
Dua wajah imut menempel dijendela, terlalu bersemangat, ini kali pertama mereka pergi bertamasya meninggalkan kota T, melihat anak-anaknya bahagia ia sangat lega, dari dulu, ia hanya sedikit ada waktu untuk mereka.
“Mami, hanpdhonemu berdering.” Ketika melihat pepohonan, Lexa tiba-tiba menginggatkan dia.
Wendy Zhong baru sadar, segera ia mengambil handphonenya, ia kira telfon dari Kevin,tetapi malah dari Marcell Bai,”Marcell, kapan kamu tiba?” dengan suara senyum, sekarang dia sedang senang, Bersama dengan anak-anaknya tentu saja senang.
“Tin tin…” bel mobil berbunyi, terdengar keras oleh mereka yang ada didalam.
“Mami, lihat mobil itu, hampir menabrak kita.” Lexi menunjukkan dengan jemarinya keluar jendela mengarah ke kendaraan mewah, melihat mereknya, Wendy Zhong terlihat bodoh, mobil mewah.
“Aku sudah kembali, kemanapun kamu pergi aku akan anda.” Suara Marcell Bai menembus telinganya, bodoh, matanya terbelalak.
“Marcell, cepat sekali?” Bukannya bilang 2 bulan? Sekarang belum genap 2 bulan.
“Kemarin malam aku baru tiba, aku ingin melihatmu, tapi takut menganggu, jadi, sekarang aku mengejarmu.”
Pasti Sunarti, Sunarti yang memberi tahu, tetapi sekarang dia tak sempat bertanya banyak.
。
“Pak supir berhenti , kalau tidak, suara klakson itu menganggu.” Marcell Bai dari jendela mobil melambaikan tangan, bermasuk memintanya turun untuk naik mobilnya.
“Nona, itu teman anda?” petugas berjalan ke Wendy, posisi kendaraan seperti ini sangat berbahaya.
“Iya, benar.”
‘’Kalau begitu di stasiun depan anda silahkan turun,”
Muka memerah, Wendy seperti seorang anak yang punya salah .
Dua anak yang membawa tas gendong kecil, berlari ke depan mobil ,”Ayah angkat…” mereka berlari kearah itu, melihat Marcell Bai tidak sedikitpun terkejut, “Ayah, aku rindu kamu”
“Aku juga rindu.”
Dua orang anak itu naik kemobil mewah Marcell Bai,”Ayah, kamu pergi lama sekali.”
“Bukanya ini kan mengejar kalian .”
“Ayah, kami akan pergi ke pulau gunung berapi, mau ikut?”tangan mungil Lexi bermanja ke lengan Marcell.
“Lexi, turun, jangan menganggu ayah menyetir mobil.” jantungnya berdetak, jika yang menyetir mobil itu adalah Michael Ling, dan tempat bermanja Lexi adalah Michael pasti sangat bahagia, dan dia, paling tidak bisa menjelaskan ke mereka, sayangnya, Michael Ling sekarang tidak terfikir Lexi dan Lexa, hatinya hanya ada Maria seorang.
“Tidak mau, aku akan nurut, tidak akan menganggu ayah menyetir mobil, yah, cepat beritahu aku, ayah akan pergi juga ke pulau gunung berapi?”
__ADS_1
“Iya, pasti, Lexi pergi kemana, ayah akan pergi juga,”
“Muach” bibir mungilnya menciumnya,”Ayah paling baik, Lexa, nanti kamu foto aku dan ayah.”
“Aku juga mau” mereka berdua ingin sekarang tiba di pulau gunung berapi.
Wendy melihat Marcell Ling yang sedang menyetir mobil, sebulan lebih tidak bertemu, diam akin hitam dan kurus, ingin rasanya melihat lagi”Marcell bisnis apa membuatmu pergi begitu lama?” beberapa tahun ini dia sering dinas keluar kota, setiap kali pergi butuh waktu lama, dan ketika kembali selalu makin hitam dan kurus, karena terkena sinar matahari, dia selalu menahan untuk bertanya, tapi kali ini, tak tau kenapa, dia mulai khawatir.
“Kayu, aku bisnis kayu, keuntungannya sangat besar.”
“Ambil barang dari mana? Kenapa harus kamu yang datang?”
“Yunan, kayu disana murah, dibawa kesini bisa untung berkali lipat, Wendy, aku ingin membuat perusahaan kayu.” Marcell Bai melihat kearah wajahnya.
“Baik, jika untung bikin saja,” Dia tidak menentang, tidak ada alasan menentang, perasaan dia dan Marcell tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, bukan kekasih, tapi bukan seperti teman, atau, adalah seorang kakak, tetapi dia, hanya 2 tahun lebih tua, bukan sangat tua, tetapi, semenjak keluarga Bai ada masalah dan dia menanggungnya, Marcell Bai berubah menjadi orang dengan wajah sangat dewasa menua, seperti sudah matang, dan lebih berwibawa.
Beberapa tahun ini, mereka kenal lama, dia merasa Marcell Bai cocok dengannya, tetapi hatinya, tidak bisa menempatkan banyak orang.
“Wendy, aku ingin membuka perusahaan atas namamu.” Seketika , Marcell Bai berbicara dengan sangat serius.
“A, Apa?”
