DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU

DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU
Bab 132 Tidak Mereporkan


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Dengan secepat kilat, Lexi berlari kearah Michael, dan ketika dirinya berada tepat dihadapan pria itu, dia lantas memengangi ujung gaunnya, menjinjitkan kakinya, dan berputar 360 derajat. Sudah lama sekali dia tidak mengenakan gaun secantik ini, dan saat ini, suasana hatinya sungguh senang sekali.


“Daddy, bagus tidak ? ”


Hello! Im an artic!


“Bagus, pas sekali ditubuhmu.”


Syukurlah idirinya masih menyimpan baju Lexi dan Lexa di villa, dia takut misalnya tiba – tiba saja dia menemukan anak – anak, tetapi mereka malah tidak memiliki pakaian ganti. Maka dari itu, dia selalu membelikan anak – anak baju disetiap pergantian musim, ukurannya pun dibeli berdasarkan perkiraan baju anak – anak sebelumnya , dan dia sungguh tidak menyangkaa, pakaian – pakaian itu akan pas sekali ditubuh mereka.


“Punya mami juga bagus, daddy, kami mau keluar, daddy ikut tidak ? ”


“Aku akan menjadi supir, hanya bertugas untuk berkendara.”


Hello! Im an artic!


Michael tersenyum, kehangatan tergambar jelas diwajahnya, membuat orang lain bahkan tidak enak hati untuk sekedar menolak, apalagi dihadapan Lexi dan Lexa.


Wendy sungguh belum pernah bertemu dengan orang searogan pria itu, bahkan jika pria itu menjadi supir pun, dirinyirinya yang tidak akan bersedia.


“Lexi, kemari, kita pergi mengunjungi ayah angkat, tidak perlu merepotkan daddy lagi, dia masih sibuk, dia juga memiliki pekerjaan yang harus diurusnya.”


Masih ada Maria, idirinya tahu, pria itu bisa melupakan siapapun, tapi tidak dengan sosok Maria.


Michael lantas menengadahkan kepalanya, melirik wanita itu sejenak, seolah – olah sedang berkata ‘ masih cemburu ? ’


“Tidak merepotkan, aku juga tidak sibuk hari ini. Aku sudah mengganti jadwal kencanku, maka dari itu, Lexi dan Lexa, biarkan daddy mengantar kalian pergi bermain, boleh tidak ? ”


“Boleh, boleh, mami, biarkan daddy yang mengantar kita saja.”


Lexa dan Lexi bersama – sama memohon sembari mengayunkan – ayunkan tangannya.


Michael sungguh sangat pandai mencari bala bantuan. S, setelah berpikir sejenak, Wendy lantas berkata ujar


“Karena hanya menjadi supir, kamu hanya bertugas untuk berkendara, tidak boleh menganggu kami makan dan jalan – jalan.”


Ini adalah toleransikonsensi ter paling besar yang bisa diberikannya., Aawalnya, dia tidak berniat untuk membiarkan pria itu mengikuti mereka, dia sungguh akan pergi menemui Marcel, mereka sudah berjanji untuk makan bersama.


“OK.”


Michael lantas membuat pose OK dengan jemarinya, kemudian membawa anak – anak keluar setelahnya.


Sesampainya di ruang keluarga, Michael mengambil sehelai jaket, dan meletakkannya diatas lengannya. Disaat Wendy melihat kearah tersebut, dia mendapati bahwa jaket yang diambil pria itu adalah jaket berwarna ungu tua. Dia kemudian lantas menundukkan kepalanya, memandangi jaket yang dikenakannya, dan baru saja dia akanhendak mengutaran suaranya, pria itu sudah terlebih dahulu menggandeng tangan anak – anak, melangkah keluar dari pintu kamar, membuatnya mau tak mau, harus mengikuti langkah kaki mereka. IDirinya tentu saja tidak bisa meluapkan emosinya dihadapan anak – anak, tetapi, kenapa pria itu harus memakai jaket berwarna sama dengannya ?


Meskipun yang satunya berwarna tua, dan satunya lagi berwarna muda, tetapi, keduanya sama – sama berwarna ungu, dan sekilas pandang…


Tiba – tiba saja idirinya teringat, jaket yang dikenakannya saat ini adalah pilihan dipilihkan oleh pria itu.


