DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU

DIREKTUR, AKU JUGA MENCINTAIMU
Bab 114 Cepatlah Datang


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Saat Wendy menyimpan kembali teleponnya, dia tiba tiba teringat akan satu masalah, “ibu, apakah selain pintu utama, apakah sekolah ini memiliki pintu lain?”


Hello! Im an artic!


“Ada, itu adalah pintu yang digunakan oleh para pengajar”


“Apa bisa membawaku kesana?” Wendy berusaha untuk meminta tolong, dan dalam hatinya dia sudah menampakkan sesuatu.


“Aku akan membawamu kesana, untung saja anak anak sudah ditemukan, jika tidak maka kita akan berada dalam masalah.”


Guru itu membawa Wendy keluar dari sekolah melalui pintu yang biasa digunakan oleh para guru, dan dia masih tidak mengerti kenapa.


Hello! Im an artic!


Segalanya memiliki alasannya sendiri, dia tidak pernah meminta Mei untuk menjemput anak anak, setelah mengantar Wendy, guru itu langsung pergi, saat menatap punggung itu, Wendy mengumpulkan semua kecurigaannya, dan kembali ke pintu depan, menuju ke ruang penjaga, “pak, mau tanya, apa sebelumnya ada seorang perempuan yang membawa anak perempuan kembar?” Jika ada pasti akan diingat oleh penjaga itu, karena entah mereka berdua keluar lewat pintu mana, pasti akan mudah diingat oleh seseorang, karena kedua anak itu sangat cantik, dan paras mereka yang terlihat sama, jadi kehadiran mereka sangat mudah menarik tatapan orang lain.


“Iya, ada dua anak kecil yang sangat menggemaskan, bahkan mereka mengatakan sampai jumpa kepadaku, mereka sangat sopan.”


Jelas sudah, ternyata mereka berdua keluar dari pintu ini.


Kalau begitu maka ini jelas sekali jika semuanya sudah direncanakan oleh Mei, pasti.


Wendy benar benar marah, dia melajukan mobilnya ke tempat di mana anak anak berada, setelah sampai di sepanjang jalan itu, dia meminta supir untuk memperlambat laju mobil, dan akhirnya di ujung jalan dia berhasil menemukan keberadaan anak anak, pada saat ini Lexi dan Lexa sedang duduk di pinggir jalan, di sebuah taman dan sedang memakan eskrim.


“Lexi, Lexa…” Saat melihat kedua sosok buah hatinya yang berada di seberang jalan, kedua matanya langsung berair, ternyata ada kesan bahagia diantara mereka, sebelumnya dia merasa sangat menderita saat tidak berhasil menemukan anak anak, tetapi saat menemukannya dia merasa sangat bahagia.


“Mami…” Mereka menjawab bersamaan, melihat sosok Wendy, mereka langsung berlari ke arahnya, tidak peduli di tangan mereka yang masih memegang es krim, tetapi Wendy langsung menariknya ke dalam pelukannya memeluknya dengan sangat erat, khawatir jika mereka akan kembali menghilang, bisa menemukan keberadaan mereka berdua benar benar membuatnya sangat bahagia.


“Mami, sakit, kenapa memeluk kita seerat itu?” Terdengar suara kesal anak anak, tetapi rasanya sangat akrab, Wendy sangat menyukai suara itu, entah berapa banyak dia mendengarnya masih saja merasa tidak cukup.


“Itu karena mami sangat menyayangi kalian.”


“Mami, bukankah mami pergi berkencan dengan papi?”


“Siapa yang mengatakannya?” Wendy tersenyum, tatapan kedua matanya terjatuh pada Mei, pada saat ini dia sedang berdiri di kerumunan bunga, senyumnya sangat mengembang, memandangi ketiga orang yang akhirnya bisa kembali dipertemukan, saat Wendy menyimpulkan semuanya, dia sejak awal sudah merasa jika Mei sedikit aneh, dan akhirnya sekarang dia mengerti semuanya.


“Aku menebaknya.”


“Aku tidak percaya, pasti bukan seperti itu, aku akan menebaknya, apa tante Mei mengatakan sesuatu kepada kalian?”


“Ini…” Lexi menatap Lexa, dan Lexa menatap Lexi, mereka berdua menahan suara yang sudah berada di ujung bibir mereka.


“Katakan, apa yang kalian sembunyikan dariku.”


“Mami, menunduklah.” Lexi mengedipkan kedua matanya, berkata dengan senyum bahagia.

__ADS_1


Entah apa yang akan mereka berdua lakukan, tetapi bagaimanapun juga mereka adalah anak kandungnya, meskipun mereka ingin berulah, Wendy hanya membiarkan mereka saja, bisa bertemu dengan mereka adalah suatu hal yang sangat membahagiakan, Wendy menundukkan kepalanya, dan wajahnya sudah mendekat pada wajah mereka berdua.


