan Michael, badannya makin terasa nyaman bersandar pada Michael. Wendy tahu persis, meskipun Michael berbaik hati datang menyelamatkannya dan kini tengah menghiburnya, sampai kapanpun Michael tidak akan mungkin jatuh hati padanya, tapi dia justru ingin berada di sisi Michael. Wendy kira dia tidak akan berjumpa lagi dengan Michael setelah pergi meninggalkannya waktu itu, tetapi saat Michael muncul di hadapannya tadi barulah Wendy sadar, rupanya gejolak di hatinya seharian ini karena ia terus memikirkan Michael.


“Pindah saja ke apartemenku, kamu tidak punya alasan kuat untuk menolak tawaranku. Selain aku, tidak ada orang lain yang bisa melindungimu.”


Wendy menghirup udara, napasnya sedikit terisak, menurut pepatah kuno, pria adalah langit dan bumi bagi wanita, hal itu berlaku untuk Michael, tapi dia tidak bisa mencintai Wendy, lalu harus bagaimana?

__ADS_1


“Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan menyentuhmu, tapi kamu harus setuju menikah denganku.”


Michael mengambil kesempatan dalam kesempitan, dia terus mendesak Wendy di saat Wendy sedang kesusahan, benar-benar cerdik.


__ADS_2