
Hello! Im an artic!
Jangan… jangan…”
IDirinya terus menggumamkan kata ‘jangan’, dengan sangat pelan, dan suaranya semakin lama terdengar semakin melemah. Karena, entah seberapa kuat pun dirinya memukul,, pria itu tetap tidak bergeming sama sekali. Malah, dan sebaliknya, tangannya sendiri lah yang merasa kesakitan ketika terus memukuli dada bidang pria itu.
Hello! Im an artic!
Mobil yang ditumpangi keduanya, akhirnya berhenti, begitu pula dengan dirinya sendiri yang sudah mulai tenang.
Michael menatap sekilas gerbang villa mereka dengan tatapan elangnya, kemudian, barulah dia membuka pintu mobil, melangkah turun , sembari menggandeng tangan Wendy. Kaki wanita itu terasa tidak bertenaga, tetapi dia tetap harus mengikuti langkah kaki pria itu meskipun dengan terpaksa, karena saat ini dirinya sedang diseret pria itu.
Setelah berkeliling disekitaran villa, mereka tidak juga mendapatkan bayangan anak – anak, dan pada akhirnya, dirinya melangkah kembali ke depan mobilnya. Wendy mengira Michael akan mengendarai mobilnya masuk ke dalam halaman villa, tetapi , pria itu malah kembali menarik tangannya, berjalan mendekati mobil, dan berkata rujar
“Naik.”
Hello! Im an artic!
Wendy menuruti pria itu untuk , masuk kembali ke dalam mobil. Hanya saja kali ini, dengan secepat kilat dia melompat ke kursi penumpang yang terdapat disamping kursi pengemudi, dia tidak ingin membiarkan dirinya dipeluk didalam dekapan pria itu lagi.
Mobil tersebuut lantas kembali melaju.
Ketika mereka sampai di villa Michael, pria itu malah tidak mengajaknya masuk kedalam.
Mereka, masih harus pergi mencari anak – anak.
Suasana didalam mobil sangatlah hening, dua manusia yang berada didalam sana , sedang asyik bergelut dengan pemikiran mereka sendiri, dan juga memikirkan Lexi dan Lexa, sosok tali penghubung diantara mereka berdua. Kali ini, jika bukan karena Lexi dan Lexa, Wendy sudah memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan Michael seumur hidupnya.
Pancaran sinar mobil, lampu neon yang berwarna warni, tepat ketika Wendy sedang menatap keluar jendela dengan penuh kegelisahan, tiba – tiba saja, suara rendah pria itu mengalun, memasuki indera pendengarannya.
“Maaf.”
Sebuah suara pria yang terdengar sangat rendah , tetapi i juga begitu jelas terdengar , mengalun ke telinganya.
Pria itu meminta maaf.
Pria itu sedang meminta maaf padanya.
Wendy lantas langsung mengalihkan atensi pandangannya ke wajah pria itu. Bahkan disaat pria itu hanya menunjukkan salah satu sisi wajahnya, pria itu tetap terlihat begitu gagah, membuat dirinya dapat merasakan wajah tampan pria itu. Wajah yang sangat tampan, yang membuatnya berpikiran untuk bertindak gegabah dengan, dengan menghancurkannya.
Untuk apa minta maaf, didirinya tidak akan menerima permintaan maaf itu., Jjika bukan karena Lexi dan Lexa, dirinya sungguh tidak ingin lagi berhubungan dengan pria itu.
“Maaf.”
Keterdiaman wanita itu membuat pria itu melontarkan lagi permintaan maafnya. Kali ini , suaranya terdengar lebih besar, dan dia juga menambahkan kalimatnya lagi
“Aku sudah menemukan sosok yang mengirimkan pesan itu, dan masalah ini tidak ada hubungannya denganmu.”
“Ada hubungannya dengan wanita itu, kan ? ”
Wanita itu, wanita yang disebutkan Agus didalam sambungan telepon barusan.
Michael lantas menganggukkan kepalanya, berkataujar
“Orang yang mengirimkan pesan itu sudah meninggal, aku juga sudah memeriksa Meilisa dan wanita itu, tetapidan keduanya tidak memiliki hubungan apapun, jadi…”
Jadi, ucapan pria itu, yang mengatakan ‘bukan dirinya yang mengirim’ hanyalah sebuah terkaan ?
