
Hello! Im an artic!
“Apa harus dihadapan begitu banyak orang ? ”
Belum juga Michael menyuarakan suaranya, suara dingin Maria sudah terlontar terlebih dahulu. Ini adalah sesuatu hal yang sangat jarang terjadi, sungguh jarang sekali terjadi, wanita itu selalu saja bersikap begitu lemah lembut, bagaimana bisa dia berujar sedingin itu ?
Hello! Im an artic!
Ini tidak sepeti Maria, tidak hanya Michael yang merasakannya, bahkan Kevin pun turut merasa seperti itu. Tetapi, perut bulat Maria itu sungguh terasa seperti sebuah penghinaan baginya, dia sudah tidak menginginkan anak ituni lagi sedari awal,
“Aku hanya ingin memperjelas suatu hal saja. K, karena sudah bertemu, maka tidak boleh dilewatkan begitu saja.”
Maka dari itu, entah dihadapan seberapa banyak orang pun, atau bahkan semua orang yang berada didalam aula ini sedang melihat kearah mereka, didia tidak perduli.
“Michael , ini hari pertama tahun baru, mengalahlah sedikit pada adikmu. Cepat pergi temani Lexi dan Lexa makan, Wendy juga masih disana.”
Hello! Im an artic!
Tiba – tiba saja Dian memunculkan dirinya, berusaha untuk membujuk Michael agar dirinya pergi meninggalkan mereka. Bagaimana pun juga, ini adalah hari pertama tahun baru, jika pertumpahan darah terjadi, maka itu akan menjadi pertanda sial. Dian tidak perduli jika Michael dan Kevin berkelahi besar – besaran, dia hanya tidak ingin melihat darah dihari pertama tahun baru.
Jika orang lain yang melerai pertikaian mereka, mungkin saja Michael akan memilih untuk mengalah dan meninggalkan mereka, tetapi sosoosk yang melerai mereka adalah Dian, sosok yang paling dibencinya.
“Kenapa aku harus pergi ? Dialah yang sembarangan menuduh dan memutarbalikkan fakta.”
“Aku, memutarbalikkan fakta ? Jangan kira aku tidak tahu Michael, kamu jelas – jelas mengetahui Maria adalah istriku, tetapi kamu dan dia masih…”
“Jangan berbicara lagi…”
Sebuah teriakkan terdengar, dan orang yang berteriak itu tidak lain tidak bukan adalah sosok Maria, yang sedang berdiri diantara kedua pria itu. Lengan wanita itu masih saja bergemetar, bahkan tidak berhenti bergemetar sekalipun, seolah – olah, wanita itu bisa terjatuh pingsan kapan saja bisa saja terjatuh pingsan kapanpun itu.
Begitu teriakkannya menggema, Kevin langsung membungkam mulutnya, kemudian menahan kedua pundak wanita itu dengan begitu lembut, dan berkata ujar
“Baiklah, aku tidak akan membahasnya lagi jika kamu tidak ingin, ayo kita pergi.”
Perubahan Kevin yang begitu drastis, membuat mata Wendy hampir saja melompat keluar. Sebenarnya, setelah bertemu dengan Kevin dua kali, dia dapat melihat perasaan cinta didalam manik pria itu. Hanya saja, mata itu juga terselimuti dengan kebencian dan keirian, maka dari itu, perasaan cinta itu tidak lagi terlihat murni seperti sedia kala.
“Hehehe… heheh… tidak perlu lagi.”
Tawa pelan itu mengudara tetapi, tenggelam didalam lautan suara manusia, s. Suara Maria sungguh tidaklah ada apa – apanya. H, hanya saja, suara tawa itu dapat menggetarkan hati orang – orang disana, membuat hati orang – orang itu seolah terpukul. Tidak lama kemudian, sebuah suara penuh keputus asaan terdengar lagi
“Aku mengembalikan anak ini padamu, kamu yang memberikannya padaku, aku akan mengembalikannya padamu. Aku akan mengeluarkannya agar kamu bisa melihat sendiri dengan mata kepalamu, dan kamu pasti akan percaya dia adalah anakmubahwa itu milikmu. Hahahha, kukembalikan padamu, kembalikan padamu…”
Tubuh Maria tiba – tiba saja kehilangan keseimbangannya ketika dia berkataujar seperti itu, dia lantas terjatuh begitu saja, seperti daun yang berguguran.
