DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU

DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU
Bab 62 Duduk Dengan Tenang


__ADS_3

Semua cerita ini, hampir semua tidak ada yang salah, hanya dia yang terlambat masuk ke dunia Michael Ling.


Memberi peringatan dengan sangat serius, tetapi dia, malah mencintai lelaki itu, dengan bodoh mencintanya.


Michael Ling tidak bersalah, yang salah adalah dia, kapok sudah memiliki kesedihan seperti ini.


Duduk dengan tenang, malam makin berlalu, semenit demi sedetik mengoreskan luka.


Tidak lama kemudian, diluar jendela terlihat fajar, hati akan terang, sinar mentari membuat Wendy Zhong terbangun, saat itu anak-anak juga masuk jam bangun tidur, lalu, dia tidak boleh seperti ini.


Ketika tanganya memegang jendela dan ingin berdiri, paha dan kakinya serasa ngilu, dia terduduk terlalu lama, di tubuhnya serasa ngilu, ia teringat apa yang terjadi dengan dia dan Michael Ling, wajahnya memerah, dengan cepat ia mandi, dia ingin menghilangkan aroma Michael Ling ditubuhnya.


Air hangat yang menguyur tubuhnya, melihat di kaca tubuh yang banyak bekas memerah, Michael Ling, apa yang sebenarnya dia lakukan.


Setelah itu , dia tak bisa menghilangkan bekas merah itu, mereka, hanya waktu yang bisa menghapus berlahan.


“Tok tok” pintu kamar terketuk, suara itu membuat dia terkejut, itu bukan suara kamar dia, tetapi suara pintu ruang tamu.


“Mami , ada yang datang.” Di pintu, Lexa berteriak, membuat gerogi Wendy.


Sepagi ini ada yang datang, pasti…


Dengan cepat ia selesaikan mandinya, sembari mengeringkan rambut sembari keluar dari kamar mandi memakai baju ,”Lexa, jangan buka pintu, jangan digubris.” Pasti orang suruhan Michael untuk menjemput Lexi dan Lexa, tetapi keadaannya sekarang, sangat menyesal jatuh cinta ke Michael.


Bagaimana jika dia ingin membawa pergi Lexi dan Lexa?


Dia tidak ingin pergi ke apartmennya, tidak sama sekali, disana hanya ada bayangan Maria,belum lagi suara manja Maria, membuat lelaki ingin memanjakannya.


“Tok tok tok” rumah yang tidak ada bel hanya bisa diketuk, Lexa sangat penurut, memberi tahu Sunarti dan Lexi, agar taka da yang boleh membuka pintu.


Suara itu membuat debar jantung Wendy makin kencang, bisakan berhenti?


Tetapi dia tidak ingin membuka pintu, tidak ingin melihat orang dibalik pintu itu, dan tidak ingin tau apa yang akan terjadi setelah ini.


Dia terdiam.


Termenung, setelah dikeringkan separo badannya, ia membuka jendela, angina seperti air yang menyiram dia, pagi yang indah, tetapi hatinya masih saja sesak.


“Mami, orang itu pergi, keluarlah, atau, buka pintu, mami , aku dan Lexi rindu kamu.”


Dengan handuknya berjalan ke depan pintu , membuka pintu , Lexi dan Lexa merangkul kakinya,”Mami, itu siapa ?”


“Mungkin salah rumah, tidak perlu di gubris, sini. Mami buatkan sarapan.”


Setiba di dapur, hanya ingin membuat sarapan untuk anaknya, tetapi baru mengerakkan tangan, dari ruang tamu Lexi dan Lexa berteriak.”Mami, ada orang diluar jendela.”

__ADS_1


Hatinya “terkaget”, ini bukan lantai satu, bangunan setinggi ini masih nekat memanjat jendela?


。Ia meletakkan benda ditangannya, ketika ia keluar, jendela ruang tamu ada orang.


Kevin mengetuk jendela, memintanya membuka.