“Lantas, kenapa kamu tahu bukan aku pelakunya ? ”
“Aku pergi ke sekolahmu, , dan setelahnya, aku mencari cara untuk bertemu dengan Jina. Didalam pesan itu, ada satu kata yang jelas bukan ditulis olehmu, , karena itu jelas bukanlah kebiasaanmu.”
Jina, lagi – lagi Jina, ternyata pria itu sudah bertemu dengan Jina. Dan begitulah ceritanya, kenapa dirinya bisa mendapatkan pesan dari pria itu didalam QQ lamanya.
Ketika teringat kembali surat yang pernah diberikan Meilisa padaya dulu, setiap kata – kata yang tertera didalam sana, terekam dengan begitu jelas didalam hatinya, dia sama sekali tidak pernah melupakan an, rangkaian tulisan yang ditulis untuk menjebaknya, karena hal itu sungguh merupakan sebuah penghinaan bagi dirinya.
Apa yang dikatakan pria itu tidaklah salah, dia ingat, dirinya selalu saja lupa untuk menambahkan sebuah goresan ayunanyunan, ketika menulis huruf akhir yang terdapat dinamanya.
Tetapi disurat itu, semua tulisan yang tertera didalamnya, tercatat begitu rapi. Kebiasaannya ini, Jina sangat mengetahuinya, pria ini pasti sudah membawa surat itu dan memperlihatkannya pada Jina.
__ADS_1
Jika bukan karena Jina, jika belum mengetahui semua kebenarannya, bagaimana mungkin , sosok pria yang sangat arogan seperti Michael ini akan meminta maaf padanya ?
IDirinya lantas menggelengkan kepalanya, tersenyum kecil dan berkata dan tersenyum kecil, kemudian berujar
“Tidak perlu meminta maaf, kata seperti itu tidak perlu diucapkan diantara kita.”
Karena semua itu sudah tidak perlu lagi, setelah menemukan kembali anak – anaknya, dia tetap akan pergi meninggalkan pria itu.
Kumbang pengganggu seperti Meilisa , rasa cinta dari sosok Maria, semua hal itu, selamanya akan menjadi luka dilubuk hatinya. Dirinya sendiri tidak menyukai rasa sakit yang akan dirasakannya terasa, ketika menaburkan garam diatas luka. Dia hanyalah seorang manusia, seorang perempuan, dirinya bukanlah seorang dewa.
Pria itu tidak lagi bersuara, hanya terus melajukan mobil yang dikendarainya. Keheningan yang tercipta didalam mobil, membuat Wendy merasa kesusahan dan tidak nyaman, bahkan hanya untuk bernafas sekali pun. Karena suasana didalam sana, terasa begitu mencekam dan sesak.
“Menurutmu, tempat apa yang mungkin dikunjungi anak – anak ? ”
Michael bertanya dengan nada rendah, sembari berkendara tanpa tujuan.
“Mungkin pergi ke jalan, dimana aku buka toko dulu.”
“Aku sudah meminta Agus kesana, dan dia bilang tidak ada. Atau tidak, bagaimana jika kita ayo kesana sekali lagi ? .”
Sebenarnya, dia juga sudah meminta bawahannya untuk mencari di kawasan villa, tetapi menurutnya, lebih baik jika dia pergi dirinya kesana unntuk memastikannya sendiri. IDirinya jelas tahu, anak – anak tidak mungkin berada didalam villa, karena, orang – orang yang hendak masuk ke dalam villa, tidak akan bisa masuk jika tidak melalui pintu utama. Sedangkan pintu utama sendiri, sudah dijaga dengan sangat ketat. Apalagi, semenjak Wendy membawa kabur Lexi dan Lexa, sebuah peraturan baru terbentuk didalam villa , dan saat ini, tidak akan ada yang berani membawa masuk sembarangan orang kedalam villanya.
Wendy lantas mengiyakan pelan ucapan pria itu.
“Baik.”
Saat ini, dirinya juga hanya bisa mencari secaradengan acak, dia sudah kehilangan arahnya, ia hanya bisa mengikuti kemana pun pria itu akan mencari.
Disepanjang malam itu, Michael mengemudikan mobilnya, membawa Wendy berkeliling disetiap sudut Kota T, bahkan mereka juga sudah mencari ke dua taman kanak – kanak yang dikunjungi Lexi dan Lexi dulu. Ditengah malam itu, mereka membangunkan sosok satpam yang menjaga sekolah itu, memintanya membuka semua lampu disetiap sudut sekolah, kemudian mulai mencari setiap ruangan yang terdapat disana satu per satu. IDirinya berjalan didepan, dengan diikuti wanita itu dibelakangnya, keduanya terus meneriaki nama Lexi dan Lexa. Hanya disaat itulah, semangat dan emosi wanita itu sedikit tersulut, tetapi ketika mereka kembali lagi kedalam mobil, wanita itu kembali terlihat begitu lemah, seperti sosok yang bisa tumbang kapan saja.begitu saja, diwaktu yang tak tentu.
