DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU

DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU
Bab 131 Selamat Tahun Baru


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Sudah setengah tahun, idirinya sama sekali tidak pernah memikirkan kemungkinan untuk bertemu dengan pria ini, seperti sekarang ini. Maka dari itu, tidak butuh waktu yang lama , dia sudah bisa mendengarkan suara jantungnya yang berdetak tidak karuan.


Michael lantas menengakkan tubuhnya dengan begitu elegan, kemudian melirik sejenak Wendy yang sedang tercengang itu, menutup pintu, kemudian menyandarkan dirinya dipintu itu sejenakbentar dan menyelinap pergi setelahnya.


Hello! Im an artic!


Cipratan air masih terus menyembur keluar, dan ketika air tersebut mengenai Wendy, barulah wanita itu tersadar akan ponsel yang masih digenggamnya. Syukurlah, tetapi syukurlah, cipratan air itu tidak mengenai ponselnya. Ia lantas Barulah setelahnya, dia berpindah ke tempat yang tidak diterjangkau oleh cipratan air itu, kemudian mulai menghubungi Marcel.


“Selamat tahun baru.”


“Apa sudah ada kabar mengenai anak – anak ? ”


Mereka berdua berucap diwaktu yang bersamaan, tepat ketika dia menyampaikan ucapan selamat pada pria itu, pria itu juga menanyakan kondisi anak – anak dengan begitu paniknya. Wendy lantas merasa begitu bersalah, dan berkata ujar


Hello! Im an artic!


“Marcel, Lexi dan Lexa sudah ditemukan.”


“Benarkah ? ”


Pria yang sedang berada diseberang sana lantas menghela nafasnya lega, kemudian berkataujar kembali


“Baguslah kalau begitu. , Wendy, sekarang kamu dimana ? Aku ingin bertemu denganmu, dan juga anak – anak.”


Marcel berujar riang, suara tenang miliknya bergema didalam kamar mandi, bercampur dengan suara cipratan air, membuat Wendy bergemetar, apa saat ini dia bisa bertemu dengan pria itu ?


“Marcel, aku…”


Keraguannya membuat sosok Marcel yang berada diseberang telepon sana seperti mendapatkan suatu petunjuk. Meskipun suara air tidaklah keras, tetapi bunyi aliran air terdengar begitu jelas.


“Wendy, bagaimana jika kita bertemu disaat kamu memiliki waktu luang ? Itu, hari ini Tante Suzy menanyakanmu, dan mengajakmu serta anak – anak untuk makan malam tahun baru bersama., Bbagaimana jika kamu mengajak anak – anak untuk kemari besok ? Beritahu aku dimana kamu tinggal, aku akan pergi menjemputmu dan anak – anak.”


Dia sudah menolak ajakkan pria itu hari ini, dan jika dia kembali menolak untuk bertemu dengannya besok, maka dia akan merasa sangat tidak enak hati. Tetapi, keningnya kembali mengerutdirinya kembali mengerutkan keningnya ketika, begitu teringat akan Henna, dan dia lantas berkata berujar


“Marcel, mari bertemu diluar, kamu bisa memilih tempatnya.”


IDirinya tidak keberatan, selagi mereka tidak bertemu dirumah pria itu.


“Tapi, Tante Suzy berkata ingin bertemu denganmu. , Wendy, Henna akan keluar besok, jadi, datanglah.”


Pria itu membujuknya, setelah berhasil menebak dengan tepat isi hatinya.


Baru saja Wendy hendak menyuarakan suaranya, bayangan hitam seseorang sudah muncul kembali didepan pintu kamar mandi, bergerak kesana kemari didepan sana, membuat dirinya menjawab dengan tergesa – gesa


“Baiklah.”


“Istirahatlah lebih awal, selamat tahun baru.”


“Selamat tahun baru, semoga berkah selalu mengikutimu.”


“Kamu juga, bye…”


Marcel memutuskan sambungan teleponnya, membuat Wendy menghela nafasnya dalam. Dia lantas segera mematikan keran air, kemudian kembali membaluti dirinya dengan handuk. Tepat ketika dia membuka pintu kamar mandi, dia mendapati Michael sedang berdiri diluar sana.


“Sedang apa ? ”


Bahkan disaat didirinya sedang mandi pun, bayangan pria itu tidak kunjung sirna dari pandangannya.


“Suhu hawa panas di kamar mandi sangat tinggi, aku takut kamu lupa membuka ventilasi dan terjadi masalah, dihari pergantian tahun seperti sekarang ini. Bagaimanapun juga, ini adalah tempat tinggalku.”


“Terima kasih.”


Wendy lantas berjalan melewatinya, melangkahkan kakinya kearah kasur yang berada ditengah kamar, kemudian berkataujar tanpa menolehkan kepalanya sedikitpun.

