
Malam harinya, rendy terlihat terus saja mengunci dirinya dikamar. Ketika rindy membawakan sarapan, ia tetap tidak ingin menyentuh makanannya. Rindy pun akhirnya mencoba untuk mengetuk pintu kamar Rendy
"Rendy!? Keluarlah, aku tahu kamu didalam. Sebenarnya ada apa dengan mu? Coba kamu ceritakan, aku akan berusaha untuk mengerti apa yang kmau katakan itu"
"Pergilah!!" Kata rendy dari balik pintu kamarnya
"Heh...? Apa?"
"AKU BILANG PERGILAH!!" teriak rendy didalam kamarnya itu
"T...tapi Rendy, kamu harus makan. Jika kau tidak makan, nanti kamu akan sakit"
"Aku tidak peduli. Lagi pula sekarang ini, tidak ada yang mengerti tentang diriku. Saat ini aku merasa kalau aku hanya hidup sendiri. memangnya adakah orang yang lebih mengerti tentang diriku?"
"Kamu menganggap kalau kamu hidup sendiri. Lalu.....saudara mu ini, apa kamu anggap tidak pernah peduli padamu?"
"Memangnya, kapan itu terjadi? Sepertinya itu tidak pernah terjadi"
"Maka dari itu, jika kamu mau keluar dari kamarmu. Aku akan menunjukkannya padamu, betapa aku mengerti tentang mu Rendy. Aku tidak akan menyerah sampai kau tahu banyak orang yang bisa mengerti tentang mu."
Rendy akhirnya membuka pintu kamarnya, dan melihat sepiring makanan yang dibuat hanya untuknya di atas meja samping kamarnya.
"Nah, akhirnya kamu keluar juga ya, Rendy. Aku sudah menyiapkan makan malam untuk mu" Melihat rindy yang selalu peduli padanya, Rendy pun langsung memeluk Rindy dan menangis terharu melihat itu semua.
__ADS_1
"Maaf......maaf......selama ini aku telah mengabaikan mu. dan lebih lagi, kamu adalah saudaraku. Aku benar-benar minta maaf. Selama ini aku selalu tidak memperhatikanmu padahal kau selalu ada dan rela repot demi diriku. Terimakasih....terimakasih"
"Jangan seperti itu. Aku ini kan saudara kembarnya Rendy jadi menurutku hal seperti ini bukan jadi masalah" kata rindy sambil tersenyum melihat ke arah Rendy
Dua hari berikutnya jam sepulang sekolah. Rendy sedang berjalan pulang sendirian dan melihat diana yang sedang bermain dengan 2 orang anak kecil, di jembatan yang ia lewati saat ini.
"Oh, hai Rendy!! Lama tidak bertemu ya!!"
"Ng.....? Memangnya hari ini kamu berangkat sekolah? Aku tidak melihatmu"
Diana mendekat dan tiba-tiba menjulurkan tangannya seperti meminta sesuatu dari Rendy "Kenapa tangan mu seperti itu?" Tanya rendy dengan heran
"Selama dua hari kemarin, aku menunggumu di rumah. Dan sekarang, mana hadiah atas kepulanganku dari rumah sakit!?"
"Heh.....??" Tiba-tiba diana merengek dipinggir jembatan, seperti menangis. Dan dua anak yang bermain dengan diana tadi langsung menenangkan diana
"RENDY JAHAT!!!! TERNYATA CUMA SENIOR FAHRUL YANG MEMBERIKANKU BUNGA!!!? HUWAAA!!!" teriak diana didepan Rendy
"Laki-laki memang menyebalkan!!"
"Iya!! Benar itu mereka hanya bisa membuat perempuan menangis!!"
Perkataan kedua anak kecil itu tiba-tiba membuat Rendy menjadi gugup dan terpaksa harus menuruti apa yang Diana katakan nanti
__ADS_1
"Baik-baik..!! Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku!?" Kata rendy dengan terpaksa
"Benarkah kamu akan melakukan apa yang aku katakan?" Tanya diana dengan masih menutup wajahnya dengan tangannya
"I....iya"
"Sungguh?"
"Iya"
"Kamu, tidak bohong kan?" Tanya diana sekali lagi
"Iya, aku gak bohong"
Diana tiba-tiba tertawa dan melompat bersama kedua anak tadi. "Kenapa aku bicara begitu ya?" Rendy heran dengan kelakuannya tadi.
"Kalau begitu.... maukah Rendy menjadi milikku lagi?"
"Huh....? Apa?"
"Kemarin, aku sempat berfikir sih. Kalau aku dan senior fahrul memang tidak memiliki kecocokan satu sama lain. Senior fahrul memang orang yang dewasa, tapi dia terlalu dewasa bagiku. Aku bahkan tidak pernah mengerti apa yang dia katakan itu"
"Lalu?" Diana menggenggam tangan rendy dan mengajaknya berlari "Tak usah banyak tanya. Ayo ikut saja!!"
__ADS_1
Akhirnya Rendy pun mengikuti langkah Diana kemana ia pergi. Matanya begitu bersinar kembali ketika mengetahui diana sudah sehat kembali. Kedua anak itu melambaikan tangannya seakan-akan mengucapkan selamat tinggal untuk mereka