
Hello! Im an artic!
Di mobil, anak-anak tidak tahu menahu tentang dirinya yang bertengkar dengan Michael, malah sedang berceloteh di sana, sepertinya tidak gembira.
Hello! Im an artic!
Mobil melaju cepat meninggalkan area central pasar T, melemparkan pandangannya ke bunga bugenvil yang bermekaran di sepanjang jalan, warna ungunya seakan menunjukkan kalau ia tidak akan berhenti mekar, pelan-pelan suasana hatinya pun menjadi semakin tenang. Biarkan saja semua mengalir secara alami, lagipula dia juga tidak mampu menentangnya, hanya berharap 6 bulan kemudian ia dapat melepaskan wanita yang sama sekali tidak dicintainya ini, mengembalikan kebebasannya.
Tiba-tiba, sudut matanya menangkap sebuah warna orange dari kejauhan
Hello! Im an artic!
Bibirnya terbuka sedikit, instingnya mengatakan kalau mobil itu bermasalah, tapi di saat ia akan mengungkapkannya, ponselnya berdering, ternyata Marcell Bai.
“Wendy, berikan aku KTP-mu dan fotocopy nya satu lembar untukku.”
“Buat apa?”Tidak mengerti mengapa Marcell meminta KTP nya.
“Kamu lupa? Kan sudah kuberitahu kalau aku akan mendirikan sebuah perusahaan kayu, aku tidak ingin mengatasnamakan keluarga Bai, jadi ingin pinjam namamu saja, tidak akan memberimu gaji ataupun imbalan, kamu bisa tenanglah kan.”
Tidak ada yang lebih memahaminya daripada Marcell Bai, sering terjadi ketika ia tidak ingin uang dan barang dari para pria, karena menurutnya hal itu hanya akan menurunkan martabatnya, dan ia mengerti dirinya, bila disimpulkan yang bisa membuatnya tidak ada keraguan sedikit pun, hanya Marcell Bai.
“Semuanya ada di rumahmu, untuk apa kamu minta padaku lagi.”
“Maksud kamu, kamu setuju kan?”
“Uhm.” Balasnya tanpa ragu, berbeda pula jika orang lain yang memintanya, dia tidak akan begitu cepat menyetujuinya, khawatir ini dan itu. Tapi ini Marcell Bai, cuma menggunakan namanya untuk mendirikan sebuah perusahaan saja kan? Lagipula dia juga tidak akan ikut campur dengan bisnis Marcell.
“Wendy, KTP mu tidak ada di tempatku, mungkin diambil olehnya’?”
“Baiklah, aku tahu, aku sedang di luar sekarang, tunggu aku pulang aku akan menyuruh orang mengantarkannya ke rumahmu.” Jawabnya pelan, dia sudah mengerti maksudnya.
“Oke, bye.” Seperti mengetahui akan kehadiran Michael Ling di dekat Wendy, Marcell memutuskan sambungan teleponnya dengan cepat.
Melirik ke arah Michael yang ada di kursi kemudi, pria ini memang menyebalkan terkadang, ia bahkan tidak bilang ke rumah Marcell bukan hanya untuk menjemputnya dan anak-anak, tetapi juga mengambil KTP miliknya, jika tidak bagaimana mengubah status Lexa dan Lexi?
Anak-anak ada di sini, dia tidak boleh marah, dia harus menahannya, tarik napas, hembuskan, “Michael, telepon suruhanmu untuk mengantar tanda pengenal ku ke Marcell.”
__ADS_1
“Apa yang mau dia lakukan?” Tanyanya waspada, seperti khawatir dirinya akan dijual oleh Marcell saja.
“Ouh, dia mau pakai sebentar, kamu tidak perlu risau, aku mengetahui hal ini, kamu tinggal serahkan padanya saja.
“Wendy, sebenarnya apa yang mau dia lakukan? KTP itu untuk menunjukkan identitasmu, kadangkala juga menunjukkan siapa dirimu, jadi tidak boleh asal-asal meminjamkannya pada orang lain.