Langit sudah mulai menerang, dan Wendy pun sudah kelelahan. , tMetapi meskipun begitu, tidak ada niatan untuk beristirahat terbesit dibenak wanita itu. Dia lantas kembali memandangi mobil yang sedang dikendarai pria itu, yang sedang melaju tanpa tujuan. Dirinya tahu, pria itu juga sudah kehilangan idenya , akan tempat yang mungkin dikunjungi anak – anak, karena mereka masih sangat polos, dan tempat yang diketahui mereka pun masih sangat sedikit. Saat ini, hal yang paling mungkin terjadi adalah , anak – anak telah diculik. Tetapi, tidak ada satu pun dari mereka berdua yang berani mengatakan kemungkinan tersebut, ketika mereka memikirkannya.
Hal tersebut sungguh sangat kejam.
Langit, sudah berwarna putih, seputih perut ikan, menandakan harilangit sudah terang.
“Michael , laporkan pada polisi.”
“Tunggu sebentar lagi.”
Wendy lantas menggenggam ponselnya, kemudian menghubungi Marcel. Baru saja dideringan pertama, pria itu sudah mengangkat panggilannya.
“Wendy, apa sudah ada kabar ? ”
Semua harapan wanita itu seketika lenyap , ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan Marcel.
“Tidak ada., Marcel, kamu pulang dan beristirahatlah. Jika ada berita, kita saling berhubungan lagi.”
Dirinya dan Michael sedang mencari, begitu juga dengan Marcel. Mungkin saja, lokasi yang dicari mereka adalah tempat yang sama, hanya saja tetapi mereka melewati kesempatan untuk bertemu dijalan.
Tidak ingin menyiksa dirinya lagi, saat ini , dia menyerahkan semuanya kepada Tuhan.
Dia lantas memandangi langit, seharusnya di malam tahun baru seperti ini, mereka melewatinya dengan gembira. Lantas, apa dirinya memang harus melewati hari ini dengan ketidakberdayaan seperti ini ?
Michael masih terus melajukan mobilnya, berkeliling tiada henti diseluruh penjuru Kota T. Dirinya terus saja berharap akan mendapatkan siluet anak – anak ditengah jalan, ketika mereka sedang berkeliling. J, jika hal ini sungguh terjadi, bukankah hal tersebut akan terasa sangat menggembirakan ?
Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. D, dari luar jendela, dapat terlihat kota yang dikelilingi mereka , mulai bangkit dan meramai secara bertahap. S, sedangkan didalam mobil, terdapat mereka berdua yang tidak tidur semalaman.
Wendy lantas meringkukan tubuhnya diatas kursi mobil, melayangkan atensinya pada jalanan diluar sana, terus mencari bayangan kedua anaknya.
Pria itu tidak menyerah, maka dan dirinya pun lebih tidak boleh menyerahh lagi.
Ponsel, tidak ada lagi yang menghubungi mereka, tetapi Wendy malah terus saja menggenggam erat ponselnya. Dirinya sungguh berharap, ponselnya akan berdering, tetapi , disaat itu juga dia merasakan ketakutan, bagaimana jika Lexi dan Lexa sungguh diculik orang jahat, apa yang harus dilakukannya ?
Siang telah berlalu, orang yang berlalu lalang dijalanan pun sudah mulai berkurang, menyisakan kendaraan yang sedang melaju dijalan raya, bergegas pulang, untuk menyambut perayaan malam nanti.
Hari terakhir sebelum bergantinya tahun, malam dimana seluruh anggota keluarga akan berkumpul menjadi satu. Tetapi dirinya dan Michael malah sedang mencari keberadaan anak – anak mereka dijalanan.
Pria itu masih mengemudikan mobilnya, tetapi jelas terasa , mobilnya sudah melaju dengan lebih lamban. Tidak tidur selama semalaman penuh,, ditambah lagi dengan kekhawatiran akan kondisi anak – anak, membuat kondisi pria itu terpuruk tidak sedikit.
__ADS_1
“Michael , biar aku saja yang mengemudi.”, ujar Wendy kecil.
