DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU

DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU
Bab 119 Pemikirannya Terbuka


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Jalan saja ke arah di mana kamu ingin pergi, dan nanti aku akan turun di tempat yang nyaman.” Wendy merasa tidak enak hati, bagaimanapun juga dia adalah penyelamatnya, jika tidak ada bantuan orang ini, mungkin dia akan tertangkap lagi dan dimasukkan ke dalam sangkar, dia melihat ke belakang, mobil miliknya itu sudah melarikan diri ke dalam kegelapan, rasanya seperti dia tidak pernah masuk ke dalam kehidupan Wendy.


Hello! Im an artic!


Laki laki itu masih fokus mengendarai mobilnya, tatapannya tepat tertuju di jalanan di depan, dan tidak mengatakan apapun.


Lexi dan Lexa tertidur sangat pulas, obat itu benar benar sudah bereaksi.


Wendy menjatuhkan pandangannya keluar jendela mobil, sorot lampu semakin membuat malam terasa sangat tidak nyata.


Teleponnya berdering, dan hal pertama yang muncul dalam benaknya itu adalah panggilan dari Michael Ling, dia menatap layar telepon, ternyata benar, nomor telepon yang sangat akrab baginya, dalam beberapa tahun ini masih tidak berubah.


Hello! Im an artic!


Wendy menahan bibirnya, ternyata dia menyadarinya dengan cepat, bukankah dia masih bersama dengan Maria? Ternyata dia masih memiliki waktu untuk mengkhawatirkannya dan juga anak anak.


Jari tangannya menekan layar dan mengangkat telepon, Wendy sedikit gemetaran, dia benar benar sudah tidak ingin bersama dengan Michael Ling lagi, pemikirannya sudah mulai tenang, begitu juga dengan hatinya, sejak memutuskan untuk meninggalkan Michael Ling, dia sudah memikirkan semuanya, “aku pergi, semoga kamu bahagia bersama Maria.” Setelah mengatakan itu dia langsung mengakhiri panggilan telepon, dia benar benar tidak ingin mendengar jawaban Michael Ling, tetapi dia mendengar suara teriakan panik yang dia katakan…


“Wendy, kamu…”


Ini adalah perkataan terakhirnya yang didengar, entah seberapa kesal perkataan itu, mulai sekarang tidak ada hubungannya lagi dengan dirinya.


Wendy mematikan teleponnya, mengambil nomor kartu di dalamnya, membuka pintu mobil, dan menikmati hembusan angin malam, sopir terlihat tidak senang, Wendy hanya tersenyum, “aku hanya ingin membuang sesuatu yang tidak penting, jika menggenggamnya di tanganku, maka hanya akan mengotori tanganku saja.”


Sopir itu hanya melihatnya sekilas, kemudian membiarkan Wendy melanjutkan apa yang tengah dilakukan.


Wendy kembali menatap pemandangan di luar kaca mobil, melihat jam yang begitu besar di depannya sudah menjauh, dia ingat jika di dekat sini sepertinya ada sebuah air mancur.


Dan ternyata dengan cepat pemandangan air mancur dan gemercik airnya sudah bisa dia dengar, mobil kebetulan melewatinya, dan tatapannya tepat terjatuh pada air mancur itu, tangannya mengayun begitu saja, dan iPhone berwarna orange dilemparkan ke dalam air mancur, saat terlempar seperti ada sebuah kilatan karena percikan dengan air, meskipun itu hanya sekilas, tetapi Wendy bisa melihatnya dengan sangat jelas.


Michael, selamat tinggal, kali ini dia benar benar sudah pergi.


Lebih baik jika tidak akan bertemu lagi selamanya.


Volcano Island, itu adalah utang yang harus Michael bayar kepadanya dan juga anak anak, tetapi Wendy tidak ingin agar Michael Ling melunasinya lagi.


Semua yang pernah Michael berikan kepadanya, Wendy tidak membawanya satupun, semuanya dia kembalikan kepada Michael.


“Nona, apa suamimu… dia…” Sopir itu tidak bisa melanjutkan perkataannya, tetapi dia sedikit tidak tenang kemudian melanjutkan, “mungkin kamu bisa memberinya kesempatan sekali lagi, setidaknya kamu harus mempertimbangkan kedua anakmu itu.”


Bujukan yang sangat tulus, semua orang mengatakan jika sepasang suami istri tidak boleh saling meninggalkan, apa yang dia katakan memang benar, hanya saja Michael bukanlah suaminya, sejak awal bukanlah suaminya, sejak awal sampai akhir, Wendy hanyalah sosok pengganti yang bisa dia gunakan semaunya, “Terima kasih, aku akan mempertimbangkannya.” Hanya saja hasil pertimbangan sudah diputuskan, yaitu meninggalkannya.

__ADS_1


“Tadi telepon dari suamimu kan, aku pikir dia masih memperdulikanmu.” Sopir itu masih membujuknya, dia benar benar orang yang baik.