“Maria…”
“Maria…”
Dua mulut yang berbeda melontarkan nama yang sama, kedua pria itu lantas menahan tubuh lemah tak berdaya wanita itu, dan tepat disaat itu, seorang pelayan diaula itu berteriak
“Darah, pendarahan, banyak sekali darahnya… banyak sekali darahnya…”
Benar sekali, darahnya mengalir begitu banyak. Diperut Maria terdapat sebuah belati, belati yang saat ini sedang menancap tepat ditengah perut buncitnya, tidak meleset sedikit pun.
“Maria…”
__ADS_1
Kevin memeluk kepala Maria dengan penuh keterkejutannya, dia lantas membiarkan wanita itu menyandar didalam dekapannya, berkata ujar
“Maria, kenapa ? ”
“Hehehhe, anakmu, kukembalikan padamu, aku mengembalikannya padamu untuk selamanya…”
Wanita itu terus saja berujar, yang dipandang lekat oleh sepasang matanya bukanlah sosok Michael, melainkan Kevin. Sedari awal, dia tidak melihat kearah Michael, dia hanya terus memandangi Kevin , sembari mengulangi kalimat tersebut…
Sudah hampir dilahirkan, hanya dalam kurun waktu kurang dari setengah bulan lagi , dia sudah akan melahirkan. Tetapi saat ini, dia malah menggunakan belati untuk menyudahi kehidupan bayi kecil itu dengan tangannya sendiri.
“Tidak mau… tidak mau…”
Seketika itu juga Kevin tersadar kembali, wajah yang sedari tadi terus saja mengukir pesona kejahatannya, seketika itu juga berubah menjadi kepanikkan.
“120, cepat hubungi 120. Kenapa bisa begini, Maria, kamu harus bertahan, tidak akan terjadi apa – apa, kamu dan anak kita, tidak akan kenapa – napa.”
Kevin lantas menggendong tubuh Maria, kemudian berlari secepat kilat , keluar dari pintu utama restoran, . Ssebelumnya, sudah ada pelayan yang memerintahkan para pengunjung restoran untuk memberi jalan pada mereka.
Semua anggota Keluarga Kevin seketika itu juga menjadi panik, Raina mengikuti mereka dibelakang, sembari menggenggam erat tangan Reinson dan Rere, wajah Dian pun sedang mengukir ekspresi keterkejutan yang sangat jarang terlihat, wanita itu tidak pernah mengira bahwa Maria akan bereaksi sedrastis itu. Hal ini sungguh diluar ekspektasinya, sosok Maria yang sedari dulu selalu bersikap lemah lembut, ternyata berani menusukkan belati diperutnya sendiri.
Apa tidak sakit ?
Apa tidak sakit ?
Dia seolah seolah – olah dapat merasakan kembali rasa kesakitan yang dirasakannya ketika sedang melahirkan anak. Tetapi saat ini, Maria pasti sedang merasakan kesakitan yang lebih dahsyat dibandingkan dengan yang dirasakannya dulu, ketika melahirkan anak – anaknya.
Semua orang berjalan mengikuti Maria, wanita itu terbaring tak berdaya didalam gendongan Kevin, darah pun masih terus menetes keluar dari perutnya, disaat bersamaan, darah juga terus mengalir keluar dikakinya. Semua darah itu menetes diatas lantai Daring Duck Restaurant , dan hal itu sangatjuga mengejutkan semua pengunjung disana. Dihari pertama tahun yang baru, siapapun tidak pernah menyangka, akan melihat sepotong adengan yang mengandung begitu banyak darah.
Senyuman terus terukir diwajah Maria, memang sangat kecil senyumannya, tetapi tidak pernah sekali pun sirna dari wajahnya.
Wanita itu terus saja mengulangi kalimat tersebut, membuat keringat Kevin mengalir begitu deras, layaknya sedang menerjang hujan. Mata pria itu pun sudah memerah, dan terlihat berair – air.
“Maria, jangan bicara lagi, lihat aku, jangan bicara lagi, kamu hanya perlu melihatku.”
Kevin terus berujar asal, bahkan jikapun sosok pria yang sangat tangguh, mereka juga pasti akan terlihat kacau ketika ditempati diposisi seperti ini.
