
Hello! Im an artic!
Jika bukan karena saat ini hanya ada sedikit kendaraan berlalu lalang dijalanan, karena kebanyakan sudah pulang untuk merayakan malam tahun baru Imlek bersama keluarga masing – masing, tampaknya mereka akan terlibat kecelakaan.
Hari sudah akan menggelap kembali, dan pandangan Wendy, kembali dialihkannya keluar jendela. Terkadang, manusia memang pasti akan dililit oleh berbagai masalah, kemudian akan mulai menyulitkan diri mereka sendiri karena masalah tersebut, membuat mereka tidak bisa lagi merasakan keindahan langit biru.
Hello! Im an artic!
“Michael , aku sungguh berharap kamu bisa kembali bersama dengan Maria, jangan menyerah.”
Tangan yang sedang menggenggam piring setiran itu lantas bergemetar,
“Lalu, bagaimana denganmu ? ”
Wendy lantas tersenyum, berujar dengan wajah pucatnya yang terlihat tidak berdaya.
Hello! Im an artic!
“Aku tidak pernah berpikiran untuk kembali setelah meninggalkan villa, bukan benci , dan juga dendam, hanya saja, kita tidak cocok. Michael , mari ber mari jadi teman saja.”
Wanita itu berujar dengan sangat tenang, layaknya air yang sedang mengalir. Bahkan saking tenangnya, ucapan wanita itu terdengar seperti sungguh hanya menganggap dirinya sebagai seorang teman.
Tiba – tiba saja, kerisauan menyerang ulu hati Michael Ling, pria itu lantas mengambil ponselnya, menghubungi Agus dan berkata , dan menghubungi Agus, berujar
“Lapor polisi.”
Akhirnya, pria itu memutuskan untuk menghubungi pihak berwajib, karena , menunggu bukanlah jalan keluar terbaik.
Setelah meletakkan kembali ponselnya, pria itu lantas membawa tangan Wendy untuk digenggamnya didalam telapak tangannya, dan berkata lagi ujar
“Aku ingin minum, boleh temani akutemani aku, ya ? ”
Telapak tangannya terasa lembab, membasahkan lubuk hati keduanya. Saat ini Wendy merasa sangat putus asa, kedua anak – anaknya , telah merusak semua suasana hatinya. Dasar dua bocah jahat, jika mereka kembali dalam kondisi baik – baik, dia pastikan akan memukul mereka berdua, hingga pantat mereka merah merekah. Lihatlah, apa mereka masih berani kabur lagi, lain kali ? !
Dia juga ingin meminum minuman tersebut, maka dari itu dia berkata erujar
“Baiklah, ayo pergi minum.”
“Pergi ke apartemen saja.”
Michael berujar tenang, dengan tatapan berkabutnya. Ini adalah pertama kalinya hati pria itu terasa resah, hanya karena, masalah kedua anak – anaknya dengan wanita itu.
Wanita itu menganggukkan kepalanya, tidak mengatakan apapun lagi setelahnya. Dia lantas menatap jalanan dihadapannya dengan tatapan penuh obsesi, seolah – olah , dengan bersikap seperti ini, dirinya bisa memandangi Lexi dan Lexa.
Mobil yang ditumpangi mereka lantas berbalik arah, melaju menuju apartemen Michael Ling yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berada. Apartemen itu adalah tempat tinggal pertamanya dengan wanita itu , dan tempat itu jugalah satu – satunya saksi bisu, ketika dirinya meniduri wanita itu.
Memandangi jalan dan arah yang terlihat familiar itu, jantung Wendy lantas berdebar dengan tak beraturan, hatinya terasa kacau. M, malam itu, pria itu menidurinya karena pengaruh alkohol, dan sekarang, pria itu masih ingin membawanya ke apartemen itu untuk minum alkohol bersama.
Ditengah kecemasannya, mobil yang ditumpangi mereka sudah memasuki area parkiran apartemen. Pria itu melangkahkan kakinya turun terlebih dahulu, kemudian berjalan kearah pintu diseberangnya, guna membukakan pintu untuk wanita itu.