__ADS_1


“Aku ingin tidur.,”


Michael melirik sekilas ponsel yang sedang digenggam wanita itu, kemudian berkata ujar


“Kenapa lama sekali ? ”


“Apanya yang lama sekali ? ”


Wanita itu mengira, apa yang sedang dikatakan pria itu adalah dirinya yang mandi terlalu lama.


Pria itu lantas tersenyum,


“Tidak ada apa – apa, aku keluar sekarang.”


Sebenarnya, apa yang ditanyakannya adalah, kenapa wanita itu berbicang dengan Marcel selama itu.


Jelas – jelas dirinya sedang mengantuk, tetapi, tepat ketika dia menutup pintu kamar setelah pria itu melangkah keluar, rasa kantuk yang dirasakannya malah menyirna, tidak tersisa sedikit pun.


Setelah berbaring untuk sekian lamanya, dia merasa kasur ini dipenuhi dengan aroma Michael, dan hal itu membuat dirinya tidak bisa tidur, benar – benar tidak bisa tidur. Dia lantas membangkitkan diri, berjalan kedepan jendela, dan ketika membuka gorden jendela, dia mendapati pemandangan malam Kota T , yang dihiasi berbagai kembang api itu terlihat begitu indah. Dia lantas memandangi pemandangan tersebut dalam diam, tahun yang baru telah menyambut, usianya lagi – lagi bertambah, diirinya sudah hampir berkepala tiga, tetapi masih saja merasakanbegitu kesepian.


Suasana apartemen ini sangatlah hening, idirinya tahu anak – anak sudah terlelap sedari tadi., Ttetapi, bagaimana dengan Michael ?


Seharusnya, diwaktu seperti ini, pria itu sudah terlelap begitu nyenyak di sofa, bukan, kan ? Pria itu tidak sama dengannya. Setidaknya, dirinya sempat terlelap sejenak sebelum menyantap pangsit tadi malam. S, sedangkan Michael, pria itu sama sekali belum beristirahat sedari kemarin malam.


Telinganya seperti dsapat menangkap suara dengkuran halus pria itu, sedangkan dirinya yang tidak bisa terlelap ini, lagi – lagi berkeinginan untuk meminum bir, hanya meminum sedikit bir merah. Anak – anak telah ditemukan, dan hatinya pun suah terasa menenang kembali. Ditahun baru seperti ini, dia hanya akan meminum sedikit, karena jika tidak, hatinya akan terus merasa sedikit cemas.


Dan mengenai alasannya, dirinya sendiri pun tidak mengetahuinya.


IDirinya lantas membuka pintu kamar dengan begitu pelan, layaknya seekor kucing. Diluar sana, lampu ruang keluarga telah dimatikan seluruhnya, bayangan manusia pun sudah tidak terlihat lagi disana. IDirinya berjarak lumayan jauh dari sofa, dan dia juga tidak mendengar suara dengkuran Michael. Tetapi, menurutnya, keheningan itu menandakan bahwa pria itu sudah tertidur pulas.


Dia lantas melangkahkan kaki telanjangnya kearah tangga, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Hanya jika dia sudah sampai di bar mini dilantai atas, barulah dia bisa melakukan apapun yang diinginkannya, karena sosok Michael yang terlelap di sofa ruang keluarga itu pasti tidak akan bisa mendengar suaranya.


Ketika dirinya menaiki satu demi satu anak tangga, tangga spiral itu, suara detak jantungnya mulai terdengar kembali. Dengan, dan dengan refleks, dia menolehkan kepalanya ke belakang. Dirinyaya yang sudah mulai terbiasa dengan kegelapan itu , dapat melihat bayangan sosok seseorang yang berada di sofa ruang keluarga, dan pastinya, sosok itu adalah Michael.


Membalikkan badannya, Wendy kembali lantas melangkah dengan sangat cepat, bahkan dalam satu helaan nafasnya, kakinya dirinya sudah sampai di bar mini itu. Sesampainya disana, dia langsung mendudukkan diri diatas kursi, menetralkan nafasnyaa, dan mulai merasa, bahwasanya dirinya saat ini, terlihat seperti anak sekolahan yang sedang panik karena membolos kelas. Hanya saja, idirinya tidak melakukan kesalahan apapun, bukan ?


Ia Dirinya tidak takut dengan kegelapan itu, hanya saja, kondisi disana terlalu gelap, dia tidak bisa melihat apapun, dan juga tidak bisa menemukan bir yang ingin diminumnya.


Tangannya menekan saklar lampu, dan pandangannya refleks bergerak menuju ruangan yang cahayanya baru saja dihidupkan itu. Tetapi, disaat itu juga lah,, dia mendapati sosok baru yang berada tepat dihadapannya.


