DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU

DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU
Bab 19 Lihat Apa?


__ADS_3

Wendy mengangkat tangannya meraba-raba wajah Michael, memastikan sosok di hadapannya itu benar-benar Michael. Wendy tidak berbicara, ia lalu memiringkan kepalanya melihat ke belakang Michael.


“Cari apa?”, tanya Michael santai.


“Tidak……bukan apa-apa”, di belakang badan Michael tidak ada siapapun, pandangan Wendy kembali ke omelet di tangan Michael, warna kuning telur matang itu sungguh menggugah selera, kelihatannya enak sekali, “Michael, ini kamu yang buat?”


“Ya, tentu saja.”


Wendy menjilat bibir bawahnya dan menelan ludah, lalu perlahan-lahan membiarkan Michael lewat.


“Wendy, bantu aku mengambil roti panggang dan susu dari dapur.”


Wendy masuk ke dapur, dua porsi roti panggang dan dua gelas susu sudah disiapkan di atas meja dapur, Wendy membawanya keluar dapur dan menatanya di atas meja makan.


Pikir Wendy dalam hati, makanan di hadapannya itu bukan urusannya, pasti Michael menyiapkannya untuk model wanita atau pria berbaju militer itu. Astaga, sebentar lagi pasti canggung sekali, sebentar pria sebentar wanita.


“Hei, kemarilah”, saat Wendy hendak masuk kembali ke kamarnya, suara Michael memanggilnya kembali duduk.


“Untuk apa?”, jawab Wendy ogah menatap langsung Michael, wangi makanan yang memenuhi ruangan membangunkan cacing-cacing kelaparan dalam perutnya, Wendy baru menyadari ia juga lapar.


“Kembali dan duduklah di sini.”


Apa Wendy benar-benar harus berada di sana untuk menyaksikan semua itu? Tapi tanpa pikir panjang, kaki Wendy melangkah kembali ke meja makan, ia duduk persis di seberang Michael yang semalaman sibuk bersenang-senang.


“Ayo sarapan.”


“Oh”, Wendy menuruti Michael begitu saja, tangannya memegang dagu bingung, “Apa perlu kubantu memanggilnya?”


“Panggil siapa?”


Michael melahap sepotong omelet di hadapannya, bentuk dan wanginya sama dengan yang di depan matanya, telur yang dibuat oleh Michael ini kelihatannya boleh juga, “Michael, sungguh tidak perlu kupanggilkan pria atau wanita di kamarmu?”

__ADS_1


“Pria wanita apa yang kamu maksud?”


“Emm……lupakan saja”, Michael bersikeras tidak mau mengakuinya, pria dan wanita yang semalam ia saksikan masuk ke dalam apartemen ini.


“Wendy, kamu tunggu apa lagi? Kalau sudah dingin tidak enak.”


Wendy menatap wajah Michael terkesima, jari telunjuknya menunjuk ke hidungnya sendiri, “Kamu sedang menyuruhku makan sarapan pagi yang kau buat ini?”


“Tentu saja.”


Wendy melongo seperti orang bodoh, cepat-cepat ia mengembalikan pikirannya. Wendy menjepit omelet dari atas piring lalu menggigitnya, omelet buatan Michael di luar dugaan, benar-benar sedap.


Roti panggang yang lembut dan harum meleleh di mulutnya, rasanya luar biasa enak, seolah-olah ini pertama kalinya Wendy makan roti panggang yang baru keluar dari oven, ditambah seteguk susu segar ke dalam mulutnya, rasanya benar-benar enak. Dalam sekejap piring di hadapan Wendy itu bersih, tidak secuil makanan pun tersisa, selesai makan, Michael yang duduk di depannya tengah mengelap mulutnya dengan tisu basah, “Wendy, sudah siap untuk berangkat kan.”


“Ya ampun, aku sudah hampir terlambat”, setelah diingatkan oleh Michael, Wendy baru sadar bahwa waktunya masuk kelas sudah hampir tiba, ia kontan berdiri dan siap berlari ke stasiun bus untuk ke kampus.


“Stop.”


“Ya……”, Wendy secara otomatis menengok balik, “Michael, aku harus segera berangkat ke kampus.”


“Apanya yang diganti?”, karena panik, Wendy tidak mampu mencerna ucapan Michael barusan.


“Baju dan sepatumu, ganti semuanya.”


“Aku cuma punya sepasang sepatu ini, tidak ada gantinya. Sudah ya, aku berangkat dulu, bye”, tanpa menunggu respon Michael, Wendy langsung berbalik dan pergi. Akan tetapi, sesampainya di depan pintu, ada tangan yang memegang bahunya dan mengangkat badan Wendy, Michael dengan mudahnya mengangkat tubuh Wendy seperti sedang menjinjing anak ayam, Michael membawa Wendy ke dalam kamarnya.


“Tada”, seumpama di dunia nyata benar-benar ada efek suara, mungkin akan terdengar sedemikian ketika Michael membuka lemari pakaiannya, sekali lagi seperti terdengar suara “Tadaa”. Michael membolak-balik baju dari sederet pakaian yang ditata rapi dalam lemarinya itu, setelah mengamati dengan seksama, Michael menarik satu dari antaranya lalu melemparkannya ke arah Wendy, “Pakai itu.”


