
Hello! Im an artic!
Pada saat ia melihat foto terakhir masuk pesan singkat berisi : “Michael Ling, aku memberi tahu Lexi dan Lexa bahwa kamu seorang playboy, lalu mereka berkata tidak menginginkan daddy sepertimu lagi, mereka ingin ayah angkat.
Ekspresi wajah Michael Ling memucat, menekukan jari tangannya sampai berbunyi : Rendy, sekarang juga aku akan menyuruh Lilia meninggalkanmu.
Hello! Im an artic!
Setelah pesan singkat terkirim, ia mengenakan kemeja, berjalan menuju pintu kantor.
“Pak direktur, kakimu…”
“Pak direktur, rapat segera dimulai…”
“Pak direktur…”
Hello! Im an artic!
Tanpa menengok kebelakang, Michael Ling menuju taman bermain.
“Pak direktur, banyak sekali wartawan diluar parkiran.” Agus juga berperan sebagai sopir, dia berkata dengan serius.
“Ada berita dari Wenda?” tatapannya menuju parkiran di depan yang terlihat sedikit gelap, terlintas bayangan Wenda dipikirannya.
“Sudah pulang ke rumah dengan sendirinya, kalau tidak, gosip yang berhembus diluar makin banyak.”
“宁紫苏, kapan sampai?”
“Beberapa hari lagi.”
“Gara-gara dia, kalau bukan karena rencana awalnya, aku dan Wenda tidak mungkin sampai hari ini.”
“Pak direktur, jika tidak segera menghentikan gosip-gosip tersebut, takutnya saham perusahaan Ling akan makin jatuh.”
“Aku tahu.” Sangat resah ia mengambil rokok, tapi baru saja ingin menyalakannya ia dikejutkan dengan pemandangan dari luar parkiran, “Agus, putar balik.”
“Baik, pak.” Agus juga tahu jalan ini buntu, terlalu banyak wartawan, berekerumun di luar parkiran.
“Sepertinya, masuknya ia ke kantor polisi sudah di ketahui masyarakat kota T, Kevin, hanya dia yang berani melakukan ini, selain dia, seisi kota T tidak ada yang berani.
Mobil dengan cepat berbalik ke posisi semula, turun dari mobil, Michael Ling dengan ekspresi datar masuk ke dalam lift.
“Pak direktur, seluruh pintu keluar gedung ini dengan kondisi yang sama.”
__ADS_1
“Bahkan untuk keluar pun aku tidak boleh?”
“Ini…” Agus tak dapat berkata-kata, jujur saja, mulai dari Michael Ling masuk ke kantor polisi sampai sekarang, Michael ling selalu di kerumuni orang-orang.
“Sepertinya, dia tidak bisa lagi pergi ke taman bermain, dan membiarkan begitu saja Marcell Bai dan Wendy Zhong terang-terangan bersama?
“Menghisap rokok, perlahan- perlahan membuat nya tersedak, batuk, belum pernah merasa gagal seperti ini, sekarang orang-orang pasti menganggapnya sebagai perebut istrik adiknya sendiri.
Ia teringat akan wanita di taman bermain itu, Jika ia mengeluarkan kartu berupa Wendy Zhong, dapatkah semua nya kembali seperti dulu kala?
Andaikan Kevin bukan adik kandungnya, andai media tidak fokus padanya sekarang, dia pasti mengutus seseorang untuk memukul Kevin sampai gegar otak.
Pecundang itu, merampas wanitanya, tapi membalikan fakta dan melempar semua keselahan padanya.
“Pak direktur, bagaimana?
“Telfon Wendy Zhong, aku ingin bertemu dengannya.”
“Sekarang?”
“iya.”
Agus tidak bersuara lagi, orang lain sedang membawa anak-anak bermain, dia saat ini juga ingin bertemu, ini sedikit tidak punya perasaan, tapi melihat Michael Ling yang seperti itu, sekarang juga harus bertemu dengan Wendy Zhong “Baiklah, menelfonnya sekarang, tapi…”
Agus tidak ada jalan keluar lagi, omongan sudah sampai titik ini, jika sampai ia tidak dapat membawa Wendy Zhong maka dia juga harus kehilangan pekerjaannya, berhasil menemukan nomor hp Wendy, ia menelfon Wendy.
“Halo, Agus.”