“Ah…”


Dengan refleks dia berteriak. Tetapi, tetapi, baru saja dia mengeluarkan suaranya, mulutnya sudah terlebih dahulu dibekap terlebih dahulu oleh sosok itu.


“Wendy, kamu bisa membangunkan anak – anak.”


Suara pria itu terdengar seperti suara sosok malaikat pencabut nyawa yang berasal dari neraka, membuatnya begitu ketakutan. Jika dia mengetahui pria itu juga berada disini, maka entah apapun yang terjadi, dirinya tidak akan datang ke tempat ini. T, tetapi sekarang, sudah terlambat baginya untuk melangkah pergi dari tempat ini.


Tangan pria itu lantas melepaskan bekapannya, berkata ujar


“Ingin minum apa ? Bagaimana dengan anggur merah ? Aku ada anggur tahun 83.”


Wendy menganggukkan kepalanya, dia sudah tidak bisa mengatakan apa – apa lagi, bahkan dirinya pun tidak mengerti, bagaimanakenapa dia bisa dia mengikuti pria itu untuk duduk didepan meja. Meja kayu merah yang berbentuk bundar, yang dikelilingi dengan renda berongga, terlihat begitu mewah dan elegan. Benar, apapun yang dimiliki pria itu, semuanya tampak begitu mewah, begitu pula dengan minuman beralkohol. Anggur tahun 83, entah seberapa banyak orang didunia ini yang masih memiliki keberuntungan untuk bisa menyicipinya.


Anggur yang terisi didalam gelas anggurkaca berkaki tinggi itu, tampak seperti minuman yang dituangkan pria itu padanya sore tadi. Hanya saja, saat itu idirinya sedang dibuat pusing dengan masalah hilangnya anak – anak. Tetapi, sedangkan sekarang, yang perlu dihadapinya hanya tersisa pria dihadapannya ini.


Bar mini ini, membuatnya merasa seperti pria itu memiliki ikatan batin dengannya, mereka berdua bertemu ditempat yang sama dan diwaktu yang sama, tanpa membuat janji sebelumnya.


IDirinya lantas mengangkat gelas anggur itu, kemudian menenguk pelan minuman tersebut. Dia tidak ingin mabuk, murni hanya ingin meminum sedikit minuman itu.


“Kapan kamu naik ? ”


“Baru sampai, kursi pun masih dingin. Dan lihatlah, belum juga aku membuka lampu, kamu sudah sampai.”


Pria itu tersenyum, lekukkan dibibir pria itu terlihat begitu mengesalkan saking indahnya, membuatnya tercengang sejenak, kemudian mengangkat kembali gelas anggurnya, menenguk minuman tersebut dengan kepanikkan yang dirasakannya.

__ADS_1


Mendapati wanita itu tidak kunjung menjawab, Michael lantas bertanya


“Tidak bisa tidur ? ”


“Aku kesulitan tidur jika bukan dikasurkudikasur yang bukan milikku. Maka dari itu, aku harus pulang ke rumah besok.”


Dengan begitulah, topik pembicaraan tersebut terungkit kembali, bahkan alasannya untuk pulang pun menjadi sudah sebuah keharusan.


“Baiklah, terserah kamu saja, asalkan kamu tidak menghilang lagi.”


Pria itu sungguh sosok yang mudah merasa puassosok yang mudah terpuaskan.,


“Hehehe, jika Lexi dan Lexa tahu kau sesayang itu dengan mereka, mereka pasti akan senang sekali.”


Pria itu meletakkan gelas anggurnya, memandanginya lekat lekat dirinya, tetapi tidak kunjung menyuarakan suaranya. Pria itu terus memandanginya, hingga dia merasa tidak nyaman,


“Michael, jangan menatapku seperti itu, kamu terlihat seperti jatuh cinta padaku. Michael, apa kamu ingin mendengar kejujuranku ? ”


Wendy menatap balik pria itu, dengan tersenyum begitu misterius. Setelah membasuh bebersih diri, dia merasa sekujur tubuhnya terasa begitu nyaman dan santai.


“Katakanlah.Bilanglah.”


Michael mengangkat alisnya, sembari terus menatapi wanita itu, seolah – olah, bunga sungguh bermekaran diwajah wanita itu.


Wendy lantas meletakkan sikunya diatas meja, menopang wajahnya, mendekati Michael, mengikis jarak diantara mereka sehingga mereka berada dijarak yang sangat dekat saat inimembuat jarak diantara keduanya, tiba – tiba saja menjadi begitu dekat. Wanita itu lantas berkataujar sembari tersenyum, dengan menatap telak kedua mata pria dihadapannya.