Tatapan wanita itu terlihat kosong dan tak berdaya, tanpa ada sedikit pun kemarahan tersirat disana, membuat pria itu menghela lagi nafasnya mendapati kondisi seperti itu.
“Mungkin saja, disaat kita tidak mencari anak – anak, mereka akan muncul dihadapan kita.”
“Apa mungkin ? ”
Sinar penuh pengharapan terpancar dari sepasang matanya. IDirinya sungguh berharap apa yang dikatakan oleh pria dihadapannya ini akan menjadi kenyataan.sungguh akan terjadi.
Sesampainya didalam lift, dan sesudah menekan tombol lantai dimana unit apartemen itu berada, lift tersebut bergerak naik dengan kecepatan tinggi, seperti halnya dengan jantung Wendy, yang berdetak semakin cepat dan tak karuan.
Malam tahun baru Imlek, malam dimana setiap anggota keluarga berkumpul bersama untuk menikmati makan malam dihari terakhir sebelum bergantinya tahun, dan kemudian bersiap membuat pangsit sembari menonton Gala Festival Musim Semi. Tetapi dirinya saat ini, malah kehilangan nafsu makannya, meskipun sedang kelaparan. Dia sungguh tidak ingin merayakan festival tahun baru ini, bahkan sekarang, idirinya berjalan seperti orang yang kehilangan jiwanya.
Bir, dia sungguh sangat ingin mengonsumsi minuman itu. Memang luar biasa dirinya, bahkan disaat anak – anaknya menghilang, dia masih sempat berpikiran untuk menengak minuman tersebut. Tetapi, tepat disaat seperti ini, dia sudah tidak bisa lagi menahan hatinya, dia sungguh ingin meminum bir, benar – benar ingin.
Michael berjalan menuju pintu apartemennya sembari menggenggami tangan Wendy, sedangkan wanita itu, tetap membiarkan pria itu menggandeng tangannya. Karena, jika tidak seperti itu, dia merasa dirinya bisa saja terjatuh pingsan kapan saja. ambruk dimana pun dan kapan pun itu.
Selama sekian tahun, dirinya sungguh tidak pernah mencoba bagaimana rasanya hidup berjauhan dengan Lexi dan Lexa, tetapi saat ini, anak – anak itu sungguh pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Begitu pintu terbuka, aura kehangatan menguar dari dalam sana, tetapi aura itu tidak berhasil menghangatkan kembali hati Wendy. Hati wanita itu masih tetap terasa dingin, sedingin es, dan juga kacau.
Sandal rumah wanita itu, masih sama seperti yang dulu, tatanan benda yang berada di apartemen itu pun tidak ada yang berubah, seolah – olah, tempat ini selamanya adalah miliknya.
Wendy lantas pergi ke kamar mandi, hanya untuk mencuci tangannya. Dirinya bahkan terlalu malas untuk menyisir rambutnya, kemudian pergi meninggalkan kamar mandi, dan segera bergegas ke mini bar yang terletak dilantai atas, dengan rambutnya yang berantakan.
Pria itu telah sampai disana terlebih dahulu. Cahaya redup yang memancar dari mini bar itu terdekorasi dengan baik, membuat dirinya merasa ditarik kembali ke malam itu. Waktu itu, dirinya mengatakan ingin meminum alkohol, maka dari itu Michael menemaninya, karena disaat ituu juga, pria itu juga sedang memiliki masalah, dia sedang merindukan Maria. Lantas, bagaimana dengan sekarang ini ?
Apa pria itu masih merindukan Maria ?
Dimalam tahun baru seperti ini, bukankah semua orang yang saling mencintai , pasti ingin berkumpul bersama, kan ?
Gelas anggurkaca berkaki panjang, dibawa dan diletakkan pria itu dihadapannya. Pria itu kemudian menuangkan cairan berwarna merah gelap kedalam sana, dan berkata ujar
“Minum yang ini saja.”
