DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU

DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU
Bab 15 Dia Juga Lapar


__ADS_3

“Michael, kamu aneh sekali, padahal rasanya benar-benar enak, kalau kamu tidak mencicipinya sedikitpun, bagaimana kamu tahu itu tidak enak, ayo cobalah sesuap saja, buka mulutmu”, Wendy mengambil sumpit di depan Michael, menjepit sedikit mi di antara dua batang sumpit bambu itu lalu diangkatnya ke mulut Michael. Michael dengan terpaksa makan sesuap, di luar dugaan Michael, rasa mi itu memang lezat luar biasa, baru setelah itu Michael mengambil sumpitnya dan dengan antusias memakan semangkuk mi di hadapannya itu, makannya jauh lebih lahap daripada Wendy. Wendy terbahak-bahak melihatnya, ternyata bukan hanya Wendy yang kelaparan, Michael juga lapar.


Keduanya makan dengan lahap, isi dalam dua mangkuk tadi habis sampai suapan terakhir. Wendy merasa sangat puas, ia meregangkan perutnya, “Enak sekali”, setelah memuji rasa makanan yang baru disantapnya itu, Wendy mengambil empat puluh ribu dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja, “Pelayan, carikan uang kembalian.”


“Siap……”


“Sudahlah, tidak usah diminta, nanti akan kuberikan setumpuk uang receh untukmu”, sahut Michael sambil mengernyitkan dahinya, jangankan uang empat puluh ribu, bahkan kalau dia membayar dengan pecahan yang lebih besar pun, Michael tidak akan pernah minta dicarikan uang kembalian.


Wendy melenggang saja tidak memperdulikan Michael, dia kekeh menunggu pelayan tadi mencarikannya uang kembalian, setelah selesai baru Wendy melangkah keluar, katanya pelan, “Keluarga Paman Bai dulunya juga kaya raya, tapi lihat kondisinya sekarang, bisa jadi uang untuk membeli semangkuk mi tadi saja dia tidak punya.”


Michael sedikit terkejut mendengarnya, ia tidak menimpali pernyataan Wendy itu. Awalnya Wendy yang harusnya beradaptasi dengan gaya hidup Michael, tapi siapa sangka, kenyataannya malah Michael yang perlahan-lahan membiasakan diri dengan pola pikir Wendy.


Malam itu Wendy mulai tinggal lagi di apartemen milik Michael, ia ingat apa kata Michael, tempat itu nantinya akan menjadi rumah mereka.


Rena Jin keluar dari sekolah, seisi kampus gempar dibuatnya, tapi tak seorangpun tahu apa penyebabnya. Wendy tahu, Rena Jin juga tahu, lebih-lebih Jacky.


Saat bertemu lagi dengan Jacky, hati Wendy bak permukaan air yang tenang, tak setitik riak pun bisa memorak-porandakannya. Sesungguhnya, di muka bumi ini pasti selalu ada keadilan, dan keadilan bagi Wendy datang dari keberadaan Michael dalam hidupnya.


“Ma, mama di rumah sakit mana? Aku ingin menjengukmu”, Wendy menghubungi Suzy begitu semua kelasnya hari itu berakhir.


“Tidak perlu, tidak perlu, Wendy, sekarang semuanya baik-baik saja, pamanmu pagi ini sudah keluar ruang operasi, dokter yang berjaga tengah malam kemarin datang dan melakukan operasinya, mama belakangan ini sibuk menjaga dan menemani pamanmu sampai tidak sempat menghubungimu, kamu fokus saja pada kuliahmu, mama paham betul kali ini semuanya berkat bantuanmu, nanti tunggu ketika keadaan keluarga pamanmu membaik, pasti tidak akan menyusahkanmu lagi.”


Tiba-tiba ada sesuatu yang membuat hati Wendy seperti terangkat, ia tidak menyangka Michael begitu cepat bertindak, semalam Michael sudah mengurus semuanya. Mungkin karena mereka tidur di dua kamar yang berbeda, sehingga Wendy sama sekali tidak tahu-menahu atas apa saja yang telah dilakukan oleh Michael.


“Ma, mama harus jaga diri baik-baik”, sebenarnya, setiap orang itu harus bisa sedikit egois demi dirinya sendiri, dengan demikian baru ia bisa mencintai diri sendiri.


“Wendy, terima kasih banyak.”

__ADS_1


“Ma, tidak perlu berkata begitu”, jujur saja, Wendy juga tidak yakin saat Michael menyetujui permintaannya, ia hanya bertaruh semata, tapi taruhannya menang besar, tidak peduli Michael mencintainya atau tidak, yang pasti dia sekarang tahu bahwa Michael adalah orang yang bisa menepati janji.


Setelah memikirkan hal itu, Wendy tahu-tahu ingin menelpon Michael, dan seketika itu juga ia ingat ia tidak pernah menyimpan nomor Michael, tapi kemarin malam jelas-jelas dia menelpon Michael dari telepon genggamnya itu. Wendy buru-buru membuka handphone miliknya itu dan memeriksa daftar panggilannya, anehnya, entah sejak kapan semua nomor panggilan cepatnya diubah ke satu nomor yang sama, nomor milik Michael.


Tanpa ragu-ragu, Wendy menekan tombol untuk memanggil nomor Michael, ia ingin segera mendengar suara Michael, sekarang, detik ini juga.


“Halo, Wendy”, sambar Michael, suaranya rendah namun terdengar lembut.


“Michael, aku ingin ketemu”, sekarang Wendy tidak hanya ingin mendengar suara Michael, dia juga ingin bertemu langsung dengan si pemilik suara di ujung telepon itu.


“Kelasmu sudah selesai?”


