
Hello! Im an artic!
Neon berakhir, bayangan pohon berakhir, dan trotoar yang berbintik-bintik melintas di depan matanya, Wendy sudah tahu kemana akan Michael Ling membawanya.
Villa, dimana tempat itu ada kenangan kakek, melihat mobil itu melaju ke villa dan parkir di garasi, tetapi hatinya masih enggan, “Hanya karena aku terlihat seperti dia, jadi, kamu baru memilih aku ?”
Hello! Im an artic!
“aku tidak perlu menjawab pertanyaan ini, dulu, yang menanda tangani perjanjian itu kamu, aku harap kamu dapat menjalankan kewajiban kamu dengan serius, turun.”
Begitu berat melangkahkan kakinya, tetapi dia tidak mempunyai pilihan lain, pembantu datang menyambutnya, dua orang pembantu masing-masing menggendong Lexi dan Lexa menuju villa, dua orang itu masih tertidur nyenyak, sama sekali tidak menyadari bahwa mereka telah terbawa keluar dari Rumah Bai.
Michael Ling berjalan di sisinya, ikatan piyamanya mengikuti iringan angin malam, jelas-jelas piyama, tetapi membuatnya mengenakan gaya yang berbeda malam ini, tubuhnya, pakaiannya, seperti masih ada bau cinta yang di dalam mobil tadi, tidak bisa menghilang bagaimana pun itu caranya, tampaknya, hanya dengan mencuci dirinya hingga bersih, baru bisa menghilangkan aroma Michael Ling dari tubuhnya.
Memasuki lobi, dia mengatakan: “Bertetapan saja di kamar yang sama seperti sebelumnya.”
Hello! Im an artic!
“Baik.” Setelah selesai dia menjawab dengan segera juga dia menuju kearah tangga, hanya ingin sedikit menjauh darinya, hatinya panik, dia tidak suka perasaan berduaan dengannya, tetapi di belakangnya, pria itu segera menyusul.
“Lupa memberitahu kamu, aku ingin tinggal bersamamu dalam satu kamar, Lexi dan Lexa satu kamar.”
Ditangga, dia membalikkan badannya, “aku ingin bersama anak-anak.”
“Tenang saja, jika kamu tidak setuju aku tidak akan menyentuh kamu juga, ini, kamu juga tahu, dan juga sangat jelas bukankah?”
“Yang tadi di…”
“Itu kamu sendiri yang memohon padaku.” Dia tidak melihatnya, hanya naik perlahan, tidak peduli pada wajahnya yang tiba-tiba berubah, wanita mana pun akan menjadi gila ketika mendengar jawaban yang seperti gitu, dia juga tidak terkecuali.
“aku tidak ada.”
Dia tidak menoleh ke belakang, dia tersenyum ringan, sudut bibirnya sudah tertekuk menjadi lengkungan yang cantik, “aku tahu jika aku mengatakannya seperti gini kamu tidak akan percaya, aku sini ada satu rekaman, aku copykan satu set baru memberikan kamu, habis kamu dengar nanti baru tahu benar apa tidak yang aku katakan tadi.”
Wajah Wendy memerah dan memutih, “Tidak perlu, aku harap kamu bisa ingat dengan apa yang kamu katakan tadi.”
Mengabaikan peringatan dia dari nada suaranya, mungkin Michael Ling tidak pernah menganggapnya sebagai hidangan sama sekali, “Pergi dan melihat-lihat kamar anak-anak, berharap kamu bisa menyukainya, tepat disebelah tangan kirinya.”
__ADS_1
Dia tidak bisa menunggu untuk segera pergi, sehingga dia bisa mengurangi waktu berduaan dengan Michael Ling, ketika dia berlari, mendorong pintu terbuka, dua orang telah di tempatkan di dua tempat tidur kecil, tempat tidur merha jambu dan tirai berwarna merah jambu, kamar itu penuh dengan merah jambu, membuat Lexi dan Lexa seperti seorang putri yang tertidur diam dan nyenyak di dalam kamar cerita dongeng, sangat cantik, disini, seperti kastil, kuno dan unik, paling cocok untuk anak-anak untuk tinggal, ternyata, dia telah menciptakan kamar yang seperti gini untuk anak-anak.
Perlahan-lahan keluar dari kamar, dia tidak ingin mengganggu anak-anak yang sedang tertidur nyenyak, kembali ke kamar yang sebelumnya milik dia dan Michael Ling, dia sudah menebak tujuannya, tidak peduli dimana mereka tinggal, asalkan mereka berada dalam satu ruangan, lebih dapat membuktikan bahwa dia benar-benar adalah istrinya.
