DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU

DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU
Bab 17 Selalu Bukan


__ADS_3

“Tidak salah lagi, kamu pasti gadis berkerudung merah”, sembari berdiri dari duduknya, Michael melepas tangan Wendy yang menutupi matanya lalu berbalik badan, kepalanya sedikit menunduk melihat wajah Wendy, Wendy mendadak teringat ciuman mereka di mobil semalam, kemudian terlintas di benaknya wajah gadis cantik yang ia lihat di supermarket tadi. Wendy menepis pikiran itu, ia memiringkan kepalanya lalu tersenyum, “Michael, waktunya makan.”


“Baiklah, ayo kita makan”, ada sedikit rasa canggung di antara mereka, apakah itu karena tadi Wendy sengaja mengelak dengan cara yang kurang alami? Entahlah, Wendy tidak ingin terlalu memikirkannya. Saat keduanya menuju ruang makan di lantai satu, Michael tak melepas gandengan tangannya sepanjang perjalanan mereka menuruni tangga, rasanya sudah seperti pasangan suami istri sungguhan. Namun Wendy paham betul, hubungan mereka tidak sedemikian, sampai kapanpun tidak akan pernah terjadi.


Harum makanan tercium sampai ke hidung mereka ketika berjalan menuruni tangga menuju meja makan, setibanya di meja makan, Michael terpana melihat empat macam masakan dan sup di hadapannya, ia membungkukkan badan, sekali lagi mencium wangi masakan di depan matanya itu. Setelah menarik kursi dan duduk, Michael dengan wajah serius bertanya pada Wendy, “Wendy, wangi masakanmu benar-benar menggugah selera, apa kamu mau sambil minum sedikit anggur?”


Wendy menggeleng-gelengkan kepala, “Tidak perlu, aku tidak bisa minum.”


“Sudah tahu begitu masih bekerja sebagai penyaji anggur, bukan teladan yang baik.”


Sambil tersenyum kecut, “Karena sekarang ada kamu, aku tidak akan melanjutkannya lagi, tapi kalau nanti kita sudah tidak bersama lagi kamu tidak bisa ikut campur lagi.”


Tangan Michael yang memegang sumpit loyo, tiba-tiba mulutnya melontarkan kalimat aneh, “Harusnya sebentar lagi sampai.”


“Apanya?”


Michael mencoba mengubah topik pembicaraan, “Hasil masakanmu benar-benar terlalu indah dipandang mata, Wendy, aku tidak tega memakannya.”


“Makanlah, rasanya mungkin tidak seenak makanan yang biasa kamu pesan di luar.”


“Bukan itu masalahnya, bumbu-bumbu yang dipakai dalam makanan yang biasa dijual rumah makan di luar sana sudah sangat berbeda, kebanyakan restoran menambahkan banyak MSG ke dalam masakan mereka, atau bahkan mungkin ada bahan-bahan berbahaya lain yang kita tidak tahu ditambahkan ke dalamnya, dari dulu aku tidak suka makan di luar, sayangnya aku tidak punya pilihan lain.”


Mendengar kata-kata Michael itu, Wendy tersadar bahwa dia tidak pernah benar-benar memahami latar belakang dan kebiasaan dalam keluarga Michael, satu-satunya kata kunci yang ia ingat dari surat yang sudah ia tandatangani itu hanya pernikahan kontrak. Mereka berdua menikah kilat sesuai perjanjian kemudian langsung bercerai.


“Ting tong……”, bel pintu berbunyi ketika Wendy masih terlarut dalam pikirannya, baru ia berpikir hendak berdiri untuk membuka pintu, Michael menyahut, “Biar aku saja.”

__ADS_1


Dua kaki panjang Michael melangkah dengan cepat menuju pintu dan membukanya, secepat kilat ia berbalik badan, dua tangannya bersembunyi di balik badannya, sambil tersenyum misterius.


“Michael, apa yang kau sembunyikan di belakangmu? Jangan-jangan surat cinta ya?”