Sebenarnya, jika dia tak membuka juga tak ada pilihan lain.


Penjahat, jika dia tak membuka jendela, mereka akan membobol masuk kedalam.


Mengambil handphone dan mentelfon Kevin, dia mengangkat telfon, ia berkata:”Tuan Ling meminta kalian membawa pergi Lexi dan Lexa?”


“Nona Zhong, Lexi dan Lexa adalah darah daging keluarga Ling, sudah seharusnya tinggal disana.” Kevin berkata dengan mudah.


“Michael meminta kamu datang?” Ia bertanya, tetapi hatinya sakit, Lexi dan Lexa sejak lahir Michael Ling pernahkah berbuat untuk mereka?


Tidak pernah, tetapi sekarang, dia ingin membawa anak-anaknya, ia anggap dia siapa?


“Nona Zhong, kenapa, anda tidak mau?” Nada suara Kevin sedikit aneh, pasti menganggap dia sudah berkata , tujuannya pasti akan membawa Lexi dan Lexa tinggal di keluarga Ling, dan dia bisa menjadi bagian dari keluarga Ling.


“Iya, aku tidak bersedia, jadi, anda silahkan pergi.” Repot, bikin repot, dia tau jika Lexi dan Lexa adalah anak dia, tetapi sekarang, hanya karena Maria, bahkan untuk menjemput mereka saja memerintahkan Kevin, lalu, bukankah menjadi ayah juga bisa digantikan seseorang?


Jemarinya menutup telfon, Lexi dan Lexa mengangkat kepala, dan bertanya,:”Ibu, ada apa?”


Iya, terjadi, Michael Ling tau mereka anaknya.


Lexi membelalakkan mata,”Mami, maksudmu akan membawa kami bertamasya?”


“Iya, mau pergi tidak?”


“Wah, mau pergi, Mami, kapan kita berangkat? Aku sekarang ingin berangkat.”


Jemarinya mengelus kepala Lexi, “Terburu-buru ya, mami merencanakan dulu, setelah itu baru mami beri tahu kapan berangkat.” Sebenarnya, dia ingin sekali sekarang keluar dari kota T ini, dengan begitu, Michael Ling tidak akan menemukannya.


Dia orang yang sangat baik, dia sekarang berusaha memberi kesempatan Michael dan Mariabersama, dia tak ingin anak-anak menganggu dia dan Maria, tidak ingin masuk kedunianya, dengan begitu, bisa pergi selamanya.


“Mami, pergilah membuat rencana, cepat, aku tak mau sarapan.” Lexa mendorongnya, ingin rasanya segera selesai rencana itu.


Hati yang bergerak lebih baik dengan gerakan nyata, semakin cepat semakin bisa berlari dari kejaran Michael Ling.


Ini Namanya rencana cerdas.


Setelah berencana, ada, “Kita pergi ke pulau gunung berapi, bagaimana?” itu adalah lokasi wisata terdekat dari kota T, saat hendak lulus dari kampus T dia pernah dengan rekan kelas pergi kesana, sayangnya saat itu dia hamil, dia tak pergi, sekarang, ia ingin kesana.


“Ayo ayo, Mami terbaik.” Mereka dengan senang berteriak memutari ruangan, sangat senang dan ingin langsung berangkat.

__ADS_1


“lepaskan tanganku, heng, kalau tidak, tak akan membawa kalian”


“Baiklah, kapan berangkat?” segera, dua tangan mungil melepaskan gengamannya.


Menghitung uangnya, hanya cukup untuk setengah bulan, pergi wisata menjadi masalah baru.


Tetapi ingat wajah Kevin dan Michael, ia gigit giginya, Wendy bertakata:”pergi rapikan benda, sekarang kita berangkat.”


“Yes, Mami terbaik.”


“Wendy, ada apa dengan Kevin?” ketika anak-anak dalam keadaan senang,Sunarti bertanya.