Tetapi, wanita itu malah merampas gelas anggur kaca berkaki tinggi milik pria itu, yang masih belum terisi oleh cairan apapun, kemudian berkata sembari berkata
“Aku tidak mau ini, aku mau yang putih, aku tidak mau yang berwarna.”
“Wendy Zhong, kamu bisa mabuk! Jika kamu mabuk, siapa yang pergi mencari anak – anak ? ”
“Tentu saja kamu, mereka sudah tidak menginginkanku lagi, Lexi dan Lexa sudah tidak menginginkanku.”
Wendy mengatakan hal tersebutberujar sembari tersenyum lebar, tetapi hatinya terasa begitu sakit. Dia sungguh ingin meminum bir, tetapi pria itu malah tidak menuangkannya bir putih, entah apapun yang diucapkannya. Maka dari itu, dia lantas membangkitkan dirinya, berjalan ke meja bar, dan berkata erujar
“Pelit.”
Dia kemudian meletakkan gelas kaca berkaki panjanganggur itu diatas meja bar, mengambil sebotol bir putih, dan membuka segel botol tersebut dengan memutarkan telapak tangannya yang mengenggam tutup botol beberapa kali. IDirinya, adalah sosok yang pernah bekerja di Ferry Bar, meskipun hanya beberapa hari saja, tetapi, dirinya tidak asing dengan bir dan berbagai perlengkapan lainnya.
“Byur…”
Cairan mengandung alkohol itu lantas mengalir jatuh kedalam gelas kaca, membuat gelembung – gelembung soda terbentuk diatas cairan tersebut. Dibawah pancaran sinar lampu kuning yang redup itu, satu – satunya pemandangan yang terindah adalah sosok yang dapat bergerak itu.
Setelah menuangkan sendiri bir putih itu, Wendy lantas berjalan kembali ke hadapan Michael dengan membawa gelas berisi ditangannya.
Wanita itu sungguh melepaskan sisi feminimnya, disaat ini , dirinya hanya ingin meminum bir, sungguh sangat – sangat ingin menengak minuman beralkohol itu.
Setelah berucap, wanita itu langsung mengangkat tangannya, membiarkan cairan bening itu mengalir masuk kedalam kerongkongannya, tanpa menunggu reaksi lawan bicaranya terlebih dahulu. Cairan yang terasa pedas dan pahit itu seketika membuat dirinya terbatuk – batuk.
“Huk… huk…”
Pria itu tertawa, kemudian mengetukan jemarinya diatas meja, sembari berkata erujar
“Wendy Zhong, semua bir yang ada disini tidaklah main – main. Botol yang baru saja kamu ambil itu, paling tidak mengandungmiliki 50 persen kandungan alkohol.”
Pria itu tidak membaca ulang penjelasan yang tertera dibotol bir tersebut, tetapi jika dia tidak salah ingat, memang sebanyak itu kandungan alkoholnya.
“Benarkah ? Kalau begitu, aku masih mau minum.”
Wendy lantas mengambil lagi botol tersebut, dan menuangkan bir itu kedalam gelasnya. Meskipun cairan yang mengalir masuk kedalam tubuhnya membuatnya merasa tidak nyaman, tetapi benda tersebut seolah dapat membakar kembali gairahnya, dia sangat menyukai tubuhnya yang terasa ringan, seperti sedang melayang – layang, dia masih ingin minum, dan hanya ingin minum.
Michael lantas bangkit berdiri dari kursinya, dengan segera dia mendekatkan tubuh gagahnya ke sekitar Wendy. Rambut panjang berserakan milik wanita itu membuatnya terlihat lesu, seperti tidak memiliki gairah hidup.
“Wendy, jangan minum terlalu banyak, atau, tukar dengan punyaku saja.”
Michael merampas gelas kaca berisikan cairan bening itu dari tangan Wendy, kemudian menyematkan gelas kaca miliknya, kedalam genggaman wanita itu.
