
Hello! Im an artic!
“Michael , Lexi dan Lexa menghilang.”
Dirinya sungguh merasa akan pingsan, jika perbuatan ini dilakukan oleh orang yang sama, yang hendak mencelakakan Lexi dan Lexa dulu, maka, Michael pasti mengetahui siapa pelakunya, dan pria itu pasti akan berhasil menemukan Lexi dan Lexa dalam waktu yang singkat. Saat ini, dirinya sungguh berharap banyak pada pria itu.sangat berharap pada pria itu.
Hello! Im an artic!
“KamuKau dimana ? ”
Suara yang sarat akan amarah, tiba – tiba saja terdengar dari seberang sana, dan suara tersebut terdengar seperti singa yang sedang mengaum.
Bibir Wendy lantas terangkat kecil, berujar
“Apa akah kamu datang ke daerah pinggir kota hari ini ? Dan apa kamu menggunakan mobil BMW hitam ? ”
Hello! Im an artic!
IDirinya bertanya pelan, tetapi dengan tubuh yang terus saja bergemetar. Dia mengira tidak akan bertemu lagi dengan pria itu, tetapi saat ini, dirinya malah menyebutkan sendiri alamat tempat tinggal barunya.
“Sial! Aku sudah tahu, apa nama jalan yang terletak berada paling dekat dari lokasimu ? ”
Michael ingat dengan kawasan pinggir kota itu, karena , di perjalanan pulangnya, pekerjaannya sudah terselesaikandia telah menyelesaikan pekerjaannya diperjalanan pulangnya dari taman bunga. Dan untuk Maka dari itu, sembari mengisi kebosanannya, dia melihat – lihat ke pemandangan diluar jendela mobilnya.
Wendy lantas menyebutkan nama jalan, tempat dirinya berada saat ini. Tepat ketika dia selesai menyebutkan alamat tersebut, Michael langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Tidak ada yang bisa dilakukan Wendy selain menunggu, dia sudah mencari diseluruh kawasan ini.
Dari utara ke selatan, barat ke timur, Lexi dan Lexa, kedua anak itu meninggalkannya begitu saja.
Air mata, menetes jatuh tanpa bisa dikendalikannya, dirinya sungguh belum pernah merasakan kepanikan seperti yang dirasakannya saat ini.
IDirinya sedang menunggu, dan dirinya juga sangat sedang menderita.
Hembusan angin dingin menerpa tubuhnya, membuat sekujur tubuhnya semakin bergemetar. bergemetar semakin menjadi, Tepat dan disaat itulah, dirinya baru menyadari, bahwasanya dia hanya keluar dengan memakai sehelai pakaian saja.
Setelah sekian lama menunggu, tepat ketika dirinya mengira dunia sudah akan hancur, tiba – tiba saja sebuah pancaran sinar lampu yang sangat terang mengenai dirinya, membuat sepasang matanya terasa perih karena saking terangnya sinar tersebut. Dirinya lantas mengumpulkan kembali kesadarannya dan menatap kearah datangnya lampu tersebut.
“Bruk”
Pintu mobil tersebut terbuka, dan sesosok pria berpakaian serba hitam berlari cepat secepat kilat kearahnya.
Ya Tuhan, dirinya sungguh tidak menyangka, orang yang terlebih dahulu sampai ditempatnya berada adalah Michael, padahal jelas – jelas tadi dia menghubungi Marce terlebih dahulu.
Dan juga, pergerakkan pria itu terlihat begitu cepat.
Pria itu melangkahkan kakinya lebar, berjalan mendekatinya. Sepatu kulit hitamnya telihat begitu menyilaukan mata, ketika terpancar oleh sinar lampu mobil yang sangat terang itu, membuat dirinya tidak berhenti bergemetar, ketika mendengarkan derap langkah kaki pria itu.
Rambutnya sudah berantakan sedari tadi, kepalanya terus saja ditundukkan, membuatnya hanya dapat melihat samar – samar sosok Michael yang sebenarnya memang tidak tampak begitu jelas karena sinar yang sangat menyilaukan mata itu.
