DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU

DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU
Bab 14 Dia Ingin Menggendong Cucu


__ADS_3

“Kakek akan segera datang, aku tidak ingin kakek terus mencemaskanku yang masih sendiri, dia ingin segera menggendong cucu”, Wendy mendengarkan penjelasan Michael, rupanya semua ini dilakukannya demi membahagiakan kakek, demi mewujudkan keinginan kakek segera memiliki cucu, demi hal itu dia tidak peduli dengan perasaannya sendiri.


“Turunkan aku di……”


“Kamu sudah menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan tawaranku, pesan yang kau tinggalkan itu sudah aku buang, Wendy, jangan nekat, kamu tidak pantas terus bekerja di Feng Chen.”


Wendy tahu itu, dia paham betul bahwa semua laki-laki yang datang ke tempat itu menganggap bahwa semua wanita yang bekerja di sana tidak hanya menjual senyuman semata, lebih dari itu, tapi Wendy ……


Tepat ketika otak Wendy sedang dipenuhi pikiran, entah sejak kapan tangan Michael yang tadinya tengah membelai lembut wajahnya itu sudah berpindah, membuka kedua belah bibirnya dan menciumnya lembut, barulah Wendy sadar entah sudah berapa lama mobil yang mereka kendarai berhenti, pemandangan di luar sudah tidak lagi bergerak, suasana hening.


Gerak bibir dan gigi Michael seakan mengajak bibirnya menari, ini bukan kali pertama dia mencium Wendy, tapi reaksi Wendy masih sama, ia gemetaran, ia dipenuhi emosi yang tak terlukiskan oleh kata-kata. Kalau ciuman dari Jacky tadi membuatnya merasa jijik, lain halnya dengan Michael, ciumannya membuat Wendy mengharap lebih, berharap cuman itu selangkah lebih jauh, seolah-olah dengan begitu ia baru bisa melupakan semua hal buruk yang telah terjadi padanya. Di tengah ciuman itu, tangan Wendy entah bergerak ke mana dan tak sengaja menyentuh apa, lalu suara sirene mobil polisi terdengar kencang di dalam dan luar mobil, Wendy membuka matanya terkejut, tak heran kenapa suara mobil polisi bisa dengan begitu cepat datang tadi, rupanya suara itu berasal dari mobil Michael.


“Menyebalkan”, Michael menangkap tangan Wendy sembari mematikan suara sirene polisi tersebut, ia menopang Wendy duduk di pangkuannya, lalu mengambil dua lembar kertas dan menyodorkannya pada Wendy, “Tanda tangani ini.”


Wendy menunduk mengamati apa yang tertulis di kertas itu, di lembar kertas pertama tertulis surat perjanjian nikah, di lembar satu lagi tertulis surat perceraian.


“Tidak usah khawatir, aku pasti akan mengembalikan kebebasanmu, aku tidak akan membelenggu hatimu”, Michael berbisik di telinga Wendy, suaranya menggoda dan membujuk Wendy untuk menandatangani dua lembar kertas itu.


Sebatang pena diletakkan di telapak tangan Wendy, pena itu terasa berat di tangannya, dalam hatinya ada suara yang mengatakan, tanda tangani saja, setelah tanda tangan kau terbebas dari beban hidupmu. Menurut isi surat perjanjian itu, Wendy paham bahwa nantinya dia tidak akan kekurangan pangan ataupun sandang, dia tidak perlu lagi bekerja keras seperti sekarang dan bisa hidup layaknya istri orang kaya. Hanya saja, saat sudah punya anak nanti, ia harus mengembalikan semuanya pada Michael. Michael melakukan semua ini demi membahagiakan kakeknya, sementara Wendy bisa bebas dari kesukaran hidupnya sekarang. Guncangan tangan Wendy tak kunjung berhenti, bagaimanapun ia mengeraskan hati, tangannya seperti tidak bisa ia kendalikan.


Handphone milik Wendy tiba-tiba berbunyi, Wendy buru-buru mengangkatnya, seolah panggilan itu telah menyelamatkan dirinya di tengah kebimbangan yang sedang ia hadapi.


“Halo”, Wendy langsung menjawab sebelum ia sempat melihat siapa yang menelpon.


“Wendy, kamu baik-baik saja?”, suara Jacky menyahut dari seberang, suaranya penuh kekhawatiran. Berita memang menyebar begitu cepat, sampai Jacky langsung tahu.

__ADS_1


“Aku baik-baik saja, aku sedang bersama Michael, sudah ya”, Wendy tidak ingin berpanjang lebar menjelaskan pada Jacky, ini kali kedua Wendy menyebut nama Michael dalam pembicaraannya dengan Jacky di telepon, yang pertama karena tidak sengaja, tapi kali ini Wendy sadar sepenuhnya atas kata-kata yang keluar dari mulutnya.


“Wendy, malam ini Bibi Suzy akan datang.”


“Ooo……”, hampir saja Wendy menekan tombol untuk mengakhiri panggilan, jari nya seketika berhenti, begitu nama Suzy disebut, Wendy mulai berkeringat dingin.


“Dia……sepertinya ada maksud lain.”


“Apa dia datang mau minta uang lagi darimu?”, Wendy memindahkan teleponnya dari telinga yang satu ke telinga yang lain, ia makin panik, jangan sampai Suzy mendatangi Jacky demi minta uang lagi.


“Emm, dia bilang terjadi sesuatu pada Tuan Bai sampai beliau masuk rumah sakit, mungkin…… mungkin……”, Jacky ragu untuk menyelesaikan kalimatnya.


