DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU

DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU
Bab 18 Semua Ini Tidak Nyata


__ADS_3

Begini juga bagus, Michael tidak perlu menyuruhnya mencoba pakaian lagi, lagipula semua pakaian ini dipilih Michael untuk kekasihnya, apa jadinya kalau semuanya harus ia coba.


Pria memang tidak menghabiskan banyak waktu layaknya wanita saat membeli baju, tidak lebih dari setengah jam, Michael sudah selesai melakukan pembayaran atas semua pakaian yang kini sudah terbungkus rapi dalam tas belanja, Michael dan Wendy keluar dari toko itu membawa sejumlah kantong belanja besar dan kecil.


Di luar sana langit makin gelap, lampu-lampu neon sudah seluruhnya menyala menerangi jalanan, BMW hitam mengkilap yang mereka kendarai melaju kencang di jalanan Kota T, Wendy melihat keluar jendela, pemandangan di luar sana membuatnya merasa mabuk, semua ini serasa tidak nyata. Ia melirik Michael yang sedang menyetir mobil kembali ke apartemen, Wendy akhirnya bersuara memecahkan kesunyian dalam mobil, “Michael, kamu yakin mau membawaku kembali ke apartemen?”, bukannya malam ini Michael ada janji dengan seseorang.


Wendy teringat kembali isi pembicaraan Michael di telepon tadi, Wendy sungguh enggan kembali ke apartemen itu bersama Michael, dia takut akan menyaksikan hal yang tidak seharusnya ia lihat.


“Kalau tidak, memangnya kamu mau ke mana lagi?”, Michael balik bertanya, suaranya tetap datar walau ia mengerutkan keningnya bingung.


“Tapi……”, Wendy teringat kata-kata Michael mengingatkan wanita di telepon untuk membawa ******, wajahnya kontan memerah, Wendy tidak terlalu paham perihal hubungan di antara pria dan wanita.


“Sudah sampai”, Michael tidak memberinya kesempatan untuk mengelak, Michael dengan gesit memarkirkan mobil di parkiran apartemen, setelah bergerak melingkar, mobil yang mereka kendarai mundur perlahan dan berhenti.


Wendy berjalan di samping Michael tanpa mengatakan sepatah kata pun, dua tangan mereka penuh membawa tas belanjaan dengan segala ukuran, dalam hati Wendy, ini semua adalah hadiah untuk kekasih Michael, memikirkannya saja menimbulkan rasa perih di hati Wendy.


Terus terang, Wendy merasa sangat kikuk berada di tempat yang sama dengan Michael dan kekasihnya, namun apa boleh buat kalau Michael memang tidak keberatan dengan keberadaan Wendy, mau tidak mau Wendy hanya bisa menepis rasa canggungnya itu.


Wendy mengikuti Michael masuk kembali ke apartemen, mulutnya tertutup rapat sejak keluar dari mobil di parkiran tadi, ia bingung bagaimana menangani ketidaknyamanan yang berkecamuk di hatinya.


“Brukkk”, Wendy setengah melempar kantongkantong belanja di tangannya itu ke sofa, “Michael, aku ngantuk, aku tidur duluan ya, selamat tidur!”


Wendy langsung angkat kaki hendak kembali ke kamar tidurnya, ia tidak ingin bertemu wanita yang harusnya tidak ia temui.

__ADS_1


“Tunggu sebentar”, sambil tersenyum Michael meraih lengan Wendy untuk menghentikannya, Wendy menguncang-guncangkan tangannya berontak, namun tenaga Michael jauh lebih besar, ia langsung menarik paksa tangan Wendy sampai wajah keduanya saling bertemu, “cup”, secepat kilat Michael mendaratkan bibirnya di bibir Wendy untuk mengecupnya, ibarat naga yang menyentuh permukaan air yang tenang, sedetik kemudian bibir Michael sudah tak lagi menempel di bibirnya, “Nah, begini baru mirip pasangan suami istri, selamat tidur!”


Wendy langsung kabur ke dalam kamarnya, kata-kata Michael ‘seperti pasangan suami istri’ tadi sungguh terdengar asing di telinganya.


“Wendy, nanti ada temanku yang akan datang, kalau kamu ingin bertemu dengannya, boleh saja kamu ikut bergabung bersama, kalau tidak, tutup saja pintumu rapat-rapat, anggap kami tidak ada.”


Suara Michael lirih dan penuh perhatian, sambil berdiri di depan pintu memunggungi Michael, Wendy bisa mendengar pesan Michael itu dengan amat jelas, ia tidak berkata apa-apa, kemudian hanya terdengar “klik” suara pintu ditutup. Wendy tidak ingin ikut campur atau mencari tahu hubungan Michael dengan semua kawan-kawannya, ia menganggap mereka semua tidak terlihat.


Setelah menanggalkan sepatunya, Wendy bertelanjang kaki melompat ke atas ranjang, matanya melihat sekilas seisi ruangan yang bernuansa sederhana itu, hatinya makin jengkel. Wendy tidak ingin bergerak sama sekali, ia berbaring dalam diam, tapi tidak ada rasa kantuk sedikitpun walaupun malam sudah makin larut.


Begitu senyapnya kamar itu sampai ia bisa mendengar detak jantungnya dengan amat jelas, pikirannya kembali mengingat Michael, entah apa yang sedang dilakukannya di kamar sebelah? Apakah dia sedang melakukan latihan pemanasan? Atau sedang menonton film dewasa? Ia sering mendengar kalau laki-laki suka sekali nonton film dewasa, tapi ia sendiri belum pernah tahu sebenarnya seperti apa sih film dewasa itu.