“Wendy, ayahku ada modal, bisnis keluarga Bai juga ada hubungan dengan kayu, bisnis ini aku cocok, jika dengan atas namamu, aku bisa memberikan keuntungan untukmu, rugi tidak perlu kamu tanggung, asal tidak berpengaruh ke perusahaan Bai.”
“Baiklah, tunggu kita kembali ke kota T kita bicarakan lagi,” dia tersenyum, dan tersenyum juga dengan anak-anak, melihat anak-anaknya akrab dengannya, dan sangat harmonis, jika Lexi dan Lexa adalah anak dari Marcell Bai mereka pasti bahagia.
Tetapi, ini tidak mungkin.
Tidak ada kabar dari Michael Ling, seperti hilang dari dunianya, Sunarti memberi tahu Marcell Bai tidak akan memberi tau Michael Ling, berfikir yang aneh, mobilpun berhenti di parkiran taman pulau gunung berapi, dia dan anak-anaknya baru tersadar.
“Mami, indah sekali, cepat turun, aku ingin berfoto.”Lexi membawa kamera dan turun,”Klik Klik” ia memfoto, Lexa memberitahu arah ,”Cepat foto itu,ah, foto ini.” Marcell Bai memarkir mobil, Wendy mencium wangi laut, ini, seperti ada di pantai.
Marcell Bai selesai memparkir mobil, dengan langkah cepat berjalan kea rah Lexi dan Lexa.
“Ayah, aku ingin melihat laut”
“Tidak boleh.”
“Ah, Ayah jahat, aku mau liat laut.” Lexi memanja, dengan mulut kecil satu lagi berkata ,”Aku juga ingin liat”
Marcell Bai mengelus kepala Lexi , gadis kecil ini segera tenang,”Kita makan dulu, kemudian kita lihat laut, bagaimana?”
Setelah itu, Lexa segera berkata :”Ah, aku lapar, setelah kenyang baru ada tenaga, aku ingin berenang.”
__ADS_1
“Lexa, ibu tidak bisa, bahaya.”
“Takut apa, ada ayah, ayah bisa, iyakan?” melihat Marcell dengan penuh harap, Lexa hanya menunggu makan dan pergi berenang.
“Iya, ayah bisa, ayo, kita makan dulu.”
“Ayah, aku taka da baju renang.”
“Iya, kita belum beli ban apung.”
Oh tidak, karena mereka tak ada yang mengubrisnya, karena dia bilang tidak membawa mereka berenang, melihat Marcell Bai membawa mereka ke hotel berbintang, Wendy tau, kali ini, dia harus mengeluarkan banyak uang.
“Tuan, satu ruang president , bagaimana?” melihat Lexi dan Lexa, dan menduga wanita itu adalah istrinya , suami istri tidak boleh dipisah, dan anak-anak harus tidur Bersama mereka, jadi direkomendasikan kamar keluarga.
Wendy berwajah merah, berkata :”tidak, 2 kamar.”
“Satu kamar keluarga, satu kamar biasa”. Marcell Bai menjelaskan.
Wendy tidak berkata apa-apa, lagi pula: dan resepsionis mengecek ktp mereka, dan membawa anak-anak kearah eskalator, Marcell Bai membawa kunci kamar, “hai, ini kunci kalian, segeralah mandi, tidak ada yang boleh malas,”
“Ayah tenang saja, pasti akan keluar dengan cepat.”
Ternyata, anak-anak demi pergi ke pantai hanya mandi sebentar, ketika keluar, Marcell Bai sudah memesan makanan, semua kesukaan anak-anak , baru akan mulai makan, handphone berdering.
Sebuah pesan masuk, Wendy membukanya.
“Wendy Zhong, aku duduk di meja nomor 3 dekat jendela, ada yang ingin aku katakana padamu.”
Wendy sedikit curiga, apakah disini bisa bertemu dengan orang yang dia kenal?
Kedatangan dia kesini selain Sunarti tidak ada yang tau lagi.
Berbalik badan, dimeja nomor 3 dekat meja ada seseorang, dan seorang wanita.
Wanita yang pernah ia jumpai, Wendy bisa mengenalinya, terpisah bertahun-tahun, dia tau hubungan wanita ini dengan Michael Ling, hubungan sangat dekat, ketika dia dan Michael terjadi sesuatu ketika itu, di supermarket, dia membeli tisu, dan Michael Ling merebut untuk membayarkan untuknya, melihat Wendy yang sedang memandang kearahnya, wanita itu tersenyum dan berkata “Wendy Zhong, kebetulan.”
Wanita itu mengenalinya, seperti , tau semua tentangnya.
“Wendy, teman kuliahmu?” Marcell Bai melihat asal suara itu, kemudian segera mengalihkan pandangan kearah Wendy.
“Oh, iya” Wendy tidak tau harus menjelaskan apa, tidak bisa ia mengatakan dia adalah teman dari Michael Ling, ini bisa membuatnya tidak enak, teman wanita kebanyakan adalah ada hubungan khusus.
“Kalau memang teman, sini duduk Bersama, biarkan anak-anak aku yang mengurus.” Marcell Bai tersenyum lembut, melihatnya dengan tatapan penuh kasih.
__ADS_1
Tidak ingin pergi, sungguh tak ingin pergi, tetapi Marcell sudah berkata, ia hanya bisa berdiri, kemudian berjalan kearah wanita itu.