“Nona Zhong, apa anda bisa bicara sekarang?” siapa tahu sekarang Wendy sedang mengajak anak-anak bermain di suatu tempat, dia takut mengganggu.
“BIsa, Lexi dan Lexa pergi bermain plosotan, aku duduk di lapangan rumput mengawasi mereka.”
“Nona Zhong, Maksudku apa anda bisa meninggalkan taman bermain sebentar?” dia benar-benar tidak enak, tapi bagaimanapun juga ia harus mengatakannya, karena Michael Ling duduk di samping dan menunggu berita darinya.
“Maaf, aku sedang menemani anak-anak, aku tidak bisa pergi, bisa mengangkat telfon, tapi, sebentar lagi anak-anak mau bermain permainan lain lagi, Agus, apa yang ingin dibicarakan, katakan saja.” Kelopak mata Wendy terus bergerak, ada rasa tak tenang ditambah lagi kepala nya yang terasa sedikit sakit.
Michael Ling mendengar semua nya, dia sekarang sangat panik, sedangkan wendy terdengar santai, tidak bisa, ia merebut ponsel Agus, “Wendy Zhong, dengar baik-baik, Aku berikan waktu 1 jam untukmu datang ke kantorku, kalau tidak, Aku akan menyebarkan dua lembar perjanjian itu pada khyalak ramai, aku akan melaporkanmu.”
“Michael Ling, ini pemaksaan namanya.” Wendy bangun dari duduknya, lalu menekan suara nya berjalan membelakangi Marcell Bai sambil berkata.
“Kamu yang sudah melanggar perjanjian, bukan aku. Dalam waktu satu jam , kamu harus sudah tiba, kalau tidak, kita bertemu di meja pengadilan. “PLAK”, Michael ling mengakhiri pembicaraan. Mendengar nada sibuk dari ponsel, Wendy sangat ingin melempar ponselnya.
Tapi dia tidak bisa melakukannya, ini ponsel yang ia beli sendiri, emosi adalah setan, dia tidak boleh emosi.
__ADS_1
Michael Ling, jika ia sekarang dihadapannya, sudah pasti ia bunuh.
Begitu banyak orang disini, Rendy, Lilia Lou, Marcell Bai, di tambah lagi Lexi dan Lexa, semua hadir disini, lihat mereka semua bermain dengan gembira, kalau bukan untuk mengawasi anak-anak, dia dan Marcell Bai juga ikut bermain.
Tapi sekarang…
Pikirannya dihantui perkataan Michael Ling tadi, jika ia tidak pergi, dia akan melaporkannya.
“Wendy, telfon dari siapa? Apa yang terjadi? Wajahmu terlihat pucat.”
“Kalau dia di laporkan, maka, Lexi dan Lexa akan menjadi rebutan, dia benar-benar tidak mengerti siasat Michael Ling, tidak bisa, dia tidak bisa menjadi terdakwa, Michael Ling, ia harus mencari cara agar dia bisa melepaskannya.
Tapi, dia hanya mempunyai waktu 1 jam. Jika ia memilih pergi, dia harus berangkat sekarang.
“Marcell, aku ada urusan penting, Lexi dan Lexa…” dia tidak tahu harus berkata apa selanjutnya , walau sudah memilih pergi, tapi ia tidak berencana membawa anak-anak pergi ke tempat Michael Ling, sudah bertekad untuk lepas darinya, maka tidak bisa membiarkan anak-anak dan Michael Ling berdekatan, kalau tidak, sudah tumbuh perasaan maka sulit untuk dipisahkan, darah lebih kental daripada air, jadi, dia ingin mencarikan darah tersebut maka harus memisahkan Michael Ling dari anak-anak.
“JIka memang urusan penting , kamu pergi saja, aku akan menjaga anak-anak, lagian, juga ada Lilia, kamu selesaikan saja urusanmu dulu.”
Marcell Bai tidak menanyakan lebih lanjut urusan yang dimaksud olehnya, membuatnya bisa sedikit bernafas legah, ini adalah salah satu sisi baiknya, tidak pernah memaksanya mengatakan sesuatu yang tidak ingin ia katakan, orang baik macam dia , bisa berada di kehidupannya, sebenarnya, benar-benar tumpuan baginya, tidak lagi menerka-nerka, “Marcell, aku pergi dulu, mungkin akan pulang sedikit lama, bawa Lexi dan Lexa pulang ke rumahmu saja malam ini, tapi…”
“Tenang saja, aku tidak akan membiarkan Henna berbicara seperti itu pada Lexi dan Lexa lagi, aku berjanji padamu, ketika kamu pulang nanti aku akan menyerahkan Lexi dan Lexa yang bahagia ke tanganmu.”