“Coba katakan, apa tadi kamu melihat sosok Maria lainnya ? ”


Lagi – lagi pria itu menganggapnya sebagai sosok pengganti seseorang, dia mengetahuinya, karena dirinya tidaklah bodoh.


Tangan yang sedang memengangi gelas anggur itu mulai bergemetar, jika bukan karena Wendy yang mengungkitnya, dia sungguh tidak sadar bahwa dirinya tidak memikirkan Maria barang sedetik pun, sedari wanita itu memasuki bar mini ini hingga sekarang. Atensinya lantas dialihkan sejenak ke ponsel yang diletakkannya diatas meja, kemudian menggeleng – gelengkan kepalanya, dan tiba – tiba saja dia menatap kembali wanita itu, berkataujar sembari tersenyum


“Wendy Zhong, kamu cemburu, benar tidak ? ”


Lengan yang terletak diatas meja memang tidak bergerak, tetapi, tangan yang sedari tadi memengangi gelas anggur mulai berekasi kembali. Sembari menatapi pria itu, Wendy lantas mengangkat gelas anggurnya., dan Ddalam sekejap mata, cairan yang masih tersisa didalam gelas itu berpindah, mengalir jatuh keatas kepala pria itu, dan kemudian, cairan itu mulus menetes jatuh dari rambut basah yang dipenuhi dengan aroma bir milik itu.


“Michael Ling, kamu sungguh terlalu percaya diri.”


Wendy segera membangkitkan dirinya, seusai melontarkan ucapan tersebut, diirinya sungguh sudah kehilangan niat untuk melanjutkan kegiatan meminum alkoholnya.


Pria itu terduduk diam sembari menyandarkan tubuhnya disandaran kursi, tangannya yang sedang memengangi gelas anggurnya, masih tidak berubah sedikit pun. Dia memandangi punggung wanita yang sedang berlalu menjauh itu, dengan dan tatapan yangnya masih terus mengikuti wanita itu, hingga bayangan wanita itu menghilang dibalik pintu.


Sebenarnya, dia merasa terobsesi.


Tetapi, rasa itu tidak tahu berlaku untuk siapa…


“Mami, kita akan kemana hari ini ? ”


Pagi – pagi sekali, Wendy sudah menerobos masuk kedalam kamar yang ditempati Lexi dan Lexa. Michael memanglah sosok yang sangat bijaksana, bahkan pakaian anak – anak dan miliknya pun, sudah disiapkan pria itu. Relasinya memang sangat banyak bahkan hanya dengan sekali telepon saja, pasti akan ada yang mengantarkan benda pesanannya.


Pakaian yang disiapkannya untuk anak – anak adalah dua setel gaun berwarna merah muda, yang dihiasi dengan renda berbunga. Pakaian itu tampak sangat cantik dikenakan oleh dua anak perempuan itu, membuat mereka terlihat semakin mirip dengan anak boneka. Sungguh sangat cantik sekali, ditahun baru seperti ini, jika mereka keluar dengan mengenakan pakaian itu, maka mereka sudah pasti mereka akan menjadi pusat perhatian.


Sedangkan pakaiannya itu juga tidak kalahsangat menarik perhatian, jaket berwarna ungu muda yang dipadukan dengan legging berwarna hitam, ditambah sepasang boot ungu muda yang berhak sedang. Hanya saja, pakaian tersebut sangatlah tertutup, selain leher putih dibawah dagunya yang terlihat, tidak ada lagi bagian tubuh lainnya yang terlihat sedikit pun.


Rambut panjang sebahunya dia uraikan, terlihat sama persis seperti dirinya yang dulu.


“Ayo, kita akan pergi berjalan – jalan hari ini. Dan , dan juga, kita juga akan pulang ke rumah untuk melihat – lihat, sudah semalaman kita tidak pulangkita sudah semalam tidak pulang, loh.”


“Boleh, boleh. T, tapi, bagaimana dengan daddy ? ”


“Daddy akan tinggal disini.”, ujar dirinya tanpa berbasa basi.


“Kenapa ? Daddy akan kesepian disini, kami mau daddy ikut bersama kita.”


Lexa memprotes, memandang telak sepasang mata Wendy dengan tatapan penuh kekeras kepalaannya. Ini adalah tujuan , kaburnya dia dan Lexi kaburjuga Lexi., Aapapun yang terjadi, mereka harus merayakan tahun baru ini berempat.

__ADS_1


Tepat ketika Wendy hendak menjawab protesan anaknya, Michael tiba – tiba saja membuka pintu kamar mereka, berkata ujar


“Apa nona – nona sudah selesai berpakaian ? Supir kalian ini sudah tidak bisa menunggu dengan sabar lagi.”


__ADS_2