Pria itu menggelengkan kepalanya, berujar
“Apa kamu sungguh bisa mengemudi ? Wendy, coba beritahu aku, berapa kali kamu pernah berkendara ? ”
IDirinya tersenyum, membuat mata keringnya tersenyum untuk pertama kalinya dihari ini.
“Sekali.”
Sekali yang membuatnya merasa begitu bangga, dan jika ketika dipikirkan kembali saat ini, dia merasa dirinya sungguh memiliki bakat alami.
Senyuman wanita itu menghangatkan kembali aura ketegangan yang terasa didalam mobil selama satu hari satu malam, membuat Michael segera menegakkan tubuhnya yang terasa akan segera mengkaku, saking lamanya dia terduduk.
“Apa itu adalah saat kamu pergi meninggalkan villa ? ”
Wanita itu lantas menganggukkan kepalanya, menjawab
“Benar sekali.”
“Apa kamu tidak takut terjadi masalah ? ”
“Aku hanya memikirkan untuk pergi dari villa.”
Wendy hanya berpikiran untuk pergi meninggalkan pria itu, jadi i, dirinya tidak berpikir banyak saat itu. Dia merasa dirinya bisa, dan pasti akan bisa.
“Apa kamu sungguh seingin itu untuk meninggalkanku ? ”
Dia masih tersenyum, sebelum kepergiannya, dia sempat menghubungi Michael, tetapi dan ternyata pria itu berada disisi Maria.
“Dia sudah mau melahirkan, kan ? ”
“Ehm, sebentar lagi, tidak lama lagi dia akan melahirkan.”
Nada bicara pria itu terdengar begitu tenang, seperti tidak ada gejolak sedikit pun. Tetapi, dirinya mengetahui dengan jelas, Maria adalah kelemahan pria itu.
“Dulu, kamu sangat sangat mencintainya, kan ? ”
Senyuman pahit terukir dibibir pria itu, dan kemudian menjawab
“Dulu, dia adalah nyawaku, kehidupanku, tetapi, kami sudah melewatkan kesempatan untuk bersama.”
“Kenapa ? Kalau kamu begitu mencintainya, kenapa kamu malah menyerah, dan membiarkan dia menikah dengan pria yang tidak dicintainya ? Michael Ling, dirimu yang seperti ini sungguh membuatku salah menilaimu, kalian bertiga tidak akan mendapatkan kebahagiaan dengan akhir seperti ini.”
Senyuman pahit terukir semakin jelas diwajah pria itu.
“Aku sudah bilang, itu semua karena Dian.”
Pria itu menyebutkan sosok itu dengan namanya, Dian, bukan memanggilnya dengan panggilan ibu.
“Menurutku, entah karena siapapun itu, jika kau memang mencintainya, tidak seharusnya kau menyerah.”
“Kami sudah tunangan, rumah baru, cincin, gaun pernikahan, bahkan tanggal pernikahan pun sudah ditentukan. Tetapi ketika terbangun dimalam itu, kotak pesanku malah dipenuhi dengan foto – foto Maria.”
“Fotonya yang sedang selingkuh ? ”
Wendy lantas bertanya, setelah menerka foto apa yang dilihat pria itu.
“Benar, bagaimana kamu bisa tahu ? ”
“Aku menebak, dan lagi, ku tebak, kamu pasti memercayai foto itu, benar kan ? ”
“Benar.”
Pria itu mengiyakan lagi untuk kesekian kalinya, dengan hati yang terasa kesal. Saat itu, dia sungguh memercayai foto itu, dia mengira wanita difoto itu adalah Maria, dia sangat marah dan t, tanpa berpikir dua kali, dirinya langsung menghubungi wanita itu untuk membatalkan pernikahan merekaa, dan memutuskan hubungan diantara keduanya.
“Jangan dilanjutkan lagi, aku tidak ingin membahas masalah ini lagi.”
“Michael Ling, bagiku, kamu adalah seorang pengecut! Kamu masih mencintainya hingga saat ini, kamu juga mencurigai semua kejadian dulu adalah sebuah kesalahpahaman, seharusnya kamu tidak membiarkan semua kesalahan itu terus berlanjut.”
__ADS_1
“Tapi, sosok yang dipilihnya dalam keadaaan emosi adalah adikku, adik tiriku.”
Pria itu menghela nafasnya, dan kemudian kembali melajukan mobil yang dikendarainya secepat kilat, seolah – olah dia ingin melampiaskan amarahnya saat ini.