DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU

DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU
Bab 11 Dia Sudah Gila Ya?


__ADS_3

Wendy seketika naik pitam setelah mendengar pertanyaan Michael, atas dasar apa Michael seenaknya meminta Wendy menjadi istrinya dan mengira Wendy akan langsung mengiyakannya begitu saja, memang dia sudah gila ya?


Wendy sontak berdiri, dengan sekuat tenaga melemparkan isi dalam gelas di tangannya itu ke arah Michael, wajah Michael basah sampai ke badannya, air yang mengenai rambut Michael mengalir dan jatuh ke atas karpet yang langsung menyerap habis tiap tetesnya tanpa bekas.


“Aku tidak bersedia”, jawab Wendy lantang sambil menggeram, suaranya bergema dalam ruangan itu.


Michael masih terpaku, dia bahkan tidak berusaha mengusap wajahnya yang basah, Michael membiarkan saja air di badannya itu terus meresap, untung saja air yang diberikannya pada Wendy itu bukan air panas, kalau tidak, pasti kulitnya sudah melepuh sekarang. Setelah melirik ke arah Wendy sejenak, Michael berbalik badan menuju ke lemari kecil di salah satu sudut ruang tengah, Michael membuka satu pintu lemari kecil itu lalu mengambil kotak P3K kecil dari dalamnya.


Wendy bisa mendengar dengan jelas detak jantungnya sendiri saat Michael berjalan ke arahnya, tidak perlu diragukan lagi, Michael memang pria berparas rupawan, ketampanannya itu tak berkurang sedikitpun meski dalam kondisi basah kuyub seperti sekarang ini. Sejak pertemuan mereka pertama kali, Wendy sudah mendengar berbagai macam gosip dan rumor tentang Michael, Michael bergonta-ganti pacar secepat orang berganti baju, jumlah wanita yang mengerubutinya tak pernah kurang, kejadian yang sempat dia saksikan dengan mata kepalanya sendiri di tangga itu salah satu buktinya, tapi hal yang baru saja Michael ucapkan padanya benar-benar membuat Wendy terheran-heran, dengan entengnya Michael meminta Wendy untuk jadi istrinya, apa jangan-jangan otak Michael sudah rusak?


Michael berhenti persis di depan Wendy, Michael membuka kotak obat di tangannya itu lalu mengangkat kaki Wendy dan meletakkannya pelan di atas lututnya sendiri, rasa sakit yang berasal dari kakinya itu menyentak Wendy, kening Wendy mengernyit, dia mengatupkan dua belah bibirnya kuat kuat supaya tak mengaduh menahan rasa sakit itu.


Bengkak di kaki Wendy terlihat tampak jelas, bahkan ketika masih tersembunyi di balik pakaian. Keringat membuat celana yang sedang dikenakan Wendy itu menempel lekat di kakinya, Michael secepat kilat mengambil sebuah gunting kecil dari dalam kotak obat, tidak lama terdengar ‘krek’ bunyi kain dirobek, celana yang menutupi bagian bawah kaki Wendy sekarang terbuka, memamerkan bagian kakinya yang bengkak dan kemerahan, Wendy cuma bisa menggertakkan gigi membiarkan Michael mengobati cedera di kakinya itu. Kalau diperhatikan baik-baik, gerakan tangan Michael cukup terlatih, mirip seorang ahli bedah, apalagi melihat obat-obatan serta peralatan dalam kotak yang dipegangnya itu, bukan yang terbaik dan paling lengkap, namun seolah-olah Michael khusus membawa Wendy kemari untuk mengobati kakinya itu.


Michael mengoleskan obat dan membalut kaki Wendy dengan perban, gerakannya dari awal sampai akhir benar-benar mulus. Obat yang dibalurkan di kaki Wendy itu nampaknya mengandung sedikit kandungan daun mint, rasa terbakar di bagian kaki Wendy yang bengkak itu perlahan terasa dingin dan nyaman, dan rasa sakit yang semula tak tertahankan itu kian memudar, amarah dalam hati Wendy juga ikut mereda seiring dengan rasa sakit yang mulai menghilang itu.


