
“Aku mau kamar yang ini”, Wendy seketika jatuh cinta begitu melihat ayunan di beranda dalam kamar itu, akhirnya ia menemukan sedikit nuansa kewanitaan di rumah itu.
“OK, silahkan”, Michael langsung berbalik badan berjalan menjauh, suara dan bahasa tubuh Michael menjadi lebih santai, seolah-olah kesediaan Wendy untuk bermalam di rumah itu telah menyelamatkan nyawanya, sampai-sampai rasa dingin di sekujur badannya itu seperti menghilang begitu saja.
“Di dalam lemari ada pakaianku, pakai saja yang kau mau untuk malam ini”, sahut Michael sambil berjalan menjauh, dalam sekejap saja ia sudah menghilang dari hadapan Wendy.
Wendy terdiam sendiri dalam keheningan rumah itu, seluruh kejadian yang ia alami hari ini membuatnya merasa hidup dalam mimpi, tapi kalau memang semua ini hanya mimpi belaka, Wendy tidak ingin bangun, ia ingin terus tertidur dan melupakan semua ingatan sedihnya. Namun, Wendy tahu betul ia tidak akan pernah bisa lari dari kenyataan, apa yang sudah berlalu tidak akan pernah bisa dihapus.
Wendy masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu, masih dalam suasana sunyi yang sama dalam kamar itu, Wendy membuka pintu lemari baju, tanpa pikir panjang ia mengambil sehelai kemeja milik Michael untuk ia kenakan sebagai baju tidur. Ukuran kemeja putih ditangannya itu agaknya sedikit terlalu besar, tapi pas jika digunakan sebagai baju tidur, tidak peduli kemeja itu barang bermerk atau bukan, toh hanya akan ia gunakan untuk tidur, kalau dipikir-pikir, apa yang Michael katakan tadi ada betulnya juga, memang salah Michael telah menabraknya, sudah seharusnya Michael bertanggung jawab.
Sambil membawa kemeja, Wendy berjalan santai ke dalam kamar mandi. Kamar mandi dalam ruang tidur memang berbeda ya, sejak kecil Wendy tidak pernah berangan-angan ingin punya kamar mandi pribadi, sampai kuliah pun dia terbiasa berebut kamar mandi dengan orang lain, tapi sekarang ia berubah pikiran, rasanya senang sekali setelah melihat dan merasakan sendiri memiliki kamar mandi pribadi, setidaknya di rumah ini ia tidak perlu mengantri dahulu sebelum mandi.
Interior kamar mandi itu juga sangat berbeda, benar-benar bersih dan indah, lantainya terbuat dari marmer, ada cermin di empat sisi dalam kamar mandi itu semuanya memantulkan gambaran dirinya sendiri, sampai-sampai saat membuka baju pun rasanya seperti ada mata yang diam-diam memperhatikannya, padahal itu adalah pantulan dirinya sendiri yang sedang memandanginya.
Kepala pancuran air berkilau terkena cahaya lampu, air hangat langsung menyembur dari situ ketika tombolnya ditekan. Wendy tidak berani melangkah ke dalam siraman air itu karena kakinya yang masih terluka, ia mengambil sehelai handuk kecil lalu membasahinya dengan air hangat dan mengelap seluruh permukaan tubuhnya. Selama luka di kakinya belum sembuh, Wendy harus sangat berhati-hati supaya lukanya cepat kering.
Di atas rak dalam kamar mandi sudah terlipat rapi sebuah handuk mandi, sabun mandi dan sampo, merek yang terpampang di botol sabun dan sampo itu semuanya merek-merek yang Wendy tidak pernah berani bahkan untuk membayangkannya saja, tapi saat ini Wendy menggunakannya dengan berlimpah ruah.
