DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU

DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU
Bab 133 Itu Urusanku


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Pertanyaan itu, terdengar begitu menjijikan. Jelas – jelas Wendy telah mengatakan akan membawa anak – anak bertemu dengan papa angkat mereka, tetapi Dian seolah – olah tidak perduli, dan sengaja mengungkit nama Michael dihadapan Maria.


Hati anak – anak masihlah polos, mereka juga tidak akan menutup – nutupi keadaan sebenarnya. Apapun yang ditanyakan orang dewasa, mereka pasti akan menjawabnya dengan jujur, terlebih lagi, mereka mengingat bahwa Dian adalah nenek mereka. Meskipun jarang berhubungan, tetapi kata nenek sendiri telah menunjukkan hubungan kekerabatan mereka., Mmaka dari itu,, sudah pasti Dian adalah keluarga mereka.


Hello! Im an artic!


“Nenek, Daddy ada diluar, dia sedang menunggu kami didalam mobil.”


Selain Kevin dan anak – anak, hampir semua ekspresi orang yang duduk di meja itu berubah. Begitu pula dengan Lexa, seusai mengucapkan kalimat tersebut, anak itu merasa bahwa suasana di tempat itu berubah. Maka, dengan segera dia meraih tangan Wendy, dan berkata ujar


“Mami, ayo kita pergi, papa angkat masih menunggu kita loh.”


“Hahaha, pantas saja tidak ada panggilan masuk semalam, pasti sudah janjian untuk bertemu di tempat ini. Pria itu sungguh sangat niat, ya, Wendy, apa kamu tidak takut, disaat kamu baru turun, sudah ada wanita lain yang masuk ke dalam mobilnya ? ”


Hello! Im an artic!


Masih saja melontarkan kalimat bodoh seperti itu, tubuh Maria seketika mengkaku, wajahnya pun mulia tampak memucat. Wanita itu lantas memengangi perutnya, seolah – olah sedang merasa kesakitan disana, membuat Wendy berkata berujar


“Tuan Kevin , itu urusankuu, dan sepertinya tidak ada hubungannya denganmu.”


Kalimat terlalu santai yang dilontarkannya, membuat Dian meliriknya sejenak sejenak dirinya, dan melontarkan sanjungannya dukungannya dalam diam.


“Kevin, jaga mulutmu.”


Seusainya berujar seperti itu, Dian lantas mengalihkan pandangannya, menatapi Wendy, berkata ujar


“Bagaimana jika kamu mengajak papa angkat anak – anak untuk bergabung dan makan bersama kami ? Lihatlah, kami sudah memesan begitu banyak makanan, dan juga ada hotpot.”


“Tidak perlu, terima kasih, saya pamit undur diri dulu.”


Wendy lantas bergegas pergi setelah melontarkan kalimat tersebut. Tidak ada satu pun orang yang duduk dimeja dibelakangnya itu memiliki hubungan dengannya, dan dia hanya perlu menjadi dirinya sendiri. Jangan mengira idirinya akan berpura – pura baik kepada orang – orang itu karena Michael, dirinya sudah tidak ada hubungan dengan pria itu , dan bahkan jika ada pun, hubungan Michael dengan orang – orang itu sangatlah aneh.


“Hoek…”, tiba – tiba suara muntahan terdengar dibelakang sana, dan seketika itu juga, orang – orang disana menjadi panik.


“Kakak ipar, apa sudah ada reaksi ? Aku akan menemanimu ke kamar mandi.”, ujar Raina sembari bergegas untuk mendekati Maria.


Baru saja Raina hendak berdiri, Kevin sudah terlebih dahulu menahan pundaknya, berkata ujar


“Duduk, biarkan dia pergi sendiri, dia memiliki tangan dan kaki, jika dia saja tidak bisa menjaga dirinya sendiri, bagaimana dia akan menjaga anak yang sebentar lagi akan lahir itu ? ”


Betapa tidak berperasaannya ucapan itu, seolah – olah Maria berhutang sesuatu padanya. Maria tidak kunjung menyuarakan suaranya, dia hanya bangkit berdiri perlahan – lahan, kemudian berjalan kearah kamar mandi dengan mulut yang dibekap oleh tangannya. Sedangkan dibelakangnya, tidak ada satu pun anggota Keluarga Kevin yang datang membantunya.


Wendy sungguh sudah tidak tahan melihat semua itu, dia lantas menolehkan kepalanya kearah Marcel, kemudian berkataujar pada Lexi dan Lexa


“Tunggu mami ditempat papa angkat ya, mami akan pergi melihat mama angkat.”