Michael terus berjalan sampai ke samping meja makan, satu tangannya menyambar vas bunga kosong di dekat situ, lalu tangannya yang lain mengeluarkan seikat bunga gerbera dari balik badannya, ia memasukkan bunga itu ke dalam vas dengan super hati-hati sebelum duduk kembali di bangku yang sama, “Besok-besok selama kamu tinggal di sini, aku akan menyuruh orang untuk menyiapkan seikat bunga gerbera segar tiap hari.”


“Terima kasih”, selama ini Wendy menganggap bunga gerbera agak aneh, tapi kalau Michael menyukainya, Wendy tidak keberatan menerimanya setiap hari, toh ia tidak mengeluarkan sepeserpun untuk membeli bunga itu.


Karena Wendy menolak untuk minum anggur malam itu, akhirnya Michael juga tidak minum. Setelah selesai menyantap makan malam, Michael bersandar malas di kursinya, “Wendy, aku sungguh-sungguh harus berterima kasih padamu, makan malam hari ini luar biasa lezat.”


Wendy sudah berdiri dan bersiap untuk membereskan meja makan, lalu Michael menghardiknya, “Biarkan saja, tidak perlu dibereskan.”


Baru terlintas di benaknya meminta Michael untuk tidak usah repot-repot memanggil orang lain demi membereskan meja makan, Michael sudah menangkap tangannya, “Ayo kita pergi jalan-jalan keluar mencari udara segar.”


“Michael, memangnya kamu tidak perlu lembur?”, tanya Wendy, ia ingin tahu respon Michael.


“Oh……”, Michael menggandengnya berjalan keluar. Michael dan Wendy duduk dalam mobil BMW hitam yang meluncur di tengah gemerlap lampu jalan malam itu, Wendy ingin bertanya ke mana Michael akan membawanya pergi, tapi ia merasa kurang sopan kalau ia terlalu banyak bertanya.


Suasana hati Michael nampaknya sedang sangat baik, tidak lama kemudian mobil itu berhenti. Ketika turun dari mobil BMW hitam yang mencolok itu, semua mata memandang kagum ke arah Michael, terutama tatapan para wanita.


“Waah……”, seorang gadis remaja berusia belasan tahun tidak sengaja berdecak kagum melihat penampilan Michael. Michael hanya tersenyum mendengar itu, ia mengacuhkan reaksi orang-orang di sekitarnya itu, Wendy baru menyadari kalau mereka tengah berhenti di depan sebuah butik pakaian mewah gaya Perancis.


Langkah kaki Wendy berhenti, ia secara otomatis mengambil kesimpulan sendiri dalam kepalanya, pikirnya Michael pasti ingin membeli hadiah untuk gadis yang sempat ia lihat di supermarket tadi, hal ini membuatnya enggan mengikuti Michael masuk ke dalam toko tersebut, apalagi kalau melihat toko di depan matanya itu, sepasang sepatu saja pasti harganya bisa mencapai jutaan.


Sekarang gantian Wendy yang bersandar di mobil hitam menawan itu, begitu banyak pasang mata juga memandang ke arahnya, tapi kali ini semuanya berasal dari para pria yang berada di sekitar situ.

__ADS_1


“Wendy, kenapa kamu tidak ikut masuk?”, tepat ketika Wendy sedang kebingungan apakah tatapan orang-orang itu ditujukan padanya atau pada mobil keren di belakangnya itu, kepala Michael melongok keluar dari dalam toko itu mempertanyakan kelakuan Wendy.


“Tidak kenapa-kenapa, kamu beli saja apa yang perlu kamu beli, aku tunggu di sini.”


“Nona besar, aku perlu kamu ikut untuk mencoba beberapa pakaian di sini”, dalam hati, mungkin Michael ingin ia mencoba pakaian untuk mencari tahu ukuran yang pas, dengan begitu Michael bisa berpatokan pada ukuran Wendy untuk memilih pakaian yang sesuai dengan selera gadis itu tadi, kalau tidak takutnya pakaian yang akan Michael beli ukurannya tidak sesuai, atau bisa jadi baju yang Michael pilih terlalu kekanakan seperti romper rok denim bergambar kartun yang sedang ia kenakan sekarang ini.