Hanya saja, mereka sudah berada diluar sekarang. L, lagipula, dia juga tidak memiliki pakaian lain untuk diganti. Michael hanya memberikannya jaket ini, dan juga kaus beludru turtleneck berwarna emas yang digunakan sebagai dalaman. Meskipun baju itu terasa sangat hangat, dan bisa dikenakan ketika sedang makan, tetapi dicuaca seperti ini, sudah pasti baju ini tidak bisa digunakan sebagai luaran.


Sesampainya dimobil, Wendy sengaja mendudukkan dirinya dikursi belakang. , Ssedangkan Michael, pria itu tidak menyuarakan protesan, memperlihatkan sikap baik yang sangat jarang diperlihatkannya itu. Dan ketika mobil sudah melaju, pria itu bertanya


“Mau kemana ? ”


Wendy melihat sejenak jam yang digunakannya, dan mendapati bahwa waktu janjiannya sudah hampir tiba, idirinya berjanji untuk bertemu dan makan bersama Marcel di Daring Duck Restaurant . Hal ini merupakan kebiasaan penduduk Kota T, dihari pertama tahun baru, mereka pasti akan bangun pagi, dan pergi menyantap makanan mewah.


“Daring Duck Restaurant .”

__ADS_1


“He, Wendy, kurasa seharusnya kamu pergi ke tempat lain.”, ujar Michael sembari mengendarai mobilnya.


“Kenapa ? ”


“Karena, masakkan makan malam tahun baru yang disantap kamu, Lexi dan Lexa semalam, adalah masakkan Daring Duck Restaurant . Karena kalian sudah menyicipi makanannya semalam, kusarankan lebih baik kalian menyicipi makanan restoran lain. Aku tahu satu Resort yang makanannya tidaklah buruk, bagaimana jika kau menghubungi Tuan Bai dan mengajaknya pindah kesana ? ”


“Tidak perlu, makanan yang dimakan Marcel kemarin bukanlah masakkan Daring Duck Restaurant , dan juga ini adalah tempat yang sudah dipilihnya.”


Wendy sengaja mengatakan bahwa restoran itu adalah restoran pilihan yang dipilih Marcel. Meskipun semua ini adalah kebetulan, tetapi hal ini bisa membuat orang menjadi lebih bijaksana. Kali ini, dia sudah memutuskan untuk menjadi sosok wanita yang tidak akan melihat kebelakang, apapun yang terjadi, dia tidak akan melangkah mundur hanya karena arogansi pria itu. Hanya dengan melihat pria itu saja, dia sudah merasa sangat kesal, dan dia tidak akan melupakan bagaimana pria itu memperlakukannya dulu.


Terlalu lama menjadi sosok pengganti, diri kita sungguh akan dibuat muak. Dia adalah manusia, seorang wanita, dia tidak ingin menjadi sosok pengganti wanita lain.


Michael tidak lagi mengatakan apa – apa sesudahnya, dan mobilnya pun dikendarai dengan kecepatan konstan, menuju Daring Duck Restaurant . Restoran itu adalah restoran yang sangat terkenal di Kota T, masakkan disana terasa kental sekali akan rasa kekeluargaan. Dihari – hari biasa saja, restoran ini selalu dipenuhi dengan orang – orang, apalagi dihari pertama tahun baru Imlek seperti ini, banyak sekali orang – orang berpengaruh yang memutuskan untuk menyantap masakkan restoran tersebut.


Sesampainya ditempat itu, dan ketika mobil baru saja terhenti, Wendy sudah menggandeng tangan Lexi dan Lexa untuk menuruni mobil. Sedangkan Michael, pria itu lantas beralih memarkirkan mobilnya, memandang telak ketiga ibu dan anak itu melangkah masuk kedalam Daring Duck Restaurant . Dari kaca spion mobil, bisa dilihat bahwa Wendy sedang memengangi ponselnya, berjalan sembari menghubungi seseorang, dengan diikuti dua orang bocah cilik yang terlihat seperti malaikat kecil, yang sangat menarik perhatian orang – orang disana.


Michael terduduk diam didalam mobil, wanita itu tidak mengijinkannya untuk mengikuti mereka, maka, yang bisa dilakukannya hanyalah duduk dan menunggu didalam mobil. Mereka asik menyicipi makanan disana, sedangkan dan dirinya asik melihati mereka dari sini. Tidak benar, dia juga membawa roti, dihari pertama tahun baru ini, Wendy membawa anak – anak berpesta, dan dia hanya menyantap roti didalam mobil.


“Marcel, aku sudah sampai, tepat didepan pintu restoran.”, ujar Wendy ditelepon, setelah melihat – lihat sekitar dan tidak mendapati sosok Marcel.