“Baiklah, mami, cepat pergilah. T, tapi, mami harus segera kembali ya.”


Dengan langkah besarnya, Wendy pergi menyusul Maria, tanpa memperdulikan tatapan – tatapan yang dilayangkan anggota Keluarga Kevin . IDirinya tidak pernah membenci Maria, kisah cinta Maria dan Michael telah berlangsung sebelum dirinya mengenal pria itu , dan hal tersebutitu adalah dunia yang tidak bisa terpijak olehnya. Dirinya selalu saja merasa Maria sangat menyedihkan, sangat – sangat menyedihkan.


Katakan saja bahwa dirinya bodoh, tetapi itulah sifat alaminya.


Didalam hatinya, dia hanya bisa menyalahkan Michael, pria itu tidak seharusnya memperlakukannya sebagai sosok pengganti. Jika cinta ya cinta, jika tidak ya tidak, dan jika tidak mencintai, maka pria itu tidak perlu lagi memaksa untuk kembali bersama dengannya.

__ADS_1


“Maria, kamu tidak apa – apa ? ”


Begitu memasuki kamar mandi, dia mendapati Maria sedang menopang tubuhnya di wastafel dan memuntahkan cairan diperutnya. Dia lantas melangkah mendekati wanita itu, kemudian memukul pelan pundaknya. Mana ada ibu hamil yang sehat akan bermuntah – muntah lagi, disaat dirinya sudah akan bersalin ? Semua ibu hamil hanya akan bermuntah – muntah disaat trimester kehamilan pertama mereka, dan reaksi Maria sungguh tampak sangat aneh.


“Apa selalu muntah seperti itu ? ”


Maria menganggukkan kepalanya, air mata terus saja mengalir keluar dari sepasang matanya, membuat dirinya tampak begitu menyedihkan.


“Apa kamu sudah memeriksakannya ke dokter ? ”


Bagaimanapun juga, idirinya adalah sosok yang sudah pernah melahirkan, dia adalah orang yang berpengalaman., Mmaka dari itu dia terus saja bertanya pada Maria, karena dia sangat mengkhawatirkan Maria yang seperti ini. Sebesar apapun salah orangtua, anak – anak tetaplah tidak bersalah.


Setelah memuntahkan isi perutnya, Maria lantas menengakkan tubuhnya, yang masih saja bergemetar, kemudian berkataujar sembari mengangguk – anggukkan kepalanya


“Tidak apa – apa, kata dokter, kondisiku ini reaksi khusus, anakku ini sungguh suka menjahiliku, hehehe.”


Wanita itu berujar sembari mengambil tisu untuk membersihkan tangannya, dan kembali meneruskan ucapannya


“Coba lihatlah, anak kecil ini lagi – lagi menendangku, dia sungguh sudah tidak sabar untuk keluar ke dunia ini.”


Dari ekspresi Maria, dapat dilihat bahwa dia sungguh sangat mencintai anak yang sedang dikandungnya ini.


“Apa masih mual ? ”, tanya Wendy setelah melihat kondisi Maria yang sudah mulai membaik, dan hendak membawanya untuk beristirahat diluar.


Sedangkan Maria, wanita itu tersenyum, terlebih dahulu dia menggelengkan kepalanya, kemudian berkata ujar


“Tidak lagi. Sebenarnya, aku memang menginginkanmu untuk mengikutiku kemari, tapi aku tidak menyangka kamu sungguh akan datang. Wendy, kamu ini orang yang baik, bisa bertemu denganmu, itu adalah keberuntungan Michael .”


Sepasang tangan kecil yang terasa begitu dingin itu menggenggam tangan Wendy, wanita itu lantas menengadahkan kepalanya, memandangi dirinya dengan sepasang mata yang seolah dapat berbicara.


Setiap ucapan yang dikatakan wanita itu, tersirat sedikit rasa lin dai yu , seolah – olah, sosok dai yu telah menjelma didalam diri wanita itu, dan hal tersebut membuat Wendy menganggukkan kepalanya.


“Maria, katakanlah.”


“Bagus sekali, Wendy, kamu ini orang yang baik, aku kira kamu akan melihatku dengan tatapan lain yang tidak mengenakkan, tetapi kamu tidak melakukannya, hehehe, aku sungguh sangat gembira.”