“Cup… cup…” Mereka mengecup kedua pipi Wendy secara bersamaan, hingga terlihat ada bekas dari eskrim yang habis mereka berdua makan.


Saat Wendy masih merasa bahagia, tiba tiba Lexi dan Lexa berkata bersamaan, “mami, selamat ulang tahun.”


Tiba tiba hatinya menjadi begitu hangat, Wendy benar benar bahagia kedua buah hatinyanya sudah beranjak dewasa, setelah itu giliran Wendy lah yang mencium pipi mereka berdua, “terima kasih Lexa, terima kasih Lexi, mami menyayangi kalian.”


“Kita juga menyayangi mami, mami, tebak lah ini apa?” Satu tangan sudah terulur di depan Wendy.


Wendy melihatnya, tetapi tidak ada apapun, kemudian menggelengkan kepalanya, “Tanganmu mungil Lexa bukanlah tangan milik raja.” Wendy teringat akan cerita yang dia ceritakan kepada anak anak, jelas jelas tidak ada apapun di tangan Lexa, tetapi dia malah bertanya seperti ini, anak ini benar benar sangat nakal.


“Mami, apa benar benar tidak ada apapun?”


“Iya.” Wendy menjadi ragu, bagaimana mungkin dia bisa dibohongi oleh kedua keaku ngannya yang selama ini selalu bersamanya.


“Hahaha, mami sudah kalah.” Begitu tangan mungil itu terbuka, muncullah bunga plastik di antara jari jarinya, “Mami, selamat ulang tahun, ini adalah hadiah untuk mami.”


Ada getaran di kedua mata Wendy, “Lexa, siapa yang mengajarimu?”


“Tante Mei, dia mengatakan jika hari ini adalah ulang tahun mami, jadi kita ingin memberi kejutan kepada mami.”


Wendy kembali mengangkat pandangannya menatap Mei, dan dia juga terlihat sedang tersenyum melihat ke arah mereka bertiga, hal itu membuat Wendy merasa sedikit bersalah, mungkin dia sudah berfikir berlebihan, mungkin saja dia sudah salah paham kepada Mei, hanya saja saat anak anak berada bersamanya, dia tidak nyaman untuk bertanya kepada Mei.


“Mami, aku juga memiliki hadiah, tebaklah, di mana?”


Tamat sudah, mereka berdua benar benar sangat pintar, “Biarkan aku meraba kantong sakumu.”


“Boleh, silahkan cari saja .” Lexi membiarkan Wendy melakukan apa yang dia inginkan, dan dia sendiri bersikap sangat percaya diri.


Wendy benar benar merasa lega, anak anak memang menyukai tebak tebakan seperti ini, semakin misterius maka akan semakin menyukainya, ini juga sudah diketahui sejak awal.


“Huhuhu, mami bodoh sekali, mami tidak bisa menebaknya.” Sekarang dia berpura-pura menangis, dan kedua tangannya juga menutup kedua matanya, suaranya terdengar seperti benar benar menangis, tetapi tatapannya malah tertuju pada Lexi.


Lexi menegakkan punggungnya, tangannya dia ayunkan disela-sela rambut, kemudian mengatakan, “Mami bodoh sekali, padahal hadiahnya ada di depan mami tapi mami malah mencarinya dengan susah payah.”


Wendy dibuat sedikit kesal, bahkan anak anak sudah belajar hal seperti ini, tetapi Wendy tidak bisa untuk meluapkan kekesalannya, jadi dia melepaskan tangannya. “Lexi, berapa kali kamu ingin mami menebaknya?”


“3 kali saja.”


“Baiklah, aku akan memulai untuk menebaknya, apa di sepatu?” Wendy tahu jelas jika dia tidak mungkin menebak dengan benar hanya dalam sekali tebakan, jika tidak maka kegembiraan anak anak akan menghilang.


“Salah.”


“Kalau begitu apa di sela sela jari tanganmu?”


“Salah, haha, mami, mami hanya memiliki satu kesempatan terakhir lagi.”

__ADS_1


Wendy terdiam, berpura-pura sedang berfikir, kemudian pada saat mereka berdua menatapnya dalam dalam, tangan Wendy terulur ke rambut Lexi, kemudian membelainya dengan sangat lembut, jepit rambut sudah berada di tangannya, “Apakah ini?”


“Mami, ternyata kali ini mami cukup pintar juga, benar sekali, ini adalah hadiah dari aku untuk mami, selamat ulang tahun.”


Wendy menyelipkannya disela-sela rambutnya, menatap mereka berdua dengan tatapan sangat bangga, kali ini dia juga tidak tahu apakah Mei itu teman ataupun musuh, “Sudah, tante Mei sedang melihat kita.”


