
Hello! Im an artic!
“Mami…” Lexi dan Lexa sedikit tidak mengerti apa yang terjadi, mereka menatap ke arah mami, berharap alangkah baiknya jika sosok laki-laki yang ia gandeng itu adalah daddy, mereka ingin mami dan daddy bersama.
“Ok, kalau kalian tidak juga pergi maka jangan mengakuiku sebagai ibumu selamanya, Marcell, kita pergi. “Dia bertaruh, bertaruh terhadap hubungannya dan anak-anak yang dibangun selama lebih dari 5 tahun, itu bukan waktu yang singkat, melainkan kasih sayang yang dalam dan nyata antara seorang ibu dan anaknya.
Hello! Im an artic!
Benar saja, Dia menggandeng tangan Marcell Bai dan baru berjalan dua langkah, Lexi dan Lexa pun mengejarnya, “Mami, kami ikut denganmu.” Berkata sambil memandang Michael Ling, apa daya, Mamilah dunia mereka, walaupun daddy ini adalah ayah mereka, tapi ia muncul lebih lambat dari mami, mami yang paling baik, lalu… adalah…
Lalu sepertinya bukan daddy, tapi ayah angkat, daddy baru saja mengenal mereka dua hari, tapi ayah angkat mengenal mereka sejak kecil.
Ayah angkat memang baik, lebih baik dari daddy.
Ayok jalan.
Hello! Im an artic!
Sudah memutuskan, tapi langkah mereka diiringi sesekali tengokan kebelakang menatap Michael Ling.
Mereka berdua tidak rela.
Ibarat darah lebih kental dibandingkan air.
“Mami, aku ingin daddy.” Melihat Michael Ling yang berdiri sendiri disana, Lexi merasa mami sungguh tega, dengan begitu saja membiarkan daddy di dalam mall dan tidak menghiraukannya, daddy sungguh malang, ia masih terluka.
“Kalau begitu kamu pergi saja sendiri sana, pergi ke tempat daddy dan jangan cari mami lagi.”
Membulatkan tekad, berusaha tegar, hanya ini yang bias ia lakukan, kalau tidak, bagaimana lagi?
Pembayaran ternyata di lunasi oleh Michael Ling, para karyawan yang menenteng banyak kantongpun tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apa harus mengejar dan memberikannya pada Wendy Zhong, atau memberikan barang-barang ini pada pria yang baru saja membayar?
Apa yang terjadi hari ini sangatlah aneh, apalagi sekarang sekujur tubuh pria ini seperti akan menyemburkan api, membuat mereka kalang kabut, tidak ada satu orangpun yang berani bertanya.
Cukup lama, sang managerpun tak tahan lagi, “Bapak, baju-baju ini mau…”
Michael Ling mengeluarkan kartu nama dari dompetnya “antarkan sesuai alamat ini.”
Manager itu merasa terbebaskan, menyambut dengan sigapnya “Terimakasih, pak.” Michael Ling dengan mata kosong menatap sosok pria dan wanita yang berjalan keluar dari mall, kedua sosok itu menyatu membuatnya bagikan tertusuk jarum begitu sakit, Wendy Zhong dan Marcell Bai benar-benar serasi.
Ponsel berdering, Dia melihat tampak belakang kedua sosok itu lalu mengangkat ponsel, “Agus, ada apa?”
“Pak direktur, mereka sudah keluar, kita bergerak sekarang?
Perkataan Agus tidak berhenti melayang di telinganya, Michael Ling mengingat kembali ucapan dan perkataan Wendy Zhong barusan, bahwa tidak ada lagi kepercayaan terhadapnya.
Apa karena Wenda?
Jika benar, Apa berarti perempuan itu sedang cemburu?
Tapi saat ia membela Marcell Bai, benar-benar membuatnya emosi.
“Pak mereka segera naik ke mobil…” Agus mengingatkannya, kalau tidak bertindak sekarang. Takutnya ketika mereka masuk ke mobil, semua sudah terlambat.
__ADS_1
“Michael Ling, kamu jangan keterlaluan.”
“Kamu tak tahu malu.”
