
Hello! Im an artic!
“Glek Glek” diminumnya habis, Michael Ling baru saja melambaikan tangan, “Jalan.” Dan bersamaan ia merampas air yang sudah ia minum setengah itu lalau meminumnya, “Cekrek”, walau tidak mendengar suara flash kamera, tapi cahaya yang berbinar itu mengingatkan Wendy akan suara “Cekrek” dari sebuah kamera, Michael Ling tidak sengaja, sengaja membuat orang-orang diluar mobil mengetahui mereka minum dengan botol yang sama, seperti mengungkapkan pada orang-orang didunia ini bahwia ia adalah istirnya, tidak salah lagi.
“Michael Ling, mengapa tidak mengambil yang belum dibuka? Mengapa meminum bekasku? Dia sedikit kesal, tapi tertahan.
Hello! Im an artic!
“Kamu tidak merasa seperti ini baru mirip suami istri? Cekikikan, moodnya Nampak bagus.
“Tapi kita…”
“Sudah sepakat, 6 bulan ini kamu harus memerankan peranmu dengan baik, kalau kamu memerankannya dengan baik, atau, jangankan 6 bulan, aku bisa membebaskanmu lebih cepat.”
Penawaran yang bagus, Wendy tersentuh, “Kalau begitu lain kali aku juga meminum bekas minumanmu?”
Hello! Im an artic!
“Boleh, aku tidak keberatan.” Kata-katanya yang menggoda layaknya Michael Ling yang dulu, apa yang ia lakukan hari ini seperti punya alasan tersendiri, misterius, hanya dengan melihatnya ia tidak mampu menebak semua nya.
Mengecap bibirnya, duduk di sampingnya membuatnya merasa sedikit tidak nyaman, Wendy menggeser tubuhnya kearah pintu mobil, hanya ingin sedikit jauh darinya, semakin jauh semakin bagus, begini, baru bisa mehilangkan gugupnya.
“Wendy Zhong, apa yang kamu takutkan?”
“Tidak…tidak ada…” dia sangat tidak berguna, hanya duduk di sampingnyapun dapat membuatnya gugup seperti ini.
“Mengapa bersembunyi dariku? Kalau kamu begini dihadapan orang lain maka kesepakatan di antara kita akan dengan mudah terlihat.”
“oh, aku mengerti.” Masih duduk di tempat semula, ada jarak setengah badan denganya.
Michael Ling meliriknya , tidak menyulitkannya, padangan mengarah ke depan mobil, lalu tangannya mengambil ponsel, “apa wartawan-wartawan itu sudah pergi?”
“…”
“Malam ini pergi ke seluruh kantor massa untuk mengecek berita, semua berita yang merugikan Michael Ling harus di ubah.”
Tindakannya ternyata lain daripada yang lain, hanya menunjukan pada publik keberadaaanya, berharap bisa membungkamkan orang-orang, Wendy Zhong akhirnya mengetahui status dirinya.
Sangat cepat, anak buah sudah selesai ia perintah ia menutup ponselnya, mobil bergerak kearah Universitas T, kecepatan melambat, melihat luar jendela, tidak jauh dari sana ternyata tempat dimana mereka pernah makan mie bersama, mengingat kembali, hatinya mulai terambang, baru saja mengingatnya, mobil sudah terhenti seketika, persis di depan kedai mie itu.
Membuka pintu mobil, tangannya mulai menggenggam tangannya, seperti hanya dengan cara seperti ini orang lain baru percaya bahwa dia adalah istrinya.
__ADS_1
Sudah berjanji dengannya, dan ia sangat ingin mempercepat waktu 6 bulan ini, dengan begitu ia memberikan kebebasan lebih cepat untuk dirinya sendiri.
“Aku ingat kamu sangat suka makan mie di kedai ini, maka aku menyuruh sopir datang kesini, temat seperti ini terasa lebih sederhana.”
Dia benar-benar berubah, dulu ia merengek untuk datang kesini dan dia sama sekali tidak setuju, samapi ia sudah duduk memesan dan memakan dia juga tidak makan sedikit pun, hanya satu kali kedatangan mereka kesini, dia masih mengingatnya sampai sekarang.