“Sret”
Tubuhnya ditarik berdiri oleh pria itu, dan kemudian pria itu berkata berujar padanya
“Masuk kedalam mobil.”
Pria itu memang menyuruhnya untuk masuk kedalam mobil, tetapi sebenarnya , kejadian saat ini lebih patut dikatakanbilang sebagai, dirinya ditarik oleh Michael menuju mobil, dan kemudian tubuhnya dihempas kan begitu saja kedalam mobil pria itu.
Tubuhnya dihempaskan begitu kuat kedalam kursi belakang mobil, dan setelahnya, pria bernama Michael itu kembali menjalankan mobilnya dengan secepat kilat, dengan satu tangannya yang sedang memengangi ponsel.
“Ehm, cari lagi, terus cari.”
__ADS_1
Wendy meringkukan tubuhnya dan bersembunyi disalah satu sudut kursi belakang. Udara didalam mobil terasa begitu hangat, membuat tubuhnya yang telah kaku kedinginan terasa menghangat kembali. Hanya dengan mendengarkan perbincangan pria itu ditelepon, dirinya sudah bisa mengetahui, didalam perjalanan pria itu untuk menemuinya, pria itu juga mengutus orang untuk mencari anak – anak mereka disekitaran kawasan tempat tinggal mereka.
Hatinya , sedikit banyak, terasa mulai menenang kembali. Akhirnya, hadir lagi sesosok manusia yang bisa menggantikan dirinya untuk mengemban beban hidupnya.
Mobil tersebut, melaju dengan sangat cepat, tetapi dirinya sama sekali tidak merasakan kecepatan itu.
Entah sudah berapa banyak lampu merah yang diterobos oleh Michael, tatapan Wendy hanya terus terpaku pada deretan lampu – lampu neon yang bersinar diluar kaca jendela. Kejernihan pikirannya mulai hilangKesadarannya mulai kehilangan kejernihan, anak – anaknya hilangg, dan hatinya pun juga turut merasakan kehampaan.
Dirinya, Ssedari awal hingga sekarang, dia sama sekali tidak berbicara, dia hanya membiarkan mobil pria itu terus melaju, membelah jalanan dimalam hari.
Tiba – tiba saja, suara deringan ponsel terdengar didalam mobil tersebut, deringan itu semakin lama terdengar semakin keras, dan sungguh mengganggu indera pendengaran.
“Wanita, ponselmu.”
Michael membelokkan setiran mobilnya, kemudian berujar dengan nada dinginnya. Belum ada kabar apapun mengenai Lexi dan Lexa, dirinya juga sudah mengutus semua bawahannya untuk berpencar guna mencari anak – anaknya. Saat ini, selain menunggu dan terus mencari, dirinya sungguh tidak memiliki ada cara lain lagi.
Wendy melamun sejenak, dan ketika tersadar kembali, dia segera mengambil ponsel berderingnya. Dirinya mengira Lexi dan Lexa telah teringat untuk memberikannya panggilan menghubunginyatelepon, tetapi ketika melihat layar ponselnya, ternyata bukan.
“Marcel, aku… aku didalam mobil.”
“Dimana ? ”
Marcel bertanya kembali, karena tidak bisa mendengar dengan jelas suara bisikkan Wendy.
“Aku di…”
Dirinya lantas menengadahkan kepalanya, kemudian melirik sejenak Michael. Tiba- tiba saja, dia merasa binggung harus menjawab apa atas pertanyaan Marcel. Jika memang dirinya sudah menghubungi Marcel, tidak seharusnya dia menghubungi Michael lagi. T, tetapi dirinya, malah menghubungi kedua pria itu karena perasaannya yang terasa begitu kacau. Dia lantas menelan ludahnyaiurnya, berbisik kemudian berujar kecil
“Aku berada di mobil Michael .”