“Tapi……”, tapi bukannya ini pakaian milik pacar Michael? Kemarin malam Wendy hanya membantu mencoba sebagai patokan ukuran semata, sambil mempertanyakan hal itu, mata Wendy memeriksa seisi kamar tidur Michael, kamar tidurnya itu bersih dan rapi, sama sekali tidak ada jejak atau sisa-sisa kejadian malam sebelumnya, seolah-olah pria dan model wanita semalam tidak pernah datang. Tapi Wendy melihat sendiri dengan mata kepalanya bahwa dua orang itu sungguh datang tadi malam, tidak mungkin dia salah lihat.


“Kau lihat apa? Tapi apa? Cepat ganti bajumu, kalau tidak kamu akan benar-benar terlambat.”

__ADS_1


“Tidak mau, aku tidak suka sembarang memakai baju milik orang lain”, Wendy menolak mentah-mentah, ia langsung berjalan kembali keluar, tidak sedikitpun keraguan tersirat dari gerak tubuhnya.


“Siapa bilang ini baju milik orang lain? Kembali ke sini.”


Nada memerintah Michael terdengar jelas, perintahnya tegas hingga membuat Wendy terpaksa kembali lagi, kepala Wendy menoleh balik, jari telunjuknya menunjuk ke hidungnya lagi, “Lalu apa mungkin itu milikku?”


“Iya, kakek tidak lama lagi datang, suka atau tidak suka kamu harus memakainya”, jelas Michael tegas, “Aku tidak mau anak buah dan mata-mata kakek sampai melaporkan pada kakek betapa aku tidak memperlakukanmu dengan baik, kalau sampai terjadi, kakek pasti akan marah besar.”


Wendy akhirnya mengerti. Tanpa basa-basi lagi Wendy mengambil baju yang sedang Michael pegang itu, ia melesat ke dalam kamarnya sendiri untuk ganti baju. Saat keluar dari kamarnya, Michael sedang bersandar di depan pintu menunggunya, Michael mengangguk-anggukkan kepalanya melihat penampilan Wendy sekarang, “OK, sekarang sudah bisa berangkat.”


“Oh…”, Wendy merasa agak canggung, ia belum pernah mengenakan pakaian sebagus ini, rasanya aneh karena tak terbiasa, kepalanya menunduk melihat ujung kakinya sendiri sembari berjalan ke arah Michael, kemudian keduanya keluar dari apartemen itu bersama-sama.


Di dalam lift, Wendy menekan tombol 1 untuk lantai satu, Michael menekan tombol menuju parkiran di bawah lantai satu.


“Ting”, sesampainya di lantai satu, belum selangkah dari tempatnya berdiri, Michael menahannya, “Naik mobilku saja, atau kamu ingin telat sampai kelas?”


Sebagai pasangan yang sudah bertunangan, saat Michael dengan senyum mautnya membukakan pintu untuk mempersilahkan Wendy turun dari mobil, seketika itu juga semua mata dari segala penjuru memandang iri ke arahnya, tatapan-tatapan itu juga yang membuat Wendy seperti terbang melesat memasuki gerbang kampus, ia tidak berani menoleh atau melirik kembali ke arah mobil BMW hitam itu, berikut Michael yang masuk kembali ke dalam mobil itu dengan elegan.


Pagi-pagi Wendy sudah dikejutkan dengan sarapan pagi dan pakaian mewah, semuanya mengalir begitu saja, terasa begitu mudah seperti sudah suratan Tuhan untuknya.


Duduk di dalam ruang kelas, hal yang memenuhi pikiran Wendy bukan materi yang disampaikan oleh dosen di depan, melainkan semua tindakan Michael pagi ini, tindakan yang benar-benar di luar dugaannya.


Kemarin malam, Michael bersama dengan pria berseragam tentara dan model wanita itu……


Sudahlah, sudah cukup, otak Wendy tidak seharusnya memikirkan Michael lagi, dia hanyalah orang tak terduga yang tiba-tiba muncul dalam hidup Wendy. Akan tetapi bagaimanapun juga usaha Wendy menepis pikiran-pikiran itu, semua hal tentang Michael bisa dengan mudah kembali memenuhi isi kepalanya itu.


Kini Jacky tidak lagi datang mengganggunya, akhirnya ada hal baik juga yang ia dapat hari ini.


Kelas-kelas yang dihadiri Wendy seharian ini, semuanya serasa berlalu begitu cepat. Sore hari itu, saat semua orang berlomba-lomba keluar kelas, telepon genggam Wendy berbunyi nyaring, “Wendy, malam ini aku akan lembur, kamu kembali ke apartemen sendiri ya, kuncinya ada di dalam kantong bawah tasmu.”


“Oh, malam ini aku mau……”, belum sempat Wendy menyampaikan bahwa malam ini ia tidak akan kembali ke apartemen milik Michael itu, Michael keburu menutup telepon begitu selesai menyampaikan pesannya.

__ADS_1


Saat membuka kantong di tasnya, Wendy memang menemukan kunci apartemen, ia terheran-heran, kapan Michael menaruhnya di dalam situ.


“Haaah……”, Wendy cuma bisa mendesah sambil berjalan menuju gerbang utama kampus, sekarang ia benar-benar sudah terjebak di atas kapal bajak laut. Wendy menyempatkan diri makan mi potong khas Shaanxi di rumah makan yang ia temui di jalan pulang, ia lelah sekali hari ini, semalam ia tidak bisa tidur nyenyak.


__ADS_2