Wendy lantas tersenyum sembari menatap sepasang mata Michael tanpa ada perasaan tersirat didalamnya, tersenyum dan berkata sembari berujar
“Ber… bersulang.”
Dia lantas mengangkat kembali gelas yang baru saja ditukar Michael, kemudian menegak habis cairan didalamnya.
Setelah memapah wanita itu untuk terduduk kembali, Michael lantas menegak bir putih yang dituang wanita itu, dan ternyata, kadar alkoholnya memang sangat tinggi. Rasa pedas yang membakar itu membuat dirinya mengerutkan keningnya, kadar alkohol setinggi ini, tetapi wanita itu malah meminum habis segelas penuh, apa wanita ini sudah tidak menginginkan nyawanya lagi ?
Terlalu lama tidak menyentuh minuman beralkohol, saat ini, Wendy sungguh sudah dibuat tepar. Jika bir tidak bisa membuat orang mabuk, maka orang itu sendiri yang akan memabukkan dirinya. Pandangan wanita itu akan pria dihadapannya ini pun sudah tidak jelas, dirinya tampak kebingungan mendapati sosok pria dihadapannya yang terlihat kabur dimatanya, kemudian menunjuk pria yang sedang mengangkat gelas itu, bertanya
__ADS_1
“Kamu siapa ? ”
“Michael Ling.”
Michael menjawab sembari memandangi wajah kecil wanita itu, tetapi, yang didapatinya dari wajah kecil itu adalah wajah sosok wanita lain, walau begitu, tepat disaat ini, hatinya sungguh terasa sangat tenang. Tahun sudah akan segera berganti, dirinya dan Maria juga sudah tidak berkomunikasi selama beberapa hari. Ketika teringat kembali akan suara wanita itu, hatinya tiba – tiba saja terasa mencelos, tetapi anehnya, tidak ada sama sekali niatannya untuk menghubungi sosok bernama Maria itu.
Pria itu lantas menghabiskan birnya yang tersisa, kemudian berujar pada Wendy, ketika merasa wanita itu sudah tidak boleh meminum cairan tersebut lagi.
“Beristirahatlah setelah menghabiskan minuman ini.”
Wanita itu tampaknya sudah mulai mengerti suasana saat ini, dan turut bersuara
“Lalu, bagaimana denganmu ? ”
Pria itu lantas tersenyum, dan menjawab
“Aku juga.”
Tetapi sebenarnya, idirinya harus pergi mencari anak – anak.
Tiba – tiba saja, wanita itu teringat kembali akan Lexi dan Lexa, membuat pemandangan didepan matanya, seketika berubah.
“Michael , Lexi dan Lexa ada dibawah, benar kan ? ”
Pertanyaan yang dilayangkan secara tetiba itu, membuat Michael harus menganggukkan kepalanya, mungkin saja dengan begini, wanita itu akan menurutinya untuk turun kebawah.
Mereka lantas berjalan menuruni tangga. Jika dulu, dirinyalah yang mabuk sehingga wanita initu harus bersusah payah memapahnya turun, maka, kejadian kali ini sungguh sangat berbeda. Saat ini, dirinyalah yang membawa wanita itu menuruni tangga dengan sedikit menyeret dan menarik tubuhnya, membawa wanita itu masuk kedalam kamarnya yang tertata begitu rapi dan bersih, kemudian mendorongnya keatas kasur.
“Tidurlah.”
“Ngh…”
Wendy mendesah kecil, wanita itu sudah tidak tidak sadar dan tidak mengetahui apapun lagi, dia sungguh sudah mabuk. Baguslah jika dia mabuk, karena dengan mabuk, dirinya tidak akan lagi memikirkan masalah Lexi dan Lexa, dan dengan begitu, hatinya tidak akan merasakan sakit lagi.