Dirinya sunguh tidak bisa berbohong, maka dari itu, ditengah keputus asaannya, dia langsung mengatakan kondisi sebenarnya yang dialaminya.
Meskipun ucapan Marcel terdengar begitu panik, tetapi juga sarat akan kehangatan, dan hal itu berhasil membuat hatinya perlahan – lahan kembali menenang.
“Benar, anak – anak pasti akan baik – baik saja.”
IDirinya lantas bercicit kembali, dengan genangan air mata yang menghiasi pelupuk mata buramnya. Kekuatannya sebagai seorang wanita, telah hancur sehancur – hancurnya didetik ini.
Mobil yang sedang dikendarai dengan kecepatan tinggi itu tiba – tiba saja terhenti, bersama dengan pijakan pedal rem mobil. Setelahnya, sosok pria yang sedang duduk dikursi pengemudi membuka pintu dan melangkah keluar. Pria itu lantas membuka kembali pintu belakang mobil dengan begitu kasar, dan momen ketika pintu belakang terbuka, sebuah hembusan nafas yang kentara sekali akan amarah didapati oleh Wendy, dirinya bahkan bisa mencium bau – bau pertikaian dari dalam diri pria itu.
Dengan cekatanrefleks, Wendy menahan tangan yang hendak menyentuhnya. D, diirinya sungguh takut, takut bahwasanya pria itu akan kembali menyeretnya keluar dari mobil, layaknya seekor anak ayam, kemudian menelantarkannya dan membiarkannya menggigil kedinginan dijalanan beraspal , diluar sana. Anak – anak menghilang, pria ini pasti marah dan menyalahkannya karena bisa – bisanya dirinya kehilangan anak – anak.
Tetapi, diirinya juga sungguh tidak menginginkan hal ini terjadi.
Tatapan sarat akan kesakitan dan ketakutan terpancar diantara rambut berantakannya, cairan bening pun masih tergumpal didalam pelupuk matanya. Dia memandang pria itu layaknya seekor monster, dan dia sungguh sangat ketakutan dibuatnya.
Ketakutan yang belum pernah dirasakannya sebelumnya olehnya.
Menghilangnya Lexi dan Lexa seperti membawa pergi jiwanya, membuatnya menjadi lamban, bahkan hanya untuk berpikir.
Tangan Michael menyentuh tangan kecil yang sedang terangkat penuh kewaspadaan itu. Tangan wanita itu terasa begitu dingin, memucat, dan juga bergemetaran, menunjukkan kerapuhan seorang wanita, dan hal ini berhasil membuatnya menghentikan pergerakkan tangan besarnya. Dia lantas memandang telak mata wanita itu, kemudian perlahan – lahan membekap pelan kedua telapak tangan gadis itu dengan telapak tangan besarnya.
Membiarkan aura kedinginan yang terdapat ditelapak tangan gadis itu, berpindah ke tangannya.
Perilaku hangat yang diberikan Michael, membuat Wendy menengadahkan kepalanya perlahan, kemudian menatap pria itu dalam keterdiamannya. Dirinya mengetahui dengan jelas, hilangnya anak – anak , membuat dirinya dan juga pria ini merasa sangat tidak nyaman. Maka dari itu, dia bercicit kecil kemudian berujar kecil, dengan lemahnya, dan juga suara yang terdengar serak.
“Maaf.”
Tubuh kurusnya masih saja bergemetaran, bahkan sedari memasuki mobil pria itu, tubuhnya tidak sedetik pun tubuhnya berhenti bergemetar.
Tiba – tiba saja, kegelapan dan kehangatan terasa didepan tubuhnya., dan Wendy hanya merasakan tubuhnya menjadi sangat ringan. Dirinya ternyata digendong oleh Michael, kemudian tubuh kekar pria itu berbalik arah, membawanya duduk diatas kursi pengemudi.