Dia terhadapnya, sebenarnya baik atau buruk?
Ia bingung.
Sama sekali tidak tahu bagaimana bisa masuk ke dalam kedai, “2 mangkuk mie.” Michael Ling berkata, terlihat natural, tidak seperti dulu ia membawa nya masuk dan dari awal sampai akhir ia yang memesan sampai membayar.
Dalam waktu cukup singkat, dua orang itu sudah duduk sementara itu tersaji makanan kecil di hadapan mereka, “Tuan, pacar anda? Cantik sekali.”
Mendengar pelayan asing ini bertanya pada Michael Ling, dagu Wendy Zhong seakan mau copot, ia seharusnya tidak salah dengar, pelayan ini terdengar akrab dengan Michael Ling, ada satu lagi yaitu hari ini terasa begitu aneh, tadi pagi dengan Marcell Bai ada orang bertanya siapa dia, sekarang dengan Michael Ling orang juga bertanya hubungannya dengan Michael Ling, bagai bertemu hantu hari ini.
“Bukan.”
“Tuan tidak pernah membawa orang sebelumnya, kalau begitu nona ini pasti teman baik anda.” Pelayan wanita ini terlihat menurut, sangat pandai bicara, satu dua patahpun bisa menghangatkan suasana.
“hah, bukan.”
“Kalau begitu?” Pelayan wanita itu sedikit bingung, semakin tidak mendapat jawaban semakin penasaran, “Tuan, perkenalakan saja, kamu adalah langgannan di rumah makan kami, jika memang benar ia adalah pacar anda, hari ini saya traktir.”
Tapi sebenarnya, dia juga terkejut, dia sama sekali tidak tahu Michael Ling sudah menjadi langganan disini, sudah berapa tahun, pelayan disini harusnya sudah sering berganti, tapi dilihat dari akrabnya dia dan pelayan wanita ini sudah dipastikan ia adalah langganan rumah makan ini.
“Tuan, ternyata anda sudah menikah, istri anda sangat cantik.”
“Pastinya, mie mala mini tolong tambahkan daging dan telur goreng, dua-duanya.”
“Siap, aku perintahkan sekarang.” Pelayan wanita itu dengan cekatan memberitahu pesanan, Wendy mengambil sumpit memakan kimchi di hadapannya, wortel dan lobak asam manis, sangat enak.
“Bagaimana? Tidak berubahkan? ”
Ia tersenyum, sore tadi penuh ketegangan, tapi sekarang hanya ada mereka berdua, dia sadar dia sudah belajar untuk relax, suasana disini sangat nyaman, setidaknya jauh lebih baik dibandingkan suasana kantornya, “iya, tidak berubah, aku sudah lama tidak datang kemari.”
“Maka makan lebih banyak, atau tambah satu porsi mie lagi untuk mu?”
“Aku bukan babi, tidak usah, cukup satu mangkuk saja.” Tidak disangka, dia berlangganan disini.
Mie sudah datang, dua mangkuk mie panas, “Tuan, setiap magkuk sudah di taruh dua porsi daging dan dua telur goreng loh.”
__ADS_1
“Terima kasih.”
“JIka tuan sering datang makan maka akan lebih baik lagi, dengan begitu bisnis kami akan lebih lancar.”
Dia tertawa, deretan gigi putih yang rapi muncul di dalam kedua mata Wendy, dia seketika menyandari ia yang kini berada di rumah makan ini terasa lebih berperasaan, stidaknya tidak terlalu dingin.
“Michael, mengapa tidak membawanya makan bersama?” begitu menyukai tempat ini, dia merasa harusnya membawa Wenda datang, mie buatan rumahan yang enak, ada aroma masakan ibu di dalamnya.
Sumpit di tangan Michael Ling terhenti, melihat asap panas yang keluar dari mangkuk mie, sumpitnya ia taruh kembali di meja, “Wendy, saat kita sedang berdua, aku tidak ingin membicarakan Wenda, bolehkah”
“eh, mengapa? Kamu tidak suka dengannya? Aku bertanya padamu, apa dia paling suka bunga daisy?
