
Keesokan harinya
"Nah...Rendy kau baik-baik saja kan dirumah sakit sendiri? Aku pergi sekolah dulu ya" kata Rindy
"Sudah kubilang, jika kau ingin pergi. Pergi saja tak usah meminta izin dariku"
"Yah... Kalau begitu aku pergi. Oh iya, tadi bibi menelfon kalau hari ini dia tidak bisa menjenguk mu karena terlalu sibuk disana. Jadi bibi minta maaf tadi"
"Bilang pada bibi tak usah minta maaf. Lagi pula aku tak berharap semua orang bisa kemari"
"Apa kau tidak ingin orang lain melihatmu seperti ini, hingga kau berharap tak ada yang kemari?"
"Sudahlah, sekolah saja sana jam pelajaran pertama sudah mau dimulai"
"Yah, kalau begitu aku pergi ya. Oh iya, buku yang ada diatas meja itu Diana yang memberinya. Dia bilang agar kau tidak bosan jika kau sendirian disini"
"Buku?"
Begitu Rendy melihat buku diatas meja itu, ia langsung membukanya dan melihat-lihat isi bukunya
"Aku berangkat!!" Kata Rindy sambil menutup pintu kamarnya kembali
"Buku apa ini? Kelihatannya tokohnya adalah dua anak kembar, Sama seperti aku dan Rindy ya. Dalam cerita ini dua anak kembar itu sangat akrab sejak kecil, sangat berbeda dengan aku dan Rindy. Tapi, kenapa dulu itu aku sangat membenci rindy hanya karena wajah kami yang terlihat sama? Jika aku bisa seperti orang yang ada dalam cerita ini, apa mungkin ibu masih hidup nanti?"
__ADS_1
Sementara itu ....
"DIANA!! SUDAH KUBILANG JANGAN BERMAIN BASKET DIKELAS!!!!" Teriak senior Fahrul yang melempar bola kewajah Diana
Vania yang kebetulan lewat didepan kelas yang berantakan itu, langsung menghampiri Diana yang sudah tengkurap dilantai itu
"Eh, a...ada apa ini?" Tanya Vania yang mulai heran melihat tingkah mereka
"Vania!!"
"I....iya!?"
"Bawa kembali bola ini ketempatnya! Sekarang!"
"Eh.....? Kenapa harus aku!?"
*Menyebalkan*
Dilapangan basket......
__ADS_1
"Ah......menyebalkan sekali!! Kenapa senior Fahrul selalu melemparkan bolanya kearah wajahku? Sakit sekali" kata Diana sambil memegang pipinya yang merah itu
"Ah .... Sepertinya aku tahu. mungkin karena kau itu susah diatur, menyebalkan, aneh dan.... Apa lagi ya?"
*Bukannya menyemangati ku dia malah seneng mengejek temannya sendiri*
"Tapi, yang aku herankan kenapa kau selalu membuat senior Fahrul marah? Apa kau sengaja membuat kekacauan dikelas?"
"Ah, itu sebenarnya aku hanya mencoba menenangkan diriku sendiri. Mungkin saat ini bisa dibilang kalau pikiran ku sedang kacau. Jadi, aku mencoba untuk mendapatkan hati semua orang agar ada yang bisa mengerti tentang diriku. Dan seperti yang kau lihat ... Aku malah dapat pukulan bola senior Fahrul dan wajahku jadi berantakan seperti ini" kata Diana sambil sedikit tertawa
"Tapi, kenapa yang aku lihat kau seperti mencari perhatian pada kak Fahrul."
"Eh ...?"
"Maksudku, kak Fahrul adalah ketua dari klub basket dan kau sendiri juga salah satu dari anggotanya. Jika terjadi suatu kerusakan ataupun sampai ada yang celaka, karena salah satu anggota klub basket yang membuat kekacauan dikelas. Pasti kak Fahrul yang harus bertanggung jawab kan? Dan bisa-bisa klub basket akan dipandang sebelah mata oleh semua murid yang ada disini, dan yang mendapat cemoohan dari semua murid disini juga kak Fahrul kan?"
*Aku rasa Vania benar\, aku memang pengacau dikelas. Apa mungkin aku harus keluar dari klub basket ya?*
"Tapi, yang aku rasa saat ini...... Senior Fahrul sepertinya menyukai mu Diana, hanya saja kau tidak mengetahui hal itu."
"Eh.....? Apa maksudmu?"
"Jika yang aku katakan tadi itu benar, apa yang akan kau jawab nantinya?"
__ADS_1