“Tidak ada hubungannya dengan Michael , sungguh tidak ada hubungannya dengan Michael . Dia tidak pernah menyentuhku, tidak pernah sekali pun, hehehhe… aku ingin dia meniduriku, tetapi dia tidak mau, dia bahkan lebih kejam darimu, kalian, para laki – laki sungguh sangat kejam. Aku lebih memilih untuk tidak bersih, sungguh, Kevin, aku sungguh ingin…”
“Jangan berbicara lagi…”
Kevin berteriak panik, pria itu menitikkan air matanya, dia sungguh menangis dengan begitu histeris. Dia langsung lantas masuk kedalam mobilnya, bahkan dia tidak menginjinkan Raina dan Diana untuk mengikuti mobilnya. Pria itu mengendarai mobilnya menuju rumah sakit dengan satu tangan yang terus mendekap Maria.
Michael juga hendak menyusul mereka, tetapi dirinya malah dicegat oleh Diana.
“Michael , kau puas ? Cucuku sudah tidak ada lagi, tidak ada lagi, semua ini gara – garamu, gara – garamu.”
Betapa sadisnya ucapan tersebut, tetapi, ucapan keluh kesah yang dilontarkan Diana didepan hadapan banyak orang itu , berhasil membuat Michael berdiri terdiam layaknya orang bodoh. Anak yang dikandung Maria sudah pasti tak terselamatkan, wanita itu pernah mengatakan, jika anak itu tidak ada, maka dia juga tidak akan melanjutkan hidupnya lagi.
Wanita itu sungguh pernah mengatakan hal tersebut, jika anaknya meninggal, maka dia tidak akan hidup lagi.
“Maria,…”
Michael menjerit histeris, tetapi dia hanya bisa melihat Kevin mengendarai mobilnya menuju rumah sakit sembari mendekap wanita itu, tanpa bisa melakukan apapun.
“Ah, tidak…”
__ADS_1
Tepat ketika mobil itu melaju, melintasi mereka, barulah Michael tersadar, dan berlari kearah mobilnya kemudian. Semua tindakannya itu dilakukannya dalam sekali tarikan nafas, ingin sekali rasanya dia segera mengejar Maria.
Dua unit mobil, satu didepan dan, satunya mengikuti dibelakang, berkendara meninggalkan area parkir Daring Duck Restaurant . Michael mengemudi sembari menghubungi Agus, meminta anak buahnya itu untuk mencari cara untuk membuka jalan, siapapun tidak boleh mencegat mobil Kevin, itu adalah mobil yang sedang menyelamatkan nyawa seseorang, jika terlambat, takutnya Maria akan…
Dia tidak berani membayangkan kemungkinan tersebut. Jika anak itu tidak ada lagi, maka wanita itu akan mati. Ucapan wanita itu terus saja melayang – layang dibenaknya, wanita itu terlalu menyukai anak – anak, keinginan terbesarnya semasa hidupnya ini adalah memiliki anaknya sendiri, kemudian membiarkan anak itu untuk menemaninya setiap hari , dan itu merupakan kebahagiaan terbesarnya.
Tetapi Kevin, pria itu malah merampas hak wanita itu.
Semua ketidak percayaannya dan tuduhan pria itu, akhirnya membuat wanita itu tidak tahan lagi , dan membuatnya mencelakai dirinya sendiri. Entah seberapa banyak keberanian yang telah dikumpulkan wanita itu untuk melakukan hal seperti itu ?
Maria yang bodoh, dia sungguh terlalu bodoh.
Apa wanita itu tahu, dengan perbuatannya itu, wanita itu tidak hanya menyakiti dirinya sendiri dan anak yang dikandungnya, tetapi juga menyakiti hatinya.
Ucapan wanita itu barusan, dia juga mendengarnya. Wanita itu telah bersedia menjadi wanitanya, tetapi dirinya sendiri lah yang tidak mau, dia sekuat tenaga menahan keinginan hatinya untuk tidak menyentuh wanita itu, bukan karena menganggap wanita itu kotor, juga bukan karena tidak mencintainya, melainkan karena dia ingin menjadikan wanita itu menjadi sosok terindah didalam lubuk hatinya , yang tidak akan tergantikan selamanya.
Kevin, betapa beruntungnya dia, dia adalah pria satu – satunya yang memiliki Maria, tetapi dia malah tidak menghargainya.
Dialahrinyalah yang mencelakakan Maria.