Setelah selesai membersihkan diri, Wendy mengenakan kemeja putih milik Michael tadi keluar dari kamar mandi, tak disangka-sangka, begitu pintu dibuka, Michael sedang bersandar di tembok, penampilannya begitu menggoda bak siluman yang sedang menjelma menjadi sesosok manusia, rambut pendeknya masih menitikkan air, dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, Michael tidak mengenakan apapun selain handuk yang melingkar di bagian pinggangnya, memamerkan bagian dadanya yang bidang dan berotot, membuat Wendy menundukkan kepalanya, tidak berani menatap langsung ke arah Michael. Wendy memelototi ujung kakinya lalu dengan terbata-bata bertanya,
__ADS_1
“Kamu……kamu mau ngapain di sini?”, bukannya tadi Michael bilang mereka akan tidur di kamar masing-masing? Dan bukannya tadi dia juga bilang sebelum Wendy memutuskan untuk menerima penawarannya, Michael tidak akan menyentuhnya sembarangan? Lalu sekarang dia datang untuk apa?
Seperti pemain sulap, Michael menarik tangannya dari belakang yang sedang memegang jam weker berbentuk kelinci, titahnya,
“Besok jam 7 pagi langsung bangun, jangan bermalas-malasan di ranjang lama-lama”, sampai hal sepele begini pun dia urusi.
“Hah? Bukannya besok aku tidak perlu pergi ke kampus atau kerja di Feng Chen?”, untuk apa bangun sepagi itu, sekarang saja jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari, Wendy sudah sangat mengantuk.
“Ke rumah sakit, pulangnya kau boleh lanjut tidur lagi”, jawab Michael sembari menjejalkan jam weker itu ke tangan Wendy.
“Kalau telat bangun, aku sendiri yang akan langsung masuk kamar untuk membangunkanmu.”
Tepat jam 7 pagi, Wendy tersentak bangun karena bunyi jam weker dekat kepalanya, ia buru-buru bangkit dari ranjangnya mengingat ancaman Michael semalam kalau Michael akan menerobos masuk ke dalam kamarnya kalau ia tak segera bangun. Sehabis mencuci muka dan gosok gigi, Wendy baru sadar kalau ia sama sekali tidak punya baju ganti, mau tidak mau ia harus memakai kembali pakaiannya kemarin, pasti tidak nyaman, tapi apa boleh buat, dia tak punya pilihan lain. Wendy dengan telanjang kaki keluar dari kamarnya dengan masih mengenakan kemeja putih milik Michael sejak tadi malam, dari ruang makan Michael melambaikan tangan memanggilnya,
“Ke sini.”
“Oh……”, Wendy setengah melompat berjalan ke ruang makan, di meja makan sudah tertata rapi beraneka ragam sarapan pagi, mulai dari cakwe, susu kedelai, bubur, acar lobak, dan masih banyak lagi. Wendy merasa kenyang setelah beberapa suap, Wendy kurang leluasa makan di meja yang sama dengan Michael. Sambil makan, ia sambil menguap sesekali akibat tidur terlalu larut.
“Ganti bajumu”, suara Michael rendah setelah melihat Wendy selesai sarapan sambil mengamatinya yang masih dalam balutan kemeja putih dari atas sampai bawah.
__ADS_1
“Ya, baiklah”, memang apa yang dilihat Michael, sudah kodratnya Michael bertanggung jawab sampai akhir.
Michael cuma mengernyitkan keningnya melihat Wendy keluar dengan mengenakan baju yang sama dengan kemarin malam sebelum keluar membawa Wendy ke rumah sakit.
Keberadaan Michael membuat segalanya berjalan dengan sangat lancar, entah sejak kapan Michael membuat janji dengan dokter, setibanya di rumah sakit kakinya langsung diperiksa oleh dokter tanpa harus mengantri lama-lama. Tidak sampai 10 menit foto hasil ronsen kakinya sudah keluar, untung saja tidak ada cedera parah, tapi tetap saja Wendy harus istirahat total, kalau tidak lukanya itu tidak akan bisa lekas sembuh. Wendy menghembuskan napas lega, kadangkala, punya banyak uang juga banyak untungnya, secara tidak langsung uang bisa membeli rasa tenang.
Dari rumah sakit Michael langsung membawa Wendy kembali ke apartemen, nampaknya ia memang berniat membiarkan Wendy tinggal di apartemen sembari merawat luka di kakinya itu.