Tiba-tiba saja Wendy jadi penasaran, rasanya mirip dengan rasa penasaran yang pernah ia rasakan dulu saat guru biologi SMP menjelaskan tentang perbedaan anatomi tubuh laki-laki dan perempuan, setengah penasaran tapi juga malu di saat yang bersamaan.


“Sebentar”, suara Michael menjawab nyaring dari ruang tengah, ternyata sedari tadi Michael masih terus menunggu di ruang tengah.


Tatapan Wendy menempel mengikuti tubuh proporsional Michael yang sedang berjalan menuju pintu, Michael hanya mengenakan atasan tank top dan celana pendek, nampaknya tamu perempuan yang sedang ia tunggu-tunggu itu benar-benar sudah tidak sabar.


Satu tangan Michael mendarat di pegangan pintu, kemudian tanpa berlama-lama ia segera membuka pintu, lalu dari luar ada sepasang tangan lain yang langsung memeluk Michael.


Astaga, Wendy terpaku, ia merasa seperti orang paling bodoh sedunia, tangan yang memeluk Michael itu ternyata bukan milik seorang wanita, jelas-jelas seorang laki-laki yang sedang mengenakan seragam tentara.


Apa pria itu benar hanya teman Michael? Apa dia punya jabatan tinggi di kemiliteran?

__ADS_1


Wendy masih termenung melihat dua sosok pria yang sedang berpelukan itu, mata Wendy perih melihatnya, seperti gejala akan tumbuh kalus.


Dengan sangat perlahan dan tanpa suara, Wendy menutup kembali pintu kamarnya, ia tidak mau melihat kelanjutan adegan di antara kedua pria dewasa tersebut, lagipula ia tidak suka mengintip.


“Bla, bla bla bla……”, suara pintu ditutup diikuti suara berat dua pria yang saling bersahut-sahutan, meskipun tidak ingin mencuri dengar pembicaraan di luar, Wendy tetap bisa mendengar sayup-sayup suara mereka mengobrol.


Wendy akhirnya menyadari, rupanya Michael tidak membedakan jenis kelamin untuk dijadikan pasangannya, oleh karena itu Michael tidak ingin terikat pernikahan, sayang nasib sialnya membuat Wendy terjebak dalam situasi ini.


Malangnya lagi, berkat kasus perselingkuhan Jacky, hal ini membuat Wendy mengenal pria macam Michael. Sudahlah, Michael adalah Michael, Wendy adalah Wendy, setiap orang punya haknya masing-masing untuk menjadi dirinya sendiri. Sekarang sebaiknya ia segera mandi lalu tidur, besok ia masih harus kuliah.


Untung saja sekarang Wendy tidak perlu mengantri lagi untuk mandi, punya kamar mandi pribadi memang jauh lebih menyenangkan. Sehabis mandi, Wendy keluar dari kamar mandi sambil memegang handuk mengeringkan rambutnya yang basah, mendadak sekali lagi terdengar bel pintu dibunyikan, “Ting tong……”.


Tadi Michael sempat mengatakan dia tidak harus keluar untuk bergabung dengan dia dan teman-temannya. Tapi bunyi bel kali kedua ini juga menimbulkan kembali rasa penasaran yang lebih kuat dalam diri Wendy, barusan sudah datang seorang pria berpakaian militer lengkap, sekarang siapa lagi yang datang? Apa Michael suka melakukannya bertiga?


Satu tangan Wendy dengan begitu alami sekali lagi membuka pintu kamarnya untuk mengintip ke ruang tengah, kali saat melihat keluar, ia melihat seorang wanita cantik masuk, dari tinggi dan postur badannya, sepertinya wanita itu seorang model.


Ya ampun, Michael ternyata sanggup melakukan itu dengan seorang pria dan wanita sekaligus……


Tidak berani melanjutkan imajinasinya itu, Wendy benar-benar tidak bisa membayangkan hal itu dalam kepalanya lebih lama lagi. Akan tetapi, bagaimanapun juga semua ini tidak ada hubungannya dengannya, dia hanya perlu memerankan tugasnya sebagai istri sah Michael di bawah pengawasan kakek Michael.


Setelah lega sehabis mandi, Wendy kembali berbaring di ranjangnya berusaha untuk tidur, tapi ia hanya membolak-balikkan badannya tanpa bisa tidur. Entah pukul berapa Wendy baru terlelap, ia tidak mendengar suara orang pergi meninggalkan apartemen itu. Saat ia membuka mata, langit di luar sudah terang benderang, sedap bau roti panggang dan omelet menyusup ke dalam kamarnya dan menggelitik indra penciuman Wendy, begitu harum menggugah selera makannya. Wendy meregangkan badannya dulu sebelum benar-benar bangun, ia memanjat malas lalu bangkit dari kasurnya, ia teringat sekarang ia tinggal di apartemen milik Michael. Wendy dengan malas mengganti pakaian tidurnya lalu tanpa suara membuka pintu kamarnya dan melongok keluar, tidak ada orang di ruang tengah. Selain dapur, semua tempat dalam apartemen itu sunyi senyap. Jangan-jangan setelah bersenang-senang dengan model wanita dan pria berseragam militer itu, Michael masih menyuruh mereka untuk menyiapkannya sarapan pagi?


Rasa penasaran Wendy kembali muncul, ia mengendap-endap seperti pencuri berjalan menuju ke dapur, begitu ia membuka pintu, “bruk”, keningnya menabrak rahang seseorang, di hadapannya Michael sedang menatapnya dingin, untung saja gerakan tangan Michael cepat, kalau tidak dua piring omelet di tangannya itu pasti sudah tidak terselamatkan.

__ADS_1


__ADS_2