
Hello! Im an artic!
Tetapi malah Michael lah yang mengantar anak – anak dan dirinya kemari. Jika hal ini diketahui Marcel, bukankah tidak begitu etis ? Awalnya dia hendak membujuk anak – anak untuk tidak mengungkit hal tersebut, tetapi entah mengapa juga dirinya malah lupa. Dia lantas tersenyum canggung, berkata rujar
“Kalian bisa bertemu dengan daddy di mobil nanti setelah makanDimobil nanti, setelah makan, kalian bisa menemui daddy.”
Hello! Im an artic!
“Wendy, bagaimana jika mengajaknya untuk makan bersama saja ? ”
Ekspresi diwajah Marcel sama sekai tidak berubah, pria itu juga berkataujar dengan begitu tenang, seolah – olah Michael adalah teman baiknya. Tetapi Wendy jelas mengetahui, kenyataan sebenarnya tidaklah sama dengan ekspresi yang ditunjukkan pria itu.
Marcel terlihat takut dengan Michael, tetapi juga terlihat tidak takut dengan pria itu. Dia selalu ingin menanyakan pria itu mengapa, tetapi begitu mendapati ekspresi pria itu, Wendy seketika itu juga mengerti. Jika pria itu tidak ingin bercerita, maka entah apapun yang terjadi, dirinya tidak akan pernah menanyakan hal tersebut.
“Marcel, tidak perlu, dia sendiri yang mengatakan ingin menjadi supir, biarkan saja dia.”
Hello! Im an artic!
“Ini adalah hari pertama tahun baru Imlek, tidak baik memperlakukannya seperti itu. Ayo, ajak dia untuk makan bersama.”
“Benar, Mami, panggil daddy kemari, aku dan Lexa akan pergi memanggilnya.”
Lexi mengajukan diri, dan sudah hampir berdiri sembari menarik tangan Lexa.
Sungguh tidak bisa berkata – kata lagi, kedua buah hatinya ini, sungguh membuatnya tidak berdaya.
“Duduk, siapapun tidak boleh pergi.”
Mengerucutkan bibirnya, Lexi terlihat sudah akan menangis, merengek
“Mami…”
“Baiklah, mami akan menghubungi daddy untuk memintanya kemari, sudah puas ? ”
Lexi lantas tersenyum sembari menyeka air matanya,
“Boleh, boleh, cepat hubungi daddy, mami.”
Begitu menghubungi nomor Michael, Wendy merasa baru saja ponselnya berdering, tetapi pria itu sudah mengangkatnya
“Wendy, ada apa ? ”
Suara Tetapi suara yang terdengar dari seberang sana terdengar begitu acuh, seolah – olah pria itu tidak sedang menunggu panggilan ini, hanya saja tidak sengaja melihat ponselnya berdering dan mengangkatnya.
“Anak – anak ingin kamu ikut makan bersama.”
IDirinya sengaja menyebutkan nama anak – anak, ini bukanlah idenya, keinginannya maksud dirinya yang sesungguhnya adalah, dia tidak ingin berjumpa dengan pria itu.
“Bagaimana denganmu ? ”
Tetapi, sungguh tak disangka pria itu akan menanyakan hal tersebut.
“Terserah, padamu, kalau mau datang ya datang, kalau tidak mau ya tidak usah. Hanya saja…”
Wendy lantas mengecilkan suaranya, kemudian melirik sejenak meja yang diduduki oleh Keluarga Kevin . Dia bisa mendapati sosok Maria disana. Saat ini, wanita itu sedang terduduk diam disudut meja, wanita itu tidaklah menyantap makanan yang tersedia disana, hanya terduduk diam disana, dan bayangan itu terlihat begitu kesepian ditengah keramaian meja tersebut. Sudahlah, biarkan saja pria itu kesini, bagaimana pun juga, idirinya sudah mati rasa dengan pria itu, dia sungguh tidak ingin lagi berhubungan dengan pria itu diseumur hidupnya ini. Ditahun baru seperti ini, meskipun bukan bertemu secara langsung, tetapi , bisa memberikan kesempatan bagi pria itu dan Maria untuk saling bertukar pandang jugalah halsesuatu yang bagus.
IDirinya memahamimengetahui rasa dari saling mencintai tetapi tidak bisa bertemu itu seperti apa. Perasaan itu terasa begitu menyakitkan, membuat orang hidup seolah mati.
