
Malam harinya, Rendy yang tertidur tiba-tiba terbangun. Dan pergi sebentar keluar rumah, tanpa menggunakan alas kaki dan hanya memakai baju tidurnya. Rendy yang pergi tanpa sepengetahuan rindy, membuat rindy tiba-tiba panik dan berusaha mencari Rendy kemana-mana.
"Rendy!? Rendy! Kau dimana!!? Jangan membuat ku khawatir seperti ini!!" Kata Rindy sambil mencari di sepanjang jalan.
Sementara itu Rendy sudah berjalan sampai disebuah jalan raya yang ramai. Rendy terlihat kebingungan melihat semua orang yang pandangannya tertuju padanya.
"Kenapa semua orang melihat ku dengan tatapan yang mengerikan seperti itu!? Mereka hanya bisa melihatnya dan tidak bisa melakukan apapun kan!? Aku....sama sekali tidak mengerti apa yang mereka pikirkan saat ini"
Sebuah bola merah menyala menggelinding hingga ketengah jalan raya, yang dilemparkan seorang gadis kecil di belakang Rendy. Tanpa melihat jalan, gadis kecil itu menyebrang ia tidak mengetahui bahwa sebuah truk besar yang melaju dengan kecepatan tinggi, sedang mengarah ke-arahnya. Tak ingin anak kecil itu tewas tertabrak, Rendy langsung berlari kearah gadis kecil itu dan menarik gadis kecil itu kembali ke tepi jalan. Karena waktu yang tidak pas, membuat Rendy tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dan akhirnya, truk itu seketika menabrak Rendy dihadapan rindy yang ada ditepi jalan menunggu Rendy kembali padanya. Melihat Rendy yang sudah terbaring lemas di tengah jalan,rindy langsung berlari kearahnya dan langsung memeluknya dengan mata yang menangis melihat pengorbanan Rendy untuk gadis kecil tadi.
Keesokan paginya, saat Diana baru saja memakai sepatunya untuk berangkat kesekolahnya. Tiba-tiba saja rindy menelfonnya,dengan nada bicara yang seperti sedang menangis
"Ya, halo. Ada apa rindy?"
"D.. Diana bisa kau kerumah sakit sekarang?"
"Eh ....? Ada apa memangnya?"
"T....tadi malam, Rendy mengalami kecelakaan di jalan raya dan sekarang ia masih belum sadar"
"A...apa katamu!? R..rendy--"
"Pokoknya kau cepat kesini saja ya!"
"I..iya aku segera kesana"
__ADS_1
Diana pun langsung menutup telepon rindy dengan menjatuhkan ponselnya.
"K.... kenapa hal ini harus terjadi pada Rendy!! Kenapa, tangan dan kakiku begitu gemetar ketika mendengar itu semua!!. A...aku tidak percaya..... Aku tidak percaya!!!"
Sambil menangis Diana keluar dari rumahnya dan tak sengaja menabrak senior Fahrul yang sedang berdiri didepan rumahnya untuk berangkat bersama.
"Lho? Diana!? Kenapa kau menangis?" Tanya senior fahrul dengan heran
Diana yang melihat senior Fahrul berdiri didepannya,langsung memeluk senior Fahrul dengan erat sambil menangis dan membuat senior Fahrul semakin bingung dengan apa yang terjadi.
"Senior!! A..aku tidak percaya, Rendy mengalami kecelakaan tadi malam!! Padahal, aku sudah menyatakan hal yang tak ia duga tapi, kenapa ini harus terjadi padanya!!?" Kata Diana dengan nada yang agak keras dengan air mata yang terus mengalir
"Diana..... J...jangan menangis seperti itu..."
"Ah...Diana, akhirnya kau datang juga ya" rindy menyambut Diana dan senior Fahrul senyum yang masih terukir diwajahnya.
"Rindy!? B..bagaimana keadaan Rendy sekarang!?" Tanya Diana dengan air matanya yang masih membekas diwajahnya
"Ah,.. saat ini Rendy masih belum sadar. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi pada Rendy selama ini" kata Rindy sambil menghela nafas
"Memangnya apa yang terjadi pada Rendy semalam?" Tanya senior Fahrul
"Semalam... Aku melihat dengan mataku sendiri, Rendy mencoba untuk menyelamatkan seorang anak kecil yang sedang bermain bola. Tapi, ada sebuah truk besar yang melintas dengan kencang. Rendy tak mampu menyelamatkan dirinya sendiri dan akhirnya, jadi seperti ini."
"Jadi begitu ya" kata senior Fahrul
__ADS_1
"Aku adalah saudara yang payah! Tidak bisa menjaga saudaranya sendiri. Aku mohon....lukai saja diriku, jangan Rendy... Aku tidak ingin melihat Rendy seperti ini" kata Rindy sambil menutup wajahnya yang menangis itu
Dan tak lama kemudian dokter pun keluar dari kamar Rendy. Dan menyampaikan apa yang terjadi pada tubuh Rendy selama ini
"Ah, dokter! Bagaimana keadaan Rendy sekarang? Tanya senior Fahrul
"Tenang saja, sebentar lagi, tuan Rendy akan terbangun jadi tenang saja."
"Hah.... Syukurlah rindy, Rendy tidak apa-apa" kata senior Fahrul yang mencoba menenangkan rindy
"Tapi, lukanya masih belum sembuh jadi, saya sarankan untuk lebih memperhatikan tuan Rendy ya. Jangan biarkan Rendy sendirian. Pastikan selalu ada yang menemaninya ya"
"Syukurlah, aku jadi lega mendengarnya" kata Rindy sambil menghela nafas
"Ya, kalau begitu saya pergi ya. Jika sesuatu terjadi pada tuan Rendy, panggil saja ya"
"Iya dokter"
__ADS_1