“Bukan asal-asal, juga bukan orang lain, kamu tidak tahu Marcell itu siapa?” Hari itu di Volcano Island, kalau bukan Marcell yang memberitahu keberadaannya kepada Michael, Michael tidak akan tahu ke mana dirinya dan anak-anak pergi. Dia benar-benar pria yang tidak tahu terimakasih, sungguh mengesalkan.
“Tidak boleh! Kalau bukan asal-asalan, berarti kamu tahu untuk apa dia meminjamnya kan, memangnya untuk apa dia meminjamnya?”
Menggigit bibir bawahnya, Michael sudah bertanya terlalu jauh, namun, tanda pengenal ada padanya, dirinya terpaksa mengalah, “Marcell ingin mendirikan perusahaannya sendiri, jadi mengatasnamakanku untuk membukanya, dia hanya tidak ingin bergantung dengan keluarganya dan berjuang dengan tangannya sendiri.”
“Wendy Zhong, aku beritahu kamu, tidak boleh.” Dia baru selesai menjelaskannya, Michael sudah membantahnya, membantah habis-habisan.
“Itu urusanku, Michael Leng, apa karena aku mengikutimu, jadi aku tidak boleh memiliki sedikit kebebasan lagi? Tidak berhak untuk memilih lagi?” Emosinya memuncak, atas dasar apa ia terus saja mengaturnya seperti anak kecil?
“Wendy Zhong, aku bilang tidak boleh ya tidak boleh, jangan harap kamu bisa mengambil KTP mu dariku lalu memberinya pada Marcell Bai, atau dia akan mencelakakanmu, aku tidak takut kamu terkena masalah, tapi aku tidak ingin Lexi dan Lexa terlibat karena kamu.”
Lihat? Lagi-lagi demi anak-anak, dia sudah bosan mendengarnya, “Bukankah anak-anak sudah mengikuti margamu? Kenapa akan terlibat?” Sekarang, tiga orang di dalam mobil sudah terdaftar di satu kartu keluarga, hanya dia yang bukan, antara dirinya dan dia hanya terikat atas sebuah perjanjian, kalau perjanjian dibatalkan, tanpa bercerai pun mereka sudah bisa menjalani hidupnya masing masing.
“Intinya, aku sudah bilang tidak boleh, aku tidak ingin mengulanginya lagi. Udah mau sampai, siap-siap untuk turun.” Dia berujar tegas dengan emosinya itu. Wendy mengerutkan keningnya, memandang keluar, tenyata memang sampai di pemakaman, bergegas menuntun Lexi dan Lexa, merapikan pakaian mereka, lalu turun bersama.
“Daddy, aku pernah ke sini.”
” Ehm, aku juga.”
“Ayo, kita lihat kakek buyut, kalau udah sampai, harus bersujud yah.”
“Yalah Daddy, daddy sudah bilang banyak kali dari pagi, saat Mommy membawa kami ke sini dulu, tanpa disuruh pun kami akan bersujud, Mommy bilang kakek buyut itu orang yang baik, kalau bukan karenanya, tidak akan ada kami.”
Anak kecil memang makhluk terjujur di dunia, memang benar adanya, kalau bukan karena kakek, Wendy tidak akan masuk ke apartemen Michael malam itu, jika Michael tidak mabuk saat itu, mungkin semuanya tidak akan terjadi.
Michael melirik sekilas ke arah Wendy, menggandeng tangan Lexi dan Lexa tanpa aba-aba, “Mulai sekarang, tidak hanya ada Mommy, Daddy juga akan melindungi kalian, tidak akan ada yang menyakiti kalian lagi.”
“Daddy, sungguh tidak ada yang menyakiti kami lagi?”
“Tidak ada.” Lebih tepatnya tidak berani, kecuali jika mereka tidak tahu Lexi dan Lexa itu marga Leng.
__ADS_1
“Daddy, bagaimana jika daddy yang menyakiti kami?”
Michael merasa geli hati mendengar pertanyaannya, cuma putri kembar kesayangannya yang akan bertanya seperti itu, “Tidak akan, kalian putri kandung Daddy, Daddy mana mungkin menyakiti kalian.”