Ucapan Wendy Zhong mulai melayang di telinganya, hanya untuk mendapatkan seorang perempuan saja, tidak perlu menggunakan cara yang mengerikan, jika dilakukan, berarti ia sama sekali tidak yakin pada dirinya sendiri, tatapannya tetap mendarat pada Wendy Zhong dan Marcell Bai, Michael Ling akhirnya buka suara : “Biarkan mereka pergi.”
“Baik, pak.” Agus menerima perintah, akhirnya bernafas legah, kalau tidak ketika perang antara wartawan dan Marcell Bai serta Wendy Zhong terjadi ia tidak bisa mengontrol situasi, takutnya, jika benar-benar melukai Wendy Zhong, dia melihat pak direktur sepertinya masih menyimpan rasa pada Wendy Zhong.
Namun ia tak dapat menebak dengan pasti isi hati dan pikiran sang bos, sepertinya ada pada diri Wenda, tapi juga ada pada Wendy Zhong.
Meskipun tatapan bapak direktur terhadap Wenda tidak seperti biasanya, tapi, tidak ada harapan bagi mereka, perempuan milik adiknya, dia juga pastinya tidak ingin merusak nama baik Wenda , dua hari ini gosip antara dia dan istri adiknya beredar luas di kota T, jika terus berlanjut, takutnya akan berimbas pada bisnis keluarga Ling.
Pak direktur, pasti tahu mana yang terbaik untuknya.
Michael Ling mengambil sebatang rokok, berjalan terpincang-pincang ke arah jendela mall dan menyalakannya, dia yang seperti itu jika digantikan pria lain pasti akan membuat orang lain merasa iba, tapi melihatnya, siapapun tidak akan iba, walaupun sulit berjalan, cara berjalan dan caranya merokok bagikan seorang raja, tidak ada yang berani meremehkannya.
Dilarang merokok di dalam mall, tapi tidak ada yang berani melarang tamu eksekutif ini, pesanan besar barusan adalah pembayaran terbesar dalam minggu ini di departemen baju anak.
“Mami, baju-baju itu? Kita tidak mau lagi?” Lexa menarik ujung baju Wendy Zhong, sedikit tidak mengerti apa yang terjadi pada orang dewasa.
“Lexa, besok kita beli lagi di tempat lain, beli yang lebih cantik lagi, ok?” Marcell Bai mengendarai mobil sambil berkata, tidak ada yang dapat di tutupi dari kedua anak ini, karena mereka besar di keluarga yang tidak utuh, lebih sensitif.
“Emm…baik lah.” Jawaban yang terpaksa, sedikit tidak senang, karena mami tidak mau bersama daddy, seketika, suasana mobil hening, tidak ada yang bersuara, dua anak kecil itu duduk berdempetan, lalu menatap kearah luar jendela mobil, seperti ada sesuatu yang membebani.
Wendy Zhong tidak peduli, terserah mereka, ada beberapa hal yang tidak sehatusnya di jelaskan dengan cepat, biarkan mereka tenang dahulu,nanti baru dijelaskan, cara ini lebih efektif.
Pada saat makan siang Lexi dan Lexa tidak begitu banyak bicara padanya, terlihat tidak senang, ada kalanya kedua kaka beradik itu mendekatkan kepala, berbisik-bisik membicarakan sesuatu.
Mengerutkan dahi, dia seakan ingin masuk ke isi kepala mereka melihat apa yang terjadi sebenarnya, tapi, dia tidak bisa melakukannya.
Tadinya mengira mereka akan bersorak riang, tapi ternyata tidak, Lexi menggoyangkan tangan Wendy, “Mami, apa boleh tidak pergi?”
“Kenapa tidak pergi? Bukannya kalian suka pergi ke taman bermain?”
“Sekarang tidak lagi.”
“Tidak mungkin, Lexa, Lexi apa ada masalah dengan mami?” semakin aneh, membuatnya ingin memukul mereka, anak kecil sudah bisa berontak, tidak bisa dibiarkan.
“Tidak.”
“Masih bilang tidak, lihat itu bibir kalian menyeringai dengan tingginya”
“Mami, kami sama sekali tidak ada masalah denganmu, hanya saja daddy, dia sedang terluka dan tidak ada yang merawatnya, kami tidak tenang, jadi tidak ada rasa ingin pergi bermain.
