
Keesokan harinya, senior Fahrul yang kebetulan melihat Diana yang juga baru berangkat kesekolahnya langsung mengajaknya berjalan bersama
"Diana!? Kau berangkat ke-sekolah sendiri?"
"Ya. Memangnya kenapa?"
"K...kau tidak bersama rendy?"
"Biasanya memang aku selalu berangkat sendiri kan? Memangnya senior tidak pernah melihatku pergi sekolah setiap harinya?"
"Tidak, aku pikir kau akan berangkat bersama Rendy "
"Tidak kok sekarang. Biasanya pulang aku selalu bersama Rendy. Dan itu juga tidak setiap hari"
"Jadi begitu ya."
"Memangnya ada apa?"
"Tidak apa-apa. Oh iya, hari ini adalah perlombaan terakhir, apa kau sudah berlatih untuk perlombaan nanti siang"
"Eh...? J...jadi ini hari terakhir ya?"
"Kau tidak latihan ya?"
"Eh...s...soal itu, sepertinya aku lupa"
"Nanti, maukah kau berlatih bersama ku?"
"Latihan bersama senior?"
Senior Fahrul dan Diana pun akhirnya berlatih bersama, sebuah perubahan yang besar terjadi pada senior Fahrul. Senior Fahrul mengajari Diana dengan lembut dan penuh senyuman. Diana sama sekali tak mengerti apa yang dipikirkan seniornya, ia hanya biasa berkata "iya" ketika senior menyuruhnya melakukan teknik dasar permainan basket.
__ADS_1
"Apa sekarang kau mengerti Diana?"
"Ya. Terimakasih senior telah mau mengajari ku."
"Ya. Tidak apa-apa. Lagipula aku ini ketua dari klub basket kan? Sudah menjadi kewajiban ku untuk mengajari junior ku"
"Tapi, sepertinya ada yang berbeda dari senior saat ini. Apa ada hal yang bagus?"
"Memangnya kenapa?"
"Ah, tidak apa-apa. Mungkin hanya perasaan ku saja"
"Kalau begitu menangkan pertandingan ini untuk ku. Jangan sampai kalah atau terluka ya"
"Ya"
Sementara itu, Rendy baru saja selesai bertanding sepakbola melawan sekolah lain dan kalah 1:0. Rendy begitu kesal akan hal itu dan langsung meninggalkan lapangan sepakbola. Semua temannya menjadi heran akan sikap Rendy yang seperti itu
"Hari ini Rendy sepertinya dalam mood yang buruk"
"Sepertinya kita akan menduduki peringkat kedua setelah kalah dalam babak ini"
Rendy kembali keruang ganti dan hanya bisa terdiam duduk disana. Lita menunggu didepan ruang ganti tim mereka dan menyuruh seseorang untuk memanggil Rendy didalam
"Ada apa Lita? Kenapa memanggilku?"
"Sepertinya kau dalam mood yang buruk ya."
"Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya menanyakan kabar mu hari ini"
__ADS_1
"Sudah itu saja?"
"Eum.... Sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku tanyakan juga. Tapi jika kau sibuk, tidak apa-apa. Aku akan pergi"
Lita tiba-tiba melihat kearah dahi Rendy dan melihat keringatnya yang banyak, ia pun langsung mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap wajahnya yang basah itu"
"Keringatmu banyak yang keluar, pasti sulit ya melawan mereka. Dan wajahmu juga terlihat lelah"
"Ah...tak perlu melakukan hal itu!! Aku bisa melakukannya sendiri!"
Rendy mengambil sapu tangan milik Lita,lalu mengusap wajahnya sendiri. Lita hanya bisa terdiam melihat Rendy yang melakukannya sendiri
"Ada apa? Kenapa kau melihatku seperti itu?"
"Eh...ah.....t..tidak apa-apa kok. Oh iya Rendy nanti kau akan pulang dengan siapa? Maukah kau pulang denganku?"
"Yah, bagaimana menjawabnya ya, aku juga bingung sepertinya nanti aku akan pulang sendiri"
"K....kalau begitu pulang bersamaku saja! Aku akan menunggu didepan gerbang sekolah!! Dah!!!" Setelah itu dengan wajah gugupnya ia pergi meninggalkan Rendy *baru kali ini ada yang mengajak ku pulang bareng. Tidak biasanya* dalam hati rendy
Sepulang sekolah Rendy dan Lita pun berjalan pulang bersama. Terlihat wajah kegugupan mereka yang terlihat jelas disepanjang perjalanan pulang. Hingga mereka bertemu sekelompok anak kecil yang sedang bermain bola di sebuah jembatan besar. Bola itu akhirnya menggelinding dan berhenti di kaki Rendy yang sedang berjalan itu. Terlihat sekelompok anak kecil itu ketakutan mendekat kearah Rendy. Rendy pun perlahan mendekati mereka dan memberikan bola itu pada salah satu dari mereka
"Kenapa kalian takut untuk mendekati ku? Apa aku ini menakutkan untuk kalian?"
"K...kakak? Kenapa Wajah kakak terlihat seperti kakak Rindy?"
"Aku adalah saudara kembarnya jadi kalian tak perlu takut ya. Tenang saja sifatku sama seperti rindy"
__ADS_1
Lita yang melihatnya dari kejauhan hanya bisa diam saja sambil melihat Rendy berbincang dengan sekelompok anak kecil itu
*Aku rasa melihat Rendy yang seperti ini membuatku lebih menyukainya. Seakan-akan ia menunjukkan sifat lembutnya pada semua orang. Bukankah Rendy dulu orangnya tidak suka dengan anak kecil? Siapa yang membuatnya berubah seperti ini? Aku penasaran siapa orangnya* dalam hati Lita yang melihat Rendy bermain dengan anak kecil itu.