DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU

DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU
Bab 130 Masih Marah


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Wendy, tidak perlu dibereskan, besok aku akan memanggil orang untuk membereskannya. Cepat pergi mandi, lihatlah aroma bir yang menempel ditubuhmu itu.”


Michael menggerakkan tangannya untuk melepaskan ikatan apron yang bertengger dipinggang wanita itu, kemudian mendorong wanita itu memasuki kamar tidurnya.


Hello! Im an artic!


Wanita itu lantas menolehkan kepalanya kearah kamar yang ditempati anak – anak, dan bergumamujar kecil ketika mendapati anak – anak telah menutup pintu dan, bersiap untuk tidur.


“Aku tidur di sofa.”


“Masih marah ? ”


Pria itu tersenyum, tetapi kelakuannyahal itu malah membuat wanita itu merasa begitu kesal. , Ppria itu salah paham padanya, dia tidaklah marah, dan juga tidak layak untuk marah.. Bukan marah, tetapi tidak layak.


Hello! Im an artic!


IDia lantas menggeleng – gelengkan kepalanya, berkata ujar


“Bukan, aku tidak pernah marah padamu. Malam ini, aku akan bermalam disini, besokbesok, aku dan anak – anak akan pulang ke rumah.”


“Kenapa ? ”


Pria itu menggenggam apron yang ada ditangannya dengan eraTangan yang sedang memengangi apron itu semakin mengeratt., Jjika itu bukanlah kain melainkan telur ayam, mungkin, telur itu sudah hancur sedari tadi, dan kandungan telur sudah berserakkan dilantai.


“Bukankah sudah merayakan tahun baru bersama ? Itu sudah lebih dari cukup, terima kasih karena sudah membantuku menemukan anak – anak.”


Seusai mengatakan itu, Wendy lantas membalikkan badannya, dan berjalan menuju sofa. Wanita itu bahkan tidak berpikiran untuk mandi, dia hanya akan menunggu hingga langit terang, dan membawa anak – anak pergi dari tempat ini.


“Wendy Zhong, apa maksudmu ? ”


IDirinya sudah meminta maaf, saat itu, Maria hampir saja keguguran , dan dia merasa sangat terkejut. Meskipun itu bukanlah anaknya, tetapi, anak selalu lah menjadi mimpi Maria. Wanita itu kesulitan untuk hamil, dan setelah susah payah berhasil mengandung, tentu saja wanita itu bersikeras untuk melahirkannya. Dirinya suka melihat Maria tersenyum, wanita itu terlihat begitu cantik ketika tersenyum. Cinta akan membuat kita menyukai apapun yang berada pada diri sosok yang kita cintai, termasuk juga anak yang dikandung wanita itu. Semua hal mengenai wanita itu, dia menyukainya.


Tetapi rasa suka itu jugalah, yang membuat wanita itu semakin lama semakin menjauh darinya. Mungkin ini adalah takdir, takdir bahwa mereka hanya dapat bertemu tetapi tidak bisa bersatu.


Wendy berbaring diatas sofa, berujakatar dengan perasaan yang sangat tenang, dan intonasi yang sangat stabil


“Michael , mari kita berteman.”


Selain teman, mereka bukanlah siapapun. Setengah tahun telah berlalu, perjanjian yang mereka buat dulu pun sudah kadaluarsa, dia hanya ingin memberikan kebebasan bagi dirinya sendiri untuk terbang bebas, layaknya burung diangkasa, dan dia pasti bisa melakukannya.


“Bagaimana dengan anak – anak ? ”


Michael melangkah besar menuju hadapan Wendy, menundukkan kepalanya memandangi wanita itu. , Ttiba – tiba saja, rasa ketakutan dan kepanikan muncul didalam lubuk hatinya.


“Jika kamu ingin menemui mereka, aku membebaskanmu untuk melakukannya kapanpun itu. Tapi, anak – anak harus ikut denganku.”


Anak – anak dibesarkan sendiri olehnya sedari mereka kecil, dia benar – benar tidak bisa berpisah dengan anak – anak.


“Wendy Zhong, tidak boleh!”


Michael berteriak kecil dengan begitu arogan, jika bukan karena Lexi dan Lexa yang berada dikamar sebelah belum tentu sudah tertidur nyenyak, ingin sekali rasanya dia mengangkat Wendy.


“Jika kamu tidak bersedia, maka aku akan membawa Lexi dan Lexa pergi sekarang juga.”