Sudah seminggu sejak Wendy tinggal di apartemennya itu, selama seminggu itu pula Michael selalu pergi pagi-pagi dan pulang larut malam. Sering kali saat Michael pergi, Wendy sedang tidur, saat Michael kembali, Wendy juga sedang tidur. Apartemen Michael itu sudah seperti rumah rehabilitasi Wendy. Pada jam makan pagi, siang dan malam selalu ada orang yang datang untuk mengantar makanan, setelah Wendy selesai makan pun selalu ada orang yang datang untuk membereskannya, setiap hari juga ada pekerja yang khusus datang untuk membersihkan apartemen. Selain makan dan tidur, keseharian Wendy hanya diisi dengan membaca buku atau menonton TV.
Ruang baca milik Michael di lantai 2 dipenuhi berbagai macam buku, mulai dari buku berumur puluhan tahun, literatur lama dan modern sampai buku bahasa asing, buku apapun yang Wendy cari bisa ia temukan di dalamnya, Wendy ingin sekali bersarang di balik tumpukan buku-buku itu dan tidak keluar lagi. Dari dulu Wendy tidak pernah melewati hari-hari senyaman ini, ia merasa seperti sedang berlibur, tidak perlu pusing memikirkan pekerjaan atau tugas-tugas, sungguh perasaan yang sangat menyenangkan. Namun Wendy juga tahu, sesudah cedera di kakinya itu sembuh, semua akan kembali seperti sedia kala. Wendy sudah menetapkan hati atas tawaran yang diajukan oleh Michael, Michael bilang akan menyiapkan upacara pernikahan mereka, hal itu pasti Michael lakukan karena ada alasan khusus. Wendy tahu Michael tidak mencintainya, bahkan Michael memperingatkan Wendy supaya jangan sampai jatuh cinta atau suka padanya, pernikahan tanpa didasari rasa cinta tidak akan pernah bahagia dan tidak akan ada orang yang merestui, Wendy tidak menginginkan hal itu. Dia lebih memilih menunggu waktu yang membawanya menemukan kebahagiaannya daripada kehilangan kebahagiaan itu sendiri karena terlalu cepat mengambil keputusan, betapa menyedihkannya jika hal itu benar terjadi.
Kaki Wendy akhirnya sembuh total, kini dia sudah bisa bergerak bebas. Malam ini dia akan menunggu kepulangan Michael, semalam apapun Wendy akan menunggunya, kemudian dia berencana untuk menjelaskan semuanya, lalu besok dia akan pergi meninggalkan tempat ini. Michael hanya perlu bertanggung jawab atas luka di kaki Wendy, detik ini cedera di kakinya itu sudah sembuh total, diantara keduanya sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.
Tak terasa seminggu telah berlalu, selama seminggu itu pula Wendy sudah menata hati dan semua perasaan tidak menyenangkan sudah ia tutup rapat dan timbun di dasar hatinya yang terdalam, Wendy akan memulai lembaran baru di hidupnya, mengenai seratus juta itu, Wendy ingin mengandalkan dirinya sendiri mendapatkan kembali uang itu. Selama ada harapan, sebesar apapun masalah yang dihadapi, pasti setiap orang bisa hidup bahagia.
Wendy duduk dalam kesunyian di ruang tengah menunggu kepulangan Michael, tapi pintu di hadapannya itu tidak bergerak sedikitpun, berbunyi saja tidak, jam dinding yang menggantung di ruang tengah menunjukkan bahwa Wendy sudah menunggu sampai dini hari. Wendy sambil memeluk lututnya di sofa, mata nya mengikuti gerak jarum jam yang tak pernah ikut menunggu bersamanya, detik demi detik berlalu menjadi menit dan jam. Hati Wendy makin gelisah, memangnya Michael selalu pulang selarut ini tiap malam? Tiba-tiba terdengar dering telepon dari dalam kamar, Wendy bergegas menghampiri telepon, dikiranya Michael yang menelpon, dengan enggan Wendy mengangkat gagang telepon,
“Halo, ini Wendy.”
__ADS_1