Kedua anak itu langsung memalingkan kepalanya, menatap Mei dengan penuh kebahagiaan, “Tante, mami sangat senang.”


Dari perkataan itu sudah menunjukkan ide dan hadiah yang dia terima kali ini, semuanya berasal dari pemikiran Mei, Wendy bahkan mengetahuinya tanpa bertanya kepadanya.


“Syukurlah.” Mei berjalan mendekat, “Wendy, naik saja ke mobilku, kalian ingin kemana, aku akan mengantarkan kalian.


Wendy berfikir, dia teringat saat Michael membawa Maria dan Reinson pergi, dia juga tidak tahu mereka pergi ke rumah sakit atau kembali ke rumah, tetapi hal ini bukanlah yang terpenting, yang terpenting adalah dia dan Michael sudah terpencar, bahkan saat Michael meninggalkannya terlihat jika dia sangat marah.


Wendy menganggukan kepalanya, dan membawa anak anak untuk masuk ke dalam mobil Mei, setelah beberapa langkah, langkah kaki Wendy terhenti, dia melihat mobil milik Mei, mini cooper yang terlihat sangat cantik, ternyata Michael memberikan mobil kepadanya dengan model sama persis seperti milik Mei, hanya saja Wendy masih tidak bisa mengendarainya, tetapi Mei sudah sangat mahir mengendarai mobil.


Hahaha, ternyata dia memberikan hadiah mobil kepada perempuan sudah seperti memberikan baju saja.


Setiap perempuan yang berulang tahun Michael pasti akan memberikan hadiah, mobil, itu hanya hadiah kecil saja, hadiah terbesar adalah rumah, iya benar, Michael memang ingin memberikan rumah kepadanya, tetapi Wendy menolaknya.


Saat teringat akan pengacara yang memintanya menandatangani perjanjian transfer saham milik Michael , perasaannya kembali dibuat tidak karuan, perkataan sekretaris itu salah, sebenarnya Wendy sama sekali tidak spesial.


Dia masih ingat saat bertemu dengan Mei dan Michael di supermarket, pada saat itu mereka berdua terlihat sangat akrab, saat itu Mei sedang tersenyum dengan sangat manis kepada Michael .


Mungkin Mei adalah adik Maria, jadi memberinya mobil adalah suatu hal yang wajar bagi Michael .


Bukan Wendy yang ingin berfikir seperti ini, tetapi model mobil ini benar benar sama persis seperti apa yang diberikan Michael kepadanya.


Setelah masuk ke dalam mobil, anak anak duduk di belakang, dan Wendy sengaja duduk di kursi samping kemudi, karena saat Michael mengendarai mobil saat kembali dari bandara, dia juga duduk di posisi ini.


Bahkan jok yang berada di dalam mobil juga memiliki model dan warna yang sama persis.


Semuanya sama.


Mei menyalakan mobil, “Wendy, kita akan kemana? Katakan saja.” Mei tersenyum dengan lembut, senyumnya itu benar benar tidak berdosa, siapa pun bahkan tidak akan percaya jika dia memiliki niat tersembunyi saat membawa Lexi dan juga Lexa, mungkin dia hanya ingin membuat anak anak memberinya kejutan di hari ulang tahunnya.


Tapi sepertinya ini sedikit dibuat buat, kembali teringat akan perkataan Michael saat berada di sekolah anak anak, Wendy sedikit berbisik agar tidak membuat anak anak mendengar perkataannya, “Mei, kenapa kamu mengatakan jika aku yang memintamu membawa anak anak?”


Mei tersenyum, “Wendy, bukankah kamu yang memintaku? Lihatlah, ini adalah kertas yang kamu minta orang untuk memberikannya kepadaku.” Saat mengatakan itu, Mei langsung mengeluarkan secarik kertas dan memberikannya kepada Wendy.


Wendy menerimanya, setiap tulisan yang berada di depan matanya benar benar sama persis seperti tulisan miliknya, hal itu membuatnya tercengang, saat menatap deretan tulisan itu, telepon milik Mei berdering, dia mengendarai mobilnya dengan mengangkat telepon, “Halo, ini dengan Mei.”


“Apa, apa katamu? Kakakku masuk rumah sakit?”


“Baiklah, aku akan segera ke sana.”


Mobil langsung berbelok arah secara tiba tiba, bahkan sampai membuat kepala Wendy terbentur kaca, hal itu membuatnya sedikit meringis kesakitan.

__ADS_1


Tetapi setelah itu dia langsung mengerem mobilnya, kemudian membuka kunci pintu mobil, “Wendy, maaf sekali, aku akan pergi ke rumah sakit, kakak aku hampir keguguran, kamu dan anak anak naik taxi saja.”


__ADS_2