“Lexi… Lexa…”
Tetapi, disaat dia memejamkan matanya, kedua nama anak kecil itu masih saja terucap keluar dari mulutnya, membuat Michael yang baru saja hendak berjalan keluar, kembali menolehkan kepalanya memandangi wanita yang sedang terbaring diatas kasur itu, dengan tidak tenangnya.
Jelas – jelas tatanan rambut wanita itu berantakkan, tetapi, wajah kecil merah merona yang tertutupi oleh sibakkan rambut hitam itu masih saja terlihat begitu memikat, terlihat seperti buah stroberi, yang membuat orang – orang tidak mampu menahan keinginan untuk memetiknya.
Tidak, dia harus pergi mencari Lexi dan Lexa.
Michael lantas membalikkan tubuhnya, kemudian melangkah lebar, meninggalkan kamar tersebut. Sebenarnya, alasan mengapa dirinya mengajak wanita itu untuk minum bersama adalah, dia ingin membuat wanita itu mabuk, dan beristirahat sejenak. Penampakan wanita itu ketika terduduk didalam mobil sebelumnya, sungguh membuat dirinya tidak bisa membiarkan hal itu terjadi lagi, wanita itu sungguh terlihat kacau dan sangat cemat…
Michael membuka lantas membuka pintu apartemen dengan perlahan, dan ketika dia melangkahkan kakinya keluar, dia seolah dapat merasakan hembusan nafas seorang wanita dibelakang tubuhnya.
“Lexi, Lexa…”
Suara teriakkan yang begitu keras terdengar. Belum ada semenit wanita itu tertidur, tiba – tiba saja dirinya sudah terbangun. Rasa mabuk bahkan masih menyelimutinya, tetapi dia menggeleng – gelengkan kepalanya kuat, berusaha mendapatkan kembali kesadarannya, dimana dirinya sekarang ? Dimana ?
Masih dalam kondisi yang belum terlalu sadar, Wendy lantas membangkitkan tubuhnya. Tadi, dirinya seperti melihat keberadaan Lexi dan Lexa, kedua anak itu sedang terduduk dan menangis dibawah pohon, suara tangisan itu menarik perhatiannya, dan membuatnya berlari kearah pintu secepat kilat. Tempat pertama yang dilaluinya adalah ruang tamu, kemudian koridor diluar unit apartemen, dan kemudian tangga. Dia menuntun kakinya untuk melangkah ketempat manapun yang memiliki jalan, bahkan dia juga lupa untuk menggunakan lift.
Sungguh gelap, bahkan saking gelapnya, dia tidak bisa melihat kelima jemarinya sendiri. Dirinya juga tidak kepikiran untuk membuka lampu, dia hanya berjalan menuruni tangga – tangga itu sembari berpegangan pada pagar penopang tangga, menuruni tangga sembari bergumam
“Lexi, Lexa, Lexi, Lexa…”
Selain nama kedua anak itu, dia sungguh tidak mengetahui hal – hal lainnya lagi.
IDirinya terus berjalan turun dari lantai teratas, berjalan acuh tak acuh, layaknya jiwa gentayangan.
Pada akhirnya, dia sungguh berhasil mecapai lobi bangunan apartemen, dan ketika dia berjalan keluar dari bangunan tersebut, angin dingin langsung menyambutnya. Dari luar sana, bisa terdengar suara kemeriahan petasan yang sedang menyambut datangnya tahun baru, dan tiba – tiba saja seorang satpam penjaga bagunan tersebut , mengeluarkan ponselnya, menghubungi seseorang ketika mendapati sosok wanita itu.
“Tuan Ling, Nona Zhong saat ini berada dipintu utama.”
“Baiklah, aku mengerti, aku akan segera kesana.”
Sebenarnya, Michael telah meninggalkan unit apartemennya tadi, tetapi, baru saja dia melangkah pergi, idirinya teringat bahwa dia lupa membawa ponselnya, dan ketika dia sudah kembali ke apartemen, pintu kamar Wendy terbuka lebar. B, barulah disaat itu dirinya menyadari kehilangan wanita itu.
__ADS_1