“Diam disana dan tunggu aku, aku akan segera menjemput kalian.”


Marcel berujar sembari melangkah kearah pintu masuk restoran, dan ternyata dia sungguh mendapati Wendy dan anak – anak disana. Dengan begitu riangnya dia bergegas menghampiri mereka, mereka sungguh sudah tidak bertemu untuk waktu sangat yang lama. Wanita itu masih sama seperti dirinya yang dulu, terlihat begitu cantik dan sangat mempesona, bahkan setelah mengenakan jaket kebesaran itu pun, lekuk tubuh indah wanita itu masih tidak tertutupi.


“Wendy, aku disini.”, dirinya lantas berjalan sembari melambaikan tangannya, dan akhirnya, Wendy dapat melihat sosok dirinya.


“Papa angkat…”


“Mama angkat…”


Lexi dan Lexa memanggil diwaktu bersamaan, hanya saja, panggilan yang diucap keduanya jelas terdengar berbeda.


Yang satunya memanggil papa angkat, yang satu memanggil mama angkat.


“Mami, coba lihat, mama angkat sedang melihat kita.”


Mengikuti arah tunjuk Lexi, Wendy lantas mendapati sosok Maria. Benar, itu adalah wanita itu. , Ssaat ini, Maria sedang duduk disalah satu meja direstoran ini, dan sedang memandang kearah mereka. Senyuman penuh kebaikan yang sarat akan kasih sayang terukir diwajahnya, mungkin saja wanita itu sangat menyukai Lexi dan Lexa, dan wanita itu juga sudah melihat dirinya.


Disaat seperti ini, jika mereka sama sekali tidak pergi memberikan sapaan, maka hal itu sungguh akan terlihat tidak baik. Maka dari itu, Wendy berkataujar pada Marcel


“Marcel, aku melihat salah satu temanku, aku akan membawa anak – anak untuk pergi menyapa mereka terlebih dahulu, kamu duduk dimana ? Nanti aku akan pergi mencarimu.”


“Oh, di aula, aku memesan hotpot, dan semua sajian hotpot di Daring Duck Restaurant terdapat di aula. Aku rasa hotpot memiliki cita rasa tahun baru, dan juga kita masih bisa memesan sayuran lain, , sayuran dan hotpot juga bisa dimakan bersama. Sekali mendayung, dua pulau terlampaui, maka dari itu, aku langsung memilih untuk memakan hotpot di aula. Wendy, kamu tidak keberatan, kan ? ”


Setelah sekian lama tidak bertemu dengan Marcel, pria itu sunggu berubah menjadi sosok yang sangat pandai berbicara.


“Baiklah, kamu pesan saja, aku akan kembali sebentar lagi.”


Ketika Wendy melontarkan kalimat tersebut, disaat bersamaan pula, atensi matanya menangkap sosok Kevin, Dian, Raina, Reinson, dan juga sesosok anak laki – laki yang belum pernah dijumpainya sebelumnya, yang seharusnya adalah Rere.


Sungguh tak disangka, Dian akan mengumpulkan seluruh keluarganya untuk makan bersama ditempat ini. H, hanya saja, bukankah wanita itu lupa untuk menghubungi seseorang lainnya ?


Michael Ling., Llantas, apa pria itu bukanlah anaknya ?


Memikirkan hal ini, tiba – tiba saja sebongkah amarah tersulit didalam lubuk hatinya. Sosok ibu seperti ini, sungguh tidak ada bedanya dengan tidak memiliki ibu. Hal ini tiba – tiba saja membuat dirinya merasa iba pada Michael, apalagi, ketika dia teringat akan pria itu yang sedang menunggu seorang diri didalam mobil, dirinya sungguh menjadi tidak tahan. Jika orang yang sudah mengajaknya makan saat ini bukanlah Marcel, ingin rasanya dia mengajak Michael bersama dengannya dan anak – anak, untuk menunjukkan pada Dian, bahwasanya, Michael juga memiliki keluarga.


“Selamat tahun baru mama angkat, selamat tahun baru nenek.”


Lexi mengucapkan salamnya terlebih dahulu, tetapi, setelah mengucapkan salam kepada dua sosok itu, anak itu terdiam ketika mendapati Kevin dan juga Raina, mereka dirinya sungguh tidak kenal dengan kedua orang itu.

__ADS_1


“Lexi, ini adalah paman keduaku, dan ini adalah mamiku.”


