DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU

DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU
Bab 129 Sangat Sangat Banyak


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Michael lantas mengeluarkan sepiring besar kembang api, yang dituliskan, mengandung 100 buah petasan, diatas kertas petunjuknya. Dia lantas membakarnya, kemudian membawa anak – anak menjauh beberapa langkah untuk melihat pemandangan tersebut beberapa jarak menjauh dari tempat dibakarnya kembang api. Kembang api itu lantas meluncur ke angkasa, seolah – olah ingin menerobos tingkatan awan dilangit, kemudian merekah diatas sana, membuatnya terlihat sangat indah.


Lexi berdiri disebelah Michael, memandangi pemandangan tersebut sembari menghubungi maminya, dengan mulut kecilnya yang terus bergumam


Hello! Im an artic!


“Mami, cepat bangun, kembang api diluar sana sangat bagus.”


Wendy sungguh terbangun, entah karena panggilan hati Lexi yang membangunkannya, ataukah bunyi petasan diluar sana yang mengusik tidurnya. Wanita itu membuka matanya perlahan – lahan, kepalanya terasa sangat sakit, dia sungguh mengonsumsi begitu banyak bir putih. Suara petasan yang terdengar ditelinganya pun semakin lama semakin menyaring, tetapi idirinya tetap saja bisa mendengarkan ponselnya yang sedang berdering itu. Dia lantas menjulurkan tangannya, mengambil ponselnya , dan mendapati Michael lah yang menghubunginya. Seketika itu juga, dia baru tersadar bahwa dirinya sedang tertidur dikasur apartemen. , Ddan dengan tergesa – gesa, dia mengangkat panggilan tersebut.


“Michael , kamu dimana ? Apa sudah menemukan anak – anak ? ”


“Mami, ini aku, Lexi. Mami, mami sudah bangun, ya ? Ayo cepat naik ke atap, aku dan daddy sedang bermain kembang api diatap.”


Hello! Im an artic!


Lexi berteriak dengan sangat semangat, dirinya sungguh tidak mengira Wendy akan terbangun dan , dia sangat menginginkan maminya naik ke atap untuk bermain kembang api bersama mereka. TadiBarusan, daddy membawa sebuah kantong plastik besar, yang berisikan berbagai macam kembang api, yang sepertinya, juga tidak akan habis mereka mainkan dalam waktu dua jam, sungguh sangat sangat banyak.


“Lexi, dimana Lexa ? ”


“Kakak juga disini.”


Lexi berujar sembari tersenyum, sama sekali tidak merasa bahwa Wendy baru saja mengetahui mereka telah ditemukan.


“Lexi, tunggu mami, mami akan segera sampai.”


Wendy terpental bangun dari tempatnya tertidur, anak – anak sudah ditemukan, kenapa dirinya bisa tertidur sampai sekarang ? Ya Tuhan, ini bahkan sudah hampir dini hari, dan malam tahun baru akan berlalu sebentar lagi. Dengan secepat kilat , dia menerobos keluar dari kamar tersebut, tetapi yang didapatinya adalah ruangan apartemen yang sangat berantakan, barang – barang berserakkan dimana – mana, semuanya adalah makanan dan keperluan sehari – hari, semua ini pasti adalah benda yang diperintahan Michael pada bawahannya untuk dibawa.


Ketika sedang memakai sepatunya, tatapan Wendy terjatuh pada meja makan yang masih diisi semeja penuh makanan, ternyata , pria itu sudah menemukan anak – anak sedari tadi, kenapa dia sama sekali tidak mengetahui hal tersebut ?


Dengan sangat bersemangat, Wendy melangkah kearah lift, dan naik kelantai paling atas. K, ketika mendapati kehadiran Lexi dan Lexa, hatinya sungguh terasa sangat bahagia.


“Lexi, Lexa, sini, biarkan mami memeluk kalian.”


Kedua bocah itu lantas segera berlari menghampiri Wendy, dan berkata rujar


“Mami, mami sudah tidak marah pada kami, bukan ? , kan”?”


“Ah…”


Wendy lantas menatap Michael dengan raut kebingungannya, tidak begitu mengerti kondisi yang terjadi saat ini.


Mendapati situasi seperti itu, Lexi dan Lexa seketika itu juga teringat akan janji yang dibuat Michael , disaat mereka bertemu tadi. Mereka lantas berujar pada pria itu, dengan hati yang kentara masih sarat akan kekhawatiran.