Michael melajukan mobilnya secepat kilat untuk mengejar mobil Kevin, dan Agus ternyata berhasil melakukan tugasnya. D, disepanjang jalan menuju rumah sakit, tidak ada satu pun halangan yang menghalangi perjalanan mereka, bahkan mereka juga sempat menerobos beberapa lampu merah dijalanan itu.
Gedung rumah sakit telihat semakin dekat, jantungnya terus berdetak tidak karuan disetiap menitnya. setiap menit berjalannya waktu, jatungnya pun terasa berdetak semakin tidak karuan, Aanak itu harus hidup, benar – benar harus hidup.
I Dia masih mengingat apa yang dikatakan Maria padanya malam itu
“Michael , kita tidak usah bertemu lagi selamanya, aku tidak ingin melihatmu menderita.”
Sebenarnya, dia juga tidak ingin melihat wanita itu menderita.
Maka dari itu, setelah menggenggam sejenak tangan wanita itu, guna meninggalkan kehangatan dan aroma tubuh wanita itu di jemarinya, dia segera dia lantas membalikkan tubuhnya , meninggalkan wanita itu, dan mereka tidak pernah lagi bertemu setelahnya, bahkan saling berhubungan dan saling bertukar pesan pun tidak pernah lagi.
Sama halnya dengan wanita itu, selain terus menempatkan sosok orang yang dicintai mereka didalam hati, Michael tidak pernah lagi mencari tahu kabar Maria, idirinya hanya berharap, wanita itu dapat melanjutkan hidupnya dengan baik.
Jika dia mencari tahu kabar Maria, sudah pasti dia tidak akan menginjakkan kakinya kedalam Daring Duck Restaurant , dan kejadian seperti tidak akan pernah terjadi. Wendy, semuanya karena Wendy, wanita itulah yang menyuruh masuk kedalam. Begitu teringat akan Wendy, dia baru teringat bahwa dirinya langsung pergi mengejar Maria, lantas bagaimana dengan Wendy ?
Tatapan matanya lantas mendarat kearah spion mobilnya, dan dia mendapati mobil Marcel disana. Jika Marcel berada disana, Wendy pasti pun juga berada disana. Dia lantas menghela nafasnya, Wendy sungguh tidak boleh bersama dengan Marcel, tidak perduli bersama siapapun wanita itu kelak, yang pasti dia tidak boleh bersama Marcel.
“Ckit…”
Mobil berhenti tepat didepan pintu utama rumah sakit. B, begitu pintu mobil Kevin terbuka, sudah terlihat beberapa perawat dan dokter datang menyambut dengan brangkar rumah sakit. Kevin terus menggendong Maria dengan mata merahnya, tidak berniat untuk melepaskan wanita itu sama sekali. Dan kondisi Maria yang saat ini, sudah tidak bisa lagi berkata – kata, wanita itu memejamkan matanya pelan, dan senyuman kecil pun masih terukir diwajah pucatnya. Wanita itu tertidur begitu damainya didalam gendongan Kevin, tanpa bergerak sedikit pun.
Michael lantas berlari mendekati mereka, berkata ujar
“Kevin, apa kamu ingin dia mati ? ”
“Tidak… tidak ingin…”
“Turunkan dia, cepat, mungkin saja masih bisa tertolong, mungkin saja dia dan anak itu masih bisa diselamatkan.”
Begitu Michael berujar seperti itu, Kevin yang sedari tadi tidak bersedia melepaskan Maria, akhirnya pun meletakkan Maria diatas brangkar rumah sakit. B, beberapa perawat bergegas lantas mendorong brangkar tersebut, berlari begitu cepat menuju ruang operasi.
“Keluarga, yang mana keluarga pasien ? ”
Didepan pintu ruang operasi berdiri Michael dan Kevin, dan juga beberapa orang yang baru saja sampai dirumah sakit. Wendy meminta Marcel untuk menungguinya didalam mobil bersama dengan Lexi dan Lexa, mereka semua tidak bisa membantu apa – apa, hanya saja idirinya mengkhawatirkan dengan kondisi Maria. Dia masih mengingat apa yang dikatakan wanita itu padanya saat di toilet tadi, wanita itu memintanya untuk menjaga dan merawat Michael, wanita itu memintanya untuk tidak membiarkan Michael terlalu sering merokok dan mengonsumsi alkohol, semua ucapan itu terus saja terngiang – ngiang ditelinganya, tetapi saat ini, Maria, dia…
__ADS_1
Sungguh sangat bodoh wanita itu, bahkan lebih bodoh darinya.