
Hello! Im an artic!
Berjalan menuju sofa di depan dan duduk di atasnya, Seketaris dengan sungkan memberikannya secangkir kopi dan sebuah Koran di hadapannya, “Nyonya, ini kopi dan Koran anda.”
“SIapa yang menyuruhmu memanggil seperti ini?”
Hello! Im an artic!
“oh, pak direktur.”
Cepat sekali geraknya, tapi, memanfaatkan ia seorang perempuan untuk kepentingan pribadinya membuat orang merendahkannya, sebenarnya saat ia mengatakan semuanya, rasa resepect yang sedikit tersisa unutuknya hilang seketika, yang tersisa hanya benci.
Melirik kopi yang masih berasap, nampaknya sudah di beritahu sebelumnya oleh Michael ling, sepertinya, dia yang duduk di depan komputer bukan hanya lagi menghadapinya, tapi sudah menebak bahwa dia akan memilih untuk duduk di ruang seketaris, laki-laki ini, melihatnya sampai ke akar, membuatnya sedikit takut, seakan sekujur tubuhnya bening berada di dunianya, berfikir sampai sini, Walaupun ia tidak ada, dia masih merasa tidak nyaman.
Melihat waktu, kurang lebih 10 menit lagi ia akan pulang, baiklah, anggap saja membantunya menghalangi wartawan di depan itu, adanya dia, memudahkannya membungkan mulut khalayak, mengalihkan pembicaraan dari Wenda menjadi dirinya, ini harusnya tujuan Michael Ling.
Hello! Im an artic!
Tulisan di Koran , hitam merah, bolak-balik, tidak ada satupun yang ia lihat, saat ini, walau semua sudah diputuskan, bahkan dua perjanjian itu sudah ia bereskan sendiri, tapi hatinya tetap tidak tenang.
Mengambil ponsel, ia memikirkan anak-anak.
“Wendy, malam ini kamu pulang makan malam?” suara lembut lelaki, mendengarnya hatinya dipenuhi rasa bersalah.
“tidaklah, malam ini aku ada sedikit urusan, akan lebih larut ke tempatmu, oh ya, apakah Lexi dan Lexa tidak menurut?” baru saja ingin melanjutkan pembicaraan, ponsel di tangan di rampas, bersamaan, suara Michael Ling terdengar, berbicara mengarah pada ponselnya.
Marcell Bai, Wendy di tempatku, malam ini tidak ke rumahmu lagi, ada lagi, sebentar lagi aku menyuruh agus menjemput Lexi dan Lexa, aku harap kamu dapat di ajak kerjasama menyerahkan mereka pada Agus, ada lagi, aku harap besok kamu mengklarifikasi dengan jelas hubunganmu dan Wendy pada media, Wendy bukan pacarmu, dia adalah istriku, selamanya, walaupun tidak ada surat nikah antara kami berdua, tapi ada perjanjian pernikahan antara kami.”
“Cukup, Michael Ling, tutup mulutmu.” Wendy ingin merampas kembali ponselnya, Michael Ling mengelak memutar badannya, mengehempaskannya.
Suara Michael Ling terhenti, seperti lagi mendengar pembicaraan Marcell Bai, hati Wendy terasa terguncang, “Michael Ling, kamu kenapa melakukan ini? Kamu tidak tahu seberapa keji dirimu, kamu 100% laki0laki jahat.
Sudut bibirnya terangkat tertawa, ia tak merasakan apapun atas ucapannya, “terserah, terserah bagaimana kamu kepada keluarga Ling, aku menutup sebelah mata, sudahlah, selamat tinggal.” Selesai berbicara, dia mewaikilinya menutup ponsel, lalu tertawa padanya, “Wendy Zhong, sudah boleh pulang.”
Menarik nafas dengan cepat, ingin sekali membunuhnya, melihat senyumnya pun merusak pandangan.
“Jangan memikirkan menyerangku, Wendy Zhong, aku selalu waspada terhadapmu.” Pernah diserang olehnya sebelumnya, jadi, ia berhati-hati melihatnya, cukup dengan satu tatapan ia sudah bisa menerka apa yang akan dilakukannya.
__ADS_1
Sebelumnya dia seburuk ini?
Kenapa ia tidak sadar sebelumnya?
Tapi sekarang, ia buruk baginya, benar-benar buruk, buruk sampai ia gregetan.
Lengan ditekukan, “Wendy Zhong, ayok jalan.”
Tangannya tidak bisa ditaruh, lalu menggerakan kakinya menuju pintu kaca kantor.
“Wendy Zhong, ingat janjimu, 6 bulan, kalau kamu tidak bisa melakukannya, aku bisa saja menambah waktu.”
Ancaman, ancaman sesungguhnya.
Langkahnya terhenti, ia hanya bisa menunggunya menyusul, kalau saja membuka pintu terdapat wartawan yang menunggu di luar, “Michael Ling, keamananmu disini tidak ekstra.”
“Iya, wartawan yang keluar dari lift tidak akan terjadi lagi, kamu tenang saja, satpam sudah diganti, yang sebelumnya sudah ku pecat.” Dengan santainya ia berkata, seperti hal yang bisa ia lakukan.
Tuhan, hanya karena seorang wartawan ia memecat begitu banyak satpam, laki-laki ini, sungguh kejam, pekerjaan orang, tapi dia, tidak bisa bekarta apapun, menggigit bibirnya, mengkitinya masuk ke lift.
Tapi, perubahan Michael Ling tidak ia terka sebelumnya.
Lift menurun dengan cepat, membuat hatinya juga tidak berhenti melompat-lompat, jujur saja, dia sangat takut berdiri dengannya di depan khalayak ramai, apalagi berhadapan dengan pusat pemberitaaan kota T, wartawan-wartawan itu paling pandai menangkap sesuatu.
“Ting”, lift berhenti di lantai satu bukan di basement, ia mengira dia bisa sampai ke parkiran untuk naik ke mobil, tapi tidak disangka Michael Ling memilih membawanya dengan santai lewat pintu depan dan berhadapan dengan awak media.
Sedikit gugup, tangannya penuh dengan keringat.
Otaknya mulai menamp[ilkan seluruh kenangan mulai dari perkenalan mereka samapi masalah yang dihadapi saat ini, semuanya, barang-barang apartmen dimana 6 tahun lalu semua ini adalah miliknya, seketika, dia sama sekali tidak percaya ia bisa setega ini.
Dan interaksinya dengan anak-anak di Volcanic Island, semua sepertinya baik-baik saja, tidak, Michael Ling, pasti bukan seperti sekarang yang tega pada nya.
Tangan kecilnya masih pada genggaman, lembab, penuh keringat, tapi ia tahu ia tidak dapat membangkang, karena, ia menggenggam erat tangannya, seperti tidak memberinya kemungkinan untuk kabur.
“Michael, kemana kita akan pergi?” dia merindukan anak-anak, tapi sepertinya ia tidak mengizinkannya untuk pulang ke rumah keluarga Bai.
“Pergi makan, kamu ingin makan western food atau chineese food?” mereka sudah sampai di pintu depan saat pembicaraan ini, pintu depan berdiri beberapa wartawan, omongan Michaael Ling tadi tidak di sia-siakan oleh wartawan itu, semua masuk ke telinganya.
__ADS_1
“Tuan Ling, mohon maaf nona ini adalah…”
“istriku, dan bukan pacar Marcell Bai.” Sedikit pun tidak memberi kesempatan orang lain berfikir, Michael Ling seperti sudah memprediksi sejak awal apa yang akan ditanyakan orang-orang ini, jadi cukup satu kalimat bisa membuat mereka membisu, lalu tidak memjelaskan lebih lanjut memberi arahan pada petugas keamanan untuk membuka jalan menerobos masuk ke mobil mewah nya yang sudah menunggu di luar kerumunan ramai itu.
Bukan saja menggandeng lengannya, tapi tangan mereka berdua bergandengan, jemari yang saling berkaitan satu sama lain, bergoyang perlahan memberi kesan pada setiap orang bahwa mereka pasangan suami istri yang begiitu mesra, tapi dia, apa benar istrinya?
Jawabannya tidak.
6 bulan.
Teringat waktu ini, hatinya terasa perih, raut wajahnya memucat.
“Harus tersenyum.” Suara berat seorang lelaki, seketika menyadarkannya, ia baru sadar wartawan-wartawan di samping petugas keamanan terus menerus mengarahkan kamera pada ia dan dirinya, dari setiap sudut mereka adalah ahlinya.
Senyum, beritahu diri sendiri untuk tersenyum, begini, dia baru mudah lepas dari suami abal-abalnya ini.
Sangat lucu, bertahun-tahun kemudian, dia lagi-lagi terpaksa untuk berjalan disampingnya, dan bagai sebuah film yang mengharuskannya berakting melindunginya.
“Tuan Ling, pernyataan anda berarti ucapan Tuan Bai pada pagi hari ini hanya sebuah candaan?”
Michael Ling tertawa, menjentikan jarinya, “Benar sekali, pacar yang ia maksud ialah hanya seorang teman baik wanita, kalian juga tahu, aku orang yang terbuka, aku mengira wajar saja pria mempunyai teman wanita, sebaliknya dengan wanita juga boleh mempunya teman pria.” Sambil berjalan cepat menuju mobbil mewahnya sambil berkata dengan nada pasti, Michael Ling tidak gugup sedikitpun, seperti sudah memperkirakan hal ini sebelumnya, sebaliknya Wendy bagai sebuah boneka kayu yang berjalan ke arah mobil mewah BMW yang terasa jauh padahal hanya beberapa langkah darinya,
Michael Ling sangat pandai, itulah mengapa dia sedikitpun tidak gugup saat ia mewanti-wantinya di kantor tadi, ternyata hanya beberapa patah kata ia mampu menjelaskan detail semuanya, tapi, wartawan-wartawan itu tidak mudah dihadapi, pertanyaan mereka bagaikan bom yang bisa membuat Michael Ling kewalahan, “Tuan Ling, sebelum anda pulang kerja tadi kami sudah mendengar rekam suara Tuan Bai tadi pagi, katanya kedua anak istri anda jugalah anak darinya? Apa ini benar?”
Sebenarnya, saat wartawan itu bertanya apakah benar, lebih banyak seperti curiga, jantung Wendy bergerak dengan sangat cepat, seperti akan melompat keluar dari kerongkongan, dia sangat gugup.
Tangan besar masih menggandeng tangan kecilnya, sedikit lebih keras, terasa sedikit sakit genggamannya, tapi wajahnya masih tersenyum, terpaksa, di samping telinganya, terdengar suara pria, “ini wajar saja, Marcell Bai adalah ayah angkat anak-anakku, ibu tiri Marcell Bai adalah ibu dari istriku, jadi, sebagai seorang ayah angkat, wajar saja dia berkata seperti itu.”
Beberapa kalimat terlontar lagi, dia dengan sangat santai menghadapi semua ini, membuat orang-orang mau tidak mau merasa percaya.
Disamping telinga, masih terdengar suara teriakan wartawan, tapi pertanyaan-pertanyaan itu di jawab oleh Michael Ling, Wendy sudah tidak dapat mendengarnya lagi, seperti sebuah boneka kayu ia sampai di depan mobil, Michael Ling membukakan pintu untuknya, duduk di bagian belakang bersamanya, ia memakai topi menutupi luka dikepalanya, tapi luka di kaki tidak dapat ia tutupi, tapi dari awal sampai akhir ia berjalan tidak terlihat seperti terluka, layaknya seorang raja tidak ada yang sadar dan bertanya atas lukanya.
Bisa di bilang Michael Ling hebat dalam hal ini, luar biasa, Wendy Zhong yang belum pernah melihat situasi seperti ini sudah pasti tidak bisa melakukannya.
Tubuhnya sedikit bergetar, Telinganya seperti masih mendengar suara wartawan-wartawan di luar jendela itu, berkumandang. Sebotol air mineral diberikan padanya, “Minum lah.”
Wendy tidak inigin menerimanya, melihat air ini dia baru sadar seberapa harusnya ia, barusan benar-benar gugup.
__ADS_1