Reinson lantas berdiri, dan memperkenalkan kedua orang itu dengan sombongnya, kemudian beralih mengucapkan salam pada Wendy


“Tante Zhong, selamat tahun baru.”


“Selamat tahun baru paman, selamat tahun baru tante.”


Lexa juga mengucapkan salamnya, tidak kalah dari Reinson.


Baru saja Wendy hendak berujar, Maria sudah terlebih dahulu melambai – lambaikan tangannya pada Lexi dan Lexa, berkata


“Kemari, biarkan mama angkat melihat kalian, lagi – lagi kalian bertambah tinggi, ya.”


“Tante, apakah tante sudah akan melahirkan ? ”


Begitu mendapati perut buncit Maria, Lexi dan Lexa segera mendekatkan diri untuk melihat dengan penuh rasa penasaran. Hanya saja, keduanya tidak berani berdiri terlalu dekat ataupun menyentuh Maria, takut bahwasanya mereka tidak sengaja menyentuh perutnya, dan akan membuat adik kecil kesakitan.


“Ehm, sebentar lagi.”


Lexi lantas menggerjap – ngerjapkan matanya, berujar


“Apakah dia seorang adik laki – laki, atau adik perempuan ? ”


“Lexi…”


Wendy mulai menyuarakan suaranya. Didepan hadapan begitu banyaknya orang dewasa, anak kecil sungguh tidak sepatutnya berujar terlalu banyak, entah itu anak laki – laki ataupun anak perempuan, itu bukanlah merupakan urusan mereka.


“Hehhehe, seharusnya anak laki – laki, ya. Dengan begitu, lengkap sudah anak laki – laki dan perempuan.”


Tepat disaat Wendy sedang memotong ucapan Lexi, tiba – tiba saja sosok Kevin, yang sedang terduduk disebelah Maria berkataujar dengan santainya.


Ucapan yang terdengar begitu santai dan tak berarti itu, malah berhasil merubah raut wajah Maria. Semua orang di meja ini mengerti, ada maksud tersembunyi dibalik ucapan Kevin barusan, hanya saja, anak – anak tidak menangkap apa arti dibalik ucapan tersebut, mereka sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Kevin.


“Paman, apa adik bayi ini adalah kembar cowok cewek ? ”


Dengan sangat cepat, Lexa dapat mengartikan kemungkinan ucapan Kevin, hanya saja dia mengartikannya menjadi suatu hal yang sangat berbeda maksudnya.


“Hahahha, aku sempat berpikir begitu. H, hanya saja, perut mama angkatmu ini hanya mengandung satu bayi. Adik kecil, siapa namamu ? ”


“Lexa.”, Lexa menjawab sembari tersenyum , dan berkataujar lagi kembali


“Paman, paman sangat mirip dengan daddyku.”


“Ehm, maka dari itu, anak ini akan mirip denganku setelah lahir nanti.”


Lagi – lagi pria itu melontarkan sebuah kalimat yang terdengar sangat santai, tetapi juga dapat membuat orang lain salah paham.


Ditahun baru seperti ini, Wendy sungguh tidak mengira Kevin akan mengucapkan kalimat seperti itu. Dihadapan begitu banyak orang, Maria juga tidak bisa mengelak ucapan pria itu, bahkan senyuman kecil pun masih saja terukir diwajah menawannya itu. Perutnya membesar karena kehamilannya, tetapi itu sama sekali tidak mempengaruhi kecantikan wanita itu, setiap pergerakkannya, dapat menarik simpati dari orang lain, wanita itu sungguh sangat cantik.


Entah bagaimana pun itu, wanita itu tetap bukanlah wanita yang beruntung.


Menikah dengan sosok yang tidak dicintainya adalah sebuah ketidak beruntungan, dan Wendy sungguh tidak tahan melihat semua itu.


“Lexi, Lexa, ayo pergi, jangan biarkan papa angkat menunggu lebih lama lagi.”


Tetapi, tepat ketika Lexi dan Lexa akan berlalu mengikuti Wendy, Dian tiba – tiba saja berkata ujar


“Tunggu sebentar, nenek mau memberikan kalian amplop merah loh. Sini, masing – masing satu untuk kalian.”

__ADS_1


Dian lantas meletakkan satu amplop merah ditangan Lexi dan Lexa, kemudian berkata erujar kembali


“Sudah semakin tinggi, dan juga semakin cantik. Jika sudah besar nanti, , setelah besar nanti, kalian pasti akan lebih cantik dari mami kalian. Dimana daddy ? Kenapa tidak datang bersama kalian ? ”


__ADS_2