“Tidak bisa, sudah membuat janji dengan tante Lou, dia ingin bertemu kalian, dia sangat menyukai kalian berdua loh.”
“Kami tidak mengenal tante Lou, kami tidak suka orang asing.”
“Tante Lou adalah teman daddy, bagaimana bisa disebut orang asing.”
“Benarkah teman daddy?” Mata Lexa dan Lexi serentak berbinar, bertanya dengan penuh semangat.
“Tentu saja, mami tidak pernah berbohong.”
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu, kita pergi.” Akhrinya berhasil, walau bukan karena bujukannya, tapi karena dapat bertemu dengan teman Michael Ling, logika kedua anak ini benar-benar tidak dapat ia mengerti.
Masih dengan Marcell Bai yang mengantar mereka ke taman bermain, tidak tahu apa yang terjadi semalam, Michael Ling laki-laki itu baru saja keluar dari kantor polisi berhasil menemuinya, ini yang dinamakan kecepatan kilat.
Semakin dipikir semakin bingung, jangan-jangan dia mengutus orang untuk memata-matai keluarga Bai?
Baru saja turun dari mobil, terlihat Lilia Lou yang sudah menunggu didepan taman bermain, Wendy belom sempat memanggil, Lilia Lou sudah datang menghampiri,berjalan sambil melihat ke arah Lexi dan Lexa, “Wendy, mereka berdua adalah anakmu?Mirip sekali.”
“Hehe, Iya.”
Lilia Lou melangkah tepat persis di hadapan Lexa dan Lexi “Boleh tante tahu , siapa nama kalian?”
“Tante cantik sekali, namaku Lexa.”
“Namaku Lexi.”
Dua anak itu terlihat santai tidak terlihat canggung bertemu orang asing.
“Tante tidak cantik, yang cantik itu kalian, benar-benar cantik seperti boneka.”
Lexi menutup mulutnya tertawa cekikikan.
“Lexi, mengapa tertawa?”
“Aku rasa tante yang mirip boneka, tante, tentara di belakangmu itu pacarmu ya?”
“Ha? Apa? ” Lilia Lou segera menoleh ke belakang, Tak tahu sejak kapan datang Rendy, dan masih memakai serangam tentaranya, “Rendy, kamu ngapain kesini?”
“Menangkapmu, sekalian melihat dua anak Wendy, cantik sekali, kamu kapan nih lahirin anak secantik ini juga buat aku.”
“Ngarep kamu.” Lilia memukul dada Rendy, “katanya komandan pasukan, sedikitpun tidak terlihat seperti tentara.”
“Lagian bukan di bala pasukan, berarti aku bukan seorang komandan, melaikan orang biasa.”
“Paman, sepertinya salah, anda masih memakai seragam tentara loh.”
“Hei, gadis kecil, kamu jangan membantu tante ini ya, dia adalah istriku, bisa-bisanya kabur.”
“Lexa mengedip-ngedpikan matanya, “Aku tidak peduli siapa, pokoknya, anda sekarang mengenakan seragam tentara, seorang paman tentara bukan seperti ini, harus tegas, harus terlihat disiplin.”
“Apa maksudnya ini? Rendy terlihat girang, “Benarkah, Lexa.”
“Ya, aku adalah Lexa, paman tentara ingatan anda cukup bagus.”
“Baru mendapat pujian dari Lexa, Rendy langsung besar kepala, “Pastinya, Paman memang selalu cepat mengingat seuatu , apalagi istriku satu ini, satu kali pandangan langsung jatuh hati.”
“Rendy, tolong kurangi bicaramu.”
“Anak-anak sedang bicara padaku, tidak menjawab berarti tidak sopan, tidak menghormati seragam yang kukenakan, betul tidak? Lexa si gadis kecil.”
“Harusnya betul, tapi paman tentara, tante sepertinya tidak senang dengan kehadiranmu, apa anda pernah menggertaknya?”
Rendy tidak tahan lagi berjalan menghampiri Lexa, langsung menggendong dan berbisik di telingannya : “jangan berbicara seperti itu.”
__ADS_1
“Paman anda angkuh sekali, mengapa melarangku berbicara?”