
Sesampainya dirumah sakit, ternyata kamar yang ditempati Diana berada dilantai 2. Mendengar hal itu Rendy langsung berlari menuju lift, yang tak jauh dari sana. sepertinya lift itu dipenuhi oleh orang-orang yang terburu-buru, dan sepertinya akan lama jika menunggu orang-orang itu selesai. Melihat ada tangga yang mengarah kelantai dua, Rendy pun langsung berlari menaiki tangga itu tanpa menunggu rindy yang mengejarnya dibelakangnya.
"Rendy!! Tunggu jangan terburu-buru!!"
"Ah...kau terlalu lama rindy! Aku duluan saja!!"
Sesampainya di lantai dua, Rendy melihat senior Fahrul yang duduk dikursi koridor rumah sakit didepan kamar yang Diana tempati saat ini
"Oh, kau baru datang Rendy?" Tanya senior Fahrul
"Kenapa senior bisa sampai disini?"
"Yah, seperti yang kau lihat hari ini kan? Diana menelfon ku sendiri, lalu apakah Diana juga menelfon mu untuk datang kemari?"
"Apa maksud senior?"
"Kenapa kau merelakan waktu belajarmu hanya untuk menjenguk Diana dirumah sakit? Memangnya kau memiliki hubungan apa dengan Diana, Apa kau menyukainya?"
Rindy yang baru saja sampai dilantai dua dan melihat senior Fahrul dan Rendy sedang bicara didepannya, hanya bisa terdiam melihat dan mendengar perkataan mereka
"Rendy? Kenapa kau diam saja disini?" Tanya rindy yang ada dibelakangnya
__ADS_1
"Kau masuk duluan saja rindy. Aku akan menyusul" kata Rendy sambil menatap senior Fahrul dengan serius
"Kalau begitu aku duluan ya Rendy" rindy pun akhirnya masuk lebih dahulu kekamar Diana
"Coba aku tanya sekali lagi, apa kau benar-benar menyukai Diana?"
"Maaf, aku tidak mengerti apa yang senior tanyakan saat ini"
"Kau tahu, setiap kali aku bertemu dengan Diana dan berjalan bersama dia selalu menceritakan tentangmu. Aku jadi semakin yakin kalau Diana itu benar-benar menyukaimu"
"Lalu memangnya kenapa?"
Senior Fahrul berjalan dan membisikkan sesuatu pada Rendy
Rendy tak menjawab apapun, dan senior Fahrul berjalan mendahului Rendy yang masih berdiri disana
"Entah kenapa aku merasa menyesal, karena telah mengenal diana seharusnya lebih baik aku tidak mengenalinya sejak dulu ya?"
Rendy pun membuka pintu, dan melihat Diana yang sedang duduk di kasur rumah sakit dengan kepala yang di perban karena luka di dahinya itu
"Diana?"
Rendy hanya terdiam didepan pintu dan hanya melihat Diana dari sana. Melihat Rendy yang hanya diam saja, Diana langsung bangkit dari tempat tidurnya dan berlari memeluk Rendy yang sudah ada didepannya
"Kau lama Rendy!! Apa kau tahu, aku terus saja menunggu mu disini"
__ADS_1
"Ada apa ini?"
"Sepertinya, aku tidak bisa Terus menunggu mu, Dan tidak bisa satu menit tanpa mu. Aku selalu menyukai mu"
*Aku tetap saja tidak mengerti apa yang terjadi. Siapa dan untuk siapa aku melakukan ini?* Dalam hati Rendy yang heran melihat apa yang ia lakukan saat ini
"Ada apa Rendy? Kenapa kau hanya diam saja? Apa kau membenciku?"
"Tidak apa-apa Diana. Saat ini aku hanya sedang banyak pikiran saja"
"Hei, Rendy!? Kau sama sekali tak menanyakan bagaimana keadaan Diana sekarang?" Kata rindy
"Oh iya aku lupa. Bagaimana keadaan mu sekarang Diana?"
"Yah, tidak apa-apa. Dokter bilang ini hanya akan sembuh dalam 2 Minggu saja."
"Kalau begitu cepatlah sembuh dan maaf aku tidak membawakan mu makanan saat kemari"
"Kenapa? Wajahmu terlihat suram Rendy, apa senior Fahrul mengatakan hal buruk padamu?"
"Tidak apa-apa kok."
Setelah itu, Rendy menjadi jarang bicara dan bahkan sepertinya ia tak ingin bicara sama sekali.
__ADS_1