“Baiklah, aku mengerti, terima kasih sudah memberi tahu aku”, secepat kilat Wendy mengakhiri panggilan kemudian langsung menghubungi Suzy, kebiasaan buruk ibunya yang satu ini, setiap kali ada masalah tidak pernah langsung menghubunginya, pasti karena takut, takut membicarakan masalah uang dengan Wendy, tapi siapa lagi yang punya hubungan lebih dekat dengannya kalau bukan Wendy.


“Ma……”, entah mengapa Suzy cepat sekali menerima panggilannya kali ini.


“Ma, berapa jumlah hutangnya?”


“Sekian milyar, jumlah pastinya aku juga tidak tahu, Marcell bilang dia akan usahakan, tapi sudah seharian ini tidak ada kabar, sampai-sampai tidak ada biaya untuk operasi”, Suzy menangis makin tersedu, ia tidak terdengar sedang berbohong, Wendy juga tidak mengerti kenapa Suzy begitu cinta pada Henry, tapi inilah takdir, Henry yang ditakdirkan membawa bencana dalam hidupnya.


“Ma, sudah jangan menangis, aku akan coba cari jalan keluar.”


“Wendy, kalau kamu bisa menolong Keluarga Bai melalui semua ini, mama tidak keberatan di kehidupan selanjutnya dilahirkan kembali menjadi sapi atau kuda”, pembicaraan ini benar-benar dipenuhi tangisan, suara Suzy terisak-isak sejak awal ia membuka mulut. Bagaimanapun juga, Suzy adalah orang yang mengadopsi dan membawa Wendy keluar dari panti asuhan, mendengar Suzy menangis menjadi-jadi begini, hati Wendy juga ikut sedih, “Ma, jangan bilang begitu, aku akan berusaha sebisa mungkin”, bukan demi Keluarga Bai, tapi demi ibu angkatnya itu.


Setelah pembicaraan di telepon itu berakhir, Wendy meletakkan telepon genggamnya, baru ia teringat ia masih sedang duduk di pangkuan Michael.

__ADS_1


“Hei, jangan ikut menangis”, jari tangan Michael mengusap setitik air mata Wendy, “Aku janji padamu, besok Keluarga Bai sudah terbebas dari masalah.”


“Meskipun aku tidak tanda tangani dokumen ini?”


“Tentu saja”, jawab Michael sambil menganggukkan kepalanya.


Berlawanan dengan apa yang baru saja ia ucapkan, tangan Wendy yang sedang memegang pena itu akhirnya bergerak turun menandatangani dua lembar dokumen di hadapannya, di detik Wendy menandatangani dokumen itu, ia tahu, di hari ia menikah dengan Michael, di hari itu juga ia telah bercerai dengannya.


Dengan menyetujui tawaran Michael itu, Wendy tetap memiliki kebebasan atas hidupnya sendiri, sama halnya dengan Michael. Wendy bisa melanjutkan kuliahnya sambil terus bekerja paruh waktu, hanya saja ia harus bersandiwara dengan baik dari awal sampai akhir pernikahan ini.


“Kakek akan tiba dalam beberapa hari ini”, Michael menggosok-gosokkan dagunya di wajah Wendy lembut, rambut pendek dan halus yang mulai tumbuh di dagu Michael itu membuat geli wajah Wendy, “Wendy, kamu tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu selama kamu tidak mengizinkannya.”


Sekali lagi Michael menegaskan pada Wendy, hal itu juga sekaligus menegaskan lagi bahwa Michael sama sekali tidak ada perasaan khusus pada Wendy. Michael menyalakan kembali mesin mobilnya, membawa keduanya menuju pusat kota.


“Kamu pasti lapar, mau makan apa?”


“Apa saja boleh, kamu saja yang tentukan mau makan di mana.”


“Ok”, jawab Michael singkat, jari-jari tangan Michael mencubit-cubit wajah Wendy manja, hal ini membuat Wendy heran, sebuah pertanyaan muncul di benaknya, apakah Michael terbiasa melakukan hal yang sama pada semua wanita yang dekat dengannya, mulut Wendy sudah terbuka siap melontarkan pertanyaan itu, namun pada akhirnya dia tidak jadi menanyakannya. Mata Wendy melihat toko-toko yang berlalu cepat di luar jendela mobil, ia melihat sebuah rumah makan yang pernah ia datangi, mi di sana sangat lezat, “Berhenti, berhenti, kita makan di situ saja”, tangan Wendy sambil menunjuk ke arah rumah makan yang baru saja mereka lewati. Michael mengernyitkan keningnya, “Jangan.”


“Ya sudah, kalau begitu aku tidak makan”, Wendy bersikeras ingin makan di situ.


“Tempat itu tidak higienis.”


“Aku sudah kelaparan, aku mau makan sekarang, kalau kamu tidak mau makan di sana, hentikan mobilnya dan biarkan aku turun, aku makan sendiri”, saat perut Wendy sudah meronta-ronta kelaparan begini, ia tidak pernah banyak ambil pusing, makan apa saja pasti enak.

__ADS_1


“Ya sudah”, melihat Wendy begitu ngototnya, Michael memilih untuk mengalah.


Dua mangkuk mi disajikan tanpa harus menunggu lama, Wendy makan dengan lahapnya, Michael hanya menyaksikannya, semangkuk mi di hadapannya tidak disentuhnya sama sekali.


__ADS_2