Pintu tidak tertutup, pintu yang terbuka lebar menghantarkan suara air yang mengalir deras, Michael Ling sedang mandi, mendengar suara air itu, sebenarnya dia ingin mandi juga, hanya ingin mencuci sebuah aroma yang sebenarnya milik dia, tetapi ketika dia melihat tata ruang di kamar itu, sekali lagi dia menghentikan langkahan kakinya.
Semuanya, seperti sebelumnya, tampaknya jejak-jejak tahun tidak pernah meniggalkan ditinggalkan di kamar ini.
Sprei masih tetap sama dengan yang didalam ingatan, peletakkan perabot di setiap tempat masih juga sama tidak ada perubahan, Michael Ling, mengapa bisa begini?
Dia tidak mengerti, dia benar-benar tidak mengerti mengapa seperti ini?
Tatapannya jatuh pada kaca mosaik kamar mandi, sosok Michael Ling menjulang, baginya tidak terlalu akrab dan juga tidak terlalu aneh, dia dan dia sudah pernah tiga kali, ketiga-tiga kalinya itu semua diluar imajinasinya, setiap kali itu perasaan itu mngkagetkan, melihatnya diam-diam, tetapi hatinya naik turun, tidka bisa tenang sama sekali.
Tepat disaat dia menatap kosong ke arah kamar mandi, lelaki itu telah berjalan keluar dengan keadaan segar, segera aroma samar wangi cologne tercium di udara, itu merk yang biasa di pakai dia, sudah bertahun-tahun dan itu tidak pernah berubah.
Pertama kali dia berjalan ke sisi lemari dan membuka laci pertama dengan punggungnya ke arahnya, kemudian dia membalikkan badannya dan berjalan menuju ke dia, “Kenapa tidak masuk? takut aku ?” Senyuman yang tampan dan elegan itu, membuatnya tiba-tiba dia tidak percaya bahwa dia hanya sepotong bidak catur yang ada di tangannya, apakah dia sedikit peduli dengannya? jadi disini dan apartemen peletakkan perabotnya tidak ada perubahan sama sekali.
Dia mendekat, mengulurkan tangannya dan menariknya, menariknya hingga dia secara tidak sadar jatuh ke dalam pelukannya, nafas pria itu semakin intens di sekelilingnya, aroma cologne pria membuatnya merasa pusing, disaat wanita tidak tahu bagaimana cara menanggapinya, suara dia yang rendah dan magnetis terdengar, “Bagaimana pun juga harus ada gambaran jadi seorang istri, pergilah, pergi mandi.” setelah selesai bicara, dia dengan bibir aroma sabun mandi itu meninggalkan jejak di pipinya wanita itu, membuatnya lebih pusing lagi.
“Ah…” Dia secara tidak sadar mengulurkna tangannya dan mengambilnya, matanya dalam kondisi bingung, tidak tahu apa yang dia berikan padanya, “Bagaimana cara menggunakannya?”.
“Kamu tidak tahu?” Dia terkejut, kemudian menggelengkan kepalanya, “Iya, jika kamu tidak tahu, berikan saja padaku, aku akan membantumu nanti”
Kata-katanya membuatnya semakin bingung, “aku tidak memakai ini, aku pergi mandi dulu.” Habis bicara, dia seperti melarikan diri dengan cepat menghindari dia.
Tetapi, Wendy Zhong baru saja melarikan diri satu langkah, lengannya ditangkap oleh pria itu, “Wendy, piyama.”
“aku …” Dia menundukkan kepalanya dan menatap piyama yang ada di badannya ini sudah memiliki beberapa aroma di tubuhnya, jujur, dia benar-benar perlu erganti, “Tetapi aku tidak punya.”
“Ada di lemari, kamu pilih sendiri.”
“Oh, baiklah” Tanpa memikirkan rasa malu lagi, Wendy Zhong berlari ke lemari, dan membuka tiga pintu lemari untuk melihat piyama, tetapi dia tercengang.
Sederet piyama, tetapi sedikit yang konservatif, hampir semuanya transparan dan tembus cahaya.
Dibelakangnya, pria itu mungkin merasakan keterkejutan dia, dan dengan tenang suara yang rendah berkata: “Yang hitam di sebelah kanan saja.”
__ADS_1
Mata Wendy Zhong langsung jatuh pada satu-satunya piyama hitam di sebelah kanannya. Iya, tanpa ada keraguan, piyama hitam ini mungkin adalah yang lebih konservatif dari seluruh deretan piyama ini, mengambil dengan cepat dan berjalan ke kamar mandi, dia hanya ingin pergi dengan dari pandangan Michael Ling sesegera mungkin, untuk pria yang dibelakangnya, dia menjadi semakin bingung bagaimana menghadapinya lagi.
