
Hello! Im an artic!
“Direktur menyuruhnya pulang duluan.” Kaget. Itu yang dirasakannya, dia tidak mengerti atas dasar apa Michael menyuruh-nyuruh Marcell, dan Marcell tampak ‘patuh’ kali ini, ini aneh,
“Dimana dia? Kenapa tidak datang? Anak-anak sedang demam.” Dengan sengajanya menbesarkan volume suara saat menyebut kata “demam”, jelas kali memiliki maksud tertentu.
Hello! Im an artic!
“Direktur sangat sibuk, tidak bisa pergi, dia sedang ke luar kota sekarang.” Ujar Agus tanpa mengubah raut mukanya.
Wendy mendaratkan pandangannya ke Bibi Zhang, Bibi Zhang menundukkan kepalanya, takut jika Wendy membocorkan kalau ia yang memberitahu bahwa Michael terluka.
Hello! Im an artic!
“Ya, ya, walaupun tidak bisa datang, setidaknya dia bisa menghubungiku.”
“Nyonya, direktur benar-benar sibuk.” “Apa dia sibuk hingga tidak sempat makan dan tidur? Kalau iya, aku tidak mempermasalahkannya, tapi kalau tidak, dia bisa mengurangi waktu satu menit dari tidur atau makannya untuk meneleponku.” Tersenyum hambar, kalau bukan karena sakit dan harus menjaga Lexi dan Lexa, ia ingin sekali mencari keberadaan Michael ke segala tempat, ia sudah membenci pria itu hingga ke tulang-tulang.
“Nyonya, bagaimana jika saya menelepon untuk bertanya kepada direktur, agar menelepon nyonya jika ada waktu.” Saran Agus dengan lirih, nada suaranya terkandung sedikit kegelisahan, sebenarnya, ia baru pertama kali melihat Wendy yang seperti ini, walau sedang sakit, namun amarah yang tersorot di matanya terlihat jelas, begitu jelas hingga ia menemukan suatu ketidakwajaran, Wendy Zhong, dia sepertinya tahu sesuatu.
Namun apa yang lebih tepatnya diketahui oleh Wendy, Agus tidak tahu.
“Tidak usah, aku tidak butuh.”
Dia hanya ingin melewati waktu 6 bulan dengan cepat, agar ia bisa melepaskan ini semua, tidak peduli dengan status anak-anaknya, asalkan mereka selalu bersama, 6 bulan kemudian, ia tetap akan membawa pergi anak-anak, karena anak-anak mencintainya, tidak bisa berjauhan dengannya, hingga saat nanti, ia dan Michael sudah tidak ada hubungan lagi.
Nada bicara yang begitu dingin, Agus dan Zhang Ma pun turut merasakannya. Zhang Ma menggerak-gerakkan kepalanya pada Agus, menyuruh Agus untuk keluar, dia rasa Wendy harus mengetahui tentang Michael yang terluka, kalau tidak kesalahpaham antar mereka berdua akan semakin besar, dia suka melihat keluarga kecil mereka yang bahagia, sehingga ia memutuskan untuk berbincang dengan Agus untuk mendapatkan keputusan terbaik.
“Gus, saya rasa seharusnya Nyonya diberitahu kalau direktur terluka, aku pikir, bagaimana jika…”
“Tidak boleh, direktur sudah berpesan kalau hal ini tidak boleh disebarkan.” Merasa bersalah, tidak ada yang lebih mengerti perasaan itu selain Agus sekarang.
“Ah, baiklah kalau begitu.” Dia sedikit tidak rela, tetapi dia tidak akan menang jika berdebat dengan Agus, hanya bisa menurutinya.
*
Setelah diinfus, demam anak-anak akhirnya turun, Wendy merasa lebih lega sekarang, hanya saja belum bisa pulang lebih cepat, jika saja demamnya kembali dan panas tinggi itu tidak bisa disepelekan, seandainya terkena radang paru-paru, ia akan menyesal seumur hidupnya.
__ADS_1
Hingga terpaksa, Wendy tetap menemani anak-anak di rumah sakit, Zhang Ma membawa bubur kemari, rasanya hambar, di saat flu seperti ini memang seharusnya mengonsumsi makanan yang cenderung hambar, tapi mau dimakan bagaimanapun tetap saja tidak enak, anak-anak pun hanya makan beberapa suap dan menolak untuk menghabiskannya, mungkin karena sakit, mengakibatkan indra perasa menjadi lebih pahit dari biasanya.
Tapi anak-anak tidak pura-pura sakit, sekali panasnya turun langsung semangat seperti biasa lagi.