Dia tidak bersuara, menyenderkan tubuhnya di kursi, lengannya terlipat di depan dada, dua bola mata yang hitam menatapnya, seperti ada sesuatu di wajahnya.
“Betul, dia adalah nona besar, dia begitu lemah lembut, dia tidak mungkin menyukai kedai kecil seperti ini, dia menyukai tempat yang megah dan mewah, lebih baik lagi kalau ada iringan biolamu, lebih sempurna.”
Michael Ling masih tidak bersuara, tapi kedua matanya seperti mengisyaratkan sesuatu, dia sedang menyembunyikannya, tatapannya seperti ingin membunuhnya.
“Michael Ling, atau nanti kita bungkus seporsi untuknya, siapa tahu dengan mencobanya dia akan suka mie disini, lihat, kamu buktinya.” Tertawa setelah berbicara, dia menyuapkan mie kedalam mulutnya, “enak sekali.”
“Wendy Zhong, sudah cukup kamu berbicara?” didengar dari suaranya ia seperti sangat tertahan, atau tidak, dia bisa melontarkan pukulan padanya sekarang.
“Menurutku, kak Wenda orang yang cukup baik, dia adalah ibu angkat Lexi dan Lexa, sebagai ibu angkatnya, aku harus mengundangnya makan lain hari.”
“Diam.” Dia berteriak, pukulan tidak mendadarat padanya tapi pada meja didepannya, suara menggelegar terdengar di kedai itu, semua orang menoleh ke arah mereka.
“kenapa tidak boleh membicarakannya? Pertama dia adalah ibu angkat anak-anak, kedua bukannya dia adalah istri dari adikmu, Michael Ling, respon mu ini terlalu buruk.” Dia tidak panik sedikitpun, tidak kesal, dengan santainya melanjutkan pembicaraan, lalu kembali menyuapkan mi eke mulutnya, seakan responnya tidak mempengaruhui apapun.
Raut wajah Michael Ling berbubah, sedikit terbata mengutarakan dua kata, “Makan mie. Diiringi dengan kalimat selanjutnya, “Apa makan pun tidak membuat mulutmu penuh?
“bruphhh”, Wendy tertawa, “Michael Ling, walaupun makan tidak boleh banyak bicara, tapi aku sekarang sedang makan mie bukan nasi.” ia seperti ingin berdebat dengannya, ia menyadari, membuatnya kesal sampai wajah memerah juga lumayan seru.
Michael Ling langsung tidak mengggubrisnya lagi, dengan lahap menyantap mienya, habis seketika, lalu mengarah kepada pelayan yang tadi karena gebrakan mejannya begitu berhati-hati berkata ; “Bill bayar.”
“16 yuan, tambahan daging dan telur kedai kami gratiskan.” Pelayan tersebut menjawab dengan senyum.
“Michael, aku belum selesai makan.”
Michael Ling tidak melihatnya, berkata pelan : “setelah bayar aku tunggu di mobil, kamu makan pelan-pelan saja.” Mungkin sengaja memperlihatkan ini pada pelayan itu, perkataannya terdengar lebih lembut.
Didepan Wendy ia memberi selembar uang 50 yuan pada pelayan itu, pelayan itu dengan telaten mencari kembalian sebanyak 34 yuan kepadanya, “Tuan, 34 Yuan.”
__ADS_1
Lagi-lagi dagunya seperti akan copot, dulu dia mengambil uang kembalian orang sebanyak 20 yuanpun di larang olehnya, sekarang ia sudah belajar untuk mengambil kembalian. “Michael, kamu…”
“Cepat makan, aku melihat berkas di mobil sebentar.” Sama sekali tidak memperdulikan keheranannya, dia membuat orang mengira kepergiannya karena ada perkerjaan yang tertunda, Wendy melanjutkan makannya, Michael Ling berbalik dan pergi. Aneh tapi nyata.