__ADS_1
Pintu mobil telah ditutup, pria itu duduk diatas kursi pengemudi, sedangkan dirinya sendiri sedang bersandar didalam dekapan pria itu. Dekapan pria itu sungguh terasa sangat hangat, hingga dirinya berhasil dibuat bernostalgia olehnya. Dia lantas semakin meringkukkan tubuhnya didalam dekapan pria itu, dan lupa untuk menjauhkanlarikan diri darinya.
“Michael , Lexi dan Lexa menghilang.”
“Aku tahu.”
Tangan pria itu menepuk pelan punggungnya, memperlakukannya layaknya seorang anak kecil, dan berkataujar
“Jangan takut, tidak akan terjadi apa – apa pada anak – anak.”
Ucapan yang dilayangkan pria itu sama persis dengan apa yang dikatakan Marcel, tetapi dirinya masih saja merasa takut. Tidak bertemu dengan anak – anaknya selama satu menit, maka hatinya akan merasakan kegundahan selama semenit pulakegundahan pun akan terasa selama satu menit didalam hatinya. Diarinya benar – benar tidak bisa membiarkan hatinya tenang barang semenit pun, dan hatinya sedari tadi sudah terombang ambing diudara, membuatnya merasa sangat gundah.
Hanya saja, dengan pergerakkan kecil yang dilakukan pria itu, dan juga sepenggal kalimat sederhana yang dilontarkan pria itu, dirinya tidak bisa lagi membendung air matanya, dan cairan bening yang sedari tadi ditahannya, mengalir turun begitu saja. Gejolak sangat terasa didalam hatinya, dan hal itu membuatnya tidak bisa menahan diri lagi.
“Michael“ , apa benar tidak akan terjadi apa – apa ? ”
“Tidak akan terjadi apa – apa, percaya padaku.”
Pria itu lantas melepaskan satu tangannya dari tubuh wanita itu , ketika melontarkan ucapannya,. Dia dan hanya menahan pinggang wanita itu dengan satu tangannya, agar wanita itu terus bersandar pada tubuhnya. Begitulah akhirnya, kursi pengemudi yang sempit itu terisi oleh dua sosok manusia dewasa.
Pria itu lantas kembali melajukan mobilnya secepat kilat, dengan satu tangannya, membawa mobilnya itu kembali ke villanya. Mungkin saja, anak – anak pergi ke tempat itu, dan ini merupakan hal yang tiba – tiba saja terpikir olehnya. Dirinya tidak akan melewatkan satu pun kemungkinan yang terpikirkan didalam benaknya, dia harus menemukan kembali anak – anaknya secepat mungkin.
Wendy memejamkan matanya, jelas – jelas dirinya sangat membenci sosok pria yang sedang mendekapnya initu, jelas – jelas dia memberitahu dirinya sendiri untuk tidak lagi menjumpai pria ini seumur hidupnya. T, tetapi saat ini, dirinya malah mengesampingkan semua pemikiran itu, bersandar dan menangis dengan bodohnya, didalam dekapan pria ini.
Meskipun Michael hanya mengemudi dengan satu tangannya, tetapi hal ini sama sekali tidak mempengaruhi kecepatan mengemudinya. Tiba – tiba saja, ponsel Michael berdering, dan dengan segera Wendy meraih ponsel pria itu ketika deringan pertama terdengar. IDia lantas menekan tombol hijau, menjawab panggilan tersebut , tanpa mendapatkan persetujuan sang pemilik ponsel terlebih dahulu. Dirinya berpikir, mungkin saja sudah ada berita mengenai Lexi dan Lexa.
“Presdir, kami sudah memeriksanya, wanita itu saat ini sedang dalam kondisi sangat tenang. Dia sama sekali tidak menginjakkan kakinya keluar dari rumah dalam beberapa hari ini, kami juga sudah mengirimkan orang untuk mengawasinya, jika ada berita apapun, mereka pasti akan menghubungi kita.”
Wendy lantas mengarahkan ponsel tersebut ke telinga Michael, meskipun dirinya yakin, dengan jarak mereka yang sedekat ini, Wendy yakin, pria itu pasti telah mendengar apa yang baru saja disampaikan anak buahnya, dengan jarak sedekat itu. .
