
"Aku menyukai rendy"
"Apa maksud mu, aku tidak mengerti?"
*gawat!!\, karena tak tahu harus berkata apa aku terpaksa mengatakan hal itu* dalam hati diana. Wajahnya seketika menjadi merah dan terlihat gugup bicara dengan rendy
"Maaf, aku tak bermaksud mengatakan hal itu."
"Jika kau hanya berbohong tentang apa yang kau katakan tadi, bagiku tak masalah. Tapi jika itu benar aku tidak bisa menerima mu."
*a..apa yang akan aku jawab setelah ini* dalam hati diana yang mulai merasa gugup mendengarnya
"Tidak. Aku berbohong tentang menyukai mu itu, dan sebenarnya aku tidak sama sekali menyukaimu."
"Kalau begitu baguslah. Aku akan pergi."
"Ya."
Rendy pun pergi kembali kerumah sakit, dan wajah diana terlihat seperti menyimpan rasa penyesalan yang ada di wajah diana saat itu.
*jika aku benar mangatakan kalau aku benar benar menyukainya, mungkin dia akan marah dan tak akan menerimaku seperti yang dia katakan tadi. Aku telah berbohong pada diriku sendiri."
Sementara itu dirumah sakit, rindy sedang sekedar berjalan jalan mengelilingi koridor rumah sakit. Dan ia melihat seorang anak gadis yang masih berumur 5 tahun sedang duduk di kursi koridor, dengan kepala yang sudah tak memiliki rambut yang sepertinya adalah pasien kanker otak. Rindy pun menghampirinnya untuk berbicara singkat dengannya.
"Siapa namamu? Kenalkan aku rindy. Lalu siapa namamu?"
Dengan wajah polos dan pipinya mulai terlihat merah Dengan wajah polosnya itu dia menjawab
__ADS_1
"Namaku Ara."
"Jadi namamu Ara? Nama yang bagus."
"Terimakasih kakak."
"Jadi ada apa dengan rambut mu yang indah itu, apa kau memotongnya?"
"Ya. Ibuku menyuruhku untuk memotong semua rambutku karena sering rontok ketika aku menyisirnya."
"Kenapa ibumu menyuruhmu seperti itu?"
"Ah.... soal itu ibuku tidak pernah bilang kenapa aku harus memotongnya. Tapi, belakangan ini ibuku jadi sering mengawasi ku dan setiap aku membeli makanan ibuku selalu bilang jangan membeli makanan sembarangan yang tidak jelas bahan bahan didalamnya."
"Jadi itu yang dikatakan ibumu"
"Iya"
"Ya. Padahal saat ibu terus saja mengaturku dan mengawasi ku, aku sangat membencinya. Tapi semua orang bilang ibu sangat baik dan perhatian padaku jadi, aku menarik kata-kata ku tentang membenci ibu. Aku sangat mencintai ibuku. Lau bagaimana dengan kakak sendiri?
"Ibu kakak, dia sangat perhatian juga. Sama seperti ibumu. Setiap hari ibu selalu menjengukku disini dan itu membuat kakak merasa senang."
"Wah....ibu kakak baik juga ya. Aku ingin sekali bertemu dengannya "
Rindy hanya terdiam dan tersenyum menatap gadis itu. Padahal yang ia katakan pada gadis itu hanya kebohongan saja, dan rindy juga berusaha menutupi kekurangan pada ibunya itu.
"Yah. Kau bisa melihat ibuku setelah kau sembuh."
"Setelah aku sembuh? Apa maksudnya kakak?"
__ADS_1
"Kau hebat ya. Tidak pernah mengeluh dan tak menyerah. Aku menyukai anak seperti mu."
"Kakak menyukai ku!!?"
Wajah gadis itu memerah dan senyum mulai terlihat diwajahnya yang manis itu. Dan rindy pun memegang tangan gadis itu dan juga tersenyum padanya.
"Suatu hari jika kau sudah besar, temui aku ya. Aku akan terus mencari mu" kata rindy pada gadis itu sambil tersenyum
"Siap kakak!!"
__ADS_1