“Daddy, mami sudah bangun, cepat minta maaf pada mami, lain kali tidak boleh lagi menyiksa mami.”


Michael lantas tersenyum, merasa kedua anak itu sungguh sangat serius. Dia lantas melangkah ke sisi Wendy, setelah meletakkan kembang api yang digenggamnya, dan tanpa memerdulikan kehadiran anak – anak, dia langsung menjulurkan tangannya, memeluk pinggang wanita itu, membuat wanita itu terpaksa menyandar didadanya.


Diwaktu yang sama pula, pria itu mendekatkan bibir tipisnya ke telinga Wendy, membuat wanita itu hendak menghindar darinya, karena posisi ambigu mereka. Tetapi, tangan yang sedang membekap erat pinggangnya itu , sama sekali tidak memberikannya kesempatan untuk melepaskan diri.


Suara pria itu terdengar begitu jelas, mengalun masuk kedalam indera pendengarannya , ditengah bunyi ledakkan petasan. Sembari mendengarkan pria itu, dia lantas mengalihkan atensinya pada anak – anak , dan hatinya tiba – tiba saja berdenyut nyeri. Ternyata, karena hal ini.


“Lepaskan, aku ingin memeluk anak – anak.”


Setelah mendengar ucapan wanita itu, barulah Michael melepaskan tangannya, membiarkan wanita itu berjalan mendekati anak – anak lagi. Wanita itu lantas berjongkok dihadapan anak – anak, memandangi kedua anak – anak itu dengan tatapan seriusnya, kemudian membelai kedua wajah kecil mereka yang terasa begitu lembut, dan berkata ujar


“Lexi, Lexa, jangan pernah meninggalkan mami lagi, ya.? Mami janji pada kalian, kalian boleh bertemu dengan siapapun yang kalian inginkan.”


Alih – alih membiarkan mereka mengumpulkan keberanian untuk kabur darinya, lebih baik dia lah yang memegang kendali. Paling tidak, dia bisa mengetahui keberadaan dua anak kecil itu disetiap saatnya. Dua anak kecil ini, dia harus mulai bermain akal dan menggunakan keberaniannya ketika menghadapi mereka.

__ADS_1


“Mami, mami sudah tidak menyalahkan kami ? ”


“Mami, mami tidak akan tidak menginginkan kami lagi, kan ? ”


Wendy menganggukkan kepalanya sekuat tenaga, takut bahwasanya anak – anak tidak percaya dengan ucapannya.


“Tidak akan, mami menginginkan kalian, akan selalu menginginkan kalian.”


Senyuman manis langsung merekah diwajah kedua anak kecil itu, dan senyuman itu adalah senyuman yang sudah sangat lama tidak terlihat. Mereka sungguh sangat bahagia, saat ini, mereka sudah memiliki daddy dan juga mami, dimalam tahun baru ini, semua keinginan mereka telah terkabul. Keduanya lantas menarik tangan Wendy untuk berdiri, dan berkataujar padanya


“Mami, ayo bermain kembang api bersama.”


Begitu banyak kembang api yang bisa dimainkan ditangan, masing – masing dari mereka lantas memegangi satu tangkai kembang api tersebut, membakarnya, dan dibiarkan melambai – lambai dilangit yang sudah gelap ini. Percikkan – percikkan api menyala begitu terang didepan mata, dan hal tersebut sungguh tampak sangat indah. Pada akhirnya, hati Wendy bisa kembali menenang, setelah bisa mendengar lagi suara tawa anak – anak.


Malam itu, tepat diatas atap, mereka menghabiskan seluruh kembang api yang dimiliki mereka. Pemandangan itu sungguh sangat indah, dan hal tersebut patut untuk diingat seumur hidup.


Seusai bermain, Lexi dan Lexa lantas menyampaikan kembali keinginan mereka


“Daddy, kami masih ingin bermain kembang api dimalam kelima belas nanti.”


Wendy lantas melayangkan tatapan anehnya pada mereka, berkata dan berujar


“Kita bicarakan lagi ketika waktunya tiba.”


“Tidak, aku ingin mami dan daddy menemani kami bermain kembang api bersama ketika waktunya tiba.”


Ancaman langsung, seolah – olah, jika mereka tidak mau bersama,, maka kedua bocah ini masih akan kabur.


Disaat tahun baru Imlek seperti ini, Wendy sama sekali tidak ingin memikirkan hal lainnya, maka dari itu dia menganggukkan kepalanya.