Suara wanita itu terdengar begitu lembut. Meskipun senyuman terukir diwajahnya, tetapi senyuman itu malah memperlihatkan air mata yang telah berkumpul dipelupuk matanya, entah itu dikarenakan oleh perasaan tersentuh ataupun kepasrahannya, air mata wanita itu tidak kunjung berhenti menetesgalir, benar – benar tidak belum beterhenti menetes sedari tadi.


Sebelah tangannya, digunakan wanita itu untuk mengelus perut bagian bawahnya, sembari berkata ujar


“Wendy, tubuhku ini sangat bersih, tetapi aku lebih bersedia jika dia tidak bersih. Entah sudah berapa kali, aku sudah berharap dan menginginkannya, tetapi Michaelsama sekali tidak pernah menyentuhku, tidak pernah sekali punsama sekali tidak pernah, huk…”


Setelah terbatuk sekilas, wanita itu lantas melanjutkan ucapannya


“Karena kamu bersedia mendengarkanku dalam diam, aku baru bersedia mengatakan ini semua padamu., Ssungguh, Wendy, kamu adalah sosok yang spesial, kamu adalah satu – satunya orang yang tidak menatapku dingin, padahal sebenarnya, apa kamu tahu ? Kamu adalah sosok yang lebih berhak untuk menghinaku dibandingkan dengan orang – orang diluar sana, karena, kamu telah melahirkan anak – anak untuk Michael , dan semua itu bisa terjadi, pasti karena sebuah kecelakaan, benar kan ? ”


Wendy menganggukkan kepalanya, tidak menyangka bahwa Maria mengetahui segalanya. Lantas, apa Michael yang memberitahu wanita ini ?


“Hehhee, kamu pasti mengira Michaelyang memberitahuku, kan ? Biar kuberitahu padamu, bukan, Michael sama sekali tidak pernah mengungkit dirimu dihadapanku, aku hanya mengetahui bahwa kamu adalah ibunya anak – anak. Wanita yang berada disisinya sangatlah banyak, tetapi itu semua hanya untuk bersandiwara saja, dia bahkan tidak pernah menyentuhku, maka dari itu, dia memerlukan semua wanita – wanita itu hanya sebagai pelampiasannya. Wendy, dia sangat menderita, apa kamu tahu ? Aku sungguh ingin terus berada disisinya, tetapi aku tidak bisa, dan tidak akan pernah bisa lagi. Wendy, berjanjilah padaku, kamu harus menjaganya dengan baik, jangan biarkan dia meminum alkohol terlalu banyak, ingatkansuruh dia jangan terlalu sering merokok, aku ingin dia melanjutkan hidupnya dengan baik di dunia ini, hanya untuk dirinya sendiri…”


Wanita itu masih ingin meneruskan curahan hatinya, dengan tangan dingin yang terus menggenggami tangan Wendy. Tetapi, pintu toilet tiba – tiba saja didorong oleh seseorang hingga terbuka, dan dengan cekatan Dian menggeserkan tubuh Maria, menarik tangan yang sedang memengangi tangan Wendy itu hingga terlepas , dengan begitu kasarnya.


Wanita itu lantas mencengkram telapak tangan Maria, kemudian berdiri bersejajar dengannya. Jika bukan karena diirinya sudah terlebih dahulu mengetahui hal tersebut, Wendy sungguh tidak akan percaya bahwasanya Maria adalah anak menantu Dian, tetapi kenyataan memanglah seperti itu.


Perkataan Maria akhirnya tidak lagi dilanjutkannya, karena kedatangan sosok Dian. Sembari memandangi Dian, akhirnya Wendy mengerti mengapa Maria tergesa – gesa mengatakan semua ucapannya barusan, karena sedari awal, wanita itu sudah menebak , Dian pasti akan datang menghampiri mereka.

__ADS_1


“Kenapa lama sekali ? Apakah masih muntah ? ”, suara yang terdengar begitu lembut dan hangat, tetapi penuh akan kepura – puraan.


Maria memandangi Wendy dengan sepasang matanya yang sedang berusaha menahan air matanya, kemudian menggerjapkan sekali matanya, seolah sedang meyakinkan Wendy, bahwasanya apa yang dikatakannya barusan adalah suara hatinya.


Wanita itu mengatakan Michael sama sekali tidak pernah menyentuhnya, wanita itu mengatakan Michael mencari wanita – wanita diluar sana hanya untuk dijadikan pelampiasannya, dan semua itu bukanlah murni keinginan pria itu.


