
Malam harinya, diana mulai merasa kesepian. Tidak ada orang yang menjenguk diana malam itu. Diana mencoba untuk menelfon rendy saat itu, namun rendy tidak menjawabnya. Berkali-kali diana menelfonnya tetap saja rendy tidak menjawabnya. Akhirnya diana melempar ponselnya ke kasur yang ia duduki.
"Apa rendy melupakan ku ya? Dia sama sekali tak menjawab telepon dariku"
Tiba-tiba ponsel diana berdering, diana bergegas mengangkat telepon itu. Diana pikir yang menelfonnya adalah rendy dan ternyata senior fahrul yang menelfonnya.
"Halo. Ada apa senior fahrul menelfonku malam-malam?"
"Maaf, aku pikir kau belum tidur. Tapi ternyata kau memang belum tidur ya?"
"Heh? Darimana senior tahu kalau aku belum tidur?"
"Ini kan baru jam 8 malam, biasanya kau tidur jam 10 kan?"
"Kenapa senior bisa tahu kalau aku baru tidur jam segitu? Senior membututiku ya?"
"Hehe.... aku memang sudah tahu sejak dulu kok. Kantung matamu terlihat jelas sekali saat bicara dengan ku"
"A...aku punya kantung mata? M....memangnya sampai segitunya ya?"
"Sekarang kau merasa kesepian ya? Jika dibolehkan, apa aku boleh menemanimu dengan cara menelfonmu sepanjang malam, saat kau belum tidur dan merasa kesepian?"
"E....eh s....soal itu, aku...." tiba-tiba diana menjadi ragu untuk menjawabnya
"Apa kau masih mau memilih rendy? Menurutmu..... apanya yang kurang dariku?"
"Apa boleh, aku pikir-pikir dulu? Soal itu aku masih ragu untuk menjawabnya"
"Aku ingin bertanya satu hal, pada mu diana"
"Hah....? Apa?"
__ADS_1
"Menurutmu, aku ini orang seperti apa?"
Tiba-tiba diana menjadi diam dan hampir ingin menutup telepon dari senior. Tapi diana mencoba berfikir kembali tentang senior fahrul, dan akhirnya ia tidak jadi menutup teleponnya dan menjawab pertanyaan dari senior fahrul
"Menurutku, senior fahrul orang yang sangat pengertian dan baik hati. Aku..... sangat menyukai senior fahrul sebagai senior yang baik dan juga sebagai teman yang pengertian. Hanya itu saja yang ingin aku katakan yang sejujurnya"
"Oh, jadi begitu ya. Aku sangat senang mendapat pujian dari junior ku. Aku sangat senang hingga sampai ingin menangis"
"E....eh..? K...kenapa senior ingin menangis?"
"Tidak apa-apa diana. Aku tidak menangis"
"Jangan berbohong!! Jika senior menangis aku akan menarik semua kata-kataku tadi!!"
"Tidak diana. Tadi aku cuma bercanda kok. Bukan apa-apa"
"Kalau begitu baiklah! Ini sudah malam, aku mau tidur"
"Apa?"
"Aku menyukai mu, diana"
Diana hanya diam saja tak menjawab apapun lagi. Hanya bisa terkejut tentang apa yang dikatakan senior fahrul
"Jika kau sudah bisa melupakan rendy, berpindahlah hati pada ku. Aku akan selalu menunggu jawaban darimu"
Setelah itu diana langsung menutup teleponnya dan meletakkan ponselnya diatas meja
"Setelah senior berkata seperti itu, aku jadi kepikiran. Bukankah itu berarti aku malah menyia-nyiakan orang yang sudah menyukaiku sedangkan aku malah mengejar orang yang belum tentu menyukai ku? Kenapa aku baru berpikiran seperti itu?"
Diana kembali membuka ponselnya dan melihat riwayat panggilan dan ternyata sejak tadi, rendy terus menelfonnya berkali-kali. Diana bingung harus menelfonnya balik atau tidak. Dan akhirnya diana memutuskan untuk tidur saja dan akan menelfon rendy kembali di hari esoknya.
__ADS_1
Sementara itu, rendy yang sudah menelfon diana berkali-kali mulai lelah dengan hal itu.
"Apa diana marah ya karena sudah mengabaikannya? Aku jadi tidak enak padanya"
Rendy pergi ketoilet untuk mencuci kaki dan tangannya. Dan ketika ia mencuci tangannya, ia terkejut tulisan diana yang ada dilengan kanannya mulai memudar dan akhirnya ia berhenti mencuci tangannya
"Ada apa dengan ku!? Kenapa aku tidak ingin menghapus tulisan tangan diana yang ada dilengan ku ini? Padahal ini hanya sebuah tulisan biasa kan? Tidak berarti apa-apa bagiku, tapi kenapa aku tidak ingin tulisan ini hilang? Tanya rendy dengan menatap dirinya sendiri dicermin dengan heran
.
__ADS_1