__ADS_1


Wendy memandangi pria itu sembari tersenyum, raut wajahnya tidak terlihat seperti hendak berkompromi dengan lawan bicaranya. Dalam waktu setengah tahun ini, dia sudah merasakan manis dan pahitnya hidup bersembunyi. Saat ini, dia ingin membawa anak – anak dan memberikan mereka kehidupan terbaik yang bisa diberikannya. IDirinya yakin dia bisa melakukannya, saat ini bisnis toko onlinenya berkembang sangat pesat, bahkan lebih maju dibandingkan dengan toko kecil yang dibukanya ditepi jalan dulu. Dan juga, waktu kerjanya tidak terikat, dia tidak akan menyerah, manusia, hanya bisa hidup dengan bahagia dan nyaman ketika berusaha untuk dirinya sendiri.


Dirinya bukanlah Bunga liar , dan maka dari itu, secara otomatis pula, dia bukanlah wanita yang hidup bergantung pada pria.


“Wendy Zhong, kamu jangan lupa, anak – anak masih bermarga Ling!”


Pria itu berusaha untuk meredam suaranya, kuku – kuku jarinya, yang sedari tadi dikepalkan , sudah menusuk kedalam daging telapak tangannya. Berkata jujur, dirinya sungguh tidak merelakan Lexi dan Lexa, darah lebih kental dari air, bagaimana pun juga, mereka adalah darah dagingnya, bahkan dirinya belum membuat perhitungan pada Wendy, karena wanita itu telah menyembunyikan kenyataan bahwa dia memiliki anak – anak selama enam tahun lamanya.


“Hehehe, tapi anak – anak dilahirkan olehku, dan jika kamu menyuruh anak – anak memilih, menurutmu, mereka akan lebih memilihmu atau memilihku ? ”


Jawabannya sudah sangat jelas, anak – anak sangat takut kehilangan wanita itu. Tetapi, disaat itu juga, Michael tertawa, dan berkata ujar


“Wendy, kamu jangan lupa, mereka kabur karena ingin mencariku. Mereka sudah tidak bisa memisahkan diri dariku, mereka membutuhkan daddy, membutuhkan kasih sayang dari sosok ayah, dan semua itu tidak bisa diberikan olehmu.”


Ulu hatinya terasa sakit. B, benar,, anak – anak memang membutuhkan kasih sayang seorang ayah dan, membutuhkan daddy mereka ini. DiIaa lantas menggigit sekilas bibir bawahnya, bersikap santai kemudian., Tetapi, gelagat wanita ituhal itu malah membuat mulut Michael terasa kering, seolah – olah entah sedari kapan, dirinya selalu akan bereaksi pada gerak – gerik wanita itu.


“Aku sudah bilang, aku mengijinkanmu untuk bertemu dengan mereka. M, menurutku, itu sudah lebih dari cukup.”


Nada bicara Wendy terdengar begitu berat, dirinya terlihat sangat tenang, waktu dan pengalaman merubahnya secara perlahan, merubahnya menjadi sosok yang lebih dewasa dan percaya diri.


Michael menatap lamat mata hitam pekat bak tinta itu. Tidak ada lagi mata yang bisa ditelusuri hingga dalam seperti dulu, wanita itu berubah, berubah menjadi sosok yang tidak pernah diprediksinya.


Mungkin saja, wanita itu masih mengingat sikap ketidak percayaan dirinya. Tetapi, hal tersebut telah berlalu setengah tahun lamanya.


Arogansi wanita itu membuat dirinya tersenyum, dan berkata ujar


“Terserah padamu. T, tapi, kuharap aku harap kau ingat apa yang kamu katakan, biarkan aku bertemu dengan anak – anak kapanpun aku mau.”


“Baiklah.”


Wendy segera menjawab dengan senang hati, kemudian membalikkan tubuhnya, menghadap ke sandaran sofa, yang otomatis, posisinya juga membelakangi pria itu, dia sungguh tidak ingin melihat pria itu lagi.


Nafas sosok yang berdiri dibelakang tubuhnya perlahan – lahan menghilang, apa pria itu sudah tidak ingin berkompromi lagi ?


Wendy terkesima, perlahan – lahan, dia menolehkan kepalanya, dan ternyata pria itu memang sudah tidak ada disana. Hanya saja, setelah mendengarkan lebih teliti, dia dapat mendengar suara aliran air yang berasal dari kamar pria itu. Pria itu, bahkan disaat mandi pun, dia tidak menutup pintu kamar mandi dan juga pintu kamarnya.


Wendy langsung lantas menutupi telinganya, tidak ingin mendengar lagi suara tersebut. Tetapi, suara percikan air itu malah menerobos masuk indera pendengarannya dengan begitu semangat, entah bagaimana pun kepalanya digelengkan, suara tersebut tetap tidak kunjung enyah.


Setelah beberapa waktu, suara air tersebut akhirnya berhenti juga. Begitu membayangkan kesegaran setelah membersihkan diri, Wendy tiba – tiba saja merasa sekujur tubuhnya sangat lengket, dan hal itu membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Meskipun begitu, dia tetap bersikukuh untuk menahannya. Karena tadi, dirinya sendiri lah yang mengatakan tidak mau mandi.