“Tidak…tidak ada apa-apa, Sunarti, menurutmu, aku…” Dia tak punya uang, jadi, sebenarnya ingin membawa Sunarti, sekarang, tak bisa.


“Kamu bawa saja anak-anak berlibur, aku akan jaga rumah” Sunarti tersenyum,”Tapi, jika mereka datang lagi mencarimu Lexi dan Lexa, aku jawab apa?”


“Jangan bilang aku pergi kemana, bilang saja aku pergi.”


“Baik, kalian pergi.”


Tidak ada yang banyak dibawa, pergi tamasya hanya butuh membawa uang dan beberapa baju ganti, dan juga, kamera, satu koper bisa memuat, ini adalah manfaat musim panas, baju sangat tipis, tidak memakan tempat.


Melompat-lompat keluar kamar, Lexa berjalan paling depan ke eskalator.


“Lexa, berhenti.”


“Mami, kamu menyesal?” Anak itu menoleh, mengira Wendy tak ingin berangkat, ekspresinya sedikit resah.


“Bukan, kita naik anak tangga” gerak dia gesit, Kevin pasti tak akan terfikir mereka pergi diam-diam, lewat pintu belakang, sejak dulu pemilik rumah sudah memberitahu ada pintu darurat dibelakang, dengan begitu , dia tak akan bertemu dengan Kevin.


Bukan gugup, tetapi malas saja jika harus berhadapan dengan orang suruhan Michael Ling.


Pergi diam-diam, dengan begini bisa menghindari Michael Ling, hatinya menjadi tenang.


“Mami…”


“Ssttt, jangan bicara.” Dia membuka pintu, dengan hati-hati, jangan sampai ditangkap oleh orang suruhan Kevin, dia tak ingin pergi ke rumah Ling, villa itu tidak ada kakek, tidak ada aroma keluarga, penuh kedinginan, membuatnya tidak ingin pergi.


Setelah membuka pintu, diluar tak ada orang, ia membawa koper, dengan satu tangan, bayangan seorang dewasa dan dua orang anak kecil tiga orang keluar, berjalan dibawah sinar mentari , suasana itu sangat nyaman.


“Mami, teman gendutku di Tk bilang, mobil yang pergi ke pulau gunung berapi sangat banyak, menunggu disamping jalan pasti dapat mobil.” Tangannya menunjuk kearah perempatan jalan, Lexa berkata dengan semangat.


“Iya, kita pergi menunggu mobil.” Tidak pergi ke halte bis sangat bagus, membuat Michael Ling tidak ada jejak tertingal untuknya.


Sangat beruntung, hampir semua rencana dia berlibur ke pulau gunung berapi berjalan lancar, baru tiba di perempatan, menunggu 2 menit, bus wisata kearah pulau gunung berapi tiba, melambaikan tangan, membawa kedua anaknya naik kendaraan, petugas memberi tempat duduk khusus untuk dua anak kecil itu, ia membawa Lexi dan Lexa duduk, setelah duduk, hatinya baru lega, semua kegelisahan hilang, hanya ingin mengejar kebahagiaanya sendiri.

__ADS_1


Bus dengan cepat keluar dari kota T, hanya tersisa bayangan, Lexi dan Lexa melihat dibalik jendela,”Mami, lihatlah bunga itu, indah sekali.”


Itu adalah ladang bunga , bewarna kuning emas bersatu dengan pancaran mentari makin memperindah suasana, dia memberikan Lexa kamera, mereka yang memotret, nanti, jika ingin fotonya disimpan, jika tidak dihapus saja, asal mereka bahagia, kamera ini adalah hadiah ulang tahunnya dari Jacky Xia, sudah bertahun-tahun, dia tak ingin membuangnya, tidak ingin melupakan masa lalunya dengan Jacky Xia, dan tidak rela dengan benda ini, jika harus beli baru juga akan menghabiskan uang berjuta-juta.


__ADS_2