“Datanglah, anggap saja aku mentraktirmu.”
“Sungguh ? ”
__ADS_1
“Iya.”
“Aku akan segera kesana.”
Michael memutuskan sambungan telepon tersebut setelah melontarkan ucapannya. Tatapan Wendy mendarat kearah lampion yang sedang tergantung didepan pintu masuk restoran, dan tiba – tiba saja dia teringat akan air mata Maria barusan. Ditahun baru seperti ini, air mata itu sungguh tidak bagus, sungguh tidak membawakan berkah. Dia lantas menggeleng – gelengkan kepalanya, memberitahu dirinya sendiri bahwa hal tersebut tidak ada hubungannya dengan dirinya.
“Daddy, cepat kemari, sini.”
Begitu tubuh kekar tinggi Michael memasuki aula restoran, seketika itu juga banyak perhatian tertuju padanya. IDirinya terlalu memikat, entah kemana pun dirinya pergi, dia pasti akan bersinar seperti bintang – bintang yang bercemerlang dilangit, yang terus mengeluarkan cahaya dan daya pikatnya.
Suara Lexi persis seperti pancaran parabola tak kasat mata, yang tak terhitung jumlahnya, menyebar disekitaran daerah itu. Suara cempreng khas anak kecil itu dapat dengan mudah terdengar diantara ribuan suara lainnya, Michael telah mendengarnya, begitu juga anggota Keluarga Kevin yang duduk diujung seberang sana. Seketika itu juga, atensi seluruh orang yang terkumpul dimeja tersebut dilayangkan pada sosok Michael.
Orang yang pertama kali bersuara adalah Reinson,
“Paman pertama…”
Anak itu beranjak dari kursinya, kemudian berlari menuju Michael , tanpa memperdulikan tatapan pernuh peringatan yang dilayangkan Raina.
“Brak”
Kevin membanting dengan keras ponsel Maria yang sedang terletak diatas meja, hingga ponsel tersebut terbanting jatuh kebawah meja. Suara bantingan tersebut terdengar begitu menggelegar, membuat telinga orang – orang yang mendengarnya menjadi kesakitan. Tubuh Maria bergemetar, dia mengangkat kepalanya memandangi Kevin, mata yang telah digenangi air itu melemparkan protesan yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.
“Apa kamu yang menyuruhnya kemari ? ”, tanya Kevin dengan berteriak dingin,
“Jangan hanya bisa menangis, sekali aku bertanya kau pasti menangis!”
Maria menggeleng – gelengkan kepalanya, menjawab
“Bukan aku, sungguh bukan aku.”
Dia hanya ingin melewati tahun baru tahun ini dnengan tenang dan damai, terlebih lagi saat ini mereka sedang berada diluar, setiap orang pasti ingin menjaga nama baiknya sendiri. Dia sudah mengatakan akan menyerah , dan dia memang sudah lama dia tidak pernah berhubungan dengan Michael.
Air mata, menetes jatuh dari pelupuk matanya ketika dia memikirkan fakta tersebut, bahkan jika ingin ditahan pun sudah tak tertahankan lagi. IDirinya memang sosok yang sangat cengeng, bahkan sedari kecil dia sudah begitu. Hanya Michael seoranglah yang tidak keberatan dengan sikap cengengnya itu, bahkan pria itu akan memengangi wajahnya, kemudian menyapu air matanya dengan kecupan kecil yang dilayangkan pria itu, menghiburnya agar tidak menangis lagi, karena disaat dirinya menangis, hati pria itu akan merasa kesakitan.
Tetapi saat ini, kenapa air matanya terus saja menetes jatuh meskipun dia sudah berusaha menahannya sekuat tenaga ?
Sosok pria yang berdiri dihadapannya mulai terlihat kabur, Michael , dirinya tidakbukan snegaja melakukan hal tersebut secara sengaja, tetapi hal itu sudah mengubah takdir kehidupan mereka.
Meja yang sangat menyita perhatian itu, disaat Michael sedang menelusuri dan melangkah kearah meja Wendy dengan melalui petunjuk suara Lexi, dia sudah melihatnya, hanya saja dia terus mengunci pandangannya pada Wendy, memberitahu dirinya sendiri untuk tidak menoleh ke meja tersebut, sungguh tidak boleh memandangi Maria lagi.