“Yup, sudah jam pulang, semua pelajaran hari ini sudah selesai.”


“Kalau begitu langsung kembali ke apartemen saja.”


“Kamu pulang aku juga pulang.”


Senyum manis merebak di wajah Wendy, entah sadar atau tidak, ia senang sekali mendengar jawaban Michael barusan, “Malam ini aku masak mi untukmu.”


“Boleh. Wendy, calon suamimu sudah sampai”, tepat ketika Michael mengucapkan kalimat ini, seorang mahasiswi yang berjalan dari arah yang berlawanan menyelamatinya.


Wendy kebingungan, “Hah? Di mana?”


“Mobil BMW, yang parkir di taman di pintu utama kampus, kalau kamu tidak segera kemari, seisi kampusmu akan makin gempar.”


“Michael, apa yang kamu lakukan?”, Wendy yang terkejut makin dibuat penasaran, langkah kakinya makin cepat menuju asal keributan itu.

__ADS_1


Persis di pintu utama kampus, sepertinya semua mahasiswa kampus T telah berkumpul di sana, begitu banyaknya orang berkumpul membentuk berlapis-lapis barisan yang susah ditembus, suara Michael tidak keras, tapi ia menggunakan mawar kuning dan merah yang disusun menjadi papan bunga, di papan bunga itu tertulis dengan sangat jelas, “Wendy Zhong, I Love You”


Tulisan sebesar dan sejelas itu takutnya bukan sekedar kecelakaan, dari jauh pun tulisan itu seperti memanggil Wendy, setiap hurufnya tertulis dengan begitu indahnya, Wendy bagaikan ditarik kencang oleh magnet menuju arah rangkaian bunga itu.


Satu persatu orang yang berkumpul di tempat itu memberi jalan pada Wendy, Wendy melangkah perlahan ke tengah, pemandangan Michael yang sedang bersandar pada mobil BMW hitam mengkilat itu mulai tersibak dari tengah-tengah lautan manusia. Michael mengenakan kemeja hitam dan celana jeans senada, aura yang dipancarkan oleh Michael itu membuat semua wanita yang berada di sekeliling tak henti-hentinya mengelukan nama Michael, Wendy terkesima melihat itu semua dengan mata kepalanya sendiri, tatapannya terpaku ke arah Michael, seakan Michael punya kemampuan untuk menyihir Wendy menjadi batu.


Seumur hidup Wendy, dia baru pernah diperlakukan bak putri raja oleh Jacky, itu juga menjadi salah satu alasan Wendy pacaran dengan Jacky, sayangnya, mimpinya untuk terus menjalin hubungan yang indah dengan Jacky itu seketika hancur berkeping-keping saat ia melihat ciuman panas antara Jacky dan Rena Jin, hal itu juga yang menyadarkannya dari mimpi indah itu.


Tatapan mata Wendy berkilau, ia berjalan ke arah si pemilik BMW hitam itu, Michael bersiul nyaring sebelum menegakkan tubuhnya dengan elegan, di depan tatapan ratusan pasang mata di sekeliling mereka, Michael melangkah memutar ke sisi mobil, gerakannya seanggun macan kumbang hitam, lalu tangannya membuka pintu mobil dengan gesit.


“Wendy, ayo kita makan malam bersama.”


Ajakan Michael itu terdengar merdu dan susah untuk ditolak, tidak sedikitpun seperti dibuat-buat, seolah-olah keduanya sudah berteman sekian tahun lamanya, ingatannya mengenai pengkhianatan Jacky di belakangnya sirna seketika, yang ada di depan mata sekarang hanya Michael.


Kedua kaki Wendy seakan bergerak sendiri menuju arah Michael, tanpa ia sadari Michael yang begitu keren di hadapan semua orang ini juga bisa menggemaskan, sekujur tubuh Michael seolah memancarkan aura super maskulin. Lalu entah sejak kapan, tangan Wendy sudah berada dalam genggaman Michael, yang ia tahu ada energi yang menarik tangannya duduk di bangku penumpang mobil hitam itu, begitu ia terduduk di dalam dan pintu ditutup, mobil berjalan menjauh dari gerbang utama Universitas T, walaupun sorakan di luar begitu meriah, sepasang telinga Wendy hanya terpusat untuk mendengar bisikan halus Michael.


“Nona besar, dengan begini tidak akan ada orang yang menganggap rendah atau membanding-bandingkan calon suamimu dengan Jacky kan.”


Wendy menarik napas dalam, ia tadi terlalu terbawa suasana, baru sekarang ia tersadar Michael melakukan semua itu hanya untuk mengecoh para mahasiswa lain, “Hmph, memangnya siapa yang minta bantuanmu?”


“Bukannya kau akan segera menikahiku? Aku harus bersungguh-sungguh memerankan tugasku sebagai pasanganmu, sudah wajar dong aku membantumu.”


“Michael, aku berubah pikiran, aku tidak jadi menikahimu”, celetuk Wendy tanpa pikir panjang, Michael memang seorang yang sangat arogan.


Michael hanya tersenyum mendengar reaksi Wendy, tangannya memutar setir dengan sangat terampil, “Wendy, kamu sudah setuju secara hitam di atas putih, dan kamu sekarang sudah terlanjur naik ‘kapal’ milikku, jadi mulai sekarang kamu sudah tidak punya banyak pilihan.”


“Michael, ‘kapal’mu ini pasti kapal curian, betul kan?”, tatapan mata Wendy tajam, ini kali pertama Wendy menatap serius ke mata Michael, kontan ada perasaan asing yang muncul, seolah-olah dia dan Michael sudah saling mengenal sejak lama.

__ADS_1


__ADS_2