Tetapi, jika seorang wanita sungguh sudah jatuh cinta, apa benar wanita itu tidak akan lagi perduli, apakah pria yang dicintainya memiliki wanita lain diluaran sana ?


Atau mungkin, memang benar, Michael tidak pernah menyentuhnya sekali pun ?


Mungkin saja itu karena terlalu cinta, terlalu mencintainya, hingga tidak mampu untuk menginginkan sesama.


Atau mungkin jika sudah menginginkannya, maka itu artinya dia sudah merusaknya, dan dirinya tidak akan bisa menjadi sempurna kembali ?


Semua logika itu terdengar begitu aneh, tetapi entah mengapa, setiap perkataan yang diucapkan Maria barusan, Wendy mempercayainya.


Dia semakin merasa iba dengan Maria, dan bahkan dia pun sudah mulai turut mengasihani Michael saat ini.


“Ma, aku sudah merasa lebih baik, ayo pergi.”


Sangat datar, seusai melontarkan kalimat tersebut, Maria langsungtas memengangi tangan Dian dan beranjak pergi dari toilet. Sedangkan Wendy, dirinya menatap dalam diam kedua wanita cantik yang sedang melangkah keluar, meninggalkan toilet. Tiba – tiba saja, hatinya terasa begitu hampa, Michael Ling, Maria Luo, mereka sangatlah bodoh.


Jelas – jelas perasaan cinta mereka sudah tidak ada harapan, tetapi mereka masih saja terus menjaga hati keduanya, terus saja membebani diri mereka sendiri , dan tidak bersedia melepaskannya.


Ini adalah kebodohan, sungguh sangat bodoh.


Berjalan pelan meninggalkan toilet , dan ketika dirinya sedang melangkah menuju tempat Marcel dan anak – anak berada, tiba – tiba saja semua perkataan Maria bermunculan di kepalanya. Setiap kata – kata itu, terus saja berputar diotaknya, dan tidak terenyahkan biarpun dia sudah mengusirnya dengan berbagai cara.


Marcel tidak menanyakan apapun padanya dirinya, tetapi dia telah menyaksikan semua kejadian yang terjadi antara Wendy dan Keluarga Kevin .


Dua jenis hotpot yang masih mendidih telah tersajiedia, anak – anak memakan yang tidak pedas, sedangkan Wendy dan Marcel akan menyicipi yang pedas, dirinya memang sedang ingin sekali memakan sesuatu yang sangat pedas. Semua masakkan yang telah dipesan pun adalah makanan kesukaan anak – anak, dan juga ada makanan pencuci mulut. Lexi dan Lexa sangat menyukai kue labu, bahkan mereka sudah tidak menginginkan nasi putih mereka lagi. Keduanya terus saja menyantap kue labu itu, hingga membuat Marcel memanggil kembali pelayan dengan senyuman terukir diwajahnya.


“Tolong sediakan lebih banyak lagi, kami akan membungkusnya untuk dibawa pulang.”


“Marcel, kamu sudah terlalu memanjakan mereka.”


“Bagaimana mungkin, mereka ini sangat manis dan penurut, bagaimana mungkin bisa terlalu memanjakan mereka. Tadi, disaat kamu tidak disini, mereka sangatlah manis, mereka bahkan memberitahuku, mereka tidak akan meninggalkanmu lagi lain kali.”


“Benarkah ? ”, setiap kali teringat kembali akan momen hilangnya anak – anak tempo hari, hati Wendy selalu saja diserang ketakutan.


“Mami, sungguh, papa angkat bilang mami terkejut hingga menangis, kami minta maafmaaf ya.”


Lexa meminta maaf dengan begitu serius, kemudian berkataujar lagi


“Lain kali, aku dan Lexi tidak berani lagi.”


Wendy akhirnya tersenyum, kemudian menatap Marcel dengan tatapan seolah sedang mengatakan ‘terima kasih’.


“Lain kali, kemana pun kalian akan pergi, kalian harus memberitahu mami terlebih dahulu. Dan juga, kalian boleh memberitahu mami kalian sedang merindukan siapa, mami pasti akan membawa kalian bertemu dengan orang itu.”


“Benarkah ? ”


“Tentu saja.”


“Kalau begitu aku ingin bertemu daddy sekarang. Daddy pasti sudah kelaparan didalam mobil, daddy juga belum sarapan.”

__ADS_1


Ekspresi Wendy berubah seketika itu juga, dia lantas menundukkan kepalanya, merasa tidak enak pada Marcel, sudah datang menemuinya.


__ADS_2