“Hehe, sebelum aku pergi aku juga sempat menghubunginya.”


“Oh.” Sopir itu membelokkan laju mobil, “Dia tahu jika kamu pergi?”


Anggap saja dia mengetahuinya, dia sudah menduga jika Wendy akan kabur, tetapi dia telah mengirimkan begitu banyak pengawal untuknya, dia masih tetap berusaha untuk kabur, “tidak, dia saat ini sedang bersama dengan perempuan yang dia cintai.”


Dia adalah Maria, terkadang Wendy juga berfikir apakah bayi yang ada di dalam kandungan Maria adalah anak Michael, jika tidak bagaimana mungkin dia akan sepanik itu?


Dia tidak mungkin kan panik karena anak Kevin?


Pertanyaan ini selamanya hanya akan dia simpan di dalam hatinya, dan selamanya dia juga tidak akan pernah menanyakannya.


Akhirnya Wendy bisa bebas, kebebasan ini benar benar sangat menyenangkan, tetapi harga yang harus dia bayar juga sangat mahal, dia tidak boleh sembarangan keluar dan menunjukkan wajahnya di kota ini.


“Ehm…” Sopir terdengar mendesah pelan, dia kembali melanjutkan menyetir mobil, “Kamu ingin kemana, lebih baik aku mengantarmu saja, tidak mudah untuk membawa dua anak bersamamu.” Laki laki itu sudah tersentuh, di dunia ini ternyata masih ada begitu banyak orang baik, saat mengetahui hal ini, hatinya benar benar sangat terharu.


Tatapan kedua mata Wendy tertuju ke jalanan di luar, “kalau begitu maaf sudah merepotkan, setelah jalan di depan belok saja ke kanan, beberapa ratus meter dari situ sudah sampai.” Bukannya tidak ingin menaiki taxi lagi, tetapi sedikit merepotkan jika harus membopong kedua anaknya, setelah itu dia akan kelelahan, meskipun mereka diletakkan di atas lantai pun mereka akan tetap tidur dengan pulas.


“Baiklah.” Supir itu mengiyakan, dia benar benar seseorang yang sangat baik.


Dalam hati Wendy dia memiliki rasa terharu yang tidak bisa diungkapkan, kelak, dia juga akan menjadi orang yang baik.


“Tidak apa, aku akan meminta temanku untuk menjemputku.” Sebenarnya bukan teman tetapi pemilik gedung.


Laki laki itu melambaikan tangannya, kemudian menatapnya dan juga kedua anaknya dengan rasa simpati, baru kemudian melajukan mobilnya.


Setelah memandang mobil yang melaju semakin menjauh, Wendy baru tersadar, anak anak benar benar tidur sangat pulas, mereka berdua saling berpelukan, Wendy juga harus menelpon, setelah berfikir sebentar, dia membangunkan mereka perlahan, “Lexi, Lexa bangun.”


Karena pengaruh obat itu yang tidak terlalu kuat, dan juga mereka sudah dipindahkan beberapa kali, setelah dibangunkan sebentar mereka akhirnya bangun, mengucek kedua matanya, sorot lampu jalanan terpancar di wajah mereka dan membuat mereka terlihat sangat menggemaskan, “mami, kita ada dimana?” Saat mengetahui jika mereka ada di luar rumah, wajah mereka terlihat sangat terkejut.


“Oh, kita sedang ada di luar mami akan menelepon sebentar, nanti baru memberitahu kalian kita akan pergi kemana.”


“Baiklah.” Kedua anak itu sudah terbangun, entah mereka berada dimana, asalkan bersama dengan maminya, mereka tidak merasa takut sedikitpun.


Wendy menelepon pemilik gedung, “tante, aku sudah sampai dan berada di bawah.”


“Tunggu sebentar, aku akan meminta suamiku untuk membawa becak ke sana.”


“Terima kasih.” Suami pemilik gedung benar benar bisa diandalkan, dia benar benar datang dengan membawa becak kemari, barang barang di dalam becak itu adalah pakaian ibu hamil dan juga pakaian anak anak yang ditinggalkan di rumah sewa, awalnya dia tidak sempat untuk memindahkan semua itu, dan memang sudah tidak perlu untuk dipindahkan, bagaimanapun juga sudah enam tahun, dan dia harus menggantinya.


“Nona Zhong, kamu akan ke mana?”

__ADS_1


Wendy berfikir sebentar, “pergi ke arah sana terlebih dahulu.” Dia juga tidak tahu ke mana dia akan pergi, sudah cukup baginya untuk pergi meninggalkan Michael sejauh mungkin.


“Baiklah, aku akan mengantar kalian.”