Dirinya dan wanita itu, telah berakhir, benar – benar sudah berakhir. Tidak perduli seberapa besar ketidak ikhlasan dan seberapa besar kerinduan yang dirasakan hatinya, semuanya tetap sudah berakhir.
Anak itu sungguh bukan miliknya.
Kenyataan memang seperti itu, dia tidak pernah melakukan hal tersebut. Kenapa dipandangan orang lain, pria dan wanita tidak bisa murni hanya berteman ?
Kebersamaannya dengan Maria , murni hanya karena persahabatan, meskipun tersirat rasa cinta didalamnya, tetapi dia sungguh tidak pernah berpikiran untuk menyentuh wanita itu, karena hal tersebut memang sungguh tidak boleh.
Wanita adiknya, meskipun dirinya tidak ingin mengakui Kevin sebagai adiknya, tetapi ikatan darah yang mengalir didalam tubuh mereka, membuatnya tak bisa mengelak kenyataan bahwa Kevin memanglah adiknya.
Kemarin malam, dia sudah melarang dirinya untuk mengirimkan pesan singkat kepada Maria. IDirinya mengira, dia akan bisa melewati tahun ini dengan damai dan tentram, tetapi sungguh tak disangka, tepat disaat ini,, dirinya malah bertemu dengan Maria dan Kevin.
Sudah dekat, jarak antara dirinya dengan Wendy sudah semakin dekat, tetapi, dia juga dapat merasakan dengan jelas, sebuah tatapan dingin yang mengarah tepat kearahnya, tatapan itu adalah tatapan yang dilayangkan Kevin.
Meskipun pria itu tidak meneriakinya, tetapi rasa kebencian itu kental sekali terasa. IDirinya tidak tahu, harus bagaimana lagi dia membuktikan bahwasanya anak yang dikandung Maria bukanlah anaknya, melainkan anak Kevin. D, dia sungguh tidak pernah meniduri Maria, lantas, apa mereka harus melakukan tes DNA ?
Kepalanya terasa berat, tidak seharusnya dia menginjakkan kakinya di tempat ini.
Anak didalam kandungan itu membuat dirinya merasa benci dan juga sayang diwaktu bersamaan, dan sosok yang merasakan hal yang sama dengannya adalah Kevin, idirinya bahkan bisa merasakan tatapan penuh kehangatan yang dilayangkan Kevin ketika memandangi perut Maria.
“Daddy, cepat datang, kami disini.”
__ADS_1
Lexa sedang melambaikan tangan kepadanya, anak itu merasa begitu gembira dengan kehadirannya. Tetapi saat ini, hatinya malah terasa menggelap, aura badai seolah – olah berhembus diantara banyaknya orang – orang didalam aula, membuat dirinya merasa tidak begitu baik.
Anak itu, sedari tadi terus saja menjadi poros diaula tersebut. Tepat ketika dirinya berdiri didepan meja, Marcel lantas memerintahkan pelayan untuk mengambilkannya dua buah gelas bir. Tetapi dirinya, sama sekali tidak memiliki niatan untuk meminum bir saat ini. Dia lantas berdiri tepat dihadapan Wendy, kemudian bertanyaujar dingin pada wanita itu
“Kamu tahu dia disini, benar kan ? ”
Wendy menganggukkan kepalanya, mengatakan ‘iya’ sembari melihat kearah Maria.
“Kamu sengaja ? ”
Tangan Michael lantas bergerak untuk menarik kerah baju yang dikenakan Wendy, ingin sekali dia mencekik wanita itu, karena dia tahu, kedatangannya ini pasti akan mencelakakan Maria.
Begitu cengkraman di leher itu mengerat, seketika itu juga Wendy merasa kesusahan untuk bernafas. Dia hanya berbaik hati , bermaksud untuk menciptakan kesempatan agar pria itu dan Maria dapat saling bertukar pandang dalam kejauhan, tetapi dirinya sungguh tidak menyangka bahwa pria itu akan menuduhnya sengaja.
Wendy lantas membuka mulutnya, tetapi nafasnya semakin lama terdengar semakin melemah,
“Ah…”
“Lepaskan dia.”
Suara yang sangat dingin terdengar, pergelangan tangan Michael yang sedang mencekik leher Wendy tiba – tiba saja ditahan oleh satu tangan lainnya. Entah sejak kapan, pria bernama Marcel itu sudah berpindah ke tempat mereka…
Wajah Michael memias, tetapi tangannya yang sedang mencengkram kerah baju Wendy itu sama sekali tidak terlihat akan melepaskan tindakannya. Dia lantas melirik Maria dengan ekor matanya, dia sungguh khawatir bahwasanya Kevin akan membuat perkara lagi.
