Diriku Ternyata Kembar

Diriku Ternyata Kembar
Bab 39: Rindy sakit?


__ADS_3

Keesokan harinya, pengumuman pemenang pekan olahraga kemarin di SMA 14. SMA 14 mendapatkan juara juara yang luar biasa. Mata lomba sepakbola dan voli putra berhasil mendapat juara yang kedua, mata lomba voli putri dan basket putra berhasil mendapatkan juara ketiga dan mata lomba baseball, maraton dan basket putri berhasil mendapatkan juara pertama. Semua perwakilan mata lomba naik keatas panggung untuk menerima piala dan sertifikat dari panitia penyelenggara lomba. Saat itu wajah rindy terlihat pucat saat mewakili timnya untuk menerima piala dari panitia.


"Wah rindy kau hebat sekali ya, bisa mendapatkan juara pertama. Aku bangga padamu!"


"Yah, terimakasih ya"


"Wajahmu terlihat pucat, apa kau sakit?"


"Tidak kok. Aku baik-baik saja, lagipula aku yang harus mewakili tim ku untuk naik keatas panggung nanti"


"Kalau begitu kau yang kuat ya!!"


"Ya"


Pengumuman pemenang tim baseball pun di umumkan. Dan rindy sebagai perwakilan tim baseball SMA 14 naik ke panggung dan dilihat oleh semua temannya dan juga Rendy yang juga melihatnya. Dan saat piala itu dibagikan, sejenak rindy menaruh piala besarnya disampingnya. Wajah rindy semakin pucat dan akhirnya ia terjatuh dari atas panggung. Semua yang melihatnya pun panik dan segera menelpon ambulans. Rendy yang melihat semua itu, langsung menghampiri rindy yang tergeletak lemah dan mengusap wajahnya yang berkeringat lebih itu.


"Kenapa Rindy bisa seperti ini? Apa yang terjadi padanya!?" Tanya Rendy dengan wajah khawatir melihat rindy yang lemah seperti itu.


"Tadi pagi, wajahnya memang terlihat pucat. Tapi dia bilang baik-baik saja" kata seorang murid yang berdiri didepan Rendy


"Kenapa kalian begitu percaya pada omongan rindy!? Apa menurut kalian wajahnya terlihat meyakinkan kalau dia benar-benar tidak apa-apa?" Ucap kesal Rendy yang melihat kearah mereka

__ADS_1


Diana pun memegang bahu Rendy dan mencoba menenangkannya


"Percuma saja kau marah pada mereka, karena itu tak akan membuat rindy sembuh."


"Tapi Diana!"


"Sudahlah tak usah bicara lagi. Aku yakin Rindy akan baik-baik saja kok"


Dan tak berapa lama kemudian ambulans pun datang dan membawa rindy kerumah sakit terdekat bersama dengan Rendy yang ikut menemani rindy dirumah sakit


Dan setelah diperiksa, ternyata penyakit anemia yang ada pada rindy kambuh kembali. Dokter pun memberi tahu hal itu pada Rendy dan menyuruhnya untuk lebih memperhatikan gerak-gerik rindy


"Sepertinya anemia yang ada pada rindy kambuh kembali. Sepertinya dia kurang istirahat.memangnya sebelum ini terjadi, ada kegiatan apa sampai membuat anemia nya kambuh?"


"Apa rindy selalu mengeluh saat pulang dari perlombaan?"


"Rindy tak pernah mengeluh padaku apalagi pada orang lain. Rindy selalu saja bilang kalau ia baik-baik saja dan aku selalu percaya itu"


"Kalau begitu, saya sarankan kau harus lebih mengawasi gerak-gerik rindy, jangan sampai dia lelah. Dan selalu ingatkan untuk meminum obatnya."


"Ya, baik dokter"

__ADS_1


"Nanti kau minta saja obatnya ya"


Dokter pun pergi kembali keruangannya, dan Rendy diperbolehkan masuk ke kamar rindy yang sedang dirawat itu.


"Wah, Rendy!? Aku tak menduga kalau kau akan datang"


"Memangnya untuk siapa aku datang kemari?"


"Iya iya maaf. Oh iya, tadi dokter bilang kalau anemia ku kambuh ya?"


"Apa kau tak bosan kalau sakit terus? Cepatlah sehat seperti dulu"


"Rendy pasti repot ya, selalu mengawasi ku setiap saat"


"Hah? Apa?"


"Aku akan berusaha, setelah aku sehat nanti aku akan berhenti membuat Rendy khawatir padaku. Ya. Pasti aku akan berusaha!"


"Yah, bagus kalau begitu. Dan juga jangan sering berbohong dengan orang-orang ya"


"Memang itu berbohong?"

__ADS_1


"Sudahlah jika tidak mengerti"


__ADS_2