“Kalau gitu Daddy juga tidak boleh menyakiti Mommy.”
“Baik baik, ayo jalan.” Lihatlah mereka berdua, selalu saja menomorsatukan Mommy mereka dibandingkan dirinya.
Sudah sampai.
Makam kakek berdiri gagah, menunjukkan ketegasannya, walaupun Michael jarang kemari, namun ia ada menyuruh penjaga makam di sini untuk membersihkannya dalam jangka waktu tertentu, sebab itulah makam kakek tampak bersih dan terawat.
Di papan nisan, terpampang foto kakek yang tersenyum lebar, sebab itulah Lexi dan Lexa tampak tidak takut dan mencium foto kakek bergantian, “Kakek buyut, kami harus memanggil kakek buyut kan, Daddy yang bilang, jadi kami harus memanggilmu kakek buyut. Kami datang melihat kakek buyut lagi.”
Suara anak-anak mendominasi di sana, Wendy berdiri di belakang anak-anak mendengarkan mereka berbicara, hatinya bergetar, ia menyayangi kakek, padahal sudah diberitahu kalau ia dan Michael hanya berpura-pura saat itu, tetapi kakek tidak marah, malahan berusaha untuk menyatukan dirinya dan Michael, tetapi ia sudah tahu kalau hati Michael tidak ada padanya.
Bersujud, masing-masing bersujud tiga kali, penghormatan yang biasa, namun anak-anak melakukannya dengan serius dan tulus.
Berbicara kepada kakek dari dalam hati, dia telah menunaikan harapan kakek untuk melihat cucu kesayangannyanya. Kakek pasti senang di sana.
Buket bunga anggrek diletakkan di depan nisan, mereka memberi hormat beberapa kali, lalu bersiap untuk pulang.
Mungkin, suasananya terlalu serius di sini, anak-anak pun tidak berani bercanda ria.
Baru saja ingin bergerak pulang, tampak bayangan seorang wanita di jalan yang sempit itu, semilir angin bertiup pelan, tidak tahu mengapa, perasaan Wendy tidak enak, mendongak perlahan, siluet seorang wanita tampak di depannya.
Rambut panjangnya yang berterbangan, gaun putih yang membungkus tubuhnya membuat sang wanita tampak lebih muda, dan, wajahnya tampak mirip dengan Michael ataupun Kevin.
“Raina, kamu kah itu?” Bertanya dengan spontan tanpa sadar.
Sang wanita tersenyum, membuka tas tangan indahnya perlahan, mengambil cerutu dengan lembut, lalu menghidupkan cerutunya, menhisapnya perlahan, bibirnya tertarik ke atas memandang Wendy, lalu menghembuskan asapnya, berujar di tengah asap rokok yang berterbangan, “Kamu adalah Wendy?”
Wendy mengangguk, tidak dapat menerka siapa yang berbicara dengannya ini, dia cantik, cantik sekali, terutama surai indahnya itu, dengan panjang yang tampak serasi dengan gaun putihnya, terlintas di pikiran Wendy kalau ia tidak berasal dari dunia ini, dia seperti bidadari.
Tapi, bidadari tidak merokok. “Lama tidak berjumpa, aku bukan Raina, aku Ning Zi Su, aku datang melihat papa.”
Sebuah tangan terjulur ke depan Wendy, tangan yang putih mulus dan terawat, seperti tangan yang tercipta untuk menekan tuts piano.
__ADS_1
Wendy termenung, dia memanggil kakek dengan sebutan papa, dan dia begitu mirip dengan Michael dan Kevin…dia tahu siapa wanita ini!
Keget sekali, Wendy tidak pernah berpikir Ning Zi Su akan terlihat begitu muda karena perawatannya, kalau bukan karena melihat dengan mata kepala sendiri, Wendy tidak akan percaya wanita yang berada di depannya ini adalah ibu dari Michael, dari penampilannya saja, umurnya berkisar antara 30-an, hanya tampak lebih tua sedikit darinya, namun, ada kalanya mata manusia akan salah menilai.