Dan terbukti, semua orang yang berada dimeja seberang sana sudah berdiri, seolah – olah bersiap untuk pergi membayar makanan mereka. Hanya saja, begitu memandangi sisa – sisa makanan yang terdapat dimeja itu, terlihat jelas sekali bahwa mereka masih belum menyelesaikan acara makan bersama mereka.
Maria berjalan berdampingan dengan Kevin, dengan tatapan tak berarti yang dileparkannya kearah lantai. Perut besarnya itu membuat tubuhnya tidak lagi ramping, tetapi aura kewanitaan yang sulit dijelaskan masih, menguar kentara menguarsekali dari dalam diritubuhnya.
“Ayo, cepat sedikit.”, Kevin berujar tidak sabaran dengan nada dinginnya, seolah – olah hendak membunuh orang.
Entah seberapa besar kuat tenaga yang dikerahkan pria itu, hanya saja , begitu tangan itu menarik tangan Maria, tubuh wanita itu seketika itu juga tidak seimbang, dan terlihat akan terjatuh kesebelahnya. Tetapi benda yang berada tepat disisi sebelah wanita itu adalah sebuah meja…
“Ah… hati – hati,…”
Tangan yang sedang mencengkram kerah baju Wendy seketika itu juga terlepas. Dengan secepat kilat Michael membalikkan tubuhnya, berlari secepat mungkin kearah Maria. Tetapi, entah seberapa cepat pun dirinya, dengan jarak yang sejauh itu, dia tidak akan mungkin bisa sampai tepat waktu, bahkan jika dirinya bisa terbang sekalipun.
Mendadak, Michael berdiri terdiam.
Disaat hanya beberapa langkah lagi yang tesisa, dia dapat melihat Kevin sedang menjulurkan tangannya menahan tubuh Maria, membawa wanita itu untuk berdiri tegak kembali. Disaat Kevin sudah menarik kembali tangannya dari tubuh Maria, pria itu lantas mengalihkan pandangannya kepada Michael yang tadinya sedang berlari mendekati mereka, kemudian bertanya pada Michael dengan nada bicara yang sarat akan tantangan
“Michael Ling, apa kamu ini sedang mengkhawatirkan adik iparmu, atau sedang mengkhawatirkan anak yang ada dikandungannya ? ”
Ucapan Kevin terdengar seperti sebuah peringatan, wanita itu adalah wanitanya, tetapi anak yang dikandung wanita itu bukanlah anaknya.
Michael menggepalkan tangannya, dia sudah pernah berkelahi dua kali dengan Kevin, dan setiap kalinya, pertumpahan darah pasti terjadi. IDirinya tidak takut untuk berkelahi, juga tidak takut untuk terluka, hanya saja , dia khawatir akan melihat lagi tatapan penuh kesedihan yang dilayangkan Maria, karena wanita itu paling tidak suka melihat dirinya berkelahi dengan Kevin.
Tetapi saat ini, dia ingin berkelahi, dia ingin menyadarkan Kevin, jelas – jelas anak yang dikandung Maria adalah anaknya, apa yang masih dicurigainya ?
Dengan tangan yang menggepal, tanpa sadar dirinya sendiri bahkan tidak sadar, dia sedang melangkah dengan cepat untuk , mendekati Kevin,, Ddan dalam sekejap mata, dia sudah berada tepat dihadapan pria itu.
“Anak itu adalah anakmu.”, Michael berujar dengan begitu percaya diri, tanpa keraguan sedikit pun,
“Aku tidak memperbolehkanmu untuk menghina Maria seperti ini.”
Tubuh wanita yang sedang membelakangi pria itu lantas bergemetar, seolah – olah dia sedang menahan mati – matian keinginannya untuk membalikkan badan, dan kemudian , suara lemah lembut Maria pun terdengar
“Kevin, ayo kita pergi.”
“Tidak bisa, kamu harus menjelaskan semuanya padaku, hari ini juga!”
Kevin lantas berujar sembari menghempaskan kuat tangan Maria yang sedang memengangi tangannya. Bahkan Michael dapat melihat dengan jelas telapak tangan kecil pucat milik Maria yang sedang bergemetar hebat.
__ADS_1