Kamar mandi beruap penuh dengan aroma air mandi, aroma itu menyenangkan, menggosok, dia tidak ingin keluar, sejujurnya, mengganti piyama dan menghadapnya lagi, dia merasa telah melakukan sesuatu yang salah seperti anak-anak.
Bibirnya yang di dalam cermin sedikit bengkak, itu gara-gara dicium olehnya, yang seharusnya putih lembut sekarang penuh dengan tanda-tanda merah yang ditinggalkan oleh dia, tapi untungnya tidak ada di leher dan wajah, jika tidak, dia tidak akan berani bertemu dengan anak-anak besok hari, mencuci dan cuci lagi, kulitnya telah menjadi merah muda putih, seolah-olah dia telah minum dan memandang orang yang telah mabuk itu, dia benar-benar harus keluar sudah, jika masih tinggal di dalam lagi, dia akan mati lemas oleh panas di kamar mandi.
Setelah mengambil keputusan, baru aku mengenakan piyama hitam yang agak konservatif, piyama terbuka, dan ikatkan pinggangnya, tetapi, itu sangat pendek, pendeknya itu hanya menutupi pinggulnya saja, dua pahanya yang berkulit putih benar-benar terbuka di luar, dia keluar dengan linglung, kamarnya sangat sunyi, dia menatapnya dengan cemas, baru dia menyadari bahwa dia yang terlalu banyak pikir.
Michael Ling telah berbaring, dan dia meletakkan tikar lantai di atas karpet di depan tempat tidur, lantai tikar itu mengingatkannya beberapa tahun yang lalu, waktu itu, mereka berdua yang tinggal di ruangan yang sama juga tidur terpisah seperti gini.
Dia sudah tertidur, pasti.
Dengan perlahan-lahan berjalan ke tempat tidur yang semula miliknya, dia tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun, karena takut jika memangunkan Michael Ling keduanya akan malu.
Dengan hati-hati dia naik ke tempat tidur, AC membuatnya terbiasa menarik dan masuk ke dalam selimut, lampu dinding redup di kamar membuatnya tidak memperhatikan, tetapi ketika kepala baring diatas bantal dia tertegun nyeri, itu sepertinya ada benda keras yang berbentuk persegi panjang, aku bangun dengan sadar dan menoleh untuk melihatnya dan menemukan bahwa itu adalah sebuah telepon Iphone.
Melihat itu, bagaika sebuah bom membuatnya tidak ingin mengulurkan tangannya untuk mengambil, menoleh, pria yang diatas tikar itu masih tetap membelakangi dia dan terbaring dengan tenang, sepertinya sudah tertidur.
Ini rumah dia, tidak ada orang lain lagi selain dia.
Tetapi dia, benar-benar tidak ingin bicara dengannya, kemudian mengambil teleponnya, dia hanya ingin tidur saja, tetapi ketika dia mengangkat, dia menemukan sebuah rahasia, ternyata, dibelakang hp tertempel sebuah memo imut dengan gambaran muka tersenyum tertulis: Wendy Zhong, untuk kamu, ingat menelepon Marcell Bai biar dia bisa tenang.
Sangat simpel, hanya beberapa kata saja.
Tidak ada yang lebih simpel daripada ini lagi.
Tetapi, Wendy Zhong segera merasakan matanya yang dibasahkan oleh air matanya, Michael Ling pria ini sebenarnya pria yang seperti apa?
Dia jelas-jelas tidak menyukai dia bersamaan dengan Marcell Bai, tetapi, memaksa membawanya kesini, dia juga tidak lupa mengingatkannya untuk menelepon Marcell Bai.
Antara pria dan pria, juga saling bersimpati?
Atau mungkin memang seperti gitu.
Sejujurnya, Marcell Bai adalah orang yang begitu berbakat langka.
Keluar dari selimutnya, agar tidak membangunkan pria yang sedang tertidur diatas tikar itu, Wendy perlahan-lahan menuju ke balkon, angin malam bertiup lembut ke arahnya, Kota T adalah kota yang tiada malamnya, jadi walaupun sudah malam juga sulit untuk menemukan bintang, malam yang begitu terang, tetapi di kawasan Michael Ling ini dengan begitu ajaib dia dapat melihat bintang-bintang yang ada di langit, bintang-bintang itu seolah-olah sedang berkedip padanya.
__ADS_1