“Apa yang bisa ia katakan, “Marcell, tolong sampaikan pada Rendy dan Lilia, untuk anak-anak tolong sebisanya kamu beri pengertian.”
“Cepatlah pergi, tenang saja, aku bisa mengatasi semua ini.”
“Aku pergi dulu.” Sungguh tidak tenang, tapi sekarang yang terpenting ia harus mengatasi bom waktu Michael Ling, jika semenitpun tidak di atasi, Michael ling akan meledak sewaktu-waktu, meledakan seluruh hidupnya dan pastinya anak-anak.
“Pergi lah.” Marcell Bai sedikit cemas memantapnya, mengetahui dia pasti menyimpan sesuatu, tapi ia tidak banyak tanya, sampai Wendy berjalan beberapa langkah, dia tiba-tiba berkata : “Wendy…”
“Iya?” dia berdiri sejenak, lalu menoleh kebelakang melihatnya.
Raut wajah Marcell Bai terlihat sedikit tepaksa, jemari nya yang panjang membenarkan kacamata nya, “Wendy, jangn matikan ponselmu, jika ada yang tidak beres telfon aku, aku akan selalu menunggu telfonmu.”
“Ingin menangis, “Marcell, aku ingat.” Terlalu baik, dia bagaikan sebuah perisai kuat yang menopangnya tidak peduli bahaya apa yang mengahadang, karena, ada dia di belakangnya, cukup memutar ke belakang , dengan cepat meninggalkannya, bahkan tidak tega untuk melihat anak-anak lagi, jika dilihat, hanya kan membuatnya makin tidak ingin pergi.
Sambil berjalan sambil memikirkan dua lembar surat perjanjian itu, dia ingat saat itu menandatangani satu surat yang berisi dua lembar perjanjian, yang berarti ada empat lembar perjanjian yang ia tanda tangani, dua lembar surat pernikahan, dua lembar surat perceraian, sekarang, sekarang cara paling kilat unutuk lepas adalah dengan mengambil alih kempat surat tersebut, lalu merobeknya, membuat Michael Ling tidak dapat menggugatnya, tapi, ini juga sangat sulit, jika bukan karena sudah lama bersama Michael Ling, lalu menemukan barang berharga nya di taruh disana, dia sangat sulit menemukannya, Michael Ling jika ingin mempersulitnya tidak akan memudahkannya untuk mencari, laki-laki itu, kadang jahat sampai luar batas, kadang juga baik tanpa alas an, membuatnya tidak bisa menebak orang macam apa dia sebenarnya, saat itu, dimana baru saja ia menandatangani perjanjian, jujur saja, dia begitu baik terhadapnya, membantunya menyelesaikan permasalahan dengan Rena Jin, dan masalah keluarga Bai, sangat hormat dan tidak menyentuhnya.
Pastinya, terkecuali satu malam itu, itu kecelakaan.
Pergilah, hanya dengan bertemu baru bisa dijelaskan, tatap muka, baru bisa menyelesaikan semua ini.
Menunggu kedatangan bus yang tak kunjung datang, melihat waktu yang sudah berlalu belasan menit, Wendy panik, melambaikan tangan dan akhirnya ia naik ke taksi, “Perusahaan Ling.” Saat mengatakan itu, ia mengingat saat ia sendiri pergi kesana, saat itu ia tidak tahu dimana letak perusahaan Ling, sopir yang mengantarkannya, mengingat saat itu hanya karena darah dari hidung yang ia curigai Michael Ling berbuat hal senonoh padanya, mengingat kembali semua ini membuatnya sedikit malu.
__ADS_1
Dengan sejuta fikiran yang menyelimuti ia memandang keluar jendela, bayangan setiap sudut jalan dan orang-orang di sekitar, semua ini bagaikan baru terjadi kemarin, saat itu ia baru kuliah di semester akhir, dia begitu polos, tapi sekarang, ia sudah menjadi ibu dari dua orang anak.