“Terima kasih”, celetuk Wendy seraya memandang Michael yang sedang membereskan kotak obat.


“Sudah semestinya, lagipula memang aku yang menabrakmu, untung saja lukanya tidak dalam, tapi besok pagi sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit dan dironsen untuk memastikan tidak ada luka dalam”, balas Michael sambil duduk di depan Wendy setelah membereskan kotak obatnya tadi.


Campuran bau obat dan parfum Michael tercium di udara sekitar mereka, kesunyian yang tercipta di antara keduanya membuat suara detak jantung Wendy terdengar makin jelas di telinganya sendiri. Jujur saja, saat sedang berduaan saja dengan Michael seperti ini, Wendy merasa sesak dan tertekan, tapi yang lebih kentara adalah rasa gugupnya.


“Sudah tahu apa yang ingin kamu tanyakan?”


“Tuan Ling, anda sedang memainkan permainan macam apa lagi sekarang ini?”

__ADS_1


“Bukan permainan, melainkan pernikahan.”


Mulut Wendy menganga, agaknya Wendy masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


“Aku masih kuliah, di kampus ada peraturan tertulis yang sangat jelas yang melarang mahasiswa yang belum lulus untuk menikah.”


“Setelah menikah baru selesaikan kuliahmu”, jawab Michael tanpa pikir panjang, Wendy masih tercengang menatapnya.


“Kenapa harus aku?”, jelas-jelas Michael punya pilihan yang tak terhingga di luar sana, kenapa sekonyong-konyong Michael memilih dirinya yang bahkan belum lulus kuliah?


Hati Michael serasa diremas teringat wajah Wendy yang sedang tersenyum lembut.


“Karena kamu butuh uang dan aku hanya butuh istri sementara.”


“Meski begitu aku tidak pernah berniat menjual diriku sendiri.”


“Michael, kamu menyelidiki latar belakangku?”


“Ya, aku juga tahu kamu pernah sampai menjual darahmu”, Michael tidak membantah tudingan Wendy, ia mengakuinya terus terang.


Kepala Wendy rasanya mau pecah, nampaknya tidak ada apapun yang bisa ia sembunyikan di hadapan Michael, Michael tahu dengan jelas seluk beluk dalam hidupnya, mungkin Michael juga mengetahui orang macam apa ibunya. Wendy hanya terdiam, pandangan matanya tertuju ke gelas di atas meja kecil di depannya yang baru saja Michael isi kembali. Kata-kata Michael itu membangunkan kesadaran jauh di lubuk hati Wendy yang makin lama makin susah untuk ia tepis. Apa yang Michael bilang itu semuanya benar, memang saat ini Wendy sangat membutuhkan uang itu, ia tidak ingin berhutang budi pada Jacky.


Kompensasi putus hubungan apalah, semua itu tidak lain hanyalah sebuah bentuk penghinaan dari Jacky dan Rena Jin terhadap Wendy. Tetapi tawaran dari Michael itu bisa langsung membereskan masalah yang tengah dihadapinya itu dalam sekejap, lagipula ia juga tidak akan kehilangan apapun seandainya ia menerima tawaran Michael itu, hal ini makin membuatnya bimbang. Melihat keraguan di mata Wendy, Michael menambahkan,


“Atau, kamu boleh tinggal disini dulu, berikan jawabanmu sesudah kau pikirkan matang-matang”, ketulusan terdengar dari suara Michael, hal ini makin menggoyahkan hati Wendy.

__ADS_1


“Tenang saja, sebelum kamu memberikan keputusanmu, aku tidak akan menyentuhmu, lagipula kakimu sedang cedera, tidak boleh banyak berjalan. Aku bisa membantumu minta ijin sementara di Feng Chen dan kampus, jadi sementara ini tinggal saja dulu di sini dan fokus dengan penyembuhan kakimu.”


