Diriku Ternyata Kembar

Diriku Ternyata Kembar
Bab 41: Kencan pertama


__ADS_3

Karena waktu menjelang petang, Diana dan Karina pamit untuk pulang kerumah masing-masing. Terlihat wajah senang ketika mereka akhirnya bisa menghabiskan waktu bersama.


 


 


  "Oh, iya Rendy mulai saat ini kau tak perlu khawatir ya." Kata Rindy sambil melipat selimut rumah sakit itu.


"Kenapa seperti itu?" Kata Rendy yang heran mendengar rindy yang bicara seperti itu


"Karena mulai hari ini aku akan mencoba untuk hidup dengan mandiri agar Rendy juga tidak selalu khawatir padaku"


"Kenapa kau bisa mudah sekali menyimpulkan hal itu!?"


"Heh?"


"Kenapa kau mudah sekali bicara hal itu? Padahal jika kau sakit seperti ini, aku juga kan yang harus bertanggung jawab? Bibi saat ini terlalu sibuk untuk mencari uang diluar sana. Lalu memangnya selain aku, siapa yang akan menjagamu disekolah?"


"Jawaban Rendy selalu itu saja. Bukankah dulu, aku pernah menanyakan hal ini? Tapi kenapa Rendy selalu tak membiarkan aku hidup dengan caraku sendiri?"


"Bukan begitu, rindy! Cobalah untuk mengerti! Bukannya aku tak membiarkan mu untuk hidup dengan caramu sendiri, tapi aku mencoba untuk memperhatikan mu dari belakang. Bukankah saat SD aku pernah berjanji untuk akan selalu mengawasi mu?"


"Ya, aku dengar itu tapi, aku juga pernah berjanji pada Rendy kan kalau aku akan membalas Budi Rendy saat aku kecil hingga sekarang."


"Kapan kau bilang seperti itu?"


"Aku tidak mengucapkannya, tapi aku lakukan di kehidupan sehari-hari"


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti"


"Aku sangat menyukai Rendy yang sekarang. Suatu hari nanti, akan aku balas semua kebaikan mu. Ya Rendy"


 


 


  Rendy hanya terdiam melihat Rendy yang tersenyum itu, sambil merapihkan pakaian rindy. Sementara itu, Karina dan Diana yang pulang bersama dijalan. Mereka sempat berbincang-bincang sedikit dan disebuah persimpangan jalan, Diana melihat senior Fahrul yang telah menunggu didepannya.


"Wah, sepertinya ada yang menunggu mu Diana"

__ADS_1


"Eum....ya sepertinya"


"Kalau begitu,lebih baik aku mengambil jalan berbelok saja."


"Ya, tidak apa-apa Karina"


"Semoga kencan mu menjadi kencan terbaik ya!!" Sambil berjalan di jalan yang berbelok itu


"Memangnya siapa yang ingin kencan!?" Tanya Diana dengan kesal.


 


 


  Senior Fahrul yang juga sejak tadi melihat Diana langsung menghampirinya, dan menggandeng tangannya


"Eh...? A...ada apa ini senior Fahrul!?" Tanya Diana dengan heran


"Belakangan ini kau jadi sering menjauh dariku, memangnya ada apa?"


"S....siapa yang menjauh dari senior Fahrul? A... aku tidak pernah mencoba menjauh dari senior" tiba-tiba wajah Diana mulai terlihat gugup melihat kearah senior Fahrul


"Apa kau membenciku?"


"Jika kau tidak membenci ku, ayo ikut aku"


"Eh....? Mau kemana?"


"Ikut saja"


 


 


Senior Fahrul, menarik tangan Diana dan membawanya ke suatu tempat. Dan disebuah kafe, senior Fahrul membelikan Diana sebuah minuman yang ada di menu kafe disana.


*A....apa yang harus aku lakukan!!? Kenapa senior Fahrul membawaku kesini!? Apa ini yang disebut kencan pertama!?* Dalam hati Diana yang semakin bingung dengan hal itu.


"Ada apa Diana? Kenapa kau hanya diam seperti itu?"

__ADS_1


"T....tidak kok, a...aku hanya bingung kenapa s...senior Fahrul mengajakku kesini?" Jawab diana dengan gugup


"Oh, jadi itu yang membuatmu diam seperti ini. Kau tidak tahu kenapa aku mengajakku kemari?"


"I....iya"


"Heh, aku pikir kau tahu, kalau ini adalah kencan pertama mu kan?"


 


 


  Mendengar hal itu, Diana yang sedang minum tiba-tiba mengeluarkan air yang sudah ia minum tadi


"Eh? Diana? Kau tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa, aku cuma kaget. Maksudku....... INI KENCAN BENERAN!!!?" tanya Diana yang tiba-tiba memukul mejanya itu


"Hah? Memangnya kau tidak pernah kencan sebelumya?"


"E....eh? S... soal itu, a.....aku ..." Tiba-tiba Diana berubah menjadi gugup mendengar pertanyaan dari senior Fahrul


"Kau terlihat gugup sekali Diana. Lucu sekali"


"Eh...? BENARKAH AKU SE-GUGUP ITU!!!?" Diana kembali berteriak dihadapan senior Fahrul


"Ya. Kau terlihat manis jika diberi pertanyaan yang seperti tadi" jawab senior Fahrul dengan tersenyum


*Aku tidak percaya baru kali ini, ada yang memuji ku seperti itu, apalagi dengan senyum yang seperti itu. Rasanya sulit dipercaya. Mungkin Rendy tidak akan melakukan apa yang senior Fahrul lakukan sekarang. Sebaiknya siapa yang aku pilih ya" dalam hati Diana sambil melihat senyum manis senior fahrul.


Dan kebetulan saja, Rendy yang juga baru saja pulang dari rumah sakit menuju rumahnya bersama dengan rindy, melihat apa yang dilakukan Diana dan senior Fahrul saat itu. Rendy pun berhenti sejenak dan melihat mereka berdua. Rindy yang tak melihat Rendy yang berjalan di sampingnya, langsung menghampiri Rendy yang berhenti di depan kafe tempat Diana dan senior Fahrul makan bersama.


"Rendy? Apa yang kau lihat?" Tanya rindy dengan heran sambil melihat-lihat kearah kafe itu


"Tidak apa-apa kok. Ayo jalan saja"


Rendy akhirnya menarik rindy dan berjalan pulang kerumah.


*Dengan melihat itu semua\, aku jadi mengerti. Seharusnya aku tidak meninggalkan orang yang aku sayangi sejak dulu. Dan yang harus aku lakukan saat itu adalah membimbingnya dan membuatnya suka padaku* dalam hati Rendy sambil mengingat apa yang ia lihat tadi

__ADS_1


 


 


__ADS_2