“Paman Agus, di mana Daddy? Kami sangat rindu pada Daddy.”
Agus dengan perasaan serba salah yang menyelimutinya, memandang sekilas ke arah Wendy, lalu berujar dengan lembut, “Daddy sekarang tidak bisa menelepon kalian, tapi dia pasti akan mencari cara.”
Siang harinya, Sunarti datang membawa makanan kesukaan anak-anak, ada sup ayam juga. Melihat kedatangan Sunarti, anak-anak langsung melompat kegirangan, sama sekali tidak mirip seperti orang yang sedang sakit. Malah dirinya yang sulit untuk sembuh, tidak membaik sedikit pun.
Setelah makan siang, ia membujuk anak-anak untuk tidur sore, mungkin karena pengaruh obat yang terkandung dalam infus, Lexi dan Lexa tidur dengan cepat. Wendy sendiri tidak dapat tidur dengan nyaman, ia merasa ada seseorang yang mengamatinya dari tempat tersembunyi, ia terbangun tiba-tiba dalam diam, matanya bahkan belum terbuka, namun dia bisa merasakan ada yang aneh di depan tempat tidur. Terasa semilir napas yang berhembus.
Tapi di saat ia membuka matanya, tidak ada apa-apa di sana.
Ruangan rawat inap ini begitu tenang, anak-anak yang tidur dengan tenang, hanya ada Bibi Zhang yang sedang membolak-balikkan halaman koran yang dibacanya.
Ia mengira Michael masih ada sedikit hati nurani dan akan meneleponnya, sayangnya tidak, tidak ada satupun panggilan darinya.
Pikirannya penuh akan napas samar yang terasa akrab di sore tadi, jelas sekali itu Michael, tapi mengapa sekali ia membuka matanya, tidak ada sesiapapun?
Malam datang dengan cepat, bermalam di rumah sakit tidaklah nyaman, namun ruang inap mereka adalah ruang inap VIP, ditambah dengan tersedianya fasilitas yang lengkap seperti televisi dan pemanas, mirip seperti sebuah kamar kecil, tidak ada yang perlu direpotkan di sini, ada Sunarti yang mengantarkan nasi, Zhang Ma yang menghabiskan waktu luang di sini dengan bermain bersama anak-anak, ia sangat menyukai Lexi dan Lexa.
Tidak, dia pasti sedang bersama Maria sekarang, menggerakkan segala akalnya untuk membuat orang mengira ia cedera karena kecelakaan, padahal ia hanya ingin berduaan dengan Maria, hal ini dilakukannya agar tidak ada yang curiga.
Tapi, Tuhan melihat apa yang diperbuatnya, kalau tidak ingin orang tahu, kecuali jika kau tidak melakukannya.
Zhang Ma tidak tahu, bukan berarti Agus tidak tahu, bukan berarti dia dan MinMin juga tidak tahu.
Berbaring dengan pelan, pikirannya penuh akan percakapannya dengan Maria, dirinya tidak bisa tidur.
Tiba-tiba, hembusan napas yang terasa akrab itu muncul kembali, Wendy sedang terjaga kali ini, bukan lagi setengah sadar seperti sore tadi, tidak bersuara, hanya merasakan hembusan napas ini dalam diam,
Dari arah depan, terdengar langkah kaki yang begitu pelan, jika bukan karena sedang memasang telinga baik-baik, dirinya tidak dapat mendengarnya.
Seperti ada yang sedang membalikkan badannya, hembusan napas yang lembut menerpa wajah Wendy, matanya refleks terbuka, dengan spontan menggenggam erat tangan sosok pria yang membelakanginya.
Punggung itu… Napas itu.., jelas sekali Michael! “Bukankah kau terluka?” Tanyanya ketus, dia kemari hanya demi Maria, begitu pikirnya.
__ADS_1
Bahu sang pria merosot, berujar lelah tanpa membalikkan badannya, “Beristirahatlah jika sedang sakit, jangan mengkhawatirkan orang lain, jaga dirimu baik-baik itu yang terpenting.”
Nada bicara yang rendah, di telinga Wendy terdengar seperti mengatakan “Wendy Zhong, mati sajalah kau.”
Emosi dalam dirinya terasa meluap, “Michael Ling, berdasarkan status, kau itu suamiku, aku tidak mengkhawatirkan apakah kau terluka atau tidak, aku hanya ingin mendapatkan kehormatan yang seharusnya aku dapatkan.”