Becak kecil membawa mereka semua melaju pelan di jalanan, kediaman pemilik gedung tidak jauh dari rumah sewanya, hanya berjarak satu jalan saja dari sini, saat sampai di persimpangan, tatapan kedua matanya tanpa dia sadari menatap rumah yang pernah dia sewa sebelumnya, becak yang dia kendarai melaju tanpa hambatan, dia melihat di bawah gedung itu terparkir sebuah mobil berwarna hitam yang modelnya tidak bisa dilihat dengan jelas, rasanya sedikit akrab, membuat detak jantungnya berdetak sangat kencang, tetapi meskipun begitu becak masih tetap melaju, dan pemandangan di depan berganti menjadi pemandangan malam di kota, tidak ada mobil yang mengikutinya lagi, mungkin pandangannya sudah mulai kabur.


“Mami, kita akan pergi kemana?”


“Mami, dimana Ayah ?”


“Mami, aku ingin pulang ke rumah.”


“Mami, aku ngantuk sekali.”


“Mami langitnya gelap sekali.”


……..


Anak anak sepertinya sedikit ketakutan, bahkan mereka memeluk Wendy dengan erat, tetapi tekad Wendy sudah bulat, “mami akan membawa kalian ke tempat yang sangat bagus, dan mami akan selalu menemani kalian.”


Lexa melepaskan diri dari pelukan Wendy, kedua matanya begitu bersinar dalam kegelapan saat menatapnya, “Mami, apa mami bertengkar dengan Ayah , iya kan?”


Wendy menggelengkan kepalanya, “Tidak.”


“Mami, pasti iya kan, jika tidak kenapa Ayah tidak pulang ke rumah?”


Anak anak sangatlah sensitif, bahkan perkataannya membuat Wendy tidak bisa mengatakan apapun lagi.


Saat mereka sedang berbincang, telepon suami pemilik gedung tiba tiba berdering, suaranya benar benar memecah keheningan malam, laki laki itu memegang kendali dengan satu tangan, tantangan yang lain mengeluarkan teleponnya, “Istriku, ada apa?”


Tatapan kedua mata Wendy menatapnya, dan pemandangan mobil hitam yang sebelumnya dia lihat kembali muncul dibenaknya, dia langsung merebut telepon itu, dan ternyata benar, dia mendengar suara perempuan dari dalam telepon, “Ada seseorang yang sedang mencari perempuan itu, jika bisa membantunya menemukannya, maka dia akan memberikan kita uang, kamu pikirkan cara…”


Wendy langsung memutuskan panggilan telepon itu, “Aduh, baterainya habis, aku ingin turun, turunkan saja aku di sini.” Jalanan ini cukup ramai, banyak sekali mobil yang berlalu lalang, dia juga melihat ada begitu banyak angkutan umum yang lewat.


“Apa sudah dekat dengan tempatmu tinggal? Jika masih jauh, kenapa kamu dan anak anak turun di sini?” Laki laki itu tidak berfikir terlalu banyak, dia hanya bertanya karena sedikit khawatir.


“Oh itu tadi temanku mengirim pesan, dia mengatakan akan datang menjemputku, jadi aku tidak akan merepotkanmu lagi, turunkan saja aku sampai di sini.”


“Baiklah.” Dia menghentikan laju becaknya, kemudian menurunkan dua tas besar di pinggir jalan, dan memberikan beberapa lembar uang berwarna merah kepadanya, “ini adalah sisanya, istriku memintaku memberikannya kepadamu.”


Wendy menerimanya, meskipun istri laki laki itu ingin menjualnya kepada Michael hanya demi uang, tetapi dia masih memberikan sisa uangnya kepadanya, Wendy juga sangat membutuhkannya, tentu saja dia akan menerimanya, “Terima kasih.” Ingat saja kebaikan orang lain, dan lupakan keburukan orang lain, “Ini teleponnya aku kembalikan.”


“Kalau begitu aku akan pergi.” Setelah mengatakan itu dia langsung melajukan becak yang dia kendarai, karena tidak ada muatan di dalamnya, jadi becak bisa melaju dengan cepat, dia tidak sadar jika telepon miliknya sudah dimatikan oleh Wendy, dalam hatinya dia sedikit merasa bersalah, tetapi dia tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal yang lain, Wendy menghentikan taxi, karena saat malam tidak ada penumpang, jadi tidak sulit baginya untuk mendapatkan taxi, sopir juga membantunya menaikkan barang yang dia bawa, saat mobil meninggalkan jalanan, hatinya sudah kembali tersadar, kali ini dia benar benar akan lepas dari cengkraman Michael.

__ADS_1


Mobil mengantar Wendy ke pinggiran kota, dia menatap pemandangan di luar jendela, sepertinya ini adalah daerah kumuh di kota, tidak ada lagi kemakmuran yang seperti di pusat kota, setelah turun dari mobil, hari sudah fajar, dia melihat ada tanda besar dengan kata disewakan, Wendy mengetuk pintu, dan dengan cepat ada orang yang menyahut, “Siapa?”


__ADS_2