Sekembalinya ke apartemen, Michael mulai merebus pangsit yang dibungkusnya tadi, sedangkan Wendy, wanita itu sedang menemani anak – anak duduk santai, menunggu diruang tamu. Wanita itu tiba – tiba saja lantas teringat akan bahan makanan yang telah dibelinya, tampaknya semua itu tidak akan terpakai malam ini.


“Tunggu diluar, sebentar lagi selesai.”


Wendy lantas memandangi pria yang sedang memakai apron itu , dan tiba – tiba saja, lubuk hatinya terpenuhi dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan. Entah bagaimana pun juga, malam ini adalah malam yang indah, tahun baru adalah awal yang baruu, dan juga kehangatan yang baru.


Kecap dan cuka, masing – masing diletakkannya diatas piring kecil, sungguh jarang sekali dia menyiapkan makanan selengkap dan serapi ini. Masakan sisa makan malam mereka pun sudah dipanaskannya, dan juga sudah tertata diatas meja. Wendy tahu, Michael melakukan semua ini demi dirinya, karena, dirinya sama sekali belum mengonsumsi apapun sedari tadi.


Televisi masih menyala, bunyi petasan pun masih belum terhenti sedari tadi. Sepertinya, tahun baru Imlek kali ini , adalah tahun baru Imlek yang paling meriah baginya, hanya karena , kehadiran seseorang.


Setelah sekian lama tidak bertemu, sebenarnya, pria itu terlihat semakin kurus.semakin mengurus.


Dia lantas mengangkat sumpitnya, tetapi tidak kunjung menggunakannya. Bukannya tidak lapar, hanya saja, dia sungguh tidak terbiasa dengan semua kejadian yang sangat mendadak ini.


“Mami, selamat tahun baru.”, ucap Lexa.


“Mami, selamat tahun baru.”, ucap Lexi mengikuti saudaranya.


“Bagaimana denganku ? ”


Tiba – tiba saja aura sepiring cuka merasuki sosok seseorang yang juga sedang berkumpul disana, dirinya sedang merasa iri, cemburu, dan juga kesal.


“Daddy juga, selamat tahun baru.”


“Sselamat tahun baru daddy.”


Sembari tersenyum begitu manis, Lexi dan Lexa mengucapkan selamat tahun baru padanya, tanpa tergesa – gesa.


Ini adalah pertama kalinya, ada sosok anak kecil yang mengucapkan selamat tahun baru padanya, terlebih lagi, itu adalah anak perempuannya. Dia lantas menjulurkan tangannya, mengambil sesuatu dari sakunya, yang ternyata adalah empat buah amplop merah besar, kemudian membagikan masing – masing anaknya dua buah amplop tersebut.


“Ini, uang saku tahun baru.”

__ADS_1


“Daddy, kenapa ada dua ? ”


Michael lantas tersenyum, kemudian menengadahkan kepalanya, memandangi Wendy, dan berkata ujar


“Yang satunya lagi adalah pemberian mami.”


Oh, bahkan dia juga menyiapkan ini untuknya ? Wendy lantas menatap sejenak pria itu, kemudian memakan pangsitnya lagi tanpa mengatakan apapun. Isi pangsit ini sangatlah banyak, daging babi cincang yang dicampurkan dengan seledri ditambah sedikit cabe hijau, rasanya tidaklah buruk.


“Terima kasih daddy, terima kasih mami.”


Kedua anak itu menyampaikan rasa terima kasih mereka, tanpa membuka amplop tersebut. Mereka tidaklah tertarik dengan uang didalamnya, yang paling mereka senangi adalah, Mami dan Daddy mereka akan kembali bersama. Bagi mereka, adalah hal bagus jika tidak ada satupun dari kedua orang tua mereka yang marah, maka dari itu, mereka berdua selalu saja meneliti ekspresi kebersamaan Michael dan Wendy., Ddan ketika daddy mereka mengeluarkan amplop tersebut, hati mereka sudah mulai merasa lebih tenang.


Michael menjulurkan tangannya, dan mengelus pelan kepala Lexi dan Lexa dengan penuh kasih sayang. Sedari dulu, dia selalu merasa dirinya tidak menyukai anak kecil, tetapi sungguh tak disangka, dia memiliki rasa sayang dan suka yang tidak akan habis terungkap untuk kedua buah hatinya ini.