Ternyata Michael butuh bantuannya sebagai contoh pakaian yang akan dibeli, baiklah, lagipula menunggu di luar sendirian pasti membosankan, Wendy tidak ada alasan untuk menolaknya, “Baiklah”, Wendy cepat-cepat mengikuti di belakang Michael. Jelas-jelas Wendy hanya mengenakan romper rok denim biasa, tapi entah mengapa tatapan mata para pria itu terus mengikutinya. Michael nampaknya menyadari hal itu, ia lalu menekuk lengannya, mengisyaratkan pada Wendy untuk ganti pakaian, melihat gelagat Wendy yang berniat menolak, Michael berkata pelan, “Gantilah, anak buah kakek sedang menunggu di sebelah sana.”


Wendy dengan patuh mengambil pakaian dari tangan Michael dan mencobanya, alasan mengapa dia akan menikahi Michael semuanya demi kakeknya.


Di dalam butik itu, Michael melihat sekilas deretan pakaian di dalam, lalu menunjuk gaun putih berbahan sifon, katanya, “Yang ini, bantu dia mencobanya.”


“Baik”, jawab asisten butik itu sambil mengamati bentuk badan Wendy, ia mengambil gaun putih itu sembari mengarahkan Wendy, “Nona, silahkan ikut saya ke ke sebelah sini.”


Wendy tidak bisa berkata tidak setelah melihat Michael melirik ke arah luar jendela, menyiratkan bahwa mata-mata yang dikirim kakeknya masih terus memperhatikan gerak-gerik mereka.


Apa boleh buat, tidak ada pilihan lain selain melanjutkan sandiwara.


Ketika dikenakan, gaun sifon putih Korea itu membuat Wendy sendiri tidak percaya melihat bayangan dalam cermin itu adalah dirinya sendiri. Seumur hidupnya, Wendy belum pernah mengenakan gaun se-elegan ini, gaun ini benar-benar cantik, bahan kainnya luar biasa halus dan lembut di kulit, Wendy berputar melihat bayangan dirinya di cermin. Saat Wendy keluar dari ruang ganti, Michael sedang memilih sepatu di seberang ruang ganti, tangannya tengah memegang sepasang sepatu hak tinggi berwarna putih senada dengan gaun yang sedang Wendy kenakan, sambil terus membandingkan sepatu-sepatu lain dengan sepatu yang dipegangnya itu, Michael kemudian berbalik badan, tatapan mata keduanya bertemu, sahut Michael pada asisten butik yang berdiri tak jauh darinya, “Bantu dia mencoba sepatu ini juga.”


“Baik”, asisten butik berjalan ke arah Wendy setelah menerima sepatu itu dari tangan Michael.


Ketika melihat ke bawah, Wendy baru menyadari sepatu berhak datar warna hitam di kakinya itu sama sekali tidak cocok dengan gaun putih cantik yang sedang ia kenakan saat ini, ia dengan patuh mengganti sepatunya dengan sepatu hak tinggi putih itu tadi, sekarang penampilannya secara keseluruhan sudah lebih enak dipandang mata.


“OK, aku mau satu set ini, aku akan memilih beberapa baju lain, lalu sesuaikan dengan ukuran dia dahulu sebelum dibungkus”, sahut Michael ke arah asisten butik di sebelahnya.

__ADS_1


Michael sungguh bergerak secepat kilat, dengan kecepatan yang sama, setelah menyampaikan keinginannya pada asisten butik itu, dalam waktu kurang lebih lima belas menit saja ia sudah memilih lebih dari dua puluh set pakaian masing-masing dengan gaya yang berbeda, Wendy hanya melongo melihat para asisten dalam butik itu mengambil satu persatu pakaian yang dipilih oleh Michael dan merapikannya secepat kilat.


__ADS_2