“Cari terus, dan jika sudah ketemu, segera laporkan padaku.”
Seusai menyampaikan perintahnya, dia lantas menggeserkan kepalanya, memberikan petunjuk pada Wendy untuk menyingkirkan ponsel itu dari telinganya dan, dan kembali meletakannya kembali ditempat semula.
“Siapa wanita itu ? ”
Dirinya selalu ingin mencari tahu, tetapi sayang sekali , dirinya tidak memiliki waktu dan kesempatan. Baru saja dia memiliki waktu senggang karena anak – anak sudah didaftarkannnya ditaman kanak – kanak, tetapi sungguh tak diduganya hal seperti ini malah terjadi. , malah terjadi sesuatu dengan anak – anak.
Michael lantas menundukkan kepalanya, melirik sejenak Wendy, kemudian menengadahkan kembali kepalanya, melemparkan pandangannya ke jalanan didepan sana. Dirinya masih berkendara, tetapi, tatapan pria itu malah tampak seperti masih memperhatikan air mata yang terdapat diujung kedua mata wanita itu.
Dia lantas menurunkan dagunya, membiarkan jenggot – jenggot kecilnya bertengger diatas kepala wanita itu, dan menggerakkannya pelan.
“Masih belum dipastikan, jika sudah mendapatkan kepastian, aku pasti memberitahumu.”
“Apa itu adalah Meilisa ? ”
Tiba – tiba saja wanita itu melontarkan pertanyaan tersebut, setiap kejadian yang pernah terjadi dulu kembali berputar didalam benaknya , dan berdasarkan indera keenamnya, dia lantas menyebutkan namaMeilisa dari mulutnya. Dia selalu merasa, bahwa wanita itu mendekatinya karena memiliki maksud tersembunyi, tidak sesederhana hanya ingin memisahkan Maria dan Michael.
“Sudah kukatakan belum dipastikan, jadi kamu jangan asal menebak. Pejamkan matamu dan beristirahatlah, sebentar lagi kita sudah akan sampai di villa. M, mungkin saja, anak – anak sedang menunggu kita disekitaran sana.”
Kata ‘kita’, diucapkan begitu santai oleh pria itu, membuat semuanya terdengar seperti, masih ada hubungan yang terjalin diantara mereka berdua. Wendy lantas mengatupkan bibirnya, kemudian mendudukkan dirinya dengan tegak secara tiba – tiba. Dan setelahnya, entah datang darimana tenaganya itu, wanita itu lantas mendorong dan memberontak, melepaskan diri dari dekapan pria itu, dan hendak berpindah ke kursi penumpang yang terletak disebelah mereka.
Mobil yang sedang ditumpangi mereka, lantas melaju dengan bentuk ‘S’, menyimpang keluar dari alur jalan seharusnyaa, karena rontaan dari manusia yang menumpang didalamnya. HDan hal tersebut langsung memicu bunyi klakson dari mobil – mobil yang melaju dibelakang mobil mereka, dan juga teriakkan ketakutan dan keterkejutan.
“Jangan bergerak, atau tidak , bukan anak – anak yang tertimpa masalah, tapi kita.”
Lagi – lagi kata ‘kita’ terucap, Michael benar – benar tidak merasa bahwa dirinya telah mengatakan sesuatu yang salah.
Mobil masih terus saja berjalan, dan alur ‘S’ akhirnya telah berubah menjadi alur lurus seperti sedia kala, dan hal tersebut juga berhasil membuat mobil – mobil yang melaju dibelakang mobil BMW ini kembali melaju dengan tenang. Sedangkan , Wendy Zhong, dirinya masih berusaha sekuat tenaga untuk memukul dada Michael Ling, dan berkatarujar
“Aku sudah tidak ada lagi hubungan denganmu, tidak ada hubungan apapun lagi. Jadi, jangan katakan ‘kami’, jangan katakan ‘kami’
__ADS_1