“Wendy, udang ini enak, cobalahmakanlah satu.”, ujarnya sembari mengambilkan seekor udang dan meletakkannya diatas piring kecil Wendy.


Memandangi udang tersebut, sumpit Wendy tiba – tiba saja terhenti, tetapi tidak lama kemudian, dia menyadari tatapan kedua anaknya yang sedang dilayangkan padanya. Dia lantas mengambil udang yang telah dikupas pria itu, mencelupkannya kedalam kecap dan cuka, kemudian memasukkannya kedalam mulutnya. Aromanya, sungguh wangi, ternyata memang benar, rasanya enak.


“Daddy, daddy pilih kasih, kenapa hanya memberikannya pada mami ? Kami juga mau.”


Lexi dan Lexa merasa begitu gembira mendapati pemandangan dihadapan mereka itu, mami dan daddy mereka sudah berbaikkan, sungguh kejadian yang sangat bagus.


Acara makan – makan mereka, terasa begitu hangat dan manis. Itu adalah rasa kekeluargaan, dan juga hal yang selalu diimpi – impikan Wendy. Hanya saja saat ini, dia malah merasa semua ini tidaklah nyata, jika bukan karena Lexi dan Lexa yang sengaja datang mencari Michael, mungkin saja , mereka berempat tidak akan mungkin bisa berkumpul bersama seperti ini.


Seusai menyantap pangsit mereka, waktu pun sudah menunjukkan pukul lebih dari jam 12 malam, bahkan anak – anak juga sudah menguap.


“Lexi, Lexa, ayo tidur bersama mami.”


Wendy sudah memutuskan untuk tidur bersama kedua anaknya diranjang yang sama, lagi pula, kasurnya pun cukup untuk ditempati mereka bertiga, sama sekali tidak jauh lebih kecil dari kasur yang dimilikinya dirumah. Dirumah, mereka juga tidur bertiga, dan dirinya sudah terbiasa., Tterlebih lagi, setelah anak – anak menghilang begitu lama, saat ini, idirinya sungguh sangat ingin merasakan kenyamanan ketika mendekap kedua anaknya untuk terlelaptidur didalam pelukkannya.


Lexi memandangi Lexa, begitu pula dengan Lexa yang melakukan hal yang sama. Lexa kemudian mengerjap – ngerjapkan matanya, berkata ujar


“Mami, aku hanya ingin tidur bersama Lexi disatu kasur, kami tidak ingin tidur bersamamu.”


Teman – teman di taman kanak – kanak mengatakan, dikondisi yang normal, daddy dan mami akan tidur didalam kamar yang sama, dikasur yang sama, dan juga, dulu ketika mereka tinggal di villa kedua orangtua mereka juga melakukan hal yang sama. Maka dari itu, jika memang mami dan daddy sudah berbaikan, tentu saja mereka harus tidur bersama disatu ranjang yang sama, jika mami tidur bersama mereka, maka itu artinya…


Lexa mulai tidak berani memikirkan hal tersebut lebih lanjut.


Sedangkan Wendy, wanita itu kehilangan senyumannya, dan berujar


“Dulu, ketika mami tinggal disini, mami selalu tidur dikamar ini.”


“Bagaimana dengan daddy ? ”


Lexi bertanya tanpa berbasa – basi. Meskipun sudah mengantuk, tetapi logika kecilnya masih berkerja dengan begitu jelas.


Michael lantas menjulurkan tangannya, meraih pinggang Wendy, dan berkataujar


“Mami khawatir kalian akan takut jika tidur sendiri, karena suara petasan masih begitu nyaring. Jika kalian tidak takut, maka, serahkan mami kalian kepada daddy.”


“Tidak takut, tidak takut, kami tidak takut sedikit pun. Mami, mami tidurlah bersama daddy.”


Kedua anak itu langsungtas mendorong Wendy hingga tubuhnya semakin mendekat pada Michael. Kedua putrinya ini sungguh berniat untuk menjualnya pada Michael, benar – benar ikatan batin antara anak dan ayah, dirinya sungguh dikalahkan olehdengan sikap kedua anak itu.


Sudahlah, di tahun yang baru ini, dia hanya berharap anak – anak bahagia.


“Cepat pergi mandi, lalu tidur.”


“Selamat malam mami.”


Bocah – bocah itu lantas pergi berberes diri sendiri., Ssedangkan Wendy, dia sudah memakai apron, bersiap untuk membereskan kekacauan yang terjadi di dapur.

__ADS_1


__ADS_2