“Oh begitu? Jadi kau tidak benar-benar mempedulikanku?” Michael membalikkan tubuhnya, wajahnya terlihat lebih tirus dibandingkan saat pertemuan terakhir di pemakaman, namun perbedaannya tidak begitu jelas, tetapi Wendy sudah lama tidak bertatap muka dengannya, tentu saja menyadarinya.
Kau tidak terluka, untuk apa aku merisaukanmu.” Tidak henti-hentinya mengamati dari atas ke bawah “Kau pikir baik membohongi orang tua seperti Bibi Zhang hm?”
“Aku hanya melakukan yang seharusnya, Wendy Zhong, kurasa kau sudah terlalu jauh bertanya.”
“Kalau tidak terluka…berarti keluar kota seperti yang dibilang Agus ya.” Memandangnya sambil tersenyum, nada bicaranya terselip sindiran. Jika mengingat Michael yang bersama Maria, kekesalannya tidak bisa ditahan.”
“Hm, beberapa hari ini ada urusan. Sudahlah, aku ingin melihat anak-anak.” Responnya sembari berjalan ke arah tempat tidur Lexi dan Lexa.
Genggaman tangan pada lengan bajunya terlepas, membiarkannya melangkah ke arah tempat tidur anak-anak, seketika ia merasa dirinya keterlaluan tadi, dia yang salah, Michael dan Maria bersama jelas bukan urusannya, Michael sudah memperingatkannya dari awal agar tidak jatuh hati padanya. Lalu kenapa kalau mereka sudah ‘tidur bersama’? Entah ada berapa banyak wanita yang ditidurinya, menyebar kemana-mana. Beberapa saat yang lalu dirinya masih marah kepada Michael, namun sekarang, dia merasa tak berdaya, dia merasa dirinya akan gila sekarang, akan hancur sekarang juga, dia tidak gembira, tapi menjadikan tidak gembira sebagai alasan sungguhlah konyol.
Pandangan matanya bergerak mengikuti langkah kaki Michael, lalu berhenti di samping tempat tidur anak-anak bersamaan dengan berakhirnya langkah kaki Michael.
Michael menaikkan selimut anak-anak hingga sebatas leher, mengatur suhu ruangan menjadi lebih hangat, lalu duduk di kursi yang terletak di antara tempat tidur anak-anak, menoleh ke kiri, lalu menoleh ke kanan, mereka berdua adalah putrinya, putri kesayangannya, dia tidak ingin berat sebelah ke siapa pun.
Tingkahnya menarik perhatian Wendy, menurutnya itu lucu, anak-anak sudah tertidur, siapa yang akan sadar berapa banyak tolehan yang diberikan, apakah jumlah tolehan yang diberikan untuk keduanya sama atau tidak.
Dia duduk cukup lama di sana, cahaya malam menyoroti dirinya, memakan waktu yang lama menunggu dirinya agar bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan ke arah Wendy. Sepertinya dia belum menyadari Wendy telah mengetahui halnya dengan Maria, sehingga dirinya tidak merasakan ada yang berbeda dari Wendy. “Wendy, kulihat demam anak-anak juga sudah turun, kalau begitu, besok kau bawa anak-anak pulang saja, aku akan menyuruh Agus mencarikan suster untuk anak-anak, untuk beberapa hari ke depan infusnya di rumah saja.”
Tatapannya menggambarkan betapa bersungguh-sungguh dirinya, takut jika Wendy tidak menyetujuinya.
“Jangan, anak-anak sering demam tinggi, jika terlalu parah, takutnya beresiko mengalami radang paru-paru.” Jika bukan karena mengkhawatirkan hal ini, ia juga tidak ingin berlama-lama di rumah sakit, ia paling takut dengan rumah sakit.
“Tidak akan, aku membiarkan dokter membuka resep untuk cairan infus, infus di rumah pun sama saja.”
“Michael Ling, apa yang kau takutkan ha?” Dia aneh, nada bicaranya terdengar seperti takut terjadi sesuatu pada anak-anak jika terus berada di rumah sakit.
“Ada beberapa hal yang belum bisa aku ceritakan sekarang, aku pergi dulu, ingat kalau besok harus pulang dari rumah sakit, kau dengar itu?”
Betapa memerintahnya nada bicaranya itu, namun, kepalanya tetap tergerak untuk mengangguk, yang bermaksud bahwa dirinya mendengar, tapi tidak berarti ia menyetujuinya, semakin dia ingin dirinya pulang, semakin dirinya tidak ingin pulang, hal ini pasti berkaitan dengan Maria.
__ADS_1
Maksud tersembunyi itu sudah ditebak olehnya.