Keheningan kembali bersarang dibalik tubuhnya, Wendy lantas segera memejamkan sepasang matanya, berusaha untuk membuat dirinya tertidur, karena hanya dengan tertidur, dia tidak akan mengetahui dan merasakan apapun lagi.


Ia masih saja mengantuk sedari tadiSedari tadi, dirinya masih saja merasa mengantuk. B, bagaimana pun juga, kemarin malam, dia tidak tidur untuk semalaman penuh, kemarin, karena sibuk mencari anak – anak. Dan sebelumnya, dirinya terbangun hanya karena terusik dengan suara petasan yang sangat berisik, padahal sebenarnya, tetapi sebenarnya, rasa kantuk masih saja melandanya. Lebih baik dia melelapkan dirinya kembali, karena dia sungguh masih sangat mengantuk.dirinya sendiri masih dilanda rasa kantuk. Lebih baik dia kembali tidur, karena dia sungguh masih mengantuk.


Tepat ketika Wendy merasa dirinya sudah akan terlelap, tiba – tiba saja aroma harum sabun mandi dan kesegaran air bertebaran disekitarnya. Tepat disaat itu juga, sehelai kain halus tergeletak diatas tubuhnya, dan suara Michael perlahan – lahan mengalun ditelinganya.


“Pergi mandi sana, kamu tidur di kamar, aku tidur di sofa ini.”


Suara rendah dan magnetik pria itu tiba – tiba saja mengalun masuk kedalam indera pendengarannya, tanpa bisa dihentikan, membuat dirinya tercengang. Dia langsung Setelahnya, dia membalikkan tubuhnya perlahan, dan mendapati pria itu sedang membungkukkan badan, dan menatapnyainya, dibawah pancaran cahaya remang – remang diruang keluarga.


Rambut pria itu masih basah, bahkan air pun masih menetes dari sana, mengalir jatuh ke tulang pipinya, kemudian menghilang sebelum sempat mengalir kedalam dadanya. Meskipun pria itu sedang memakai piyama tidurnya, yang hanya memperlihat sedikit dada bidangnya, tetapi penampilan itu berhasil membuat aura kejantanannya menguar keluar dari tubuhnya, dan menambahkan kadar keseksiannya.


“Sudah cukup lihatnya ? ”, pria itu bertanya sembari tersenyum lebar, kemudian bertanya kembali


“Atau, kamu ingin aku menggendongmu sampai ke tempat tidur ? ”

__ADS_1


Jarang sekali ada pria yang akan bertanya dengan gaya malas seperti itu, tetapi pria itu, malah bertanya seperti itu.


Tetapi, suara pria itu malah membuat dirinya tercengang, dan setelahnya, dengan secepat kilat dia mendudukkan dirinya, mengambil handuk yang berada diatas tubuhnya, kemudian berlari begitu kencang kedalam kamar pria itu. Dia ingin mandi, ia dirinya merindukan kasur, pria itu sendirilah yang mengatakan bahwa dirinya akan tidur di sofa , dan jika dipikirkan kembali, itu memanglah sebuah keharusan, karena dirinya adalah tamu disini, bukankah begitu ?


Yang pasti, idirinya sendiri sangat fleksibel. Selagi tidak tidur sekasur dengan pria itu, dia bisa tidur dimana saja.


Setelah melangkah masuk kedalam kamar mandi, hal pertama yang dilakukannya adalah mengunci pintu dari dalam. Selanjutnya, dia membuka keran air dan membiarkan air itu mengaliri tubuhnya. Perlahan – lahan, kelengketan dan aroma alkohol yang melekat ditubuhnya mulai menghilang, dan kesegaran akhirnya dapat dirasakannya kembali. pada akhirnya juga, dia bisa merasakan kesegaran lagi.


Dirinya baru mendapatkan kembali kenyamanan setelah bermandian selama beberapa waktu. Dua hari satu malam yang dirasakannya ini, bukanlah hari – hari yang bisa dilalui manusia, Lexi dan Lexa sungguh sudah mencelakakannya. M, mulai dari sekarang,, dia harus berhadapan lagi dengan sosok Michael Ling.


“Aiya…”


Wendy tiba – tiba saja berteriak, ketika teringat akan Marcel. Setelah menemukan anak – anak, dirinya sama sekali belum menghubungi pria itu, dia melupakan pria itu karena sibuk merayakan tahun baru, dan juga menemani anak – anak.


Diluar sana, derap langkah kaki yang sangat cepat mulai terdengar,. dan Michael lantas berteriak dengan penuh kekhawatiran


“Wendy, ada apa ? ”


Dia mengira wanita itu terjatuh, tetapi, setelah melihat kedalam kamar mandi melalui kaca mosaik yang terdapat disana, dia mendapati bayangan berkabut wanita itu masih tercetak jelas dikaca itu. Seharusnya wanita itu berada dikondisi baik – baik saja, dan hal itu membuatnya bisa bernafas lega.


“Tidak, tidak ada apa – apa, keluar, jangan masuk!”


Wendy berteriak panik, ketika melihat bayangan diluar kamar mandi itu. Meskipun mereka dibatasi kaca mosaik, dan sudah pasti orang yang berada diluar sana tidak bisa melihat dengan jelas kondisi didalam kamar mandi, tetapi, dia tetap saja merasa bahwa pria itu bisa melihat tubuhnya dengan jelas. Secara refleks, dia lantas menutupi daerah privasinya dengan kedua tangannya , dan jantungnya pun berdetak luar biasa cepatnya.


“Wendy, jangan khawatir, aku tidak akan masuk. Beritahu aku, apa yang sudah terjadi ? ”


Perasaannya mengatakan, sesuatu pasti terjadi pada wanita itu, karena, jika tidak kenapa – napa, wanita itu pasti tidak akan berteriak sekencang itu tadi.


Michael sungguh sangat menyebalkan, karena terus saja bertanya padanya. Sebenarnya, dia berniat untuk keluar mengambil ponselnya untuk menghubungi Marcel, seusai ritual mandinya. Tetapi sekarang, jika dia tidak menjawab pertanyaan pria itu, dia merasa sangat tidak etis. Maka dari itu, dia lantas menetralkan kembali suaranya, berkata ujar


“Aku lupa memberitahu Marcel, bahwa anak – anak sudah ditemukan , dan mungkin saja dia masih mencari anak – anak hingga saat ini. Sekarang juga aku akan bebersih kemudian keluar untuk menghubunginya.”


Diluar sana, Michael menjawab


“Tidak perlu, biar aku saja yang menghubunginya.”


“Michael , aku yang akan menghubunginya.”


Pria itu sungguh sangat aneh, Marcel adalah temannya, dan dia tidak memerlukan bantuannya.


“Baiklah, Boleh juga, aku akan mengambilkan ponselmu. Ditahun baru seperti ini, jangan biarkan dia terus mencari anak – anak.”


Bayangan didepan pintu kamar mandi lantas menghilang begitu saja, ketika pria itu berkataujar demikian. Dengan secepat kilat pula, Wendy memanfaatkan kesempatan itu untuk mengeringkan tubuhnya, tetapi belum juga handuk yang dipakainya terlilit sempurna ditubuhnya, dari arah pintu, sudah terdengar lagi suara ketukkan.


“Wendy, ini ponselmu.”


Memandangi bayangan yang terdapat diluar sana, seketika itu juga Wendy menjadi gelagapan, merasa salah jika kembali melilitkan handuknya, dan merasa salah juga jika tidak kembali melilitkan handuknya. Tepat disaat dia masih merasa kebingungan, tiba – tiba saja Michael kembali berkata ujar


“Wendy Zhong, apa kamu mendengar ucapanku ? Cepat hubungi Marcel, mungkin saja dia masih terus mencari anak – anak diluar sana.”


Ucapan pria itu, berhasil membuat Wendy membuka pintu kamar mandi didetik itu juga. Wanita itu lantas menjulurkan tangannya keluar, dengan tubuh yang masih berada didalam kamar mandi, berkata ujar


“Berikan padaku.”


Ponsel yang terasa dingin itu diletakkan Michael ditangannya, dan tubuhnya yang masih berada dikamar mandi, belum terbalutkan dengan pakaian apapun. Momen ketika tangan keduanya bersentuhan, listrik seolah – olah mulai menjalar di tubuhnya, membuat sekujur tubuhnya bergemetar. Dengan secepat kilat, dia menarik kembali tangannya, , kemudian menutup pintu kamar mandi dengan lumayan keras, sehingga mengeluarkan suara dentuman. Karena, dan karena terlalu kuat jugalah, pintu kamar mandi itu lantas kembali terbuka.

__ADS_1


Disaat dirinya bergegas menutup kembali pintu tersebut, dengan tubuhnya yang dimiringkan, dia mendapati diluar sana, pria itu sedang bersandar dibalik dinding diluar sana. Penampakan tersebut, membuatnya teringat kembali akan peristiwa pertama kalinya dirinya memijakkan kaki di apartemen ini. Seketika itu juga, aura panas mulai mengalir di sekujur tubuhnya, bahkan tanpa disadarinya, keringat dingin pun mulai menetes keluar dari tubuhnya.


“Michael Ling, pergi!”


__ADS_2