Michael dengan mudah mengurus semuanya itu untuk Wendy, seolah-olah Michael sudah menjadi suaminya.


Wendy memandang Michael lekat-lekat, tiba-tiba ia menyadari ada perasaan yang tak terungkapkan dalam hatinya saat sedang bersama dengan Michael, apakah ia sudah jatuh cinta pada Michael?


Begitu terlintas kata ‘cinta’, hati Wendy melompat, sepertinya bukan hanya Michael yang sudah gila.


Sebenarnya Wendy tidak ingin tinggal, tapi hari sudah terlalu larut, ditambah lagi rasa sakit di kakinya itu menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya lemas tak berdaya, lalu entah apa yang merasuki Wendy, ia lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Air muka Michael kontan melunak, tangannya menunjuk ke arah tangga yang mengular di koridor dekat ruang tengah, ia menjelaskan,


“Wendy, di lantai dua ada ruang baca, ruang film dan ruang olahraga, di lantai ini ada dua kamar tidur, kamu mau tidur di kamar yang mana?”, mata Wendy kontan berkilau mendengarnya.


“Aku mau lihat dulu”, karena Michael membiarkannya memilih, tentu saja Wendy tidak akan melewatkan kesempatan ini.


Suasana hati Wendy terasa lebih ringan mendengar penawaran Michael barusan, karena tawaran ini juga berarti bahwa Michael tidak ada maksud untuk tidur sekamar dengannya, dan lagi Wendy juga tidak ingin tidur dalam satu ruangan yang sama dengan Michael, dengan demikian ia bisa beristirahat dengan tenang malam ini. Oleh karena itu ia harus memutuskan dengan cermat, apalagi kalau benar nantinya Wendy akan tinggal di rumah ini, anggap saja seperti tinggal di hotel. Lagi pula rumah ini jauh lebih mewah dibanding hotel manapun yang pernah ia tinggali, lampu gantung kristal di ruang tengah itu begitu memukau, Wendy setengah melompat dari duduknya berjalan ke sudut ruangan itu dan menekan tombol lampu di dinding untuk menyalakannya, kepalanya mendongak ke atas memperhatikan kelap-kelip yang ditimbulkan lampu gantung itu, cantik luar biasa, membuatnya seolah-olah sedang berada di dunia mimpi.


“Wendy, cepat pilih kamar yang mana, aku ingin cepat mandi”, badan Michael yang basah dari atas sampai bawah itu makin terasa tak nyaman, semua berkat ulah Wendy.


“Silahkan saja kalau kamu mau pergi mandi”, memilih kamar yang mana dengan urusan Michael mandi sama sekali tidak ada hubungannya.


“Di dalam satu kamar tidur ada satu kamar mandi, kalau tidak segera kau putuskan, aku akan mandi di kamar yang kamu pilih?”, kata Michael sambil mengangkat lengannya dan memamerkan ototnya, “Aku sih tidak keberatan memperlihatkannya padamu. Bagaimana, calon suamimu ini sangat baik hati bukan?”


Jari telunjuk Wendy menunjuk ke kepala Michael, tuduhnya, “Michael, kau berhutang padaku.”

__ADS_1


“Nona besar, cepatlah. Setelah kau kamar yang mana, kita langsung masuk kamar masing-masing, aku capek dan ingin cepat-cepat tidur.”


Wendy menengok ke kiri dan kanan tampak panik karena desakan Michael. Wendy membuka pintu kedua kamar di rumah itu satu-persatu, ketika Wendy melongok dan mengamati isi dua kamar tersebut, keduanya tampak identik, sama-sama memiliki nuansa maskulin yang kental, tidak ada sedikitpun nuansa kewanitaan. Interior dalam dua kamar itu berwarna hitam dan putih, perabotan di dalamnya pun sangat sederhana tapi tetap terlihat mewah. Wendy menoleh balik ke arah Michael, Michael sedang mengenakan kemeja putih dan celana bahan berwarna hitam